Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. The Digital War
Pagi hari di New York tidak pernah tenang bagi Alice Vane. Hal pertama yang ia lihat di ponselnya adalah sebuah notifikasi dari Instagram yang meledak. Sean Miller baru saja mengunggah foto dari after-party semalam.
Fotonya adalah sebuah candid hitam-putih. Alice sedang tertawa, memegang gelas sampanye, sementara cahaya lampu pesta memantul di matanya. Alice terlihat sangat cantik dan tidak terjangkau.
@SeanMiller: Nights like these make me realize that some stars don't belong in the sky, they walk among us. ✨ Thank you for last night, Muse.
Caption itu jelas sekali tertuju pada Alice. Tidak butuh waktu lama bagi netizen untuk memenuhi kolom komentar. Namun, satu komentar dari akun bercentang biru membuat suasana memanas.
@JulianReed: Be careful with your words, Sean. Some stars are too bright for you to handle.
Komentar Julian singkat, namun penuh ancaman. Netizen langsung heboh. Ribuan balasan muncul, mengira Julian sedang melindungi "wilayahnya" atau sekadar kesal pada sahabatnya.
Alice menghela napas, melempar ponselnya ke kasur. "Kau gila, Julian," gumamnya.
Namun, drama tidak berhenti di situ. Dua jam kemudian, Julian mengunggah sebuah video hitam-putih di feed-nya. Ia sedang duduk di depan piano, rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak hancur. Ia menyanyikan sebuah potongan lagu baru dengan lirik yang sangat emosional.
"I remember when you looked at me like I was your only light,
Now you’re dancing in the shadows, out of my sight.
You turned your heart to ice, but I still feel the burn,
Waiting for a love that may never return."
Video itu langsung viral dalam hitungan menit. Tapi, seperti yang Alice duga, dunia salah mengartikannya.
@JelenaForever: "Oh Tuhan, Julian galau berat karena Ellena! Lihat matanya, dia pasti baru bertengkar hebat dengan Ellena semalam!"
@JulianFanBase: "Lirik ini jelas buat Ellena Breeze. 'Love that may never return'—dia takut kehilangan Ellena!"
Tak lama kemudian, Ellena Breeze mengunggah sebuah foto di story-nya. Foto mawar merah dengan caption: "Always yours, Babe. I hear you." seolah-olah ia mengonfirmasi bahwa lagu itu memang untuknya.
Alice membaca berita itu sambil duduk di lokasi photoshoot-nya. Rasa sesak yang dulu ia rasakan kini kembali lagi. Tentu saja itu untuk Ellena, batin Alice pahit. Bodohnya aku mengira dia punya sedikit rasa padaku semalam. Dia tetap Julian yang sama, yang hanya bisa mencintai Ellena.
Tepat saat itu, Sean Miller datang ke lokasi syuting Alice, membawakannya kopi favoritnya.
"Kau lihat keributan di internet?" tanya Sean sambil tersenyum lembut.
"Sulit untuk tidak melihatnya," jawab Alice lesu.
Sean mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya ada dua gelang tali merah sederhana—simbol keberuntungan dan perlindungan. "Aku membelikan ini untukmu kemarin. Katanya ini bisa menjauhkan kita dari energi negatif."
Alice menatap gelang itu, lalu melirik ke arah ponselnya yang masih menampilkan wajah Julian di berita gosip. Ia butuh sesuatu untuk membuktikan bahwa ia sudah benar-benar selesai.
"Bantu aku memakainya, Sean," ucap Alice mantap.
Satu jam kemudian, Alice mengunggah foto tangannya yang mengenakan gelang merah itu di latar belakang pemandangan kota New York. Tanpa caption, hanya emoji ❤️.
Hanya berselang lima menit, Sean Miller juga mengunggah foto serupa. Tangan pria dengan gelang merah yang sama, sedang memegang kemudi mobil mewah.
Dunia internet kembali meledak. Kali ini, mereka punya berita baru: Alice Vane dan Sean Miller Resmi?
Di sudut kota yang lain, di dalam studio rekamannya, Julian Reed membanting ponselnya ke dinding hingga layarnya retak seribu. Ia baru saja ingin mengirim pesan pada Alice bahwa lagu itu untuknya, namun foto gelang merah itu menghancurkan segalanya.
"Kau ingin bermain seperti ini, Alice?" desis Julian dengan mata merah karena amarah dan cemburu. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki kendali di sini."
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/