Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Seperti Pulang Bersama
...“Ini bukan kisah cinta besar. Ini kisah tentang hal-hal kecil yang perlahan menjadi penting.”...
Happy Reading!
...----------------...
Awalnya, semuanya terlihat sederhana. Tidak ada rencana besar, tidak ada tujuan yang benar-benar dipikirkan. Raven hanya mengajak Shaira keluar sebentar—sekadar jalan santai, mengisi waktu tanpa ekspektasi apa pun.
Ajakan itu datang dengan nada ringan, hampir seperti candaan. Tidak ada kata ayo kita ke mana, tidak ada janji ingin melakukan sesuatu yang spesial. Hanya, “Keluar bentar, yuk,” yang terdengar terlalu biasa untuk ditolak.
Shaira mengerutkan alis sebentar, menimbang tawaran itu sambil menatap layar ponsel. Bibirnya menekuk tipis menjadi senyum kecil. Ia mengangkat bahu, lalu menaruh ponsel di meja. “Ya udah, keluar bentar aja,” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Shaira mengira mereka hanya akan berputar-putar sebentar, mungkin membeli minuman, lalu pulang. Tapi justru dari hal sesederhana itu, malam ini mulai terasa berbeda.
Mobil meluncur perlahan di jalan yang lengang. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca depan, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak pelan mengikuti arah kendaraan. Musik ringan mengalun dari speaker—tidak terlalu keras, cukup untuk mengisi keheningan tanpa memaksakan percakapan.
Shaira bersandar sedikit di kursi, tangannya memegang sabuk pengaman. Ia menoleh ke jendela, memutar bola matanya sebentar mengikuti lampu jalan, kemudian menatap Raven dari sudut mata. Bibirnya terkekeh halus saat melihat cara Raven mengemudi santai, satu tangan di kemudi, satu tangan menggenggam tuas persneling.
Mereka tertawa. Tentang hal-hal kecil. Tentang cerita yang bahkan tidak terlalu penting untuk diingat kembali nanti. Tapi anehnya, justru karena tidak penting itulah semuanya terasa hangat.
Shaira menatap Raven, bibirnya tersenyum tipis. Tangan Raven sesekali menekan klakson ringan saat ada motor di depan. Matanya menatap jalan, tapi sesekali menoleh ke Shaira, mata mereka bertemu sebentar—lalu keduanya tersenyum malu-malu.
“Sha,” Raven memecah keheningan, matanya sesekali melirik Shaira dari samping. “Tadi di sekolah gimana?”
Shaira menoleh cepat, menyipitkan mata, lalu tersenyum sambil menatap ke luar jendela. “Biasa aja,” jawabnya pelan. Pandangannya sempat tertuju ke jalanan yang sepi. “Kamu?”
“Kurang lebih sama.” Raven menghela napas pelan, bahunya sedikit mengangkat. “Tapi serius deh… kayaknya satu sekolah mulai terobsesi sama kita.”
Shaira menahan tawa, menepuk paha sendiri ringan. “Hah?”
Raven terkekeh kecil, matanya menatap lurus ke jalan, bibirnya menekuk tipis. “Diperhatiin mulu. Dikit-dikit diliatin.”
Shaira menahan tawa lagi, tangannya menutup mulut sebentar, kemudian menurunkannya perlahan sambil menoleh ke Raven. “Ya semoga mereka nggak ikut-ikutan jemput aku tiap hari juga.”
Raven mengangkat bahu santai, setengah tersenyum. “Kalau mau, bisa.”
“Ngaco,” Shaira terkekeh lagi, senyumnya melebar tipis. Matanya berbinar, menatapnya sebentar sebelum kembali menatap jalanan.
Percakapan mengalir begitu saja. Tidak terburu-buru. Tidak juga terasa canggung. Hanya dua orang yang nyaman berada di ruang yang sama, berbagi malam tanpa perlu mengisinya dengan hal besar.
Sampai ponsel Raven berdering. Ia mengernyit sebentar, alisnya naik, sebelum melirik layar. Nama "Mama" terpampang jelas.
“Iya, Ma,” katanya sambil mengangguk kecil. Bahunya rileks, tangan menggenggam kemudi sebentar saat berbicara. Jawabannya singkat, padat, tapi terdengar penuh perhatian. “Sekalian? Oke… iya. Nanti aku ke supermarket.”
Telepon ditutup. Raven kembali menatap jalan, sesekali menoleh ke Shaira.
Shaira menoleh, alisnya terangkat, bibirnya menekuk tipis. “Kenapa?”
“Disuruh belanja,” jawab Raven ringan, setengah tersenyum sambil menekan pedal perlahan. “Mama minta beli beberapa barang.”
Shaira terkekeh, menepuk lututnya pelan. “Baru juga keluar sebentar, udah disuruh belanja.”
“Katanya mumpung lagi di luar,” Raven tersenyum kecil, matanya menatap lurus ke depan tapi terasa menenangkan.
Shaira menggeleng pelan sambil tersenyum, tangan merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Rencana awal mereka cuma keluar sebentar. Tapi mampir ke supermarket berarti pulangnya akan lebih lama.
Ia mengetik cepat, jari-jarinya menari di layar. Mata sesekali menatap Raven dari samping, menunggu reaksinya.
“Ma, aku ke supermarket dulu ya, nemenin Raven bentar.”
Tak lama kemudian, layar ponselnya menyala lagi. Shaira membaca daftar panjang dari ibunya. Alisnya naik sedikit, matanya menatap Raven sambil menahan tawa. Ia menunjuk layar.
“Astaga… mama aku langsung kasih daftar panjang.”
Raven melirik sekilas, bibirnya menekuk menjadi senyum tipis. “Lengkap banget. Kayak belanja bulanan.”
Shaira mendesah kecil, menaruh ponsel di pangkuan. “Padahal aku izin cuma nemenin kamu belanja, bukan ikutan belanja. Ini kayak jebakan.”
“Ya udah,” Raven tersenyum santai, matanya menatap Shaira sebentar. “Sekalian aja. Daripada nanti disuruh lagi.”
Shaira menghela napas, lalu terkekeh ringan. Ia menepuk pangkuannya sendiri, menatap ke jalanan di luar jendela. “Iya juga sih… tapi berat nanti.”
Raven meliriknya sebentar, alis sedikit terangkat, setengah tersenyum. “Tenang. Ada aku.”
Jawaban itu sederhana. Tidak dramatis. Tapi Shaira merasa hangat, seperti ada selimut kecil yang menyelimuti hati—dari gestur, dari senyum, dari perhatian yang tidak perlu kata-kata panjang.
...----------------...
Supermarket menyambut mereka dengan cahaya terang dan hawa dingin dari pendingin ruangan. Aroma makanan ringan, roti, dan rempah-rempah bercampur di udara. Troli-troli berlalu-lalang, suara roda beradu dengan lantai yang bersih.
Mereka mengambil keranjang belanja. Shaira menggenggam keranjang dengan satu tangan, tangan satunya menyesuaikan posisi tas di bahu. Langkah mereka pelan, seirama, hampir tanpa sadar saling menyesuaikan ritme.
“Gula di sini, kan?” tanya Shaira sambil menunjuk rak, alisnya terangkat, bibir tersenyum tipis.
“Iya,” jawab Raven sambil meraih botol minyak goreng dari rak sebelah. Tangannya mantap saat memasukkannya ke keranjang, mata sesekali melirik Shaira, bibirnya menekuk tipis menjadi senyum.
“Ini buat rumah kamu,” kata Raven santai, bahunya rileks, kepala menoleh sedikit ke arah Shaira.
“Ini rumah kamu,” balas Shaira cepat, tersenyum nakal sambil menepuk keranjang sebentar.
Mereka saling pandang sejenak, mata bertemu, lalu keduanya tertawa pelan. Rambut Shaira sedikit terangkat karena angin dari AC, ia menyingkirkan satu helai yang jatuh ke wajah dengan jari telunjuknya. Rasanya aneh—tapi manis. Mengambilkan kebutuhan satu sama lain, seperti hal yang sudah biasa mereka lakukan, padahal sebenarnya belum lama.
“Kayak pasangan belanja bulanan,” celetuk Shaira sambil menepuk bahu Raven ringan.
“Pas,” jawab Raven sambil tersenyum, menunduk sebentar, matanya berkilau karena menahan tawa.
Mereka berpindah lorong. Shaira mencondongkan tubuh sedikit ke depan saat membandingkan harga, sementara Raven menekuk lutut sedikit agar bisa membaca label dari bawah. Mereka tertawa kecil saat membahas merek, menunjuk rak dengan jari telunjuk, dan sesekali saling saling senggol bahu dengan ringan—tidak canggung, justru terasa akrab.
Di lorong mi instan, Shaira berhenti dan menatap rak dengan alis terangkat, tangan menempel di pinggul. “Kamu mau yang mana?” tanyanya ragu.
Raven melirik rak, menekuk sedikit kepala, lalu menatap Shaira. “Kamu mau?”
“Sebungkus aja,” jawabnya pelan, jari-jarinya menari sebentar di pegangan keranjang.
Tanpa banyak bicara, Raven mengambil dua bungkus, meletakkannya ke keranjang dengan gerakan mantap tapi lembut. “Sekalian.”
Shaira tersenyum, bibirnya menekuk tipis. Matanya mengikuti gerakan tangannya saat menaruh barang, terasa nyaman melihat cara Raven mengambil keputusan kecil tanpa membuatnya terasa berat.
Di lorong sayur, Raven tiba-tiba tersandung ujung rak. Tubuhnya sedikit oleng, tangan kanan menahan rak, kaki menapak cepat untuk menyeimbangkan.
Refleks, Shaira memegang lengannya dengan cepat, mata terbuka lebar, bibirnya membentuk huruf “O”. “Eh! Kamu nggak apa-apa?” tanyanya cepat, setengah panik, setengah tertawa.
Raven terkekeh, menepuk pundak Shaira sebentar sebagai tanda “oke”, lalu menyeimbangkan tubuhnya. “Iya, iya. Cuma hampir jatuh.”
“Kaget tau!” Shaira menepuk bahunya ringan, alisnya terangkat sambil tersenyum malu.
“Iya, maaf,” Raven tertawa, matanya menatap lurus ke depan sebelum menoleh sekilas ke Shaira, menahan senyum.
Mereka melanjutkan langkah. Kadang saling goda dengan menepuk keranjang lawan, kadang berebut barang kecil dengan cepat, kadang hanya berjalan berdampingan dalam diam yang nyaman. Shaira mencondongkan tubuh ke arah keranjang saat memindahkan barang, sementara Raven menyesuaikan jarak supaya tidak terlalu dekat tapi tetap akrab.
Di kasir, antrean panjang terasa singkat. Mereka saling melempar candaan kecil, Shaira terkekeh sambil menepuk tangan sendiri ringan, Raven menunduk sambil menahan tawa, sesekali menatap Shaira dari samping. Tanpa sadar, mereka berdiri lebih dekat dari sebelumnya, bahu nyaris bersentuhan.
“Ini resmi ya,” kata Raven sambil memasukkan tas belanja ke bagasi mobil, bahunya rileks, senyum tipis tetap melekat di bibir.
Shaira meliriknya sambil tersenyum, bibirnya menekuk manis. “Pasangan muda kerepotan,” katanya sambil menepuk tas belanja ringan, mata berbinar malu-malu tapi hangat.
...----------------...
Perjalanan kembali ke rumah Shaira terasa lebih sunyi, tapi bukan sunyi yang canggung. Lampu jalan memantul lembut di kaca mobil. Kantong plastik terlihat penuh di bagasi, bergoyang sedikit setiap kali mobil melewati polisi tidur. Sesekali mereka saling melirik, mata bertemu sebentar, lalu tersenyum kecil—senyum yang hangat tapi malu-malu, bibir menekuk tipis, mata berbinar lembut.
Setibanya di depan rumah, Raven langsung turun. Rambutnya sedikit tersibak angin malam, langkahnya santai tapi mantap. “Aku bantu masukin,” katanya sambil menekuk lutut sedikit, siap menampung kantong belanja.
“Berat, loh,” kata Shaira ragu, tangannya menempel di pinggul, kaki sedikit maju mundur, mata menatap kantong plastik dengan ekspresi campur aduk antara khawatir dan geli.
“Tenang,” Raven menjawab sambil menenteng beberapa kantong sekaligus, bahunya tegap tapi rileks. Ia menatap Shaira sebentar, senyum tipis di bibirnya. “Kamu jangan capek.”
Mereka masuk ke dapur. Shaira membuka pintu dengan satu tangan, tangan satunya menempel di pinggul. Raven menata belanjaan satu per satu, meletakkan gula, minyak, sabun, dan snack dengan hati-hati. Tangannya bergerak mantap tapi lembut, sesekali menoleh ke arah Shaira. Shaira berdiri dekat, menonton gerakannya, mata berkilau, bibir tersenyum tipis. Kadang ia menepuk kantong ringan saat Raven meletakkan barang berat, seperti ingin ikut membantu tanpa merepotkan.
Tak lama, Mama Shaira muncul dari ruang tengah, langkahnya ringan. “Eh, kalian udah balik?” Suaranya hangat, mata menatap mereka dengan ramah.
“Udah, Tante,” jawab Raven sopan, tangan masih menopang beberapa kantong, pandangan sesekali menyapu dapur.
“Belanjaannya banyak juga. Makasih ya udah bantuin Shaira.”
“Gak apa-apa, Tante. Senang aja,” jawab Raven santai, bahu sedikit rileks, senyum tipis tetap melekat.
Setelah semuanya rapi, Raven pamit. “Nanti aku kabarin kalau udah sampai rumah.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk menatap Shaira, lalu tersenyum tipis sebelum pergi.
“Makasih ya, Raven. Hari ini seru,” kata Shaira sambil menepuk lengan kecilnya sendiri, bibir tersenyum hangat, mata berbinar lembut.
“Senang kalau kamu senang,” jawab Raven, mata menatap lurus ke Shaira sebentar, lalu melangkah pergi dengan langkah ringan tapi mantap.
Malam itu, Shaira berdiri sendiri di dapur. Tangannya menopang pinggul, tubuh sedikit condong ke depan, menatap belanjaan yang tersusun rapi. Berat—namun hangat. Ia menurunkan pandangan ke gula dan minyak, jari-jarinya menyinggung kantong plastik dengan lembut, seolah merasakan perhatian yang terselip di baliknya.
Ia tersenyum kecil, bibir menekuk tipis, mata berbinar lembut. Napasnya pelan, bahu sedikit rileks.
Kadang, kedekatan tidak datang dari hal besar. Bukan dari janji panjang. Bukan dari kata cinta yang diucapkan berulang.
Tapi dari hal-hal sederhana. Dari belanja bersama, mengangkat barang berat, dan tertawa di lorong supermarket. Dari tatapan kecil, senyum tipis, dan gerakan ringan yang terasa akrab.
Malam itu, di antara kantong belanja, Shaira tahu—hubungan mereka tumbuh pelan. Tenang. Nyata. Mata menatap kosong ke dapur sebentar, bibir tetap tersenyum, bahu rileks, tangan menempel ringan di pinggul.
Seperti pasangan muda yang belum banyak janji, tapi sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil bersama.
Dan Shaira menutup malam itu dengan senyum hangat—mata berbinar lembut, bibir menekuk tipis, perasaan yang tak bisa diukur dengan apa pun, selain perhatian yang sungguh terasa.
...----------------...
“Raven – terbiasa bersama.”
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/