Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh
Kenneth berjalan menjauh dari kerumunan pesta yang bising, menuju area parkir VIP yang sepi dan remang-remang. Kartu ucapan dengan tulisan tangan Hazel masih ia genggam erat di saku jasnya, seolah benda itu adalah satu-satunya penyambung nyawa baginya malam ini.
Saat ia hendak membuka pintu mobil sport-nya, sebuah bola kecil menggelinding dan menabrak ujung sepatu pantofel mahalnya.
Kenneth menunduk, lalu mengambil bola itu. Saat ia menegakkan tubuh, napasnya tercekat hebat. Dunianya seolah berhenti berputar untuk kedua kalinya dalam tujuh tahun.
Di hadapannya, berdiri bukan hanya satu, melainkan dua anak kecil berusia sekitar enam tahun.
Seorang anak laki-laki dengan setelan jas hitam kecil berdiri dengan tangan bersedekap di dada, sikap yang begitu identik dengan Kenneth. Matanya tajam, rahangnya tegas meski masih tertutup lemak bayi. Ia menatap Kenneth tanpa rasa takut, justru dengan tatapan menantang yang angkuh.
"Hei, Tuan. Itu bolaku. Kembalikan," ucap anak laki-laki itu dengan nada dingin yang membuat Kenneth merinding. Itu adalah suaranya sendiri versi kecil.
Namun, kejutan Kenneth belum berakhir. Dari belakang punggung anak laki-laki itu, muncul seorang gadis kecil bergaun putih dengan pita rambut besar. Menurut Kenneth Wajahnya adalah replika sempurna dari Hazel mata bulat yang bersinar, pipi merona, dan senyum malu-malu yang manis.
"Jangan kasar begitu, Kenzo," bisik gadis kecil itu, lalu menatap Kenneth dan tersenyum. "Maafkan kakakku, Tuan. Namaku Zella."
Kenneth terpaku. Kakinya terasa dipaku ke tanah. Seorang Anak Kembar?
Apa anaknya dan Hazel Akan Seganteng dan Secantik ini ?
Kenneth berlutut perlahan, menyejajarkan tingginya dengan mereka. Tangannya gemetar saat ia menyentuh bahu Kenzo yang kaku dan menatap wajah Zella yang lembut.
"Kenzo... Zella..." bisik Kenneth, matanya memanas. "Siapa nama ibu kalian?"
"Mommy bilang kami tidak boleh bicara dengan orang asing," potong Kenzo tajam, menarik tangan adiknya mundur selangkah. Protektif. Persis seperti Kenneth yang dulu menjaga Kiana.
Sementara itu, hanya berjarak sepuluh meter dari sana, di dalam sebuah mobil sedan hitam dengan kaca film yang sangat gelap, Hazel duduk sambil membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak terdengar.
Air mata mengalir deras di pipinya saat melihat pemandangan itu: Kenneth berlutut di hadapan kedua buah hatinya.
Arthur yang duduk di kursi kemudi menatap adiknya lewat spion tengah. "Kita harus pergi sekarang, Hazel. Sebelum dia sadar."
Hazel menggeleng lemah, matanya tak lepas dari sosok pria yang masih dicintainya itu. Tujuh tahun berlalu, dan rasa sakit itu masih ada, namun kebencian itu tidak pernah tumbuh.
"Aku tidak membencinya, Arthur..." bisik Hazel lirih, menyentuh kaca jendela seolah ingin menggapai Kenneth. "Aku tidak pernah bisa membencinya. Aku hanya... aku hanya menyesal kenapa takdir mempertemukan kita dengan cara sekejam itu. Kenapa dia harus menjadi adik dari wanita yang kau hancurkan? Dan kenapa aku harus menjadi alat balas dendamnya?"
Hazel melihat betapa hancur dan sekaligus bahagianya wajah Kenneth saat melihat Kenzo dan Zella.
"Dia ayah mereka, Arthur. Lihatlah... Kenzo sangat mirip dengannya. Sifatnya, cara berdirinya... darah Graciano terlalu kuat di dalam dirinya."
"Hazel, dia berbahaya," tegas Arthur, mulai menyalakan mesin mobil.
"Dia berbahaya karena dia kesepian," bantah Hazel pelan.
Di luar, Kenzo tiba-tiba menoleh ke arah mobil hitam tempat ibunya bersembunyi. "Ayo, Zella. Uncle Arthur sudah menyalakan mesin."
Kenneth tersentak mendengar nama Arthur. Ia langsung menoleh ke arah mobil hitam yang terparkir di sudut gelap itu. Tatapan matanya bertemu dengan kegelapan kaca jendela, namun instingnya berteriak bahwa Hazel ada di sana.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰
terimakasih
ceritanya bagus