Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Dari Riasan Hingga Cium Dahi
Bryan Santoso malam itu tampak semakin murah hati. Ia tiba-tiba merogoh saku pakaiannya dan menyerahkan satu kunci lagi pada Kirana. Kali ini, kunci kendaraan.
"Satu hal lagi," tambah Bryan sebelum Kirana sempat menolak. "Sangat sulit mencari taksi atau transportasi daring di kawasan perumahan elit ini, apalagi di jam sibuk."
"Pergi syuting akan jadi repot kalau harus bergantung transportasi umum. Jadi, kamu bisa pakai mobil ini selama tinggal di sini."
Kirana hanya terpaku, tidak bisa berkata apa-apa.
'…Mengapa… mengapa dia melakukan semua ini?' batin Kirana, hatinya bergetar.
Ia hanya berniat tinggal sementara, sampai kondisi Kael stabil. Namun fasilitas yang diberikan Bryan membuatnya merasa canggung.
'Kenapa aku merasa seperti… gundik seorang crazy rich yang super berkuasa?' pikir Kirana, panik.
Ia segera menghapus pikiran itu. Berusaha kembali logis.
'Tidak, tidak, itu salah. Kirana, jangan berpikir aneh-aneh. Jika aku gundik, seharusnya aku tinggal di apartemen mewah terpisah, bukan diberi kunci rumah utama dan tanggung jawab mengurus anak.'
'Ya… anggap saja aku sedang bekerja part-time sebagai babysitter profesional untuk keluarga kecil Santoso.'
Tapi meski menenangkan diri, pikiran lain tiba-tiba muncul, membuat pipinya panas.
'Atau… ini justru terasa seperti pasangan pengantin baru yang baru saja pindah rumah…'
Memori Kirana melompat ke saat pertama kali ia bertemu Bryan secara resmi, ketika pria itu dengan mengejutkan melamarnya di pertemuan pertama.
'Apa? Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Kirana! Bodoh! Kenapa bisa menghayal sejauh itu!' batinnya menyesal.
Ia ingin menampar kepalanya sendiri karena imajinasi yang terlalu liar.
Di luar, Kirana tetap berusaha tenang, menatap Bryan dengan ekspresi biasa.
Ia merasa sudah cukup paham sifat laki-laki, tapi pria yang berdiri di hadapannya ini berbeda.
Bryan Santoso seperti program komputer dengan firewall paling canggih, sulit ditembus bahkan oleh hacker profesional berpengalaman 29 tahun sekalipun.
Kirana menarik napas panjang.
Ia sama sekali tidak tahu apakah keputusan menyetujui permintaan Bryan karena simpati dan posisi lemah ini akan berakhir bencana atau justru membawa keberuntungan tak terduga di masa depan.
…
Malam itu, suasana hati si kecil Kael Santoso masih agak tidak stabil pasca amukannya. Untuk mencegahnya terbangun dalam kondisi ketakutan di tengah malam, Kirana memutuskan tidur di sampingnya di ranjang yang sama.
Kael tampak sangat tenang saat merasakan keberadaan Kirana di sisinya.
Waktu berlalu dalam keheningan malam, hingga pukul 2 pagi.
Pintu kamar tidur yang luas itu didorong perlahan, hampir tanpa suara. Sosok Bryan Santoso muncul dari balik pintu.
Langkah kakinya pelan saat masuk ke kamar yang hanya diterangi cahaya remang lampu tidur. Ia berjalan mendekati ranjang besar, lalu berlutut di sisi Kirana yang memeluk Kael.
Dalam cahaya kuning lembut dari lampu di nakas, Kirana tampak sangat cantik dan damai. Napasnya dangkal dan teratur, wajahnya hangat dan lembut—jauh dari sosok tangguh yang ia tunjukkan tadi malam saat memarahi Kael.
Pandangan Bryan terpaku pada wajah Kirana. Bibirnya yang kemerahan tampak seperti delima segar, sedikit terbuka seolah mengundang tanpa kata.
Bryan membeku beberapa saat. Bayangannya yang tinggi besar mulai menyelimuti cahaya redup di wajah Kirana saat ia merayap mendekat.
Jarak mereka kini hanya sehelai napas. Sedikit lagi, dan bibir mereka hampir bersentuhan.
Namun Bryan menghentikan gerakan itu. Ia menarik napas dalam, mengendalikan gejolak di dirinya, lalu hanya menempelkan ciuman dingin dan lembut di dahi Kirana.
'Kirana… kita masih punya hari-hari panjang di depan,' batin Bryan sebelum meninggalkan kamar sehalus ia masuk.
…
Keesokan paginya.
Cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden kamar mewah.
Kirana perlahan membuka mata. Awalnya ia khawatir tidak bisa tidur nyenyak di ranjang asing, tapi kenyataannya ia tidur dengan damai sepanjang malam, tanpa mimpi buruk.
Saat benar-benar terjaga, Kirana menyadari Kael sudah bangun lebih dulu. Anak itu duduk bersandar di bantal, membaca buku cerita dengan wajah serius, tanpa suara agar tidak mengganggu Kirana.
Kirana tersenyum kecil. Kael jelas anak yang baik dan manis saat tenang. Melihat kepatuhannya, Kirana tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya tingkahnya saat marah seperti tadi malam.
"Sayang, selamat pagi," sapa Kirana hangat, mengumpulkan kesadarannya.
Kael mendongakkan kepala, binar matanya menunjukkan betapa senangnya ia melihat Kirana sudah bangun, meski bibirnya tetap datar seperti ayahnya.
Kirana mengulurkan tangan menyingkirkan sehelai rambut yang berantakan.
"Kael, hari ini Tante tidak perlu pergi syuting. Tante bisa menemanimu sepanjang hari!"
Raut wajah Kael langsung lebih bahagia, bahkan memberi sedikit lengkungan senyum di bibir mungilnya. Kirana hampir gemas, tak kuasa menahan diri mencubit pipinya lembut.
"Aduh, Sayang… kamu harus lebih sering tersenyum. Kamu terlihat lucu dan tampan saat senyum!"
Setelah mandi dan bersiap, Kirana membawa Kael turun ke lantai bawah. Sarapan sudah tersaji rapi di meja makan panjang.
Kirana menoleh, tapi Bryan tidak terlihat. Tak satu pun pelayan menyebutkan ia harus menunggui mereka, jadi Kirana mengira Bryan sudah berangkat ke kantor SantoPrime.
Sepanjang pagi, kekhawatiran Kirana tentang merawat anak kecil terbukti tidak berdasar. Ia duduk santai di sofa ruang tamu, fokus membaca naskah, sementara Kael duduk di meja kecil, membaca atau mencoret-coret kertas.
Mereka tidak saling mengganggu, tapi tetap berbagi suasana harmonis. Pelayan hanya sesekali muncul untuk membawakan camilan atau buah, bergerak ringan agar tidak mengganggu.
Kael jelas menyukai kedamaian ini.
Di sudut tersembunyi, kepala pelayan mengamati interaksi mereka. Ia terkejut—Kirana tidak bersikap berlebihan untuk menarik perhatian Kael, malah santai membaca naskahnya sendiri.
Kael pun tampak melakukan kegiatannya dengan tenang. Sesekali ia melirik Kirana dengan tatapan penuh pemujaan, membuat semangatnya naik tanpa kehilangan ketenangan.
Kepala pelayan menghela napas. Wanita secantik Kirana bisa membuat orang lain curiga, dan awalnya ia takut Bryan tertipu pesona luarnya. Namun sejauh ini, Kirana sama sekali tidak melakukan hal tidak pantas.
Ia tetap waspada. Terlalu banyak wanita sebelumnya yang berambisi menjadi ibu tiri Kael, bahkan hampir merenggut nyawa anak itu dua tahun lalu, meninggalkan trauma mendalam.
Dua jam berlalu begitu saja. Kirana hampir selesai membaca naskahnya ketika Kael mendekat dengan gambar yang baru ia selesaikan.
Kirana terkejut. Anak yang pendiam ini ternyata menggambar dengan gaya ekspresionisme. Warna dramatis, sapuan tegas, bentuk sengaja distorsi—setiap goresan sarat emosi.
Tatapan Kirana terpaku. Lukisan itu bukan sekadar kemiripan fisik; ada kehangatan dan perhatian terselip di sapuan warna liar. Tanpa kata, Kirana tahu—itulah dirinya, dilihat penuh perasaan oleh Kael.
"Kael sayang… ini… ini gambar tentang aku?" tanya Kirana tak percaya.
Kael mengangguk, genggam kertas dengan jari sedikit gugup. Seolah takut Kirana tak menyukai hasilnya.
"Kael, ini… ini benar-benar indah! Tante menyukainya!" seru Kirana tulus. "Boleh Tante foto jadi wallpaper ponsel Tante?"
Kirana murni kagum, bukan sekadar menyanjung. Ia memang menyukai seni Fauvisme, warna kontras cerah yang memberi energi positif. Melihat Kael punya dasar kuat dalam seni, Kirana yakin ia bisa menjadi pelukis hebat suatu hari nanti.
Kael malu, rapatkan bibir mungilnya, lalu menyerahkan kertas gambar asli pada Kirana.
Kirana heran, menunjuk dirinya sendiri. "Kau… kau memberikan ini untuk Tante simpan?"
Kael mengangguk mantap.
"Terima kasih banyak, Sayang! Tante benar-benar menyukainya!" Kirana memeluk Kael dan mencium pipinya lembut.
Kael terkejut, terpaku sesaat, sebelum rona merah menyebar di wajah mungilnya. Matanya yang sebelumnya murung kini berbinar penuh kehidupan dan kebahagiaan.
Di tengah percakapan hangat itu, Kirana tiba-tiba mendengar langkah kaki teratur dari tangga lantai atas.
Ia menoleh dan melihat Bryan Santoso turun perlahan. Kali ini, ia hanya mengenakan pakaian rumahan yang santai. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, sepertinya baru bangun tidur.
Penampilan santai Bryan justru lebih memukau bagi Kirana dibanding citra “Bos Iblis” yang biasanya ia tunjukkan.
'Ya Tuhan… dia terlihat sangat seksi seperti ini. Tidak ada obatnya,' batin Kirana terpana.
Kirana segera menenangkan diri. "Tuan Bryan… Anda ternyata tidak pergi kerja hari ini?" tanya Kirana heran. Bukankah hari ini Senin, hari tersibuk CEO?
"Ya, saya sengaja ambil cuti," jawab Bryan tenang sambil mengangguk.
Kirana memahami itu. Bryan baru saja menandatangani kesepakatan bisnis besar, wajar jika butuh waktu istirahat.
'Seorang “Bos Besar” pun butuh tidur nyenyak,' batin Kirana. Rasa jarak antara mereka pun terasa sedikit menyempit.
"Ini pertama kalinya Kael mau menggambar potret orang lain," ucap Bryan sambil melirik gambar yang dipegang Kirana.
"Benarkah? Wah… saya merasa terhormat menjadi model pertamanya!" jawab Kirana senang.
Bryan menatapnya sejenak, lalu bertanya, "Ngomong-ngomong, mau makan apa untuk siang ini?"
Kirana tersenyum, merasa hidupnya di sini benar-benar terjamin—semua kebutuhan ditanggung keluarga Santoso.
Tepat saat ia hendak menjawab, ponselnya berdering keras. Layar menampilkan nama: Merry, manajernya dari Starlight Entertainment.
'Apa lagi sekarang? Apakah dia sudah atur peran tanpa berdiskusi dulu?' batin Kirana kesal.
"Halo, Kak Merry," jawabnya.
"Kirana, dengarkan baik-baik. Upacara pembukaan proyek film akan diadakan siang ini di Hotel Santika Premiere Slipi. Jangan terlambat satu menit pun," perintah Merry dingin.
"Apa?! Hari ini jam 12 siang?!" teriak Kirana panik.
"Benar. Hari ini. Jangan banyak tanya," jawab Merry.
"Kak Merry, kenapa tidak memberi tahu lebih awal?! Sekarang saja hampir pukul sebelas!"
"Satu jam sebelumnya sudah cukup," jawab Merry dingin.
"Satu jam?! Itu tidak cukup! Aku harus sampai di lokasi tepat waktu, fitting pakaian, merias wajah…"
"Dengar Kirana, itu masalahmu, bukan masalahku. Aku sibuk, telepon ditutup," pungkas Merry.
Begitu Merry selesai berbicara, sambungan telepon pun langsung terputus secara sepihak.
“Merry! Kau itu sebenarnya manajerku atau bukan, sih! Dasar anjing!” teriak Kirana dengan penuh amarah.
Kirana membanting ponsel ke sofa.
Kael terkejut. Bryan pun terdiam, ekspresinya sulit dijelaskan.
Kirana tersadar, ia sedang bukan di apartemen pribadinya, tapi di rumah orang lain—dengan Bryan dan Kael di sana.
'Arghhhh! Sial! Sangat memalukan! Apalagi Kael mendengar kata-kata kasar tadi!' batin Kirana frustrasi.
Ia segera menyeka wajah, merasa ingin menghilang karena rasa malu.
"Uhuk, Kael sayang… anggap saja Tante tadi tidak mengatakan apa-apa, ya? Jangan tiru kata-kata kasar Tante, mengerti?" ucap Kirana serius.
Kael berkedip, lalu mengangguk perlahan.
Bryan menahan senyum. "Jadi, apa yang terjadi?" tanyanya santai.
Kirana mengertakkan gigi. "Upacara pembukaan film jam 12 siang ini. Manajerku baru memberi tahu sekarang, butuh 50 menit untuk sampai Hotel Santika Premiere."
"Apa aku harus tampil di depan kamera tanpa riasan?"
Bryan menatapnya tenang. "Kenapa tidak? Menurutku, kamu sudah cukup cantik apa adanya."
Kirana terdiam, tersipu malu tapi tetap logis.
"Uhuk, terima kasih, Tuan Bryan… tapi untuk acara formal, aku harus tampil layak. Penampilan adalah senjata utama seorang aktris," ucap Kirana.
"Dan aku tidak punya pakaian formal sekarang. Akan ada wartawan infotainment yang siap mengkritik," lanjutnya frustrasi.
"Tenang," ucap Bryan, mengangkat tangan. Ia mengambil ponsel, pergi ke halaman belakang untuk menelepon.
Sepuluh menit kemudian, deru mobil terdengar di depan vila. Seorang pria masuk tergesa-gesa, berpakaian jins robek dan kaus abu-abu, tindik biru di telinga kirinya.
Kirana terkejut. Wajah pria itu sangat familiar—Arthur, penata gaya legendaris dari Glory World Entertainment, dikenal sebagai “Tangan Ilahi” dan penata pribadi Diana Anggraeni.
"Tuan Bryan… maksud Anda semua ini?" tanya Kirana curiga.
"Kenapa, kau tidak mengenalnya?" jawab Bryan santai.
"Kukira mengenalnya! Tapi kenapa Anda memanggilnya tiba-tiba ke sini…"
"Agar dia menata penampilanmu maksimal," jawab Bryan datar, seolah memanggil Arthur semudah memesan makanan.
Kirana mendekat, berbisik serius, "Tuan Bryan… Anda gila! Glory World Entertainment dan Starlight Entertainment itu musuh bebuyutan!"
Bryan tetap tenang. 'Dia hidup di dunia sendiri,' batin Kirana.
Kirana benar-benar merasa kalah mental. Satu fakta penting: Glory World Entertainment adalah anak perusahaan keluarga Santoso, di bawah kendali Bryan, meski secara operasional dikelola Arion Santoso.
Mereka masuk industri hiburan lima tahun lalu, menciptakan kerajaan hiburan baru yang bersaing dengan Starlight Entertainment. Rivalitas mereka sengit, konflik karyawan tak terhindarkan jika bertemu di lokasi syuting.
Bryan Santoso melirik jam tangan mewahnya. "Mobil sudah menunggu di luar. Kamu bisa merias wajah dan rambut selama perjalanan. Dengan begitu, seharusnya cukup waktu sampai hotel. Sekarang pilihannya ada di tanganmu; mau pergi atau tidak, terserah."
Perut Kirana mendadak nyeri karena gugup dan kesal bercampur. Ia mengatupkan rahang. "Baiklah! Aku pergi!" jawabnya nekat.
Kalau pemilik Glory World sendiri tidak peduli pada ‘pengkhianatan’ kecil ini, maka dia sebagai artis pun tidak akan peduli.
Namun Kirana terkejut ketika Bryan ikut melangkah ke pintu. "Tunggu… Anda juga ikut?"
"Tentu. Siapa lagi yang akan mengemudikanmu? Lagipula, si kecil Kael masih ingin bersamamu sebelum berangkat," jawab Bryan dengan nada alami, seolah pertanyaan Kirana konyol.
Kael mengangguk antusias, mendukung perkataan ayahnya.
"Baiklah… terserah Anda saja," gumam Kirana pasrah.
Empat orang—termasuk Arthur, penata gaya legendaris—masuk ke mobil Mercedes-Benz V-Class mewah dengan interior VIP yang menunggu di halaman.
Bryan duduk di kursi pengemudi meski masih berpakaian santai, mengemudi dengan tenang. Kirana dan Arthur duduk berdampingan di kursi belakang, sementara Kael mengintip dari samping kursi depan, penuh rasa ingin tahu melihat proses transformasi Kirana.
Arthur menatap wajah Kirana dengan mata profesional.
'Wah… wanita ini hampir sempurna. Riasan tipis dan natural saja sudah cukup,' batin Arthur.
"Acara seperti apa yang akan Anda hadiri? Ini penting untuk memilih pakaian terbaik," tanya Arthur.
"Um… upacara pembukaan film layar lebar…" jawab Kirana canggung. Ia takut Arthur mengetahui dia artis Starlight.
Arthur hanya mengangguk, memahami tema acara, lalu mulai bekerja merias Kirana dengan terampil.
Mobil melaju membelah padatnya lalu lintas Jakarta. Lampu lalu lintas berkedip, klakson bersahutan, tapi kabin VIP terasa damai.
Arthur bekerja seperti seniman sejati. Sesekali ia meminta Kirana menoleh atau menutup mata sejenak. Kael menonton, takjub, seolah melihat pertunjukan sulap. Kirana menahan napas agar riasan sempurna.
Mereka berhenti di sebuah butik dekat lokasi acara. Arthur memilihkan pakaian dengan cepat, Kirana hanya diam membiarkan profesional bekerja. Bryan terlihat bosan, menguap beberapa kali, sementara Kael menjelajahi butik dengan mata berbinar.
Setelah berpakaian layak, semua biaya ditanggung Bryan tanpa memberi kesempatan Kirana menolak. Arthur menyelesaikan sentuhan akhir riasan dan rambut.
Perhitungan waktu Bryan tepat: riasan Kirana selesai saat mobil berhenti di depan lobi Hotel Santika Premiere Slipi, lokasi acara.
Bryan memarkir, mematikan mesin, dan menatap Kirana dari kursi pengemudi. "Bagaimana hasilnya menurutmu?" tanya Kirana gugup sambil merapikan gaun.
"Not bad," jawab Bryan singkat.
Bagi pria dingin seperti Bryan, pujian ‘tidak buruk’ sudah sulit diucapkan. Kael menatap dengan kagum.
Kirana tersenyum, menarik Kael dalam pelukan. "Maafkan Tante harus meninggalkanmu sebentar. Setelah pekerjaan selesai, Tante akan kembali menemanimu."
Kael ragu melepaskan genggaman, tapi akhirnya melambaikan tangan selamat tinggal. Hati Kirana terasa hangat, seolah kembali merasakan keluarga setelah lama hidup sendiri.
Bryan keluar duluan, membuka pintu agar Kirana bisa langsung masuk hotel. Kursi pengemudi kini kembali ke Arthur.
Arthur, yang sejak tadi hanya mengamati, akhirnya tak tahan. "Bos… siapa wanita cantik tadi? Apakah artis baru Glory World? Kenapa saya belum pernah melihatnya?"
'Astaga! Bos kita punya pacar simpanan cantik!' batin Arthur. 'Ini akan mengguncang industri hiburan kalau bocor!'
Bryan menunduk, santai. "Dia artis yang bernaung di Starlight Entertainment."
Dunia Arthur runtuh.
'Bos! Kau menyuruhku menata artis dari perusahaan saingan?! Bahkan Arion tidak berani melakukan ini… gila!' batin Arthur.
Ia hanya bisa menahan napas dan menerima kenyataan. Tapi hatinya merinding, takut wanita itu bisa menjadi calon istri bos di masa depan.
'Lagipula, wanita itu dekat dengan Kael. Untuk mendapat cinta Kael… bukan hal mudah bagi wanita mana pun,' batin Arthur.
Bersambung…