Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Sama Amira
Pagi hari perlahan menyapa kota Tokyo. Cahaya matahari musim dingin masuk melalui jendela besar kamar hotel, memantul lembut di lantai dan dinding.
Dirga terbangun perlahan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, masih sedikit mengantuk. Namun suara getaran ponsel di meja samping tempat tidur terus berbunyi.
Dirga meraih ponselnya. Ketika dia duduk di atas ranjang, baru Dirga sadar seseorang di sampingnya sudah tidak ada, Amira.
Selimut di sisi tempat tidur itu sudah rapi Dari arah kamar mandi terdengar suara air mengalir. Kemungkinan Amira sedang mandi.
Dirga kemudian menatap layar ponselnya. Nama yang tertera di sana membuatnya langsung sepenuhnya sadar, Mama. Dirga menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangkat telepon tersebut.
“Halo, Ma.”
Suara wanita paruh baya di seberang sana langsung terdengar.
“Dirga! Kamu di mana sekarang?”
Dirga melirik sekilas ke arah jendela kamar hotel yang memperlihatkan pagi cerah kota Tokyo.
“Lagi di hotel, Ma."
"Udah sampai Jepang?”
Dirga mengusap rambutnya yang masih sedikit berantakan.
“Iya, semalam baru sampai.”
Di seberang telepon terdengar suara ibunya yang terdengar cukup puas.
“Bagus. Mama senang kamu akhirnya benar-benar berangkat bulan madu.”
Dirga tidak langsung menjawab. Matanya tanpa sadar melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Di balik pintu itu, Amira sedang berada di sana.
Ibunya kembali bertanya dengan nada penuh rasa ingin tahu.
“Gimana? Celine senang di sana?”
Dirga terdiam beberapa detik.
Lalu dengan suara datar dia menjawab,
“Sepertinya iya.”
Di seberang telepon, Mama Dirga terdengar kian bersemangat.
“Bagus, Mama jadi tenang. Sekarang Mama mau bicara sama Celine.”
Dirga langsung membeku. Matanya seketika melebar.
“Ma?” ucapnya sedikit gugup.
“Iya, kasih ponselnya ke Celine. Mama mau tanya dia suka nggak liburan ke sana berdua.”
Jantung Dirga berdetak lebih cepat. Dia menoleh cepat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Suara air di dalam sana baru saja berhenti.
Dirga menelan ludah.
“Ehm, Celine lagi mandi, Ma,” jawabnya cepat.
“Oh? Ya udah, Mama bisa tunggu kok.”
Dirga semakin panik.
“Tapi ....”
Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, terdengar suara klik dari pintu kamar mandi.
Pintu itu terbuka. Amira keluar dengan rambut yang masih sedikit basah, mengenakan sweater tebal yang kemarin mereka beli di mall sebelum berangkat. Wajahnya terlihat segar setelah mandi.
Begitu melihat Dirga sedang menelepon, Amira hanya berdiri bingung. Dirga langsung memberi isyarat cepat dengan tangannya, menyuruh Amira diam.
Amira mengernyit tidak mengerti. Sementara itu dari ponsel terdengar suara mama Dirga lagi.
“Dirga? Celine udah selesai mandinya?”
Dirga langsung berdiri dan berjalan mendekati Amira. Dengan cepat dia memutar ponsel ke arah belakang tubuh Amira, seolah-olah sedang menyerahkan telepon pada seseorang yang berdiri di depannya.
“Ini, Ma. Celine udah keluar dari kamar mandi, tapi dia lagi pake baju, ngomong sebentar aja ya, Ma,” katanya, lalu mengarahkan ponsel ke samping Amira, tanpa benar-benar memperlihatkan wajahnya.
Amira makin bingung, tapi melihat ekspresi panik Dirga, dia langsung mengerti bahwa ada sesuatu yang harus diikuti.
Di seberang telepon, mama Dirga terdengar ramah.
“Celine! Gimana di sana? Kamu senang di Tokyo?”
Amira menatap Dirga dengan mata membesar. Dirga berbisik sangat pelan.
“Jawab.”
Amira menelan ludah. Dengan suara sedikit pelan dan hati-hati, ia menjawab,
“Iya, Ma. Senang kok, makasih ya, Ma.”
Mama Dirga terdengar tertawa kecil.
“Bagus! Mama takut kamu bosan. Dirga itu kadang kaku orangnya, jadi kamu harus sering-sering ajak dia jalan-jalan.”
Amira melirik Dirga yang berdiri di sampingnya. Dirga hanya bisa menutup wajahnya sebentar dengan tangan, merasa situasi ini benar-benar di luar kendali.
Namun di seberang sana, Mama Dirga sama sekali tidak curiga. Dia benar-benar percaya bahwa wanita yang berbicara dengannya saat ini adalah Celine. Meskipun, hanya melihat dari arah samping.
“Ya sudah, kalian have fun ya,” kata mama Dirga di ujung telepon.
“Iya, Ma,” jawab Dirga cepat.
Tak lama kemudian, sambungan telepon itu terputus. Dirga langsung menurunkan ponselnya.
Beberapa detik, kamar hotel itu hening. Lalu Dirga dan Amira saling menatap. Bersamaan, keduanya menghembuskan napas panjang, seolah baru saja lolos dari sesuatu yang menegangkan. Amira bahkan menepuk dadanya sendiri.
“Ya ampun, aku kira tadi bakal ketahuan,” katanya pelan.
Dirga mengusap wajahnya sambil menggeleng.
“Aku juga.”
Dia menatap Amira dengan ekspresi masih sedikit tegang.
“Tadi kamu lumayan meyakinkan.”
Amira mengerucutkan bibirnya.
“Lah, aku kan dipaksa tiba-tiba. Bahkan nggak ngerti situasinya.”
Dirga terkekeh kecil. Ketegangan yang tadi terasa berat perlahan mencair. Amira kemudian duduk di sofa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Mama kamu benar-benar nggak curiga ya?"
Dirga bersandar di meja dekat jendela.
“Sepertinya nggak.”
Dia lalu menatap Amira beberapa detik sebelum berkata,
“Makasih sudah bantu.”
Amira menoleh. Untuk sesaat, ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di pikirannya. Pipinya sedikit memerah.
“Iya, sama-sama."
***
Di sebuah kamar hotel, Celine yang baru saja selesai membersihkan wajahnya, tampak sudah mengenakan piyama tipis dan berniat segera tidur.
Hari itu cukup melelahkan baginya. Dia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka ponselnya sekali lagi sebelum tidur. Tiba-tiba sebuah pesan masuk, dari Mama Dirga.
Celine sedikit heran, tapi tetap membuka pesan itu di aplikasi WhatsApp. Isi pesannya membuat Celine langsung terdiam.
“Celine, tadi mama lupa ngomong. Kalian kayaknya semangat banget tadi. Jangan lupa bikin cucu ya buat mama.”
Beberapa detik Celine hanya menatap layar ponselnya.
Alisnya perlahan mengernyit.
“Semangat?” gumamnya bingung.
Dia membaca pesan itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Wajahnya berubah penuh tanda tanya.
“Apa maksudnya ini …?”
Celine mengingat-ingat kembali. Tadi dia bahkan tidak menelepon mama Dirga sama sekali.
Dia juga tidak berbicara apa pun dengan wanita itu hari ini. Perlahan, rasa aneh mulai muncul di dalam pikirannya.
"Jangan-jangan Dirga pergi ke Tokyo sama Amira?"
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..