"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - Operasi
Di saat Bima sedang membersihkan diri di toilet, pintu ruang ICU terbuka menampilkan sosok perawat yang memakai baju bedah. Tentu membuat Aura yang sedang terduduk diam disana seketika berjalan menghampiri.
"Suster, gimana keadaan Kak Arfan? Dia baik baik saja kan? Dia selamat kan?" tanya Aura tanpa berhenti, ia begitu khawatir dengan kondisi Arfan.
Ia takut kehilangan orang yang sudah menjadi pahlawan untuknya tetapi suster itu hanya terdiam sebentar lalu menjawab, "Pasien harus segera di tindak operasi, jika tidak nyawanya mungkin akan tidak tertolong dan kami membutuhkan izin dari keluarga pasien karena jika tidak membutuhkan izin, kami tidak bisa melakukan operasinya."
Seketika tubuh Aura merasa lemas, ia teringat bagaimana Mama Arfan tega mengusirnya dari rumah sakit saat Arfan benar benar sedang kritis. Bagaimana bisa Aura mendapatkan izin dari keluarga Arfan? Bahkan Aura sendiri sebenernya tidak mengenal keluarga Arfan, berbanding balik dengan Arfan yang begitu sangat mengenal keluarga Aura.
"Keluarga....kelu-" Aura bergetar untuk mengatakan, ia sendiri bingung harus berbuat apa.
"Operasi Sus? Arfan harus segera di operasi?" tanya Bima yang baru saja kembali setelah pergi dari toilet.
Tanpa banyak bicara, Bima mengambil kertas yang sedang di pegang oleh suster tersebut. Ia membaca dengan teliti dari atas sampai bawah.
"Maaf, apakah anda keluarga dari pasien?" tanya suster tersebut.
"Kalau saya bilang, dia cuman orang asing pasti operasinya tidak bisa di lakukan jadi-" Bima menarik nafas dalam, rasanya sangat berat sekali ia mengatakan nya "Ya, saya keluarga dari pasien, saya Kakak dari pasien."
Perkataan Bima membuat Aura begitu terkejut, bahkan sampai menutup mulutnya yang menganga, matanya terbuka lebar. Tadi Bima berkata seperti ia tidak memiliki empati kepada Arfan dan membiarkan Arfan mati karena Bima menganggap itu karma Arfan.
Tetapi, sekarang Bima sendiri yang bertanda tangan menyetujui persetujuan operasi Arfan dan bahkan mengaku menjadi Kakak Arfan.
Setelah Bima bertanda tangan, Bima mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras lalu menatap Aura.
"Baik, pasien akan segera di operasi," ucap Suster tersebut lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Aura tersenyum bahagia kepada Bima, baginya Bima telah menyelamatkan nyawa Arfan. Ia merasa menyesal telah mengira bahwa Bima sangat kejam kepada Arfan.
"Makasih ya Kak, Kak Bima udah nyelamatin Kak Arfan," ucap Aura dengan memegang lengan Bima.
Rahang Bima masih mengeras, ia marah karena Aura mengucapkan terima kasih kepada nya karena udah menyelamatkan sosok yang paling ia benci, Arfan.
Maksud Bima menandatangani surat tersebut bukan karena Bima sangat berbaik hati, tetapi ada alasan Bima sendiri. Bima membayangkan kedepannya jika Arfan benar benar tiada, pasti Aura akan terus merasa bersalah dan Bima tidak akan membiarkan itu terjadi.
Lo belum jelasin kenapa Aura sampe kayak gini, jadi gue ga biarin lo pergi gitu aja tanpa jelasin apapun ke gue, batin Bima.
Bima yakin ini semua karena ulah Arfan sendiri, agar bisa membuat Aura tidak membencinya dan membuat Aura berpikir berhutang nyawa dengannya.
Pintu ruang ICU terbuka, para Dokter dan Suster membawa brankar Arfan keluar dari sana. Tentu membuat Bima dan Aura bisa melihat Arfan sedang tidak berdaya terbaring disana.
Hati Bima sedikit begerak, merasa kasihan. Bima tidak menutup kebenaran, memang benar jika tidak ada Arfan yang menyelamatkan Arfan, pasti Aura yang sedang berada disana.
Membayangkan saja tidak sanggup, Bima membalikan badannya menghadap dinding. Tidak halnya dengan Aura yang berjalan mendekati Arfan dengan air mata kembali berlinang, ia ingin berada di sisi Arfan dan memohon kepada Arfan untuk kuat.
"Kak Arfan harus bertahan..... jangan tinggalin aku Kak," lirih Aura yang terus berjalan mengikuti tetapi langkahnya terhenti ketika Bima memegang tangannya.
"Biar Dokter yang bekerja sesuai tugasnya, kita disini cuman bisa berdoa kepada Allah," tegas Bima lalu membawa Aura pergi menuju mushola.
Sesampainya di mushola mereka berwudhu di tempatnya masing masing lalu melaksankan sholat Isya berjamaah.
Setelah melaksanakan sholat, mereka berdoa, "Ya Allah, engkau yang maha menyembuhkan segala penyakit, engkau maha memberi pertolongan. Hamba memohon pertolongan kepadamu, berikanlah kesembuhan kepada Arfan yang telah menyelamatkan nyawa adik hamba ya Allah." ucap Bima dengan bibir bergetar.
Aura yang berada di belakang hanya mengaminkan setiap doa yang terucap dari Bima. Ia sudah salah menyangka, ia menyangka jika Bima begitu kejam dan tidak memiliki empati kepada Arfan.
Maafin aku Kak, aku udah salah menyangka Kak Bima, batin Aura.
Sementara di ruang operasi, lampu sudah di nyalakan, menandakan jika operasi sedang di lakukan. Dokter dan suster disana sedang sibuk melakukan yang terbaik dan semampu mereka menyelamatkan pasien seperti tugas mereka.
...****************...
Bunda sudah berada di rumah, ia membuka pintu ruangan rahasia yang hanya Bunda dan Arfa tau, yang Bunda mengira akan membukanya nanti menjelang Aura berganti usia.
Tetapi semuanya pupus harapan, sama sekali tidak terpikirkan oleh Bunda jika akan terjadi seperti ini.
"Nak Arfan, kamu bertahan Nak," lirih Bunda.
Bunda menatap ruangan yang sudah di hias oleh Arfan tadi dengan penuh semangat, sama sekali tidak ada terlihat Arfan mengeluh yang Bunda lihat hanya senyuman tulus Arfan kepada Aura.
Setelah beberapa menit disana, Bunda kembali menutup ruangan tersebut lalu berjalan menuju kamar. Sebenarnya pikirannya sama sekali tidak tenang memikirkan bagaimana kondisi Arfan sekarang.
Bunda mencoba menelfon Bima, tetapi tidak diangkat oleh Bima.
"Mungkin mereka disana sedang tidak memiliki waktu, semoga Arfan baik baik saja." lirih Bunda lalu membaringkan tubuhnya dan tidak lama Bunda tertidur lelap dengan pikiran yang masih belum tenang.
...****************...
Sudah beberapa jam berlalu namun lampu operasi menyala merah menandakan jika operasinya belum selesai. Para Dokter, Suster dan Arfan masih berjuang di dalam ruangan sana.
Aura memeluk Bima erat, ia benar benar takut jika Arfan sampai tidak tertolong. Aura berusaha untuk berpikir positif tetapi rasanya sangat sulit ia lakukan.
Sementara Bima, ia terus berdoa agar Arfan selamat dan memeluk Aura erat, menyalurkan kekuatan kepada Aura.
Beberapa menit kemudian, lampu di matikan membuat Aura dan Bima seketika berdiri dengan raut wajah yang semakin menegang dan takut.
Mereka takut mendapatkan kabar bahwa mereka harus ikhlas, mereka takut jika operasi tidak berjalan dengan lancar.
Aura kembali meneteskan air matanya, ia kembali memanjatkan doa tanpa henti-henti nya.
Hingga saat pintu ruang operasi di buka dan Dokter dengan berpakaian bedah dan memakai masker keluar dari sana.
Aura langsung mendekatinya, "Kak Arfan baik baik aja kan Dok? Kak Arfan gimana Dok, operasinya berjalan lancar kan?" Dok..." bibir Aura bergetar, air mata kembali menetes menatap Dokter, wajahnya terlihat tidak menunjukan ada kabar baik.
"Ra, lo tenang. Biar Dokter bisa jelasin semuanya ke kita," ucap Bima memegang lengan Aura dengan lembut.
Bersambung.....
Assalamualaikum semuanya, saya disini ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasanya dengan di temani cerita Arfan dan Aura. Saya mau minta maaf jika ceritanya kurang baik🙏🏻.
Terimakasih banyak yang sudah mau mampir ya🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰