Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Keputusan Abi
Di balik pintu kamar orang tuanya, suasana tak kalah sunyi. Ustaz Rahmat duduk di tepi ranjang. Peci masih di tangannya. Ia menatap kosong ke lantai.
Bu Salma duduk di sampingnya.
“Abi …,” panggilnya pelan.
“Aku terlalu percaya diri,” jawabnya lirih. “Merasa sudah cukup mendidik. Merasa rumah ini aman.”
“Anak bukan robot, Bi.”
“Tapi ini bukan sekadar salah kecil.”
Bu Salma menggenggam tangan suaminya. “Mungkin ini ujian untuk kita.”
Ustaz Rahmat menghela napas panjang. “Aku selalu bilang ke jamaah, ujian terbesar bukan harta atau jabatan. Tapi keluarga. Ternyata Allah benar-benar mengujiku dengan anak.”
Tidak ada amarah lagi dalam suaranya. Hanya rasa perih yang dalam.
“Kita tidak boleh hancur karena ini,” ucap Bu Salma pelan. “Kalau kita runtuh, Hanin makin jauh.”
Ustaz Rahmat terdiam. Sementara itu, di kamar, Hanin masih menatap layar ponselnya.
Ia mencoba menghubungi Fahmi sekali lagi. Nomor ponselnya masih tidak aktif.
Ia membuka galeri. Melihat foto-foto mereka. Senyum dan tawa menghiasi wajahnya. Chat panjang penuh janji.
Kini semuanya terasa seperti lelucon pahit. Tiba-tiba satu pikiran menamparnya keras.
Bagaimana jika Fahmi memang tidak pernah serius? Bagaimana jika ia hanya hiburan? Bagaimana jika foto itu tersebar lebih luas?
Nama ayahnya. Jamaah masjid. Tetangga. Sekolah tahfiznya dulu. Hanin menutup mulutnya menahan tangis.
“Ya Allah …,” bisiknya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasa takut pada dosa, bukan hanya pada konsekuensi sosialnya.
Ia turun dari tempat tidur, mengambil wudhu dengan tangan gemetar, lalu menggelar sajadah. Sujudnya panjang. Tangisnya pecah tanpa suara.
“Ya Allah, aku salah … aku yang salah .…”
Ia tidak tahu doa apa yang pantas dipanjatkan. Ia hanya mengulang istighfar berkali-kali sampai dadanya terasa sedikit ringan.
Tapi ketakutan itu belum hilang. Selesai salat, ia kembali meraih ponsel. Masih tidak ada balasan.
Ia mencoba menghubungi nomor Fahmi untuk terakhir kalinya malam itu.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.” Suara operator itu terdengar seperti vonis.
Hanin menatap layar yang gelap. Dunia yang tadi siang terasa penuh warna kini seperti dipadamkan satu per satu.
Ia tidak tahu apakah yang lebih menyakitkan, kekecewaan orang tuanya, atau kemungkinan bahwa lelaki yang ia bela mati-matian justru pergi saat masalah datang.
Di luar kamar, angin malam berembus pelan melewati pohon mangga tua di halaman. Rumah itu tetap berdiri seperti biasa. Tapi di dalamnya, ada hati yang retak.
Dan Hanin baru saja menyadari, mungkin ini bukan hanya tentang satu foto. Mungkin ini tentang ujian yang jauh lebih besar.
Ponselnya tetap sunyi di tangannya. Nomor Fahmi tetap tidak aktif. Akhirnya Hanin terlelap dalam tidurnya.
Tak terasa pagi telah menjelang. Biasanya suara ayam tetangga, denting sendok di dapur, dan aroma teh hangat menjadi tanda rumah itu hidup seperti biasa. Tapi hari ini, semuanya terdengar lebih pelan. Lebih hati-hati. Seolah setiap bunyi takut menyinggung luka yang masih segar.
Hanin keluar kamar dengan mata sembap. Ia sudah berusaha menutupinya dengan bedak tipis, tapi bekas tangis semalam tak bisa sepenuhnya disamarkan. Langkahnya pelan menuju ruang makan.
Abi sudah duduk di kursi seperti biasa. Peci hitamnya terpasang rapi. Wajahnya tetap tampak tenang. Umi meletakkan piring terakhir di meja, lalu duduk tanpa banyak bicara.
Tidak ada sapaan “Selamat pagi.”
Tidak ada pertanyaan “Tidur nyenyak?”
Hanya sunyi yang ikut duduk bersama mereka.
Hanin lalu berucap, "Assalamualaikum, Abi, Umi."
"Waalaikumsalam." Abi dan Umi menjawab pelan.
Hanin menarik kursi perlahan. Bunyi gesekan kayu terdengar nyaring di telinganya sendiri. Ia menunduk, mengambil nasi secukupnya, lalu lauk seadanya. Tangannya sedikit gemetar saat menyendok sayur.
Biasanya Abi akan bercerita tentang rencana ceramah hari ini. Atau Umi akan menanyakan jadwal murajaah Hanin. Tapi pagi ini, tak satu pun dari itu terjadi. Mereka makan dalam diam.
Setiap kunyahan terasa berat. Seolah nasi yang masuk ke tenggorokannya berubah menjadi batu kecil yang mengganjal. Hanin tak berani mengangkat wajah. Ia takut bertemu tatapan Abi. Takut melihat kekecewaan yang semalam sudah cukup menghancurkannya.
Beberapa menit berlalu. Piring hampir kosong. Suara sendok yang menyentuh piring menjadi satu-satunya percakapan.
Lalu Abi berdeham pelan. Hanin refleks menegang.
“Ada yang ingin Abi sampaikan,” ucapnya datar.
Umi berhenti makan. Tangannya diam di atas meja.
Hanin mengangkat wajah perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Setelah Subuh tadi, Abi sudah menghubungi seorang sahabat lama,” lanjutnya. “Beliau pimpinan pesantren di desa kecil, sekitar tiga jam dari sini.”
Hanin merasa napasnya tertahan. “Mulai bulan depan, kamu akan tinggal di sana.”
Kalimat itu jatuh seperti palu. Hanin menatap Abi, tak yakin apakah ia salah dengar.
“Pesantren, Bi?” suaranya pelan, hampir tak terdengar.
Abi mengangguk. “Di sana kamu bisa memperbaiki diri. Menguatkan lagi hafalanmu. Sekaligus membantu mengajar ngaji anak-anak desa.”
Tidak ada nada marah. Tidak ada ancaman. Justru itu yang membuat keputusan ini terasa final.
Hanin menelan ludah. “Berapa lama, Bi?”
“Tidak ditentukan. Sampai Abi merasa kamu siap kembali.”
Siap kembali. Siap menjadi apa? Anak ustaz yang sempurna lagi?
Umi tidak menyela. Tidak membela. Ia hanya menatap meja, lalu berkata pelan, “Itu yang terbaik untukmu, Nak.” Kalimat itu seperti pengesahan.
Hanin tahu, kalau Umi sudah berkata begitu, artinya keputusan ini tidak akan berubah. Umi mungkin sedih. Mungkin berat. Tapi ia tidak akan melawan suaminya.
Dan Hanin tidak punya hak untuk membantah. Semua memang salahnya.
Hanin menunduk. “Baik, Bi.” Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Abi mengangguk singkat. “Persiapkan dirimu. Jangan membawa hal-hal yang tidak perlu. Di sana hidup sederhana.”
Sederhana. Kata yang dulu selalu terasa indah kini terdengar seperti hukuman.
Sarapan selesai tanpa tambahan kalimat apa pun. Abi berdiri lebih dulu, mencuci tangan, lalu pergi ke ruang tamu mengambil tas kerjanya. Umi mengumpulkan piring-piring dengan gerakan pelan.
Hanin masih duduk beberapa detik. Ia merasa seperti baru saja dijatuhi vonis. Bukan penjara. Tapi pengasingan.
Pesantren di desa kecil. Jauh dari kota. Jauh dari teman. Jauh dari semua yang selama ini ia kenal. Dan tentu saja jauh dari Fahmi. Nama itu kembali menghantam pikirannya.
Begitu Umi masuk dapur, Hanin segera kembali ke kamar. Ia menutup pintu pelan, lalu meraih ponselnya yang sejak tadi terasa seperti benda paling berat di dunia.
Ia langsung menekan nomor Fahmi. Nada sambung. Beberapa saat kemudian terdengar suara yang sama seperti semalam.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
Hanin memejamkan mata. “Ya Allah .…”
Ia mencoba lagi. Hasilnya tetap sama.
Tangannya berpindah ke WhatsApp. Pesan semalam masih centang satu. Tidak ada foto profil. Tidak ada status. Seolah Fahmi benar-benar menghapus dirinya dari dunia.
“Kenapa kamu hilang saat aku butuh?” bisiknya lirih. Dadanya terasa panas. Antara marah dan takut.
Kalau ia benar-benar akan dikirim ke pesantren, setidaknya ia ingin tahu satu hal, apa Fahmi serius atau tidak dengan hubungan mereka selama ini. Apa semua ini hanya permainan.
Ia membuka Instagram lagi. Tetap tidak ditemukan.
Hanin berjalan mondar-mandir di kamar. Otaknya bekerja cepat.
Datang ke rumahnya? Tapi ia tak pernah benar-benar diperkenalkan pada keluarganya. Setiap kali ia bertanya, Fahmi selalu mengalihkan pembicaraan. Bertemu pun lebih sering di luar desa, di kafe kecil atau taman kota.
Ia bahkan tidak yakin alamat lengkapnya. Hanin menggigit bibir. Ia menyadari betapa bodohnya. Beberapa bulan berhubungan, tapi ia tidak benar-benar tahu siapa lelaki itu.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??