Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Aturan Tiga Detik
"Satu."
Suara bariton itu membelah keheningan ruang rapat di lantai 50 Gedung Vance Corp. Dingin, datar, dan mematikan.
"Maksud saya... eh, begini, Pak Dominic. Target pasar untuk kuartal ini sebenarnya... eh..."
"Dua."
Dominic Vance mengetuk jari telunjuknya ke permukaan meja mahoni yang mengkilap. Ketukan itu pelan, tapi bagi lima belas eksekutif yang duduk mengelilinginya, suaranya terdengar seperti detak bom waktu. Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipis pria paruh baya yang sedang berdiri di ujung meja. Dia adalah Manajer Pemasaran baru, lulusan terbaik dari universitas ternama di luar negeri, tapi di hadapan Dominic, dia terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.
"Saya hanya butuh sedikit waktu untuk menjelaskan grafik ini, Pak. Ada sedikit kesalahan teknis di slide sebelumnya, jadi data yang masuk..."
"Tiga."
Dominic berhenti mengetuk. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit seharga mobil mewah itu, lalu menatap pria malang di depannya dengan tatapan bosan. Sangat bosan.
"Keluar."
Pria itu ternganga. "M-maaf?"
"Kau tuli atau bodoh? Aku bilang keluar," ucap Dominic santai, seolah dia baru saja memesan menu makan siang, bukan menghancurkan karir seseorang. "Kau baru saja membuang tiga detik waktuku dengan suara 'eh' dan 'uh' yang tidak berguna itu. Kau tahu berapa nilai satu detik waktuku?"
"Pak, tolong beri saya kesempatan—"
"Satu detik waktuku bernilai dua ribu dolar. Kau baru saja membakar enam ribu dolar hanya untuk memamerkan kegugupanmu yang menyedihkan," potong Dominic tajam. Dia mengibaskan tangannya ke arah pintu. "Kemas barangmu. HRD akan mengurus pesangonmu. Pastikan mejamu bersih sebelum aku selesai rapat ini."
"Tapi saya baru bekerja dua minggu!"
"Dan itu dua minggu yang paling sia-sia dalam sejarah perusahaan ini. Minggir."
Pria itu memandang berkeliling, mencari pembelaan. Tapi tidak ada yang berani menatap matanya. Direktur Keuangan pura-pura sibuk membetulkan kacamata, sementara Kepala Divisi IT menunduk dalam-dalam, seolah pola serat kayu di meja adalah hal paling menarik di dunia. Di ruangan ini, melawan Dominic Vance sama saja dengan bunuh diri profesional.
Pria itu akhirnya menyerah. Dengan bahu merosot, dia membereskan berkasnya yang berantakan dan berjalan gontai keluar ruangan. Pintu tertutup dengan bunyi klik pelan yang terasa sangat nyaring.
Hening.
Dominic memutar kursi ke arah sisa karyawannya yang masih mematung.
"Siapa selanjutnya?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab. Keheningan itu begitu mencekam sampai suara AC sentral terdengar seperti deru mesin pesawat.
"Kenapa diam? Apa otak kalian juga buffering?" Dominic mengambil gelas kristal berisi air mineral di depannya, lalu meletakkannya kembali dengan kasar karena ada bekas sidik jari tipis di gelas itu. "Kalian lihat gelas ini? Kotor. Presentasi tadi? Sampah. Kinerja kalian bulan ini? Menyedihkan."
Seorang wanita muda dari divisi kreatif memberanikan diri mengangkat tangan dengan gemetar. "Pak... s-soal desain logo untuk peluncuran produk Olexa..."
"Jangan mulai kalimatmu dengan gagap atau kau menyusul temanmu tadi ke pintu keluar," ancam Dominic tanpa menoleh.
Wanita itu langsung diam, wajahnya pucat pasi. Dia menurunkan tangannya perlahan, memilih untuk menyelamatkan karirnya daripada memperjuangkan logo.
Dominic mendengus kasar. Dia berdiri, berjalan menuju dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan hiruk-pikuk kota metropolis di bawah sana. Mobil-mobil terlihat seperti semut, dan orang-orang tidak terlihat sama sekali. Dari ketinggian ini, dia merasa seperti dewa yang dikelilingi oleh manusia-manusia tidak kompeten.
"Kalian semua dibayar mahal untuk berpikir, bukan untuk menjadi patung," gerutu Dominic sambil memandangi pantulan dirinya di kaca.
Dia menyipitkan mata. Ada yang salah.
Sesuatu yang sangat kecil, tapi sangat mengganggu.
Dominic mendekatkan wajahnya ke kaca. Matanya terkunci pada leher kemejanya. Dasinya. Dasi sutra Italia berwarna biru navy itu... miring.
Miring sekitar dua milimeter ke kiri.
Napas Dominic tercekat. Detak jantungnya naik.
Bagaimana bisa? Dia sudah bercermin tiga kali sebelum masuk ke sini.
Siapa yang berani menyentuh dasinya? Angin? Atau karena dia tadi bergerak terlalu kasar saat mengusir manajer bodoh itu?
Rasa gatal mulai menjalar di kulitnya. Bukan gatal fisik, tapi gatal mental yang membuatnya ingin mengamuk.
Baginya, ketidaksempurnaan adalah musuh. Ketidaksempurnaan adalah dosa. Dan dasi yang miring ini adalah penghinaan terbesar hari ini.
Dia berbalik menatap para eksekutif yang masih menunduk ketakutan. Mereka semua tampak berantakan. Baju kusut, rambut berminyak, dasi murahan. Pemandangan itu membuatnya semakin mual.
"Rapat bubar," desis Dominic.
"T-tapi Pak, kita belum membahas anggaran—" sela Direktur Keuangan.
"Aku bilang BUBAR!" bentak Dominic.
Para eksekutif itu langsung berhamburan keluar seperti tikus yang melihat kucing garong. Mereka berebut pintu, menyenggol kursi, bahkan ada yang meninggalkan pulpen mahalnya saking paniknya. Dalam hitungan sepuluh detik, ruangan itu kosong. Hanya menyisakan Dominic dan dasinya yang miring.
Dominic mencoba membetulkannya sendiri di depan pantulan kaca. Tapi tangannya gemetar karena emosi. Semakin dia mencoba, simpulnya malah semakin tidak simetris.
"Sialan!" umpatnya. Dia menarik dasi itu kasar, membuatnya semakin miring. Sekarang miring lima milimeter. Bencana. Ini bencana nasional.
Dia butuh "Penyelesai Masalah". Dia butuh satu-satunya orang yang tangannya tidak gemetar saat berada di dekatnya. Satu-satunya manusia yang tahu persis di derajat kemiringan berapa dasinya harus bertengger.
Dominic menekan tombol interkom di meja dengan beringas, tapi kemudian dia sadar itu terlalu lambat. Dia butuh orang itu sekarang. Detik ini juga.
Dominic berjalan lebar ke arah pintu, membukanya dengan kasar hingga gagang pintu menghantam dinding, lalu berteriak sekuat tenaga ke arah koridor di mana meja sekretaris berada.
"HARPER!!!"
cerita kk yg ini bnr2 bikin hipertensi ,,
perlu cek darah aq kak abis ini ,,
tkut drah tinggi ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kak bisa gx ad scene si Dominic tenggelam di laut trus ilang bertahun2 sampai si Harper nikah sama dokter Ryan ,,
🤭🤭🤣🤣🤣
sebel aq tuh sama si domba ,, banyak tingkah gengsi segede bulan ,, /Smug//Smug//Smug/
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣