Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Suara alarm berbunyi lagi.
Kali ini Arcelia langsung menekan tombolnya sebelum bunyi kedua terdengar. Ia menatap langit-langit kamarnya beberapa detik, membiarkan pikirannya bangun sepenuhnya.
Bayangan percakapan semalam kembali muncul.
"…Jika berita itu keluar, semuanya bisa runtuh."
Ia menutup mata sebentar.
"...Aku cuma salah dengar, kan?"
Ia bergumam pelan dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Arcelia menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya sedikit tersadar. Ia merapikan rambutnya seadanya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Suara air mengalir memenuhi ruangan. Uap hangat mulai menempel di kaca cermin.
Ia menatap bayangannya lagi.
Wajahnya masih terlihat sama seperti kemarin. Tidak ada yang berubah.
Tapi perasaan di dadanya terasa berbeda.
Saat Arcelia turun ke ruang makan, aroma roti panggang dan sup krim memenuhi udara. Dia, melihat Mamanya sedang menata piring dengan tenang. Senyumnya langsung muncul saat melihat putrinya.
"Pagi, Lia Sayang."
"Pagi, Ma."
Arcelia duduk di kursinya, menatap meja makan yang hari ini terasa sedikit lebih sepi.
"Papa sudah berangkat?" tanyanya.
Mamanya mengangguk pelan. "Iya Sayang, katanya ada rapat pagi."
Nada suara Mamanya tetap lembut, tapi Arcelia menangkap sesuatu yang halus di baliknya. Seperti seseorang yang sedang berusaha terlihat baik-baik saja.
Kaiven datang beberapa detik kemudian, mengenakan jas sekolahnya sambil merapikan dasi.
"Kalau kamu telat lagi hari ini, aku tinggal."
Arcelia memutar bola mata. "Aku sudah siap dari tadi."
Elvarin berlari turun tangga sambil membawa tas hampir terbalik.
"Aku lapar Ma!"
Mamanya hanya tertawa kecil. Suasana hangat itu kembali muncul, meskipun ada bayangan tipis yang sulit dijelaskan.
Sekolah hari itu terasa lebih ramai dari biasanya.
Arcelia baru saja memasuki gerbang saat mendengar bisikan di sekitar para siswa.
"Katanya ada murid baru."
"Dari keluarga besar, katanya."
"Aku dengar dia pindahan dari luar negeri."
Arcelia tidak terlalu memperhatikan. Ia berjalan santai menuju gedung utama, membuka ponselnya sebentar untuk mengecek jadwal pelajaran.
Namun saat ia melewati halaman tengah sekolah, kerumunan kecil terlihat di dekat tangga utama.
Beberapa siswa berusaha terlihat santai, tapi jelas sedang memperhatikan seseorang.
Arcelia melirik sekilas.
Dan untuk sesaat, langkahnya melambat.
Seorang siswa pria berdiri di dekat kepala sekolah. Tingginya di atas rata-rata, posturnya tegap, mengenakan seragam sekolah yang terlihat rapi tanpa usaha berlebihan.
Rambutnya gelap, tertata sederhana. Tatapannya tenang, tapi dingin. Cara ia berdiri… seperti seseorang yang terbiasa diperhatikan, tapi tidak peduli dengan perhatian itu.
"...Itu dia," bisik salah satu siswi di dekat Arcelia.
Arcelia tidak tahu kenapa, tapi matanya tertahan beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Siswa itu menoleh sedikit, seolah merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Tatapan mereka hampir bertemu.
Arcelia langsung memalingkan wajah.
...Kenapa aku malah lihat dia lama begitu?
Ia menghela napas pelan lalu melanjutkan berjalan menuju kelas.
Di dalam kelas, suasana langsung berubah riuh saat guru wali kelas masuk bersama siswa baru itu.
"Baik anak-anak, sebelum pelajaran kita dimulai, kita punya siswa pindahan."
Beberapa siswa langsung duduk lebih tegak.
Siswa itu berdiri di depan kelas. Ekspresinya tetap datar.
"Silahkan perkenalkan dirimu."
Ia mengangguk pelan.
"Kaelion Ravert."
Hanya itu.
Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
Ruangan sempat hening beberapa detik sebelum bisikan kecil mulai terdengar.
Nama itu terasa asing… tapi entah kenapa terdengar kuat.
Arcelia menatap buku catatannya, tapi telinganya tetap menangkap setiap suara.
"...Ravert…"
Nama itu berputar pelan di kepalanya.
Ada sesuatu yang terasa familier. Tapi ia tidak tahu apa.
"Baik sekarang, silakan duduk di kursi kosong di sebelah Arcelia," kata guru.
Arcelia langsung menegang sedikit.
...Serius?
Ia mencoba tetap terlihat biasa saja saat Kaelion berjalan menuju bangkunya. Langkahnya tenang, stabil, hampir tidak menimbulkan suara.
Ia duduk di kursi sebelah Arcelia tanpa berkata apa pun.
Jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.
Arcelia bisa merasakan aura dingin yang tidak bermaksud menakutkan… tapi tetap membuatnya sadar akan keberadaannya.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Akhirnya Arcelia berbicara lebih dulu.
"Pindahan dari mana?"
Kaelion menoleh sedikit. Tatapannya lurus, tanpa emosi berlebihan.
"Luar negeri."
Jawaban singkat.
Arcelia menunggu beberapa detik, berharap ada lanjutan. Tidak ada.
"...Oh."
Ia kembali menatap bukunya.
Suasana hening kembali muncul di antara mereka, hanya diisi suara guru menjelaskan pelajaran.
Namun entah kenapa, Arcelia merasa konsentrasinya semakin sulit dijaga.
Ia bisa merasakan kehadiran Kaelion di sampingnya, seperti bayangan yang tenang tapi berat.
Saat jam istirahat, hampir semua siswa mencoba mendekati Kaelion. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan.
"Kamu tinggal di mana?"
"Kenapa pindah sekolah?"
"Kamu ikut klub apa?"
Kaelion menjawab seperlunya. Tidak kasar. Tidak ramah. Hanya… datar.
Arcelia memperhatikan dari kursinya sambil menutup buku.
"...Dia aneh."
Suara hatinya berkomentar.
Namun sebelum ia sempat berdiri, Kaelion tiba-tiba menoleh ke arahnya.
"Arcelia."
Ia menyebut namanya tanpa ragu.
Arcelia menatapnya, sedikit terkejut.
"Ya?"
"Kamu ikut latihan bela diri, kan?"
Arcelia mengerutkan kening. "Kamu tahu dari mana?"
"Jadwal sekolah."
Jawaban singkat lagi.
Arcelia menatapnya beberapa detik, mencoba membaca ekspresinya.
"...Kamu juga ikut?"
"Ya."
Sore hari,
Pusat latihan kembali dipenuhi suara benturan pelindung dan aba-aba pelatih.
Arcelia mengencangkan sarung tangan latihannya, lalu berdiri di area latihan. Keringat mulai terasa di pelipisnya bahkan sebelum latihan dimulai.
Saat ia menoleh, ia melihat Kaelion berdiri di sisi ruangan, sedang melakukan pemanasan dengan gerakan yang stabil dan terkontrol.
Gerakannya terlihat ringan… tapi presisi.
Pelatih meniup peluit.
"Latihan sparring. Cari pasangan."
Arcelia baru saja hendak berjalan menuju temannya ketika suara pelatih terdengar lagi.
"Arcelia. Kaelion. Kalian berdua."
Arcelia menatap pelatih, lalu menoleh ke Kaelion.
Tatapan mereka bertemu lagi.
Untuk pertama kalinya, Arcelia merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan takut.
Bukan gugup.
Lebih seperti… insting yang tiba-tiba terbangun.
Kaelion melangkah maju, mengenakan pelindung tangannya. Ekspresinya tetap tenang.
Arcelia berdiri di depannya, mengangkat posisi bertahan.
Peluit berbunyi.
Suara langkah mereka bergeser di lantai kayu. Beberapa detik pertama hanya saling membaca gerakan.
Lalu—
WHOOSH.
Kaelion menyerang lebih dulu. Cepat. Bersih.
Arcelia nyaris terlambat menghindar. Ia memutar tubuh, lalu membalas dengan pukulan pendek.
BRAK.
Benturan pelindung terdengar padat. Napas mereka mulai memburu. Suara langkah, gesekan sepatu, dan benturan tangan memenuhi ruangan.
Arcelia meningkatkan kecepatan. Ia menyerang bertubi-tubi, mencoba memancing reaksi.
Kaelion menahan semua serangan dengan efisiensi yang membuat Arcelia terkejut.
"...Dia kuat."
Suara hatinya berbisik.
Ia mencoba serangan terakhir, gerakan cepat yang biasanya membuat lawannya kehilangan keseimbangan.
Namun Kaelion membaca gerakannya.
Dalam satu gerakan halus, ia menahan tangan Arcelia sebelum serangan itu mengenai sasaran.
Mereka berhenti.
Jarak mereka sangat dekat.
Untuk pertama kalinya, Arcelia melihat ekspresi Kaelion berubah sedikit.
Tatapan yang tajam… tapi juga penuh penilaian.
Peluit pelatih berbunyi.
"Cukup."
Kaelion melepaskan tangannya.
Arcelia mundur satu langkah. Jantungnya masih berdetak cepat, bukan hanya karena latihan.
"...Dia bukan murid biasa."
Pikirnya.
Kaelion menatapnya beberapa detik sebelum berbalik berjalan pergi. Arcelia menatap punggungnya. Dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan… Ia merasa hidupnya baru saja mulai berubah arah.
Suasana ruang latihan perlahan kembali ramai setelah peluit pelatih berbunyi. Suara napas berat para peserta, gesekan sepatu, dan bunyi pelindung dilepas memenuhi ruangan.
Arcelia berdiri diam beberapa detik, masih menatap tempat Kaelion tadi berdiri. Tangannya sedikit bergetar halus. Ia mengencangkan kembali sarung tangannya tanpa sadar.
"...Kenapa rasanya seperti aku baru saja diuji?"
Suara hatinya berbisik.
Biasanya, sparring hanya latihan biasa baginya. Tapi barusan terasa berbeda. Kaelion tidak menyerang dengan brutal, juga tidak menahan diri seperti kebanyakan peserta yang sering meremehkannya.
Ia bertarung… seimbang.
Dan itu membuat Arcelia sedikit kesal sekaligus tertantang.
"Lia, fokusmu sudah bagus."
Suara pelatih membuat Arcelia menoleh.
"Tapi emosimu ikut masuk ke gerakanmu," lanjut pelatih.
Arcelia menunduk sedikit. "Maaf coach."
"Bukan salah. Tapi kalau lawanmu lebih berpengalaman, itu bisa jadi celah."
Arcelia mengangguk pelan.
Matanya tanpa sadar kembali mencari sosok Kaelion.
Ia melihat pria itu sedang melepas pelindung tangannya dengan tenang di sudut ruangan. Tidak ada ekspresi bangga, tidak juga terlihat lelah berlebihan. Seolah latihan tadi hanya rutinitas biasa.
"...Menyebalkan."
Arcelia bergumam sangat pelan.
Latihan selesai satu jam kemudian. Arcelia duduk di bangku panjang, menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya justru semakin aktif.
Suara pintu ruang latihan terbuka terdengar samar. Beberapa peserta sudah pulang. Ruangan mulai sepi. Arcelia sedang mengikat ulang rambutnya ketika bayangan seseorang berhenti di depannya.
Ia mendongak.
Kaelion.
"Kamu terlalu terbuka saat menyerang putaran terakhir," katanya tiba-tiba.
Arcelia berkedip.
"...Kamu sengaja nunggu aku cuma buat kritik?"
"Tidak."
Jawaban datar itu membuat Arcelia hampir mendengus.
"Lalu?"
"Kalau lawanmu bukan aku, kamu bisa jatuh."
Arcelia menatapnya beberapa detik. Nada bicara Kaelion tidak terdengar merendahkan. Justru… terdengar objektif. Tapi tetap saja.
"Kamu juga hampir kena dua kali."
Kaelion mengangguk sedikit. "Benar."
Jawaban itu membuat Arcelia terdiam sesaat.
Ia tidak menyangka pria itu akan mengakuinya secepat itu.
Beberapa detik hening berlalu. Arcelia akhirnya berdiri, mengambil tas latihannya.
"Kamu baru pindah, tapi sudah ikut latihan intens."
"Ya."
"Kamu sudah latihan lama?"
"Sejak kecil."
Arcelia menatapnya sekilas. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi sesuatu dalam tatapan Kaelion membuatnya merasa pria itu bukan tipe orang yang suka berbagi cerita pribadi.
Jadi ia hanya mengangguk kecil.
Saat mereka keluar dari gedung latihan, langit sudah berubah jingga. Angin sore berhembus pelan membawa aroma tanah hangat dan dedaunan.
Arcelia berjalan menuruni tangga gedung, menatap halaman parkir yang mulai lengang.
"Mobil kamu sudah datang?" tanya Kaelion tiba-tiba.
Arcelia menoleh sedikit, agak terkejut karena ia yang biasanya membuka percakapan.
"Biasanya iya."
Seolah menjawab ucapannya, mobil keluarga Virellia memasuki area parkir beberapa detik kemudian.
Arcelia tersenyum tipis. "Tuh."
Ia melangkah menuju mobil, tapi sebelum membuka pintu, ia berhenti.
Entah kenapa, ia menoleh kembali.
Kaelion masih berdiri di tempat yang sama, menatap langit sore dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Untuk sesaat, Arcelia merasa pria itu terlihat… sendirian.
Perasaan aneh menyentuh dadanya.
"...Sampai besok," ucapnya refleks.
Kaelion menatapnya.
"...Sampai besok."
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arcelia duduk di kursi belakang, menatap jalanan yang mulai ramai kendaraan pulang kerja. Elvarin hari itu pulang lebih awal dengan mobil lain karena kegiatan sekolah.
Ia menyandarkan kepala ke jendela, membiarkan getaran mobil terasa samar di pipinya.
Pikirannya kembali ke latihan tadi. Gerakan Kaelion. Tatapannya. Cara pria itu berbicara singkat tapi tepat.
"...Dia aneh."
Ia bergumam dalam hati lagi.
Tapi kali ini, kata aneh itu tidak terasa negatif.
Saat mobil memasuki halaman rumah, Arcelia langsung merasakan sesuatu berbeda. Lampu ruang tamu menyala terang. Biasanya pada jam seperti ini, Mamanya hanya akan menyalakan lampu sebagian.
Ia turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam terasa tegang. Suara percakapan terdengar dari ruang keluarga.
Arcelia berhenti di lorong.
"...Kita tidak bisa menunda ini lagi."
Suara Kaiven terdengar lebih keras dari biasanya.
"Kita harus menunggu keputusan final," suara Alveron menjawab, lebih rendah tapi berat.
Arcelia menahan napas.
Ia berdiri diam di balik dinding lorong, tidak berani masuk… tapi juga tidak mampu pergi.
"Kita sedang diserang, Pa," suara Kaiven terdengar lagi, kali ini lebih pelan namun tajam.
Hening beberapa detik.
Arcelia bisa mendengar suara napas Mamanya.
"Kita hadapi bersama," suara Mamanya akhirnya terdengar lembut… tapi bergetar.
Jantung Arcelia berdetak lebih cepat. Tangannya terasa dingin.
"...Diserang…?"
Kata itu berputar di kepalanya. Ia tidak tahu apa maksudnya. Tapi nalurinya mengatakan… Ini bukan masalah kecil.
Arcelia mundur perlahan sebelum mereka menyadari keberadaannya. Ia naik ke kamarnya dengan langkah pelan.
Begitu pintu kamar tertutup, ia bersandar di baliknya.
Napasnya terasa berat.
Ia menatap langit-langit kamar yang tadi pagi masih terasa nyaman.
"...Apa keluarga kita benar-benar baik-baik saja?"
Pertanyaan itu muncul tanpa bisa ia tahan.
Ia berjalan menuju meja belajar, duduk, lalu membuka buku catatan. Tapi matanya hanya menatap halaman kosong.
Untuk pertama kalinya…
Arcelia merasa ada sesuatu yang perlahan mendekat ke kehidupannya. Dan ia tidak tahu apakah ia siap menghadapinya.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....