NovelToon NovelToon
Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: Guraaa~

Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.

Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.

Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Ritual Dalam Bayangan

Bulan telah beranjak purnama menjadi sabit tipis, menandakan berlalunya minggu-minggu persiapan yang intens. Di bawah bimbingan Lio, Kaelen tidak hanya mempersiapkan diri untuk ritual berisiko dengan Batu Langit, tetapi juga secara diam-diak mengkonsolidasikan pengetahuan dan kekuatannya.

Ruang bawah tanah perpustakaan telah berubah menjadi laboratorium formasi rahasia. Dengan mineral-mineral langka yang diam-diam diperoleh Lio dari jaringan kontak lamanya, Kaelen merancang sebuah formasi penyulingan tiga lapis di sekitar Batu Langit. Lapisan pertama adalah Formasi Isolasi, yang mencegah kebocoran energi parasit ke luar ruangan. Lapisan kedua adalah Formasi Pemusatan, yang menarik semua energi tercemar ke satu titik nodal seukuran kelereng di atas batu. Lapisan ketiga, yang paling rumit, adalah Formasi Stabilisasi yang menjaga agar titik nodal itu tidak meledak sebelum waktunya.

Proses merancang dan membuatnya adalah pelajaran yang tak ternilai bagi Kaelen. Pengetahuan teoritis Lio tentang formasi dunia Xuan Liang digabungkan dengan pemahaman intuitif Kaelen tentang Hukum Dasar—simetri energi, prinsip keseimbangan, dan geometri realitas—menghasilkan desain yang inovatif dan sangat efisien. Lio sering hanya bisa menggeleng-gengel kepala takjumpa melihat solusi elegan yang diajukan Kaelen untuk masalah konsentrasi energi yang biasanya membutuhkan kristal mahal.

"Pemahamanmu tentang 'aliran alami' energi ini... itu seperti melihat air mengalir di sungai dan memahami setiap hukum hidrolika, fisika, dan kimia yang terlibat hanya dalam sekali pandang," gumam Lio suatu malam, matanya berbinar. "Siapa pun dirimu di kehidupan sebelumnya, engkau pasti seorang Master Formasi yang tiada bandingnya."

Kaelen hanya tersenyum samar. Ia tidak bisa menjelaskan bahwa di beberapa kehidupannya, ia memang pernah menjadi arsitek kota-kota mengambang di dunia awan, atau perancang mesin realitas di dimensi tinggi. Semua pengalaman itu sekarang tersimpan sebagai insting dan wawasan.

Sementara itu, tubuhnya terus dimurnikan dan diperkuat. Setiap malam di gubuknya, ia menjalani proses yang ia sebut "Penyelarasan Seluler". Ia tidak hanya mengedarkan energi melalui meridian, tetapi secara aktif membimbing setiap sel tubuhnya untuk beresonansi dengan Hukum Kehidupan yang ia rasakan di alam. Hasilnya adalah tubuh yang tampak biasa dari luar, tetapi di dalamnya adalah sebuah mesin biologis dengan efisiensi yang luar biasa. Luka lama sembuh total, inderanya menjadi setajam mata elang dan telinga serigala, dan kekuatan fisiknya melampaui kebanyakan kultivator Lapis Pertama Qi Gathering meski tanpa menggunakan Qi secara aktif.

Namun, persiapan ini tidak berjalan tanpa hambatan. Tekanan dari Arlan semakin meningkat. Sepupunya itu, didorong oleh kecemburuan dan kecurigaan yang menggerogoti, mulai mengirimkan "pengawas" untuk memata-matai Kaelen—biasanya teman-teman sebayanya yang lebih rendah levelnya. Kaelen selalu berhasil menghindar atau memberikan penampilan yang tepat: seorang pekerja perkebunan yang lelah dan pasrah, pulang ke gubuknya untuk tidur nyenyak. Tapi suatu sore, hampir saja terjadi insiden.

Kaelen sedang memanen sejenis akar langka bernama Twilight Vine di sudut terpencil perkebunan. Tanaman ini mengandung jejak energi Yin yang lembut, berguna untuk menyeimbangkan ritual nanti. Tiba-tiba, tiga remaja—bukan pengikut biasa Arlan, melainkan anak-anak dari garis keturunan yang lebih tinggi yang iseng—muncul.

"Hei, sampah," sapa yang paling besar, bernama Duran. "Apa yang kau lakukan di sini? Twilight Vine ini untuk persiapan ujian sekte kami, bukan untuk kau curi."

Mereka mengelilinginya. Kaelen dengan tenang meletakkan keranjangnya. "Tetua kebun memberi tugas pada saya untuk memanennya."

"Bohong," Duran mendorong bahu Kaelen. "Kau pasti ingin mencurinya untuk dijual atau sesuatu. Aku dengar kau sering ke perpustakaan. Mungkin kau belajar cara mencuri obat-obatan."

Ini berbahaya. Jika mereka memeriksa tubuhnya, mereka mungkin merasakan densitas fisiknya yang tidak biasa. Kaelen siap menggunakan sedikit manipulasi Hukum Ruang untuk membuat dirinya "sulit dijangkau" secara halus, sebuah trik yang akan menguras energinya tetapi bisa menyelamatkan situasi.

Tapi sebelum dia bisa bertindak, sebuah suara yang dingin dan berwibawa memotong ketegangan.

"Ada masalah apa di sini?"

Itu adalah Tetua Goran. Dia berdiri di ujung jalan setapak, wajahnya tidak berkesan. Ketiga remaja itu langsung membeku, lalu membungkuk dalam-dalam.

"T-Tetua! Kami hanya memastikan... bahwa pekerja ini tidak mencuri," kata Duran gugup.

Goran mendekat, matanya beralih dari ketiga remaja ke Kaelen, lalu ke keranjang Twilight Vine. "Kaelen bertugas memanen Twilight Vine atas permintaanku sendiri. Untuk penelitian herbal pribadiku. Apa kalian meragukan perintahku?"

"T-Tidak, Tetua! Maafkan kami!" ketiganya serempak menjawab, wajah mereka pucat. Mereka segera pergi dengan langkah cepat.

Goran menatap Kaelen untuk beberapa saat. "Mereka semakin berani. Tapi kau... kau tampaknya menarik perhatian, Nak. Pertumbuhan fisikmu tidak biasa untuk seorang yang bakatnya payah."

"Bekerja keras di kebun, Tetua. Udara segar dan makanan sederhana," jawab Kaelen dengan rendah hati, sambil menjaga detak jantungnya tetap stabil.

Goran mengangguk perlahan, tetapi matanya tetap tajam. "Mungkin. Atau mungkin ada sesuatu yang lain. Aku telah berbicara dengan Tua Lio. Dia mengatakan kau membantunya dengan beberapa tugas dan dia memberimu sisa makanan dan ramuan herbal dasar." Itu adalah cerita sampul yang mereka sepakati. "Berhati-hatilah, Kaelen. Terkadang, perhatian dari orang yang salah bisa lebih berbahaya daripada kelaparan."

Peringatan itu jelas. Goran mungkin tidak sepenuhnya percaya cerita itu, tetapi dia juga tidak punya alasan untuk menolaknya. Dia menganggap Lio sebagai orang tua gila yang tidak berbahaya, dan Kaelen sebagai alat yang berguna. Namun, pengawasan tetap ada.

Malam itu, di perpustakaan, Kaelen melaporkan insiden tersebut pada Lio.

"Goran semakin penasaran," kata Lio sambil mengamati titik nodal energi di atas Batu Langit yang semakin padat dan gelap, seperti mutiara hitam yang berdenyut. "Dia tidak bodoh. Dia mungkin merasakan perubahan halus di sekitarmu, tetapi tidak bisa melacaknya. Kita harus mempercepat rencana. Titik nodal ini sudah hampir matang. Dalam tiga malam, saat bulan baru, energi Yin akan mencapai puncaknya dan membantu menetralkan sifat merusak dari energi parasit ini. Itulah saatnya."

Kaelen mengangguk. Dia merasakan desakan waktu. "Apa risikonya, sebenarnya? Secara detail."

Lio menghela napas panjang. "Energi ini adalah esensi korosif yang memakan Jiwa Primordial. Jika kamu menelannya, ia akan mencoba memakan jiwamu. Kamu harus memurnikannya di dalam tubuhmu dengan pemahaman Hukum-mu sebelum itu terjadi. Jika gagal, inti kultivasimu akan rusak, mungkin selamanya. Atau, jiwamu bisa terkontaminasi, membuatmu rentan terhadap... pengaruh luar." Dia menatap Kaelen. "Kemudian, ada risiko fisik. Semburan energi ini bisa merobek meridianmu jika tidak cukup kuat. Berdasarkan pengamatanku, tubuhmu sudah jauh melampaui level Qi Gathering mana pun yang pernah kulihat dalam hal ketangguhan, jadi itu mungkin tidak menjadi masalah. Yang terakhir, ritual ini akan menciptakan gelombang energi. Formasi Isolasi kita bagus, tetapi tidak sempurna. Gelombang kecil mungkin bocor. Jika ada yang merasakannya..."

"Mereka akan tahu ada sesuatu terjadi di perpustakaan," simpul Kaelen.

"Tepat. Itulah mengapa kita harus melakukannya pada malam Pesta Bulan Baru marga. Semua anggota, termasuk para tetua, akan sibuk di aula utama dengan perayaan dan minum-minum. Itu akan memberi kita waktu."

Rencananya matang. Kaelen menghabiskan tiga hari berikutnya mempersiapkan diri secara mental dan fisik. Dia mempraktikkan teknik pernapasan yang dalam untuk menenangkan pikiran dan memusatkan kesadarannya. Dia juga mempelajari secara mendalam sifat energi parasit di titik nodal itu melalui kesadarannya. Dia menemukan bahwa parasit itu bukanlah entitas yang cerdas, melainkan lebih seperti "jamur kosmik", sebuah bentuk kehidupan reaktif rendah yang berkembang pada energi jiwa yang terfragmentasi. Kelemahannya adalah ketidakmampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan cepat dalam frekuensi energi.

Ini memberikan ide padanya. Daripada sekadar memurnikan energi itu setelah menelannya, mengapa tidak mengubah frekuensinya saat masih di titik nodal, sehingga menjadi tidak berbahaya sebelum masuk ke tubuhnya? Itu jauh lebih sulit, tetapi jika berhasil, risikonya berkurang drastis.

Dia membahas idenya dengan Lio, yang awalnya skeptis tetapi terpesona. "Mengubah frekuensi energi murni... itu adalah seni tingkat Master. Tapi... dengan pemahamanmu tentang Hukum Getaran, mungkin saja." Mereka merevisi rencana. Kaelen akan menambahkan lapisan keempat pada formasi: Formasi Transmutasi, yang akan ia kendalikan secara langsung dengan kesadarannya saat titik nodal masuk ke tubuhnya, mengubah energi parasit menjadi energi netral yang dapat diserap dengan aman.

Malam yang ditunggu-tunggu tiba. Langit gelap tanpa bulan, hanya dihiasi oleh bintang-bintang yang berkerlip. Suara tawa dan musik dari aula utama marga terdengar samar-samar dari kejauhan. Marga Surya sedang berpesta.

Di ruang bawah tanah perpustakaan, atmosfernya tegang. Formasi tiga lapis bersinar dengan cahaya redup, dengan titik nodal hitam berdenyut di tengahnya seperti jantung gelap. Kaelen duduk bersila di dalam lingkaran formasi tambahan yang dia gambarkan sendiri di lantai—Formasi Transmutasi, pola geometris kompleks yang berdasarkan pada prinsip harmonik.

"Kau siap?" tanya Lio, suaranya serius. Dia berdiri di luar lingkaran formasi utama, siap untuk mengaktifkan segel darurat jika terjadi bencana.

Kaelen mengangguk, matanya tertutup. "Mulai."

Lio mengangkat tangannya, dan serangkaian segel energi terbang dari jarinya, mengaktifkan Formasi Pemusatan dan Stabilisasi. Titik nodal hitam itu bergetar, lalu mulai bergerak perlahan keluar dari Batu Langit, melayang di udara. Saat ia lepas, batu itu sendiri bersinar dengan cahaya ungu dan emas yang lebih murni, seolah lega. Retakan hitam di permukaannya memudar sedikit.

Titik nodal itu sekarang menggantung di depan Kaelen. Dia bisa merasakan kehancuran dan kelaparan yang memancar darinya. Dia menarik napas dalam-dalam, membuka mulutnya, dan dengan sebuah tarikan halus dari energi tubuhnya, menarik titik nodal itu ke dalam.

Begitu masuk, ledakan rasa sakit yang membakar menyebar di seluruh tubuhnya. Bukan rasa sakit fisik biasa, tetapi rasa sakit pada tingkat jiwa, seolah-olah asam dituangkan ke dalam esensinya. Parasit itu langsung menyerang, mencoba menempel pada jiwa Kaelen.

Tapi Kaelen sudah siap. Kesadarannya, diperkuat oleh ingatan akan keberadaannya yang tak terbatas, mengeras seperti berlian. Dia mengaktifkan Formasi Transmutasi di dalam tubuhnya sendiri, menggunakan meridian dan titik akupunturnya sebagai node formasi. Dengan kehendak yang tak tergoyahkan, dia mulai mengubah frekuensi energi gelap itu.

Prosesnya seperti memutar sebuah roda gigi raksasa yang macet. Setiap inci pergeseran membutuhkan konsentrasi yang sangat besar. Keringat bercampur darah mengucur dari pori-porinya saat tubuhnya berjuang menahan tekanan. Di luar, Lio menahan napas, matanya tak lepas dari Kaelen yang gemetar.

Di dalam, pertempuran berkecamuk. Parasit itu melawan, berusaha mempertahankan sifat merusaknya. Tapi Kaelen memiliki senjata yang tidak dimilikinya: pemahaman. Dia tidak hanya mengubah frekuensi; dia membongkar parasit itu berdasarkan hukum pembentukannya, menetralkan satu demi satu ikatan energinya yang korosif.

Secara bertahap, rasa sakitnya mereda. Energi hitam yang gelap mulai berubah menjadi abu-abu, lalu putih keperakan. Itu masih energi yang kuat dan asing, tetapi sekarang netral, dapat dicerna.

Dengan gerakan terakhir yang menentukan, Kaelen memandu energi yang telah dimurnikan itu ke laut pusatnya—pusat kultivasi di bawah pusar. Saat energi itu bergabung, sebuah gelombang panas yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya.

KRACK!

Suara yang tidak terdengar tapi terasa menggema di dalam dirinya. Sebuah penghalang yang tidak terlihat pecah. Meridiannya, yang sudah disiapkan dan diperkuat, melebar dan menguat. Laut pusatnya, yang sebelumnya hampir kering, sekarang dipenuhi oleh kolam energi perak yang berputar perlahan—tanda khas Qi Lapis Pertama. Tapi energinya tidak berhenti. Dorongan dari energi netral itu begitu kuat sehingga terus mendorong.

KRACK!

Lapis kedua.

Energinya akhirnya stabil di puncak Lapis Kedua Qi Gathering, hanya selangkah lagi menuju Lapis Ketiga.

Kaelen membuka matanya. Sorotan cahaya perak singkat memancar dari pupilnya sebelum memudar. Napasnya yang keluar berasap dengan energi yang berlebih. Dia merasa... luar biasa. Tubuhnya dipenuhi kekuatan yang sebelumnya tidak terbayangkan. Namun, lebih penting dari itu, dia merasakan hubungan yang lebih dalam dengan dunia sekitarnya. Dia sekarang dapat secara aktif merasakan dan memanipulasi aura tanpa usaha, dan pemahamannya tentang Hukum Dasar menjadi lebih jelas.

Lio mendekat, wajahnya penuh dengan kelegaan dan kekaguman. "Kau... kau berhasil. Dan kau mencapai puncak Lapis Kedua! Tidak hanya itu, energimu... murni dan stabil. Tidak goyah seperti biasanya setelah terobosan besar."

Kaelen berdiri, menguji tubuh barunya. Setiap gerakan terasa ringan dan penuh tenaga. "Batu Langit?" tanyanya.

Lio menunjuk ke batu itu. Retakan hitamnya telah memudar sekitar sepertiganya. Warnanya lebih cerah, dan getaran kerinduannya lebih kuat. "Parasitnya berkurang drastis. Kau tidak hanya mengambil energinya, kau juga menyembuhkannya."

Tapi tiba-tiba, Lio mengerutkan kening. Dia melihat ke arah langit-langit. "Ada yang merasakannya. Gelombang kecil itu... ada yang menangkapnya."

Seperti untuk membuktikan kata-katanya, langkah kaki yang berat terdengar di tangga menuju ruang bawah tanah. Bukan langkah sembunyi-sembunyi, tetapi langkah tegas dan berwibawa.

"Tua Lio! Ada apa di sini? Aku merasakan gangguan energi yang aneh!" suara Tetua Goran bergema di ruang sempit.

Lio dan Kaelen saling memandang. Tidak ada waktu untuk menyembunyikan formasi atau batu itu. Lio membuat keputusan cepat. Dengan gerakan tangan, dia menyembunyikan Batu Langit dengan ilusi sederhana, membuatnya tampak seperti batu biasa. Tapi formasi di lantai masih bersinar.

Goran muncul di pintu masuk, wajahnya tegang dan penuh kewaspadaan. Matanya langsung tertuju pada Kaelen, yang berdiri di tengah lingkaran formasi yang berputar, masih memancarkan sisa-sisa energi terobosan.

"Kaelen?!" Goran terkejut. Kemudian matanya menangkap pola formasi dan peralatannya. Dia melihat Lio. "Lio? Apa yang terjadi di sini?"

Lio menghela napas, memainkan peran orang tua yang lelah. "Ah, Goran. Kau menangkap kami. Aku... aku sedang melakukan eksperimen. Menggunakan energi residual dari artefak tua untuk mencoba memicu terobosan pada si anak ini. Lihatlah, berhasil!" Dia menunjuk Kaelen.

Goran mendekat, matanya menyipit. Dia merasakan energi di sekitar Kaelen. "Puncak Lapis Kedua... itu tidak mungkin. Dari mana energi residual ini?"

"Dari batu tua yang kusimpan," kata Lio dengan santai, menunjuk ke Batu Langit yang tampak biasa. "Barang peninggalan masa laluku. Ternyata masih menyimpan sedikit tenaga. Aku pikir, daripada terbuang percuma, lebih baik digunakan untuk membantu si anak malang ini. Agar dia setidaknya bisa membela diri atau bekerja lebih baik."

Goran tampak tidak percaya. Dia memandang Kaelen dengan tajam. "Dan kau setuju dengan ini? Kau tahu betapa berbahayanya memaksa terobosan?"

Kaelen membungkuk, berpura-pura masih sedikit goyah. "T-Tetua... Tua Lio bilang ini kesempatanku untuk... untuk tidak menjadi beban lagi. Saya hanya ingin berguna."

Goran berdiri diam untuk waktu yang lama, pikirannya jelas berputar cepat. Akhirnya, dia menghela napas. "Ini sangat tidak bertanggung jawab, Lio. Tapi... hasilnya tidak bisa disangkal." Dia memandang Kaelen. "Pertumbuhanmu yang tiba-tiba sekarang masuk akal. Terobosan paksa yang beruntung." Dia mengucapkan kata 'beruntung' dengan nada skeptis. "Ini akan menjadi berita besar besok. Seorang pekerja perkebunan mencapai puncak Lapis Kedua dalam semalam karena berkah artefak tua." Dia menatap Lio. "Kau telah menciptakan monster harapan, Lio. Sekarang semua orang akan menginginkan 'berkah' darimu."

"Artefak itu sudah habis, Goran," kata Lio dengan cepat. "Hanya bisa digunakan sekali."

Goran mengangguk, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya. "Baik. Besok, Kaelen akan diuji ulang secara resmi untuk mengonfirmasi levelnya. Dan karena dia sekarang mencapai Lapis Kedua, dia memenuhi syarat minimum untuk dipertimbangkan sebagai peserta Ujian Seleksi Sekte Azure Cloud." Dia menatap Kaelen. "Bersiaplah. Hidupmu tidak akan sama lagi."

Dengan itu, Goran berbalik dan pergi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang tegang.

Setelah yakin Goran sudah pergi, Lio menghela napas lega. "Itu nyaris. Dia tidak melihat batu yang sebenarnya. Tapi sekarang, perhatian akan tertuju padamu, Kaelen. Ujian ulang besok, lalu persiapan untuk ujian sekte. Kau tidak bisa lagi bersembunyi."

Kaelen mengangguk, merasakan energi baru yang beredar di dalam dirinya. "Tidak apa-apa. Sudah waktunya untuk melangkah keluar dari bayangan. Tapi ada sesuatu yang lain, Tua Lio." Dia menatap batu itu. "Saat aku memurnikan energi itu, aku mendapat... kesan. Parasit itu bukan datang secara kebetulan. Itu seperti dikirim. Ada jejak 'tanda tangan' energinya yang sangat samar, seperti sebuah segel pemanggil."

Lio menjadi sangat serius. "Artinya..."

"Artinya, mungkin ada seseorang atau sesuatu di luar sana yang sengaja menginfeksi fragmen-fragmen Jiwa Primordial dengan parasit ini. Untuk melemahkan mereka, atau melacak mereka." Kaelen mengepalkan tangannya. "Para Pemburu yang kukhawatirkan... mungkin lebih dekat dari yang kita duga."

Wajah Lio pucat. "Ini lebih buruk dari yang kupikirkan. Kau harus tumbuh kuat dengan cepat, Kaelen. Dan kita harus menemukan fragmen lain sebelum mereka melakukannya."

Keesokan harinya, berita tentang "keajaiban" Kaelen menyebar seperti api di seluruh marga. Ia diuji ulang di hadapan semua tetua. Batu Uji bersinar dengan cahaya merah yang stabil dan terang—puncak Lapis Kedua Qi Gathering. Keraguan berubah menjadi keheranan, lalu pada beberapa, menjadi kecemburuan dan kecurigahan. Arlan, khususnya, tampak seperti telah ditampar. Rencananya untuk menyingkirkan Kaelen secara diam-diam sekarang jauh lebih sulit, karena Kaelen tiba-tiba menjadi aset potensial bagi marga.

Kaelen secara resmi dipindahkan dari perkebunan herbal ke barak pelatihan pemuda marga. Jatah makanannya ditingkatkan, dan ia diberi manual kultivasi dasar Lapis Kedua. Ia sekarang adalah "underdog" yang sah, dan semua mata tertuju padanya—ada yang berharap, ada yang berharap ia jatuh.

Dengan energi baru dan status barunya, Kaelen siap untuk babak berikutnya: Ujian Seleksi Sekte Azure Cloud. Namun, dalam hatinya, tujuannya tetap jelas. Ujian itu hanyalah sebuah batu loncatan. Jejak parasit pada fragmen jiwanya telah memberikan petunjuk mengerikan: musuhnya aktif, dan mereka tahu cara menemukan bagian-bagian dirinya yang hilang.

Perlombaan melintasi Rimba Tak Berhingga baru saja memasuki fase baru yang berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!