Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Menguak Rahasia
Di ruangan remang-remang, sebuah bohlam kuning menggantung rendah, menyorot sosok pria yang diikat di kursi besi. Mulutnya terkangkang paksa oleh kail pancing yang ditarik ke kedua sisi pipinya. Matanya melotot, menatap horror saat satu per satu kuku kakinya dicabut dengan alat besi tumpul.
Krak—
“Aghhh—!”
Teriaknya terdistorsi, melengking dan parau. Air mata bercampur keringat mengalir deras di wajahnya yang sudah babak belur.
“Ampun… ampun…!” ia memohon, suaranya pecah di tengah rasa sakit yang tak tertahankan.
Anton berdiri tak jauh, di ambang pintu. Tatapannya dingin, tak berkedip, menembus jiwa pria yang merintih itu. Tak ada belas kasihan, tak ada keraguan—hanya ketenangan mengerikan dari seseorang yang terbiasa dengan kekerasan.
Pria itu adalah sopir van yang sempat kabur. Berkat informasi dari koneksinya di kepolisian, Anton lebih dulu menemukannya—bersembunyi di sebuah klub malam, sementara mobilnya ditinggalkan di parkiran rumah makan.
Sesuai ancamannya, satu kaki pria itu sudah dipatahkan. Kaki satunya kini menjadi sasaran penyiksaan lebih lanjut. Semua dilakukan untuk mengorek informasi—siapa dalang di balik penculikan putrinya.
Sekarang, setelah rasa sakit mencapai puncaknya, celah itu akhirnya muncul. “Hentikan,” perintah Anton pada anak buahnya yang langsung mundur.
Dengan langkah tenang, Anton mendekat. Tangannya mencengkeram dagu pria itu, sementara sepatu menginjak perlahan jari-jari kaki yang telanjang dan berdarah. “Sekarang bicara. Siapa yang menyuruhmu? Apa maunya?” suaranya rendah, seperti desis ular. “Dan jangan coba berbohong—jika kau masih sayang nyawamu yang tersisa.”
Tatapan pria itu dipenuhi ketakutan dan rasa sakit yang tak tertahankan. Setiap saraf di tubuhnya seakan terbakar, jangankan melawan—bertahan sadar saja sudah hampir mustahil. Tapi di hadapan Anton, ia tak punya pilihan lain.
Ia mengangguk cepat, mengabaikan robekan di sudut mulutnya yang semakin parah oleh tarikan kail. "Ya! Ya!" seraknya, suara parau penuh kepatuhan—berharap semua ini bisa cepat berakhir.
Melihat penjahat itu sudah luluh, Anton melepaskan cengkeramannya dengan tenang, menarik kaki mundur perlahan. Darah masih menempel di sol sepatunya, tapi ia tak peduli. Dengan gerakan santai, ia mengambil sapu tangan dari salah satu anak buahnya, mengelap jari-jarinya satu per satu.
Sementara itu, anak buah Anton yang lain maju mendekat—Lucas, tangan kanannya di dunia bawah tanah. Sosoknya lebih tinggi, lebih dingin, dan sikapnya lebih kejam. Pria yang diikat itu mengenalnya—sebelum Lucas benar-benar sampai di depannya, ia sudah menjerit sebuah nama:
“Roni! Roni yang nyuruh!” teriaknya panik, matanya liar mencari belas kasihan yang tak akan datang. “Dia… dia yang ngatur semuanya!”
Lucas mengernyit, sementara Anton hanya sedikit mengangkat alis. Nama "Roni" memang tak asing, tapi bagi Lucas, ia cuma preman pasar kelas teri—sampah yang biasanya tak berani angkat bicara. Lalu apa yang membuatnya berani menyentuh keluarga Kusuma?
Roni… ketua geng preman pasar? pikir Lucas dalam hati, matanya menyelidik setiap kedip dan getar dari pria yang diikat itu. Setelah yakin tak ada kebohongan, ia menoleh ke Anton dan mengangguk kecil—konfirmasi bahwa informasi itu mungkin benar.
Setelah itu, Lucas kembali menatap korban penyiksaan yang nyaris tak sadarkan diri. "Kenapa Roni berani lakukan ini? Siapa yang menyuruhnya?" tanyanya, masih penuh curiga.
Pria itu menggeleng pelan, pandangannya mulai redup. "Saya gak tahu… Roni cuma bilang ini pesanan dari orang besar. Saya cuma disewa buat nyupirin…" jawabnya lemah, sebelum akhirnya kepalanya terkulai—pingsan akibat siksaan dan kehilangan darah.
Lucas menghela napas berat, lalu berpaling ke Anton yang sudah selesai membersihkan tangannya. "Roni cuma preman kecil. Biasanya dia cuma terima job jaga wilayah atau main pukul. Kalau sampai berani sentuh keluarga kita… pasti ada yang memanfaatkan dia," analisis Lucas dengan suara datar.
"Dia pasti dibayar besar. Atau… diancam. Tapi yang jelas, di belakangnya pasti ada orang yang punya masalah dengan kita—dan mereka jadikan Nona Melinda sebagai alat tekanan."
Anton mendengus, alisnya berkerut. "Keluarga Hartono," gumamnya, suara rendah penuh kebencian. "Pasti mereka." Ia menatap Lucas tajam. "Selidiki semua gerak-gerik mereka. Siapa saja yang baru dekat dengan mereka. Keluarga itu selalu cari celah kelemahan orang lain buat dijadiin senjata."
Perintah itu jelas. Lucas mengangguk singkat. "Siap."
Setelah mengantar Anton keluar, Lucas segera berbalik dan memberi perintah pada anak buahnya yang lain. "Bagi tim. Awasi semua nama dalam daftar ini. Laporkan sekecil apa pun gerakan mencurigakan—terutama yang berkaitan dengan Roni atau Hartono."
"Siap, Bos!" jawab mereka serempak, lalu segera berpencar dalam heningnya malam.
...*•*•*...
Kembali ke rumah sakit, Mawar masih terbawa suasana muram setelah melihat kondisi Melinda. Hatinya hancur menyaksikan kekosongan di mata sepupunya yang biasanya begitu cerah. Namun di tengah keprihatinannya, rasa penasaran lain mulai menggelitik—siapa sebenarnya pria yang menyelamatkan Melinda?
“Ngomong-ngomong, Tante udah tahu siapa yang nolongin Melin?” tanya Mawar, tak bisa lagi menahan keingintahuannya. Ia menoleh ke Tari yang langsung menggeleng.
“Belum,” jawab Tari sambil menghela. “Tante udah tanya ke pihak rumah sakit, tapi mereka juga belum bisa kasih info. Katanya, identitasnya belum terdata dengan lengkap. Mungkin dari dia sendiri atau keluarganya nanti.”
Mawar mengangguk pelan, diikuti Linda yang sejak tadi menyimak dengan wajah serius. Mereka sepakat—pria yang berani itu tak boleh begitu saja terlupakan, apalagi jika ternyata keluarganya sedang mencari atau khawatir.
“Oh iya, Tante sempat lihat langsung orangnya?” Mawar bertanya lagi, rasa penasarannya semakin menjadi.
Kali ini, Tari mengangguk. “Pernah, sebentar. Dia pria, mungkin masih dua puluhan, badannya tinggi. Tapi… wajahnya tertutup perban, jadi susah dikenali,” ujarnya sambil alisnya berkerut, seolah berusaha mengingat detail yang tersisa.
Dengan informasi yang begitu sedikit, hampir mustahil untuk mengenali siapa pria itu. Meski masih diliput rasa penasaran, Mawar memutuskan untuk mengalah—mendatangi kamar orang yang sedang koma tanpa izin jelas terasa tak sopan. Ia pun mengubur keinginannya untuk sementara, berjanji pada diri sendiri akan kembali setelah pria itu sadar.
Sementara itu, di kamar intensif beberapa lantai di atas, sosok yang mereka bicarakan sedang terbaring tak bergerak. Tubuhnya dibalut perban, mesin detak jantung berbunyi stabil di sampingnya. Ia telah tak sadarkan diri selama berjam-jam—tetapi di dalam alam bawah sadarnya, cerita yang sama sekali berbeda sedang berlangsung.
Di ruang hampa yang gelap namun tak menakutkan, Gerard berdiri dalam wujud utuh—tanpa luka, tanpa balutan. Di hadapannya, sebuah panel hologram berwarna biru terapung, seolah hidup dan bernapas bersamanya.
“Jadi… aku lagi koma di dunia nyata?” tanya Gerard setelah mendengarkan penjelasan singkat dari Sistem.
Layar berkedip, kata-kata baru muncul:
[Benar. Tapi waktu di sini mengalir berbeda. Anda akan memahaminya nanti.]
Gerard menghela napas. Lagi-lagi jawaban yang setengah. Tapi ia sudah cukup terbiasa dengan cara Sistem bekerja. “Oke. Terus… kita sekarang di mana?”
Selama beberapa saat ia sudah penasaran—ruang gelap ini sunyi namun tak mencekam, seolah ada batas tak kasat mata yang melindunginya. Dan yang pasti, ini pasti terkait dengan Sistem.
Layar kembali berubah, kata-kata terurai perlahan:
[Anda sedang berada di alam bawah sadarmu sendiri—tempat di mana saya selama ini tinggal dan berinteraksi denganmu.]