Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tokyo Disneyland
Di hotel tempat mereka menginap di Tokyo, mereka baru saja selesai sarapan. Amira menyesap sisa teh hangatnya, sementara Dirga berdiri di dekat jendela, menatap jalanan kota yang mulai ramai.
Beberapa saat suasana hening. Lalu Dirga menoleh.
“Udah selesai makan?”
Amira mengangguk pelan.
“Udah.”
Dirga meraih jaketnya yang tersampir di kursi.
“Kalau gitu, kita jalan-jalan sekarang.”
Amira terkejut.
“Sekarang?”
Dirga mengangguk santai.
“Iya. Kita jauh-jauh ke sini masa cuma di hotel.”
Amira langsung terlihat gugup. Dia menunduk melihat pakaiannya. Sedangkan Dirga bergegas mengambil syal tebal dari sofa lalu mendekat. Tanpa banyak bicara, dia melingkarkan syal itu ke leher Amira dengan rapi.
“Di sini dinginnya beda, kalau nggak pakai ini kamu bisa masuk angin.”
Amira terdiam. Wajahnya sedikit memerah, entah karena dingin atau karena jarak mereka yang terlalu dekat.
“Makasih,” bisiknya.
Dirga kemudian menjauh sedikit.
“Udah siap?”
Amira mengangguk. Beberapa menit kemudian mereka keluar dari hotel. Begitu pintu otomatis terbuka, hembusan angin musim dingin langsung menyapa wajah Amira. Dia refleks merapatkan mantel yang dikenakannya.
“Dingin banget,” gumamnya.
Dirga tertawa kecil melihat reaksinya.
“Kalo saljunya turun, bisa lebih dingin.”
Amira menoleh, matanya berbinar melihat jalanan kota yang begitu berbeda dari yang biasa dia lihat.
Gedung-gedung tinggi. Lampu lalu lintas yang rapi, dan orang-orang yang berjalan cepat dengan pakaian musim dingin.
Amira menatap semuanya dengan kagum.
“Cantik banget,” ucapnya pelan.
Dirga menoleh padanya sejenak. Entah kenapa, melihat ekspresi polos Amira menikmati hal-hal sederhana seperti itu, membuat hatinya terasa hangat.
“Masih banyak yang lebih bagus dari ini,” kata Dirga.
Amira menoleh.
“Benarkah?”
Dirga mengangguk.
“Aku ajak kamu ke tempat yang lebih seru.”
“Ke mana?”
Dirga tersenyum tipis.
“Kamu lihat sendiri nanti.”
Setelah itu, mereka menaiki taksi yang melaju cukup lama menyusuri jalanan kota Tokyo yang tertata rapi. Dari balik jendela, Amira terus menoleh ke kiri dan kanan, matanya tak berhenti memandangi pemandangan baru yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Gedung-gedung tinggi. Toko-toko dengan papan nama berhuruf Jepang, dan orang-orang yang berjalan cepat dengan mantel tebal.
Amira terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia luar. Dirga meliriknya sekilas.
“Kamu nggak capek lihat ke luar terus?”
Amira langsung menoleh cepat, sedikit malu. Dirga menghela napas kecil, tapi sudut bibirnya terangkat samar.
Tak lama kemudian mobil berhenti di sebuah area parkir yang sangat luas. Amira menatap keluar jendela. Lalu matanya membesar saat melihat gerbang besar dengan kastil megah di kejauhan.
Di sana tertulis nama tempat tersebut, Tokyo Disneyland Amira sampai terdiam beberapa detik. Dia kemudian menoleh perlahan ke arah Dirga.
“Mas, kita ke sini?”
Suaranya nyaris tak percaya. Dirga membuka pintu mobil dengan santai.
“Iya.”
Amira akhirnya turun dari mobil dengan langkah ragu. Matanya menatap kastil besar di kejauhan, tempat itu terlihat seperti negeri dongeng.
“Aku cuma pernah lihat ini di medsos,” katanya pelan.
Dirga menatap ekspresi Amira yang begitu polos. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Kamu waktu kecil nggak pernah ke taman bermain?” tanya Dirga.
Amira menggeleng kecil.
“Aku nggak ada waktu buat itu, dari dulu habis pulang sekolah, aku langsung bantu ibu jualan."
Nada suara Amira terdengar biasa saja, tapi entah kenapa membuat hati Dirga terasa sedikit tidak nyaman. Dirga lalu menepuk pelan kepala Amira.
“Kalau gitu hari ini kamu bebas main.”
Amira menoleh cepat.
“Hah?”
Dirga mengangkat alis.
“Anggap aja kamu lagi balas dendam masa kecil.”
Amira tertawa mendengar kalimat itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Jepang, tawanya terdengar begitu lepas.
Beberapa saat kemudian mereka berjalan masuk melewati gerbang Tokyo Disneyland. Suasana di dalam taman benar-benar ramai.
Musik ceria terdengar di mana-mana. Balon warna-warni beterbangan. Anak-anak berlarian dengan kostum karakter kartun.
Amira menoleh ke segala arah.
“Mas, lihat itu!”
Dia menunjuk kastil besar yang berdiri megah di tengah taman. Dirga mengikuti arah jarinya.
“Kamu mau foto di sana?” tanya Dirga.
Amira langsung mengangguk cepat seperti anak kecil. Dirga akhirnya mengeluarkan ponselnya. Amira berdiri agak jauh dengan latar kastil. Namun dia terlihat canggung.
Dirga tertawa kecil.
“Kamu foto atau lagi dihukum berdiri?”
Amira langsung salah tingkah.
“Memangnya harus gimana?”
Dirga berjalan mendekat, lalu memegang bahu Amira dan memposisikannya sedikit.
“Nggak usah tegang. Santai aja.”
Lalu dia mengambil beberapa foto. Setelah itu Amira menghampiri Dirga dengan wajah penasaran.
“Bagus nggak?”
Dirga memperlihatkan layar ponselnya. Amira langsung tersenyum lebar melihat fotonya. Namun Dirga justru tidak melihat foto itu.
Dia menatap Amira. Hari ini, Amira terlihat berbeda. Pipinya merah karena udara dingin, matanya berbinar penuh kegembiraan dengan senyum yang begitu tulus.
Tanpa sadar, sudut bibir Dirga ikut terangkat.
“Kalau kamu senang, kita main lebih lama di sini.”
Mata Amira langsung berbinar lebih terang lagi.
“Benarkah?”
Dirga mengangguk.
Hampir seharian mereka berkeliling di Tokyo Disneyland. Amira mencoba banyak hal, ini pertama kalinya dia naik wahana permainan, berfoto di depan kastil, bahkan membeli camilan manis yang sebelumnya hanya pernah ia lihat di televisi.
Tawanya beberapa kali terdengar lepas. Sesekali Dirga hanya memperhatikannya dari samping, merasa aneh dengan perasaan ringan yang muncul di dadanya hari itu. Namun menjelang sore, langit mulai berubah kelabu.
Angin yang semula hanya dingin, kini semakin menusuk. Butiran putih perlahan jatuh dari langit.
Salju mulai turun di Tokyo. Awalnya Amira justru terlihat takjub. Dia menengadah, menatap butiran salju yang jatuh mengenai wajahnya.
“Mas, ini salju?” tanyanya dengan mata berbinar.
Dirga menoleh.
“Iya.”
Amira tertawa kecil, lalu membuka telapak tangannya mencoba menangkap salju yang jatuh. Namun beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai menggigil.
Angin musim dingin semakin kuat, membuat ujung hidung dan pipinya memerah. Dirga yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mengerutkan kening.
“Kamu kedinginan?”
Amira mencoba menggeleng.
“Nggak kok .…”
Namun kalimatnya berhenti saat tubuhnya tanpa sadar menggigil lagi. Dirga langsung melepas sarung tangannya.
Dia meraih tangan Amira, dan tangan itu sudah terasa sangat dingin.
“Kamu ini keras kepala,” gumamnya.
Dirga segera membuka mantel tebalnya sedikit, lalu menarik Amira mendekat agar terlindung dari angin.
“Udah, kita pulang.”
Amira sedikit terkejut.
“Tapi, kita baru aja ....”
Dirga memotong ucapannya.
“Kalau kamu sakit di negara orang siapa yang repot?”
Nada suaranya terdengar datar, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Amira dengan kuat.
Amira akhirnya mengangguk.
“Iya .…”
Mereka pun berjalan keluar dari taman bermain itu, melewati keramaian pengunjung yang mulai pulang. Salju semakin deras. Lampu-lampu taman mulai menyala, membuat suasana Tokyo Disneyland terlihat seperti negeri dongeng musim dingin.
Namun perhatian Dirga hanya tertuju pada Amira yang terus merapatkan mantelnya. Setelah taksi mereka datang, Dirga segera membuka pintu.
“Masuk cepat.”
Amira duduk di dalam mobil. Begitu pintu tertutup, hawa hangat dari pemanas langsung terasa.
“Ah, hangat.”
Dirga duduk di sampingnya. Dia melirik Amira yang masih menggosok kedua tangannya.
Tanpa banyak bicara, Dirga meraih tangan Amira lalu menggenggamnya di antara kedua tangannya, mencoba menghangatkannya. Amira pun menoleh kaget.
“Mas .…”
Dirga tidak menatapnya.
“Diem, tangan kamu dingin banget.”
Amira terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Di luar, salju terus turun menyelimuti kota Tokyo. Sementara di dalam mobil, kehangatan perlahan mengisi ruang sempit di antara mereka.
Salju turun semakin deras ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan hotel di Tokyo.
Angin musim dingin bertiup kencang, membuat butiran salju beterbangan di udara. Dirga lebih dulu membuka pintu mobil.
“Cepat masuk,” katanya singkat. Amira mengangguk. Begitu keluar dari mobil, hawa dingin langsung menyergap tubuhnya.
Amira refleks merapatkan mantel dan berlari kecil menuju pintu hotel yang hanya berjarak beberapa meter. Namun lantai yang tertutup salju tipis ternyata licin. Baru beberapa langkah, keseimbangannya sudah goyah.
"Aaaa ...!"
kau tanam angin kau tuai badai...
andaipun nantinya amira menyerah..kau tak akan dapatkan dirga lagi...
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..