NovelToon NovelToon
Puteri Sampah Yang Berubah

Puteri Sampah Yang Berubah

Status: tamat
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:49.5k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.

Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!

Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Minum Teh

Taman Samping Paviliun Teratai terlihat begitu luas , mewah, dan subur, sangat kontras dengan paviliun milik Wan Long yang lapuk.

Bau harum teh Longjing yang mahal menyeruak di udara, mencoba menutupi bau busuk kemunafikan yang menyesakkan dada.

​Di tengah paviliun terbuka itu, duduk Pangeran Kedua, Wan Jin. Sosoknya tampak sempurna dengan jubah biru bersulam perak, namun matanya yang sipit menyimpan kewaspadaan. Di sampingnya, Bai Rui duduk bersandar dengan anggun, kipas suteranya bergerak pelan, menutupi senyum remeh yang tak kunjung hilang sejak kakak tirinya muncul.

​"Lihat siapa yang datang," sindir Bai Rui saat Bibi Pong mendorong kursi roda Bai Hua masuk.

​Di sampingnya, Wan Long berjalan dengan langkah yang diseret, tangan kanannya memegang kincir angin, sementara tangan kirinya menggandeng lengan baju Bai Hua.

Manusia sialan ini terus menerus memegang bajuku. Batin Bai Hua geram.

​"Istri! Banyak orang! Wan Long mau kue!" teriak Wan Long. Namun, saat matanya bertemu dengan Wan Jin, ada kilatan waspada yang ia sembunyikan dengan tawa cempreng.

​Bai Hua duduk tegak, matanya menatap datar. Diam-diam, ia melirik tangan Wan Long yang menggenggam bajunya. Ia tahu Wan Long sedang tegang. Jangan sampai kau mengacaukan ini, Jenderal Sialan, batinnya.

​"Kakak Pertama, Kakak Ipar, silakan duduk," ujar Wan Jin dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku baru saja bercerita pada Nona Rui, betapa anehnya kejadian tadi pagi. Aku melihat seseorang yang sangat mirip Kakak Pertama berdiri dengan gagah di dekat jendela , tapi mungkin aku hanya salah lihat, ya?"

​Wan Jin sebenarnya tidak sengaja melihat sesuatu tadi pagi. Melalui jendela paviliun yang terbuka, ia sempat melihat bayangan Pangeran Pertama berdiri tegak dengan postur yang sangat tegap---seperti seorang prajurit---sebelum tiba-tiba kembali membungkuk dan bertingkah idiot saat pelayan lewat. Hal itulah yang memicu kecurigaannya.

Wan Long tertawa, suaranya cempreng dengan nada tinggi hingga menusuk telinga. "Gagah? Seperti burung pipit? Cicit-cicit! Wan Long suka burung pipit! Mereka makan ulat!" Ia kemudian meraih cangkir teh milik Wan Jin dan meminumnya hingga tandas dengan cara yang menjijikkan, menyisakan tetesan teh di janggut tipisnya. Wan Jin tersenyum tipis, namun tangannya mulai bermain dengan sebuah pisau kecil yang biasa digunakan untuk memotong buah. Pisau itu berkilat dingin di bawah sinar matahari.

​"Dunia ini sangat berbahaya, Kakak Ipar," ujar Wan Jin tiba-tiba, matanya mengunci mata Bai Hua. "Kadang, orang lumpuh atau orang bodoh sekalipun harus punya refleks yang tajam untuk bisa bertahan hidup. Benar begitu?"

​Tanpa peringatan, tangan Wan Jin bergerak secepat kilat. Ia sengaja menyenggol cangkir teh panas yang baru saja diisi hingga meluncur deras ke arah paha Bai Hua yang lumpuh.

Di saat yang bersamaan, ia melepaskan pisau buah di tangannya, meluncurkan benda tajam itu tepat ke arah wajah Wan Long. Ini adalah jebakan maut. Jika Wan Long menangkis pisau itu dengan teknik militer, penyamarannya tamat. Jika ia menyelamatkan Bai Hua dari air panas, ia juga terdeteksi.

Bai Hua merasakan air panas itu akan mengenai kakinya, tapi ia tetap diam. Sebagai agen, ia tahu Wan Long punya egonya sendiri. Kalau dia bergerak, aku akan menghabisinya nanti.

​Namun, Wan Long bertindak lebih licik. Bukannya menghindar dengan teknik bela diri, ia justru berpura-pura tersandung kaki kursi roda Bai Hua karena kaget melihat air tumpah.

​"Aaaah! Air! Banjir!" teriak Wan Long.

​Tubuhnya jatuh menimpa Bai Hua secara kasar, membuat kursi roda itu terjungkal ke belakang. Air panas itu hanya mengenai lantai, dan pisau buah yang meluncur tadi hanya lewat beberapa milimeter di atas kepala Wan Long yang sedang tersungkur.

​"Aduh! Sakit! Istri jatuh!" Wan Long menangis histeris di lantai, memeluk kaki Bai Hua sambil mengusapkan wajahnya yang "cemong" ke lutut istrinya.

​Di balik tangisan itu, bibir Wan Long menyentuh kain di lutut Bai Hua, dan ia berbisik sangat lirih, nyaris seperti desisan ular: "Jangan melotot padaku, Agen 859. Aku baru saja menyelamatkan kakimu agar tidak matang."

​Bai Hua meradang. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja meraba paha Wan Long dan mencubitnya dengan kekuatan penuh, menggunakan teknik tekanan saraf yang menyakitkan.

​"Pangeran Kedua," suara Bai Hua bergetar---separuh karena akting marah, separuh karena benar-benar ingin membunuh pria di bawahnya. "Candaanmu hampir mencelakai suamiku. Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggoda orang cacat?"

​Wan Jin tertegun. Ia melihat Wan Long yang menangis sesenggukan dan istrinya yang tampak sangat protektif---padahal sebenarnya ingin mencekik.

​"Maafkan aku, Kakak Ipar. Tanganku terpeleset," ujar Wan Jin, meski matanya masih menunjukkan rasa tidak percaya.

​"Bibi Pong! Bawa kami pergi! Tempat ini terlalu banyak kotoran!" perintah Bai Hua.

​Sepanjang jalan kembali, Wan Long terus merengek "Sakit! Sakit!", namun tangannya yang memegang kursi roda Bai Hua mencengkeram besi itu dengan sangat kuat.

​Begitu pintu paviliun tertutup dan mereka hanya berdua, Wan Long langsung berdiri tegak. Ia menghapus air mata palsunya dan menatap Bai Hua dengan pandangan sangat kesal.

​"Kau mencubitku sangat keras, Mata-mata Kecil. Itu hampir membuatku berteriak," desis Wan Long sambil mengusap pahanya yang memar.

​"Itu karena kau jatuh menimpaku seperti karung beras!" balas Bai Hua, matanya berkilat penuh kebencian masa lalu. "Lain kali, biar saja pisau itu menancap di dahimu."

​Wan Long menyeringai tipis, melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Bai Hua yang duduk di kursi roda. "Dan membiarkanmu menjanda? Tidak, terima kasih. Kita masih punya janji di kediaman ayahmu besok. Simpan amarahmu untuk keluarga Bai. Aku butuh kau tetap tajam, bukan hanya pandai mencubit."

​Wan Long kemudian melemparkan sebuah benda kecil ke pangkuan Bai Hua. Sebuah bros kecil milik Bai Rui.

​"Kapan kau mengambil ini?" tanya Bai Hua terkejut.

​"Saat aku pura-pura jatuh tadi," sahut Wan Long santai. "Gunakan ini untuk menjebak adikmu besok. Anggap saja ini... modal kerja dari musuh lamamu."

***

Happy Reading ❤️

Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih

1
Meigha
jgn kau buat teka taki dong Thor,si pembaca penasaran nih🤣🤣ini benaran ediot atau normal sih😤
Dania
misi
Pa Muhsid
suka ceritanya gak bertele satset🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
ANWi/Berly Re: terimakasih kak pa muhsid~
total 1 replies
mimief
nice ending
beautiful story

menjadi penjahat ataupun pahlawan semua tergantung sudut pandang bukan?
terkadang kita terbentuk dan menjadi sesuatu karena lingkungan yg menempa kita
tidak selalu akan tampak baik dan buruk atas penilaian orang lain
selama kita tau batas nya,kita adalah orang baik menurut versi kita.
dan seenggaknya takdir sangat baik sama mereka. walaupun tidak berjodoh di waktu ini,maka waktu aka n menggeser supaya mereka akhirnya berjodoh 😍😍

terimakasih atas cerita indah nya Thor
ANWi/Berly Re: terimakasih kak mimief sudah membaca hingga akhir~❤️
total 1 replies
Roti Bakar
good job! happy ending , nice💪
ANWi/Berly Re: terimakasih kak roti bakar sudah mengukuti kisah mereka❤️
total 1 replies
sahabat pena
wah syukur lah happy ending .. ayuk dong kak.. krya yg lain di up jg
sahabat pena: ok siap kak
total 4 replies
Sulati Cus
semakin menarik
ANWi/Berly Re: makasi kak sulasti cus ulasan nya❤️
total 1 replies
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
gak sadar udh tamat thorr.. cepatnya
ANWi/Berly Re: hehe iya kak, makasi sudah baca sampai akhir❤️
total 3 replies
mimief
yah... selesai
tapi yg penting dia orang ini akhirnya bahagia
aku udah happy
ANWi/Berly Re: iyah kak , makasih dah membaca sampe sini, nantikan part akhir nanti yah~
total 1 replies
mimief
huaaaaa....aku yg deg degan
ANWi/Berly Re: tenang kak~❤️
total 1 replies
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
2 ☕️ thorr semangat up nya😍😍
ANWi/Berly Re: makasii kak Maria~❤️
total 1 replies
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
keren banget melin.. bunuh sj semua pengkhianat tanpa sisa
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
bangunnnn wan yu kamu gak boleh mati dulu..😭😭 ntar jadi omongan kaisar mati sebelum sempat merasakan nikmat malam pengantin🤣🤣🤣
ANWi/Berly Re: wkwww 🤣
total 3 replies
mimief
baru bahagian Thor
tega amet si ah🥹🥹
ANWi/Berly Re: gimana yah~❤️
total 1 replies
mimief
Wkwkwkkwkk
lucunya liat villain jatuh cinta 😜
mimief
Wkwkwkkwkk
lucunya liat villain jatuh cinta 😜
ANWi/Berly Re: hehe 🤣🤣
total 1 replies
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
double up kopi nya thor semangat 💪💪
ANWi/Berly Re: makasi kak Maria ~❤️
total 1 replies
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
dengar itu wang yu.. kamu harus sadar jan mati dulu karna belum melakukan aksi bahaya😭🤣🤣🤣
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
😭😭sialaan para pemberontakkk mana org² yg masih setia.. kuat wang yu jngn matii dulu
Roti Bakar
kpn up?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!