Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 : Minum Teh
Taman Samping Paviliun Teratai terlihat begitu luas , mewah, dan subur, sangat kontras dengan paviliun milik Wan Long yang lapuk.
Bau harum teh Longjing yang mahal menyeruak di udara, mencoba menutupi bau busuk kemunafikan yang menyesakkan dada.
Di tengah paviliun terbuka itu, duduk Pangeran Kedua, Wan Jin. Sosoknya tampak sempurna dengan jubah biru bersulam perak, namun matanya yang sipit menyimpan kewaspadaan. Di sampingnya, Bai Rui duduk bersandar dengan anggun, kipas suteranya bergerak pelan, menutupi senyum remeh yang tak kunjung hilang sejak kakak tirinya muncul.
"Lihat siapa yang datang," sindir Bai Rui saat Bibi Pong mendorong kursi roda Bai Hua masuk.
Di sampingnya, Wan Long berjalan dengan langkah yang diseret, tangan kanannya memegang kincir angin, sementara tangan kirinya menggandeng lengan baju Bai Hua.
Manusia sialan ini terus menerus memegang bajuku. Batin Bai Hua geram.
"Istri! Banyak orang! Wan Long mau kue!" teriak Wan Long. Namun, saat matanya bertemu dengan Wan Jin, ada kilatan waspada yang ia sembunyikan dengan tawa cempreng.
Bai Hua duduk tegak, matanya menatap datar. Diam-diam, ia melirik tangan Wan Long yang menggenggam bajunya. Ia tahu Wan Long sedang tegang. Jangan sampai kau mengacaukan ini, Jenderal Sialan, batinnya.
"Kakak Pertama, Kakak Ipar, silakan duduk," ujar Wan Jin dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku baru saja bercerita pada Nona Rui, betapa anehnya kejadian tadi pagi. Aku melihat seseorang yang sangat mirip Kakak Pertama berdiri dengan gagah di dekat jendela , tapi mungkin aku hanya salah lihat, ya?"
Wan Jin sebenarnya tidak sengaja melihat sesuatu tadi pagi. Melalui jendela paviliun yang terbuka, ia sempat melihat bayangan Pangeran Pertama berdiri tegak dengan postur yang sangat tegap---seperti seorang prajurit---sebelum tiba-tiba kembali membungkuk dan bertingkah idiot saat pelayan lewat. Hal itulah yang memicu kecurigaannya.
Wan Long tertawa, suaranya cempreng dengan nada tinggi hingga menusuk telinga. "Gagah? Seperti burung pipit? Cicit-cicit! Wan Long suka burung pipit! Mereka makan ulat!" Ia kemudian meraih cangkir teh milik Wan Jin dan meminumnya hingga tandas dengan cara yang menjijikkan, menyisakan tetesan teh di janggut tipisnya. Wan Jin tersenyum tipis, namun tangannya mulai bermain dengan sebuah pisau kecil yang biasa digunakan untuk memotong buah. Pisau itu berkilat dingin di bawah sinar matahari.
"Dunia ini sangat berbahaya, Kakak Ipar," ujar Wan Jin tiba-tiba, matanya mengunci mata Bai Hua. "Kadang, orang lumpuh atau orang bodoh sekalipun harus punya refleks yang tajam untuk bisa bertahan hidup. Benar begitu?"
Tanpa peringatan, tangan Wan Jin bergerak secepat kilat. Ia sengaja menyenggol cangkir teh panas yang baru saja diisi hingga meluncur deras ke arah paha Bai Hua yang lumpuh.
Di saat yang bersamaan, ia melepaskan pisau buah di tangannya, meluncurkan benda tajam itu tepat ke arah wajah Wan Long. Ini adalah jebakan maut. Jika Wan Long menangkis pisau itu dengan teknik militer, penyamarannya tamat. Jika ia menyelamatkan Bai Hua dari air panas, ia juga terdeteksi.
Bai Hua merasakan air panas itu akan mengenai kakinya, tapi ia tetap diam. Sebagai agen, ia tahu Wan Long punya egonya sendiri. Kalau dia bergerak, aku akan menghabisinya nanti.
Namun, Wan Long bertindak lebih licik. Bukannya menghindar dengan teknik bela diri, ia justru berpura-pura tersandung kaki kursi roda Bai Hua karena kaget melihat air tumpah.
"Aaaah! Air! Banjir!" teriak Wan Long.
Tubuhnya jatuh menimpa Bai Hua secara kasar, membuat kursi roda itu terjungkal ke belakang. Air panas itu hanya mengenai lantai, dan pisau buah yang meluncur tadi hanya lewat beberapa milimeter di atas kepala Wan Long yang sedang tersungkur.
"Aduh! Sakit! Istri jatuh!" Wan Long menangis histeris di lantai, memeluk kaki Bai Hua sambil mengusapkan wajahnya yang "cemong" ke lutut istrinya.
Di balik tangisan itu, bibir Wan Long menyentuh kain di lutut Bai Hua, dan ia berbisik sangat lirih, nyaris seperti desisan ular: "Jangan melotot padaku, Agen 859. Aku baru saja menyelamatkan kakimu agar tidak matang."
Bai Hua meradang. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja meraba paha Wan Long dan mencubitnya dengan kekuatan penuh, menggunakan teknik tekanan saraf yang menyakitkan.
"Pangeran Kedua," suara Bai Hua bergetar---separuh karena akting marah, separuh karena benar-benar ingin membunuh pria di bawahnya. "Candaanmu hampir mencelakai suamiku. Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggoda orang cacat?"
Wan Jin tertegun. Ia melihat Wan Long yang menangis sesenggukan dan istrinya yang tampak sangat protektif---padahal sebenarnya ingin mencekik.
"Maafkan aku, Kakak Ipar. Tanganku terpeleset," ujar Wan Jin, meski matanya masih menunjukkan rasa tidak percaya.
"Bibi Pong! Bawa kami pergi! Tempat ini terlalu banyak kotoran!" perintah Bai Hua.
Sepanjang jalan kembali, Wan Long terus merengek "Sakit! Sakit!", namun tangannya yang memegang kursi roda Bai Hua mencengkeram besi itu dengan sangat kuat.
Begitu pintu paviliun tertutup dan mereka hanya berdua, Wan Long langsung berdiri tegak. Ia menghapus air mata palsunya dan menatap Bai Hua dengan pandangan sangat kesal.
"Kau mencubitku sangat keras, Mata-mata Kecil. Itu hampir membuatku berteriak," desis Wan Long sambil mengusap pahanya yang memar.
"Itu karena kau jatuh menimpaku seperti karung beras!" balas Bai Hua, matanya berkilat penuh kebencian masa lalu. "Lain kali, biar saja pisau itu menancap di dahimu."
Wan Long menyeringai tipis, melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Bai Hua yang duduk di kursi roda. "Dan membiarkanmu menjanda? Tidak, terima kasih. Kita masih punya janji di kediaman ayahmu besok. Simpan amarahmu untuk keluarga Bai. Aku butuh kau tetap tajam, bukan hanya pandai mencubit."
Wan Long kemudian melemparkan sebuah benda kecil ke pangkuan Bai Hua. Sebuah bros kecil milik Bai Rui.
"Kapan kau mengambil ini?" tanya Bai Hua terkejut.
"Saat aku pura-pura jatuh tadi," sahut Wan Long santai. "Gunakan ini untuk menjebak adikmu besok. Anggap saja ini... modal kerja dari musuh lamamu."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa