Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di rumah sakit, hari ini Ilham tidak melakukan apapun. Ia hanya bersandar di kursi ruangan dengan pikiran campur aduk. Ingin pulang pun malas karena akhir-akhir ini selalu ribut dengan Luna.
Tok tok tok.
"Masuk," titahnya, lalu membetulkan posisi duduknya, menunggu siapa yang datang.
"Bagaimana ini, Dok? Kalau sampai berita ini di dengar oleh Sekar, kasihan Dia," ucap Rayyan ketika sudah berdiri di sebelah meja Ilham dengan wajah khawatir.
"Ada apa Ray? Berita apakah? Kamu sudah tahu keberadaan Sekar?" Tanya Ilham antara berharap dan bingung mendengar apa yang dikatakan Rayyan.
"Ini tentang Nona Luna, Dok."
"Kenapa dengan Luna?" Ilham berubah cemas, khawatir istrinya melakukan hal di luar nalar. Selama tiga hari ini ia selalu menghindari Luna karena tidak mau ribut yang justru akan menambah sakit kepalanya.
"Nona Luna baru saja menggelar konferensi pers dan ini videonya, Dok," Rayyan menunjukkan video di handphone yang di share oleh salah satu anggota grup khusus karyawan dan pimpinan rumah sakit.
Mata Ilham membelalak ketika klik video tersebut, Luna rupanya sudah melaporkan kepada polisi tentang hilangnya Arka dan menuduh Sekar sebagai penculik. Ilham juga membaca para komentar anggota grup Cinta Kasih. Ada yang percaya berita penculikan itu dilakukan Sekar, tapi juga tidak sedikit yang membantah bahwa Suster Sekar perawat yang baik tidak mungkin melakukan itu.
"Kenapa Suster Sekar tega begitu sih?"
"Aku yakin Sekar ingin minta tebusan kepada Dokter Ilham. Ya ampun... demi uang sampai nekat begitu, apa Sekar tidak berpikir jika Dokter Ilham akan memberikan hukuman yang berat."
"Aku tidak yakin Sekar berbuat begitu, selama ini dia paling sayang anak-anak mana mungkin menculik Arka, putra Dokter Ilham pula."
Begitulah komentar para pegawai rumah sakit, hanya para atasan mereka saja yang masih intip-intip grup belum ada yang klasifikasi.
ilham menarik napas panjang lalu mengembalikan handphone milik Rayyan. "Tolong jelaskan kepada mereka Rayyan, jangan menjadi perdebatan," pesan Ilham lalu pamit pulang.
"Baik Dok," dokter Rayyan menulis di grup agar semua tenang, tidak boleh menyebar fitnah yang belum jelas dan akan memperkeruh keadaan. Tidak menunggu tanggapan anggota grup, Rayyan meninggalkan ruangan Ilham lalu masuk ke ruang dokter, masih menunggu satu jam lagi jadwal praktiknya tiba.
"Kamu kemana sih, Sekar?" Tanya Rayyan dalam hati. Bukan hanya Ilham yang syok ditinggal Sekar tanpa kabar, tapi Rayyan lebih parah.
Saat sedang mengingat bagaimana bahagianya hari-harinya yang ia lewati bersama Sekar, ia mendengar ucapan salam dari Suster wanita. Rayyan menjawab salam yang tak lain adalah Intan.
"Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan Sekar? Kenapa dia membawa Arka pergi?" Intan tidak yakin jika Sekar bisa membawa pergi Arka dari rumah jika bukan karena sesuatu.
"Sudahlah Intan, kita doakan saja agar Sekar segera kembali dan masalahnya cepat selesai," Rayyan tidak mau membuka rahasia Sekar, walaupun kepada Intan sahabat Sekar sendiri.
*******
"Luna!" Suara Ilham menggelegar di seantero rumah. Langkah kakinya lebar menghampiri Luna yang duduk di ruang keluarga sedang menggosok kuku. Wajah Ilham merah padam, rahangnya mengeras. "Apa-apaan ini?" Ilham membanting handphone di sofa empuk di mana Luna duduk.
Luna mendongak, terkejut melihat kemarahan suaminya. "Ada apa, Mas?" tanyanya bergetar.
"Lihat video hasil ulahmu di medsos!" bentak Ilham. Siti yang sedang beres-beres di tempat itu segera menyingkir sambil membawa kemoceng.
"Kenapa kamu melaporkan Sekar ke polisi? Tanpa bicara denganku lebih dulu?" Ilham berteriak dengan emosi yang meluap-luap. "Kamu tahu betapa Sekar menyayangi Arka! Dia tidak mungkin menculiknya!" Sesal Ilham.
"Tapi, Mas, dia membawa Arka pergi tanpa izin kita, itu namanya apa jika bukan menculik," jawab Luna dengan suara lirih. "Aku panik, aku takut terjadi sesuatu pada anak kita."
"Kamu bukan takut kehilangan Arka? Tetapi kamu tidak suka dengan Sekar?" Ilham mencibir. "Kamu tahu dia tidak akan menyakiti Arka. Kenapa kamu selalu membuat masalah dengannya?"
"Aku hanya ingin melindungi anakku, Mas!" Luna membela diri. Air matanya mulai membasahi pipi. Bukan karena sedih kehilangan Arka, tapi kemarahan Ilham itu yang membuatnya menangis. "Apakah salah jika seorang ibu khawatir pada anaknya?"
"Salah, karena kamu tidak bilang dulu padaku, suami kamu! Salah karena kamu tidak percaya pada Sekar!" Ilham menunjuk wajah Luna dengan jari telunjuknya. "Kamu tahu aku akan melakukan apa saja untuk melindungi Arka. Kenapa kamu selalu meragukanku?"
"Aku tidak meragukanmu, Mas, hanya tidak ingin melihat kamu sedih setiap hari dan sibuk kesana kemari mencari Arka, tapi mana hasilnya?!"
"Cukup!" Ilham memotong ucapan Luna. "Aku kecewa padamu, Luna. Sangat kecewa. Kamu seharusnya bicara denganku dulu sebelum mengambil tindakan. Sekarang, semua jadi rumit." Ilham berbalik menatap Luna yang terisak-isak, menurutnya air mata istrinya itu palsu.
"Jadi, ini caramu menyelesaikan masalah, Luna?" bentaknya sambil melempar tatapan sinis.
Luna menatap Ilham sedih, saat ini ia tidak lagi menemukan suaminya yang sayang kepadanya, tetapi menatapnya seperti musuh.
"Bukan hanya itu kesalahan yang kamu lakukan Luna. Kamu juga melakukan konferensi pers tapi melangkahi aku sebagai suami. Kamu sudah tidak menganggap aku lagi, Luna?!" Ilham meninju kursi
Luna terkejut. Ia tidak menyangka tindakannya akan membuat Ilham marah sebesar ini. "Awalnya aku hanya ingin mencari dukungan publik, Mas. Aku ingin semua orang tahu bahwa anakku hilang."
"Hilang katamu?" Ilham tertawa sinis. "Arka tidak hilang! Kamu ingin tahu siapa Sekar, Luna? Dia itu Sekar ibu kandung Arka."
"Apa? Tidak! Tidak mungkin!" Luna menggeleng, tidak percaya Sekar yang dulu dekil itu sekarang kecantikannya melebihi dirinya padahal sudah merubah wajahnya ke luar negeri.
"Kita harus siap-siap masuk penjaga Luna, setidaknya aku hanya wayang yang kamu mainkan! Sedangkan kamulah dalangnya."
"Tidaaaakkkk..."
...~Bersambung~...
dan sial nya BP ank nakal itu bawahan nya Kake nya Arka....🤣🤣🤣🤣pcat lngsung aj....kek....biar GK sombong lagi