NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: PAGI DI BALIK SELIMUT YANG SAMA

Ia lebih memilih dicaci maki oleh Erie setiap hari daripada harus membayangkan Erie hancur di tangan pria seperti Bara. Revan merasa bersyukur atas skandal foto itu. Meski terdengar jahat, skandal itulah yang memberinya "tiket emas" untuk menyelamatkan Erie dari keluarganya yang toksik dan dari dunia malam yang kejam.

Revan mematikan rokoknya, lalu melangkah kembali ke dalam kamar. Di bawah temaram lampu tidur, ia menatap wajah Erie yang sedang terlelap. Gadis itu tampak begitu tenang, sangat berbeda dengan sosok pemberontak yang ia temui di kelab.

Ia mendekat, lalu dengan sangat pelan, ia mengusap kening Erie, menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi matanya.

"Kau tidak tahu seberapa besar aku ingin membunuh pria itu saat malam itu, Erie," bisik Revan hampir tak terdengar. "Dan kau tidak akan pernah tahu bahwa menikahimu adalah satu-satunya cara bagiku untuk bisa bernapas dengan tenang kembali."

Revan merebahkan tubuhnya di samping Erie, menjaga jarak namun tetap cukup dekat untuk memastikan bahwa istrinya itu masih bernapas dengan teratur.

Sinar matahari pagi yang menyelinap dari celah tirai apartemen lantai dua puluh lima itu terasa begitu berisik di mata Valerie. Ia mengerang, mencoba menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya yang masih terasa berat. Namun, saat tangannya bergerak, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Kasur ini terlalu empuk, aromanya terlalu harum, bukan bau apek kamar kosnya dan ada sebuah beban hangat yang terasa sangat dekat di sampingnya.

Valerie mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer. Perlahan, ia memutar tubuhnya ke samping.

Jantungnya seolah berhenti berdetak detik itu juga.

Tepat beberapa inci di depan wajahnya, Revan sedang terlelap. Tanpa kacamata yang biasa bertengger di hidungnya, wajah pria itu tampak jauh lebih muda dan... manusiawi. Gurat-gurat kaku yang selalu ia tunjukkan di depan keluarga seolah luruh saat ia tidur. Napasnya yang teratur terasa hangat di dahi Valerie.

"AAAKHHH...!"

Valerie nyaris berteriak sebelum ia teringat di mana ia berada. Ia tersentak mundur hingga hampir terjatuh dari pinggiran ranjang King Size tersebut. Ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam: pernikahan kilat, kepindahannya ke apartemen ini, dan poin aturan kelima yang menyebutkan bahwa mereka harus tidur di kamar yang sama.

"Berisik, Erie..." gumam Revan tanpa membuka mata. Suara bangun tidurnya terdengar serak dan berat, membuat bulu kuduk Valerie meremang.

"Kenapa... kenapa kau benar-benar tidur di sini?!" Valerie berseru sambil mendekap selimut ke dadanya, seolah kain itu adalah pelindung terakhirnya.

Revan perlahan membuka mata. Ia meregangkan otot lehernya sejenak sebelum bangkit dan bersandar pada kepala ranjang. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, jatuh menutupi sebagian keningnya. Ia menatap Valerie dengan tatapan datar yang masih menyisakan sisa kantuk.

"Ini kamarku. Dan kau istriku. Di mana lagi aku harus tidur?" jawab Revan santai. Ia meraih kacamata di meja nakas dan memakainya, seketika mengubah auranya kembali menjadi pria yang penuh kendali.

"Tapi kau bisa tidur di sofa! Atau aku yang di sofa! Kita tidak perlu berbagi kasur seperti ini, Paman, .. maksudku, Mas!" Valerie meralat panggilannya dengan wajah yang memerah padam antara marah dan malu.

Revan melirik jam dinding. Pukul enam pagi. Ia mengabaikan protes Valerie dan justru bangkit berdiri, hanya mengenakan kaus oblong hitam dan celana kain panjang yang menonjolkan postur tubuhnya yang atletis.

"Aku sudah bilang, aku tidak ingin kau punya celah untuk kabur lagi. Tidur di ruangan yang sama adalah cara termudah untuk memastikan kau tidak sedang memanjat balkon di tengah malam," ucap Revan sambil berjalan menuju kamar mandi.

Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah Valerie yang masih mematung di atas kasur. "Bersiaplah. Hari ini aku akan membawamu ke kampus. Aku sudah mengurus perpindahan studimu ke jurusan Seni Rupa. Kau akan memulai kelas pertamamu jam sembilan."

Valerie tertegun. "Seni Rupa? Kau serius?"

"Aku memegang janjiku, Erie. Kau boleh melukis sesukamu di sana, asalkan kau juga mengambil mata kuliah pilihanku: Pengantar Hukum Hukum Perdata."

Valerie melotot. "Apa? Hukum? Aku tidak mau! Itu membosankan!"

Revan menyunggingkan senyum tipis yang tampak sangat menyebalkan di mata Valerie. "Itu syarat mutlak. Jika kau ingin kebebasan melukis, kau harus tahu dasar-dasar hukum agar tidak mudah ditipu orang lagi seperti di kelab malam itu."

Tanpa menunggu jawaban, Revan masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya, meninggalkan Valerie yang memukuli bantal dengan geram.

Dua jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil menuju universitas. Valerie sengaja mengenakan hoodie kebesaran dan celana jins robek di bagian lutut, penampilan yang sangat kontras dengan Revan yang tampak sangat profesional dengan kemeja biru muda dan tas kulit kerjanya.

Saat mobil memasuki area parkir khusus dosen, Valerie mulai merasa cemas. Ia tahu reputasi Revan di sini sangat besar sebagai dosen Hukum yang disegani dan juga salah satu 'aset' paling tampan di kampus.

"Dengarkan aku, Erie," Revan mematikan mesin mobil namun belum membuka pintu. Ia menatap Valerie dengan serius. "Di sini, tidak ada yang tahu kita sudah menikah selain pihak rektorat. Untuk mahasiswa lain dan rekan-rekanku, kau adalah mahasiswa baru yang masuk lewat jalur khusus. Jangan pernah memanggilku 'Mas' atau 'Paman' di area kampus. Kau mengerti?"

Valerie mendengus. "Jangan khawatir. Aku juga tidak sudi orang tahu aku menikah dengan dosen kaku sepertimu."

"Bagus," Revan mengangguk. "Satu lagi. Di kelasku nanti siang, jangan harap ada perlakuan khusus. Jika kau melanggar aturan, aku tidak akan segan-segan menghukummu di depan semua orang."

Valerie hanya memutar bola matanya dan segera keluar dari mobil, membanting pintu dengan cukup keras. Ia berjalan menjauh menuju gedung Fakultas Seni, sementara Revan hanya menatap punggung gadis itu dari balik kaca mobil.

Ada rasa hangat yang tidak biasa saat Revan melihat Erie berjalan dengan membawa tas sketsanya. Ini adalah awal dari rencana panjangnya. Ia tidak hanya ingin memiliki Erie secara hukum, ia ingin Erie menemukan jati dirinya kembali, di bawah perlindungan yang tidak akan pernah Erie sadari hingga waktunya tiba.

"Selamat datang di duniaku, Erie," gumam Revan pelan sebelum ia sendiri keluar dari mobil untuk memulai harinya sebagai Pak Revanza Malik, sang dosen Hukum yang tak kenal ampun.

Gedung Fakultas Seni Rupa terasa seperti surga yang hilang bagi Valerie. Bau cat minyak yang menyengat, aroma kayu dari spanram, dan coretan arang di dinding koridor membuatnya bernapas lega. Di kelas pertamanya, Studio Lukis Dasar, Valerie merasa hidup kembali. Jemarinya yang selama ini hanya menggambar di atas kertas kusut di sela kerja serabutan, kini menari bebas di atas kanvas putih yang masih bersih.

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!