Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audisi UJANG
Sesampainya di lobi Fakultas Seni Rupa dan Desain, suasana ternyata sedang ramai. Ada panggung kecil dan spanduk besar bertuliskan,
"AUDISI MODEL KATALOG KREATIF DKV: MENCARI WAJAH BARU!"
"Ar! Di sini!"
Genta melambai dari kejauhan. Dia berdiri di samping meja juri audisi. Ternyata Genta adalah salah satu panitianya.
Aruna mendekat dengan langkah berat, menyeret Javi yang masih memakai kacamata renang dan kemeja flanel yang dikancing sampai ke leher.
"Ngapain kita ke sini, Gent?" tanya Aruna ketus.
Genta nyengir licik.
"Tugas Layouting-ku susah, Ar. Aku butuh model buat katalog UAS. Dan setelah aku liat pesona si Ujang kemarin, aku pikir dia cocok. Tapi... kenapa hari ini dia kelihatan kayak mau menyelam di bak mandi?"
"Dia... dia lagi iritasi mata! Alergi sama debu kampus yang penuh kepalsuan!" jawab Aruna cepat.
Javi maju ke depan Genta. Di balik kacamata renang yang burem itu, matanya tetap tajam.
"Genta. Jika saya menjadi modelmu, apakah kamu akan menghapus foto daster itu?"
"Tergantung performamu, Jang,"
Genta tertawa.
"Ayo, naik ke panggung. Tunjukin pose terbaikmu di depan juri. Kalau juri suka, aku hapus fotonya."
Aruna menarik tangan Javi.
"Ujang, jangan! Ini jebakan!"
Tapi Javi melepaskan pegangan Aruna. Dia tetap merasa dirinya adalah sosok penting, meskipun dia tidak tahu alasannya.
"Tenang, Majikan. Saya tidak suka ada orang yang meremehkan visual saya, bahkan jika saya sedang memakai kacamata renang."
Javi naik ke panggung audisi. Seluruh mahasiswa yang lewat berhenti. Mereka melihat seorang pria tinggi dengan kemeja flanel kebesaran, sarung yang dililitkan di pinggang sebagai ikat pinggang, dan kacamata renang biru.
"Nama?" tanya salah satu juri.
"Ujang... Pekerjaan, Spesialis kelembapan daster," jawab Javi lantang.
Para mahasiswa tertawa. Genta tertawa paling keras.
"Ayo, Jang! Pose!"
Javi menarik napas dalam dan tiba-tiba, otot-ototnya bergerak secara otomatis. Dia tidak ingat pernah latihan menari, tapi tubuhnya punya memori sendiri. Dia melakukan gerakan putaran yang sangat stabil, lalu berhenti dengan pose yang sangat tajam ke arah kamera.
Suasana kampus yang tadinya berisik mendadak hening. Juri yang tadi bosan kini membetulkan letak kacamatanya.
"Gila..." gumam salah satu juri.
"Gerakannya... sangat ekspresif. Dia seperti sedang menceritakan penderitaan seorang pria yang terjebak dalam tubuh kuli panggul namun memiliki jiwa seorang bangsawan."
Javi mengakhiri posenya dengan berdiri tegak, tangannya memegang kerah kemejanya, dan memberikan smirk miring ke arah Genta.
"Cukup?" tanya Javi singkat.
Genta membeku, dia melihat ke layar kameranya. Foto-foto yang baru saja dia ambil jauh lebih bagus daripada foto daster kemarin.
"Genta,"
Aruna mendekati Genta.
"Hapus foto daster itu sekarang. Atau aku laporin ke dekan kalau kamu maksa orang sakit buat ikut audisi demi joki tugas!"
Genta mendengus, lalu dengan enggan menekan tombol delete.
"Oke, oke! Gue hapus! Sial, asisten lo emang bukan manusia biasa, Ar."
Setelah audisi yang kacau itu, Aruna dan Javi duduk di trotoar depan kampus, menunggu ojek online. Javi sudah kembali memakai kacamata renangnya karena dia mulai merasa kacamata itu memberinya kekuatan rahasia.
"Ujang," panggil Aruna pelan.
"Iya, Majikan?"
"Makasih ya. Kamu tadi... keren banget di panggung. Tapi jujur, kamu nggak ngerasa aneh gitu sama gerakan tubuhmu tadi?"
Javi menatap es mambo melon di tangannya.
"Saya merasa aneh, Aruna. Saat saya berdiri di sana, saya merasa seperti... ada ribuan orang yang seharusnya meneriakkan nama saya. Tapi karena tidak ada yang teriak, saya asumsikan mereka semua sedang terpesona oleh kacamata renang saya."
Aruna tertawa terbahak-bahak.
"Pede banget kamu! Itu namanya demam panggung, bukan ribuan orang!"
"Mungkin,"
Javi tersenyum kecil di balik kacamata renangnya.
"Tapi Aruna, ada satu hal yang mengganggu saya."
"Apa?"
"Kenapa saat saya menari tadi, saya merasa ingin berteriak 'I LOVE YOU JAKARTA!'? Apakah itu mantra rahasia untuk membuat es mambo ini jadi manis?"
Aruna tertawa sampai hampir tersedak.
"Bukan, Ujang! Itu... itu gejala masuk angin! Udah, ayo pulang. Mbak Widya pasti masih nungguin maling dasternya di gerbang."
Javi berdiri, membenarkan letak sarungnya.
"Aruna, jika suatu saat kloningan asli saya datang menjemput... apakah saya boleh membawa kacamata renang ini sebagai kenang-kenangan?"
Aruna menatap mata Javi yang masih polos dan hilang ingatan itu.
"Jangan ngaco, nggak ada kloningan. Kamu cuma Ujang, asisten kosanku yang paling ribet. Ayo pulang!"
Tanpa mereka sadari, di seberang jalan, sebuah mobil van hitam berhenti. Di dalamnya, Riansi maknae LUMINOUS sedang menempelkan wajahnya ke kaca mobil.
"MANAJER! ITU DIA! JAVI-HYUNG SEDANG MELAKUKAN PERJANJIAN KELINGKING DENGAN GADIS ITU SAMBIL PAKE KACAMATA RENANG!"
"Sst!"
Satya menahan Rian.
"Kenapa dia pake kacamata renang? Apakah dia sedang menyamar jadi atlet olimpiade?"
Manajer Han yang baru bangun dari pingsannya, hanya bisa meratap.
"Javier... dari panggung dunia ke trotoar es mambo... pakai kacamata renang... karier kita tamat..."
Kamar kos Aruna yang berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak terasa menyusut menjadi ukuran kotak korek api. Setelah drama audisi Penyelam Darat di kampus dan aksi kejar-kejaran dengan bayangan member LUMINOUS yang Aruna kira adalah debt collector atau fans fanatik, mereka akhirnya berhasil mengunci diri di dalam kamar.
Suasana hening. Hanya ada suara kipas angin berkarat yang berputar dengan bunyi tek-tek-tek yang ritmis, seolah sedang menghitung detak jantung Aruna yang tidak keruan.
Javi masih berdiri di tengah ruangan, masih lengkap dengan atribut tempurnya yaitu kemeja flanel kebesaran, sarung yang melilit pinggang, dan kacamata renang biru yang kacanya mulai berembun karena uap panas tubuhnya.
"Ujang... kamu nggak mau lepas kacamata itu?" tanya Aruna, mencoba memecah keheningan yang lebih berat daripada skripsi bab empatnya.
Javi menoleh perlahan. Embun di kacamata renangnya membuat matanya tidak terlihat, memberikan kesan misterius yang konyol.
"Saya rasa tidak, Majikan. Kacamata ini telah menjadi saksi bisu kemenangan kita atas pria jahat bernama Genta. Saya merasa... kacamata ini adalah tameng harga diri saya."
"Tapi itu berembun, Javi! Kamu emangnya bisa lihat apa-apa?"
"Saya melihat dunia dalam nuansa biru yang penuh kedamaian," jawab Javi puitis, lalu dia mencoba melangkah dan langsung menabrak sudut meja gambar Aruna.
DUAK!
"Aduh! Sialan, meja ini menyerang saya!"
Javi memegangi pinggangnya sambil meringis.
"Makanya lepas!"
Aruna mendekat, bermaksud membantu Javi melepas tali kacamata renang yang menjepit rambut peraknya.
Aruna berdiri tepat di depan Javi. Karena perbedaan tinggi badan yang cukup signifikan, Javi yang setinggi model internasional dan Aruna yang hanya setinggi rak buku makanya Aruna harus berjinjit.
"Sini, jangan gerak," perintah Aruna.