Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama yang Mengerikan
Matahari sudah tenggelam sejak tadi. Kamarku gelap. Aku tidak menyalakan lampu. Aku hanya duduk di sudut, memeluk lutut, menatap kosong ke arah jendela yang berteralis itu. Langit di luar berubah dari jingga ke ungu gelap, lalu hitam pekat.
Seperti hidupku yang semakin gelap.
Perutku keroncongan. Aku tidak makan sejak pagi. Bahkan sarapan yang dibawakan pelayan tadi tidak kusentuh. Aku tidak bisa makan. Setiap kali aku mencoba, tenggorokanku terasa tersumbat. Seperti ada tangan yang mencekikku dari dalam.
Tapi sekarang rasa lapar itu mulai menyakitkan. Perut terasa perih. Kepala pusing.
Aku mendengar suara pintu dibuka. Tubuhku langsung menegang. Jantung berdetak kencang. Aku tahu siapa yang masuk tanpa perlu melihat.
Damian.
Cahaya dari koridor menerangi siluetnya yang tinggi besar di ambang pintu. Dia berdiri di sana sebentar, seperti sedang mengamati. Lalu dia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya.
Bunyi kunci berputar lagi.
Dikunci. Dari dalam.
Aku dan dia. Di kamar yang sama. Terkunci.
"Kenapa kau duduk di ruangan yang gelap?" suaranya memecah keheningan. Tenang. Seperti biasa.
Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak menatapnya. Dia menyalakan lampu. Cahaya terang langsung memenuhi ruangan, membuat mataku silau. Aku memicingkan mata, melindungi wajah dengan tangan.
Dan ketika mataku menyesuaikan cahaya, aku melihatnya. Baju putihnya berlumuran darah, darah yang masih segar.
Darah itu mengucur dari kerah sampai ke pinggang. Ada cipratan di wajahnya juga, di pipinya, di dagunya. Seperti dia baru saja menyembelih seekor binatang, atau mungkin manusia.
Tubuhku membeku. Napas tertahan di tenggorokan.
"Ka-kau," aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Suaraku terasa hilang begitu saja.
Damian menatap bajunya sendiri sekilas. Lalu tersenyum tipis. Senyum yang membuatku terasa ingin muntah.
"Ah, ini," katanya ringan. Seperti sedang membicarakan noda kopi di baju. "Tadi ada masalah kecil, tapi sekarang sudah selesai dan sudah beres."
Masalah kecil. Dia bilang hanya masalah kecil, dengan baju yang penuh darah seperti itu.
Dia berjalan ke arah lemari, membukanya, lalu mengeluarkan kemeja hitam bersih. Dengan gerakan santai, dia melepas kemeja berdarahnya. Satu per satu kancingnya dibuka. Hingga memperlihatkan dada bidangnya yang penuh dengan bekas luka. Luka lama, luka baru, goresan, bahkan luka tembak yang seperti peta perang di kulitnya.
Aku memalingkan wajah. Tapi aku masih bisa melihatnya dari ekor mataku. Melihat bagaimana dia membuang kemeja berdarah itu begitu saja ke lantai. Lalu mengenakan yang bersih.
"Apa kau belum makan?" katanya sambil mengancingkan kemejanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Aku tetap diam.
"Aku sudah meminta pelayan menyiapkan makan malam," lanjutnya. "Di bawah, kita akan makan malam bersama."
"Aku tidak lapar," bisikku.
"Bohong."
Suaranya dingin, namun begitu tajam.
Aku akhirnya menatapnya. Dia sudah selesai berpakaian. Berdiri di sana dengan tangan di saku celana. Menatapku dengan tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Aku sudah bilang, kalo aku tidak lapar," ulangku. Kali ini lebih keras. Mencoba terdengar lebih berani dari yang sebenarnya aku rasakan.
Damian berjalan mendekat, langkahnya pelan. Tapi setiap langkah terasa seperti dentuman untuk jantungku sendiri.
Dia berhenti tepat di depanku, lalu mulai berjongkok. Mensejajarkan matanya dengan mataku.
"Alexa," panggilnya dengan suara yang terlalu lembut untuk seseorang yang baru saja membunuh. "Jangan membuat ini lebih sulit dari yang seharusnya. Kau harus makan, kau harus menjaga kesehatanmu. Karena kau milikku sekarang. Dan aku akan menjaga apa yang menjadi milikku."
"Aku bukan milikmu," bisikku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Aku bukan barang."
Tangannya terangkat. Aku mundur refleks, membentur dinding di belakangku. Tapi dia tidak memukulku, dia hanya menyentuh pipiku lembut, bahkan sangat lembut. Seperti menyentuh keramik mahal yang rapuh.
"Kau milikku," ulangnya. Matanya menatapku dengan tatapan yang terlihat seperti... Obsesi? Kegilaan? "Sejak ayahmu mengambil segalanya dariku dua puluh tahun lalu, aku sudah berencana mengambil segalanya darinya. Dan kau... kau adalah yang paling berharga yang dia miliki."
Tangannya bergerak ke rambutku. Jari-jarinya menyisir helaian rambutku dengan gerakan yang sangat lembut. Kontras mengerikan dengan darah yang tadi membasahi tangannya.
"Jadi ya..." bisiknya. Napasnya menyentuh wajahku. "Sekarang, kau milikku sepenuhnya."
Aku merasakan mual di perutku. Mual yang sangat kuat sampai aku harus menelan berkali-kali supaya tidak muntah.
Dia menarik tangannya. Berdiri. Mengulurkan tangan padaku.
"Ayo. Makan malam sudah siap."
Aku menatap tangannya. Tangan yang membunuh. Tangan yang menyentuhku dengan lembut tapi penuh ancaman.
Tapi perutku keroncongan lagi, sampai terdengar, bahkan Damian tersenyum tipis.
"Lihat? Tubuhmu lebih jujur dari pada mulutmu."
Aku membencinya, sangat membencinya. Tapi aku mengambil tangannya. Karena aku tidak punya pilihan.
***
Ruang makan di mansion ini sebesar aula.Meja panjang dari kayu mahoni mengkilat bisa menampung dua puluh orang. Tapi hanya ada dua kursi yang terisi. Satu di ujung. Satu lagi tepat di sampingnya.
Aku dan Damian.
Pelayan membawakan makanan. Steak. Kentang panggang. Salad. Wine merah. Semuanya tersaji sempurna di piring porselen putih mahal.
Tapi aku tidak bisa makan. Aku hanya menatap steak di piringku. Daging merah dengan saus cokelat pekat. Seperti darah yang mengental. Persis seperti darah di kemeja Damian tadi.
Damian sudah mulai makan. Memotong steaknya dengan pisau tajam. Gerakan tangan yang terlatih. Presisi. Seperti dia sudah melakukan ini ribuan kali.
Memotong daging, atau memotong manusia?
"Cepat makan," perintahnya tanpa menatapku.
Aku mengambil garpu dan pisau dengan tangan gemetar. Mencoba memotong steak. Tapi tanganku terlalu lemah. Pisau tidak bisa menembus daging.
Damian meletakkan alat makannya. Meraih piringku. Memotongkan steakku dengan gerakan cepat dan efisien. Lalu mengembalikan piringku.
"Selesai."
Aku menatap potongan-potongan daging di piringku, terlihat begitu rapi, dan sama besar. Seperti dokter bedah yang memotong. Atau seorang pembunuh yang memotong korbannya sendiri.
Aku mengambil satu potong kecil. Memasukkannya ke mulut. Mengunyah perlahan. Rasanya enak. Terlalu enak. Tapi aku tidak merasakannya. Yang aku rasakan hanya tekstur daging di mulutku. Berair. Lembut.
Seperti daging manusia. Aku langsung berhenti mengunyah. Mual melanda lagi.
"Ada apa?" tanya Damian. Dia menatapku sambil menyesap wine.
"Tidak, tidak ada apa-apa," jawabku cepat. Memaksa menelan daging itu, bahkan aku hampir tersedak.
Damian meletakkan gelasnya. Mengeluarkan ponselnya. Mengetuk beberapa kali. Lalu membalikkannya ke arahku.
"Lihat ini," katanya.
Aku tidak mau melihat. Tapi mataku secara otomatis tertuju ke layar. Foto seseorang, atau yang tersisa dari seseorang.
Tubuh terikat di kursi. Kepala terkulai. Wajah yang sudah tidak berbentuk. Darah di mana-mana. Jari-jari yang tidak lengkap. Dipotong, satu persatu.
Aku langsung menutup mulut dengan tangan. Mual yang tadi kutahan meledak. Aku berdiri terburu-buru. Berlari ke sudut ruangan.
Dan aku muntah. Semua isi perutku keluar. Daging yang baru kumakan. Cairan asam lambung. Semuanya keluar sampai tidak ada yang tersisa. Sampai aku hanya bisa muntah cairan kuning yang pahit.
Aku mendengar langkah kaki di belakangku. Damian berdiri di sana. Menatapku dengan tatapan yang datar. Seperti melihat sesuatu yang biasa sehari-hari.
"Kenapa?" tanyaku dengan suara serak. Air mata dan ludah bercampur di wajahku. "Kenapa kau tunjukkan itu padaku?"
"Karena aku ingin kau tahu," jawabnya dengan nada yang sangat tenang. Terlalu tenang. "Orang itu mencoba menyelundupkan senjata ke mansion ini. Dia disuruh oleh seseorang untuk membunuhku. Atau membunuhmu. Atau mungkin keduanya."
Dia berjongkok di sampingku, mengambil serbet dari meja terdekat. Lalu mulai menyeka wajahku dengan lembut.
"Dan aku tidak suka ketika ada yang mencoba mengambil milikku," lanjutnya sambil terus menyeka wajahku. "Jadi aku bertanya padanya. Siapa yang menyuruhnya. Dia tidak mau menjawab. Jadi aku potong saja jari kelingkingnya, tapi dia masih tidak mau menjawab. Aku potong lagi jari manisnya, lalu jari tengah, dan setelah itu..."
"CUKUP!" aku berteriak. Menepis tangannya. "Cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi!"
Tapi Damian tidak berhenti. Dia tetap bicara dengan nada yang sama tenangnya.
"Sampai jari kesepuluh, dia akhirnya bicara. Ternyata dia disuruh oleh salah satu rival bisnisku. Orang yang ingin mengambil alih proyek senilai sepuluh triliun. Jadi setelah aku dapat namanya..."
Dia berhenti sebentar. Tersenyum.
"Aku potong lidahnya. Supaya dia tidak bisa cerita ke orang lain. Lalu aku tembak kepalanya. Bersih. Cepat. Efisien."
Aku merasakan seluruh tubuhku gemetar. Gemetar hebat sampai gigiku bergemeretak.
Dia psikopat.
Psikopat sungguhan.
"Ka-kau gila," bisikku. "Kau benar-benar gila."
Damian memiringkan kepalanya. Seperti sedang berpikir.
"Mungkin," jawabnya. "Tapi ini duniaku, Alexa. Ini dunia yang kau masuki ketika kau menikahiku. Dunia di mana darah adalah bahasa yang paling dimengerti. Di mana kelemahan akan membuatmu mati. Di mana hanya yang terkejam yang bisa bertahan."
Dia mengangkat tangannya lagi. Kali ini menyentuh daguku. Memaksaku menatap matanya.
"Dan kau sekarang bagian dari dunia ini," bisiknya. Matanya menatapku dengan tatapan yang membuat darahku membeku. "Mau tidak mau, kau harus mau."
Aku ingin lari, ingin kabur, dan ingin menjerit meminta tolong. Tapi tidak ada yang bisa menolongku. Tidak ada.
"A-aku tidak bisa hidup seperti ini," suaraku keluar gemetar. "Aku tidak bisa kalau..."
"Kau bisa," potongnya. Tegas. "Karena kau harus. Untuk ibu dan adikmu yang masih hidup di luar sana. Untuk dirimu sendiri. Kau akan belajar hidup di duniaku. Atau kau akan mati."
Tangannya bergerak ke leherku. Menggenggamnya. Tidak kuat. Tidak mencekik. Tapi cukup untuk membuat aku merasakan kekuatannya. Kekuatan yang bisa membunuhku kapan saja dia mau.
"Tapi aku tidak akan membunuhmu," bisiknya. Wajahnya semakin dekat. Bibirnya hampir menyentuh bibirku. "Karena aku ingin kau hidup. Hidup di sampingku. Sebagai istriku."
Napasnya hangat di wajahku. Berbau wine dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang aku tidak bisa identifikasi. Sesuatu yang berbahaya.
"Kau akan belajar mencintaiku," lanjutnya. Suaranya berubah. Lebih lembut. Tapi dengan nada obsesi yang menakutkan. "Atau kau akan mati mencoba. Tapi bagaimanapun juga, kau akan jadi milikku. Selamanya."
Lalu dia menciumku.
Bibir dinginnya menekan bibirku dengan kuat. Tangan yang tadi di leherku sekarang memeluk pinggangku. Menarikku ke pelukannya. Pelukan yang hangat tapi mencekik.
Aku tidak bisa bernapas. Tidak bisa bergerak. Hanya bisa diam di sana seperti boneka tanpa nyawa.
Ketika dia akhirnya melepaskan bibirku, aku langsung menarik napas dalam-dalam. Batuk-batuk. Kepalaku pusing. Jantung berdetak sangat kencang.
Damian berdiri. Menatapku dari atas. Matanya gelap. Sangat gelap.
"Besok kau akan mulai belajar," katanya. "Belajar menjadi Nyonya Vincenzo yang sesungguhnya. Bukan hanya istri di atas kertas. Tapi ratu yang berdiri di sampingku. Ratu yang sama kejamnya denganku."
Dia berbalik. Berjalan ke pintu.
"Istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang panjang."
Damian keluar, dan pintu pun tertutup. Aku ditinggalkan sendirian di ruang makan besar itu. Dengan muntahan di sudut. Dengan rasa jijik di mulut. Dengan ketakutan yang merayap di setiap inci tubuhku.
Aku merosot ke lantai. Memeluk lutut. Menangis dalam diam. Tidak ada yang mendengar tangisanku. Tidak ada yang peduli. Di dunia Damian, air mata adalah kelemahan. Dan kelemahan akan membuatmu mati.
***
Malam itu aku tidak tidur lagi. Aku hanya berbaring di tempat tidur besar itu, menatap langit-langit kamar. Bayangan foto orang yang disiksa tadi terus berputar di kepalaku. Jari-jari yang dipotong. Wajah yang hancur. Darah yang menggenang.
Aku mendengar suara langkah kaki di koridor. Langkah yang begitu pelan, dan berhenti tepat di depan pintu. Jantungku berhenti berdetak. Apakah dia akan masuk lagi?
Tapi tidak, langkah itu berlalu menjauh, dan menghilang di kejauhan. Aku menarik napas lega. Tapi lega yang hanya bertahan sebentar.
Karena aku tahu besok akan datang. Dan aku tidak tahu apa yang akan Damian lakukan padaku.
Aku menatap jendela yang berteralis itu. Bulan purnama bersinar terang di langit. Cahayanya masuk melalui celah-celah teralis. Membuat pola seperti jeruji penjara di lantai kamarku.
Jeruji penjara, itu yang aku lihat sekarang. Dan itu yang akan aku lihat setiap hari.
Sampai kapan?
Sampai aku gila?
Sampai aku mati?
Atau sampai aku benar-benar menjadi seperti dia?
Monster yang mencintai darah. Monster yang menikmati penyiksaan. Monster yang sudah kehilangan kemanusiaannya. Aku menutup mata. Mencoba tidur. Mencoba melupakan semuanya walau hanya sebentar.
Tapi di balik kelopak mataku, yang aku lihat adalah wajah Damian. Senyumnya ketika dia memotong jari orang itu. Tatapannya ketika dia bilang aku miliknya. Bibirnya ketika dia menciumku dengan paksa. Dan bisikannya yang terus bergema di telingaku.
"Kau akan belajar mencintaiku, atau mencoba mati."
Tapi apakah benar Damian hanya monster tanpa hati? Ataukah di balik semua kekejaman itu, tersimpan luka yang begitu dalam sampai mengubahnya menjadi iblis?
Dan yang lebih menakutkan, apakah aku akan bertahan cukup lama untuk mengetahui jawabannya?
Atau aku akan hancur terlebih dahulu, menjadi pecahan-pecahan manusia yang sudah tidak bisa disatukan lagi?