Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13) terasa setelah kehilangan
KONTRAKAN BARU YANG TIDAK PERNAH MERASA SEPERTI RUMAH
Kontrakan seberempat di Gang Melati Nomor 17, pinggiran kota Yogyakarta, jauh berbeda dari kontrakan kecil yang dulu ia tempati di Malang. Dinding yang dicat putih bersih, lantai keramik yang masih mengkilap, dan sebuah balkon kecil yang menghadap ke jalan raya yang cukup ramai. Tapi bagi Sea, setiap sudut tempat ini hanya terasa dingin dan kosong—seolah tidak pernah ada jejak kehidupan yang hangat di dalamnya.
Ia sedang duduk di kursi kayu yang baru saja dibelinya, menatap layar ponsel dengan mata yang merah karena tidak tidur cukup malam. Di layar itu, sebuah postingan media sosial dari akun teman bersama mereka—"Selamat untuk calon pengantin Rayyan dan Amara! Pernikahan akan diadakan dalam waktu dua minggu di Hotel Grand Malang. Semoga bahagia selamanya!" Di bawah postingan itu, foto Rayyan yang mengenakan jas hitam elegan berdampingan dengan Amara—wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang dan senyum yang tampak begitu bahagia.
Sea meraih gelas air yang sudah dingin di mejanya dan meneguknya dengan cepat, berusaha menekan rasa sakit yang kembali menghantui hatinya. Tiga bulan yang lalu, ia memutuskan untuk pindah dari Malang ke Yogyakarta setelah menerima surat dari ibu Rayyan yang sangat jelas dan tidak ada maunya. Surat itu menyatakan bahwa Rayyan sudah memiliki calon istri yang sudah ditentukan sejak lama—Amara, putri dari teman bisnis ayahnya yang juga merupakan ketua yayasan yang mendukung kampus di mana Rayyan menjadi ketua BEM.
"Kamu tidak pantas untuk anak saya, Sea," tulis ibu Rayyan di dalam surat itu. "Kita berasal dari dunia yang berbeda, dan hubunganmu dengan Rayyan hanya akan menghambat masa depannya. Saya harap kamu bisa memahami dan menjauh dari dia secara sukarela."
Pada awalnya, Sea masih berpikir bahwa Rayyan akan melawan keputusan orang tuanya. Bagaimana tidak? Di kampus, Rayyan dikenal sebagai ketua BEM yang tegas, berani berbicara, dan selalu berdiri untuk kebenaran. Ia pernah memimpin aksi protes untuk memperbaiki fasilitas kampus, bahkan ketika itu bertentangan dengan keinginan beberapa pihak penting. Tapi ketika Sea menghubunginya untuk membicarakan surat itu, Rayyan hanya terdiam lama sebelum akhirnya berkata, "Saya tidak punya pilihan, Sea. Saya harus patuh pada orang tua saya."
Dari saat itu, Sea tidak pernah menjawab panggilan atau membuka pesan dari Rayyan lagi. Ia mengundurkan diri dari organisasi kampus yang dulu mereka ikuti bersama, memindahkan kuliahnya ke universitas baru di Yogyakarta, dan mencoba membangun kehidupan baru tanpa jejak pria yang pernah jadi segalanya baginya.
Saat matahari mulai merunduk di balik gedung-gedung tinggi di kejauhan, Sea berdiri dan menuju kamar tidurnya. Di atas meja rias yang sederhana, ada sebuah bingkai foto kecil yang berisi gambar dirinya dan Rayyan yang diambil saat liburan ke Gunung Bromo setahun yang lalu. Di foto itu, mereka sedang tertawa lepas dengan latar belakang matahari terbit yang indah.
Ia mengambil foto itu dengan hati yang berat. Ingatan tentang masa-masa manis bersama Rayyan mulai mengalir deras di benaknya—ketika mereka pertama kali bertemu di lokakarya kepemimpinan kampus, ketika Rayyan datang membawa makanan kesukaannya ke kontrakan saat ia sakit, ketika mereka menghabiskan malam natal bersama di bawah pohon beringin di depan kontrakan lama, ketika Rayyan mengucapkan kata-kata cinta untuk pertama kalinya sambil memegang tangannya erat-erat.
"Kamu bilang kamu mencintai saya," bisik Sea dengan suara yang penuh kesedihan. "Tapi ternyata semua itu hanya untuk main-main, bukan? Dasar penghianat..."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merobek foto itu menjadi beberapa bagian kecil. Potongan-potongan foto itu jatuh ke lantai, dan Sea akhirnya tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menjatuhkan diri di lantai, menangis sambil meraih potongan-potongan foto yang sudah hancur, seolah ingin menyusunnya kembali menjadi kenangan yang tidak akan pernah datang lagi.
DI KAMPUS, HINDARI DENGAN SEGALA CARA
Beberapa hari kemudian, Sea harus kembali ke Malang untuk mengurus transkrip nilai dan dokumen penting lainnya dari kampus lama. Ia sudah merencanakan setiap langkahnya dengan sangat cermat agar tidak bertemu dengan Rayyan. Ia datang ke kampus saat jam delapan pagi tepatnya—saat sebagian besar mahasiswa baru mulai berkumpul di lorong-lorong, tapi ia tahu bahwa Rayyan biasanya akan berada di ruang BEM untuk memimpin rapat pagi.
Ia mengenakan topi dan masker wajah agar tidak terlalu mudah dikenali. Ia memilih jalur belakang kampus yang lebih sepi, melewati taman kecil yang dulu sering jadi tempat mereka berbicara saat istirahat. Pohon beringin yang besar di tengah taman masih berdiri kokoh, dan Sea merasa dada nya terasa sesak saat melihat tempat duduk kayu yang dulu mereka tempati bersama.
"Saya harus cepat selesai dan pergi dari sini," bisiknya pada dirinya sendiri, mempercepat langkahnya menuju gedung administrasi.
Setelah selesai mengurus semua dokumen, Sea memutuskan untuk singgah sebentar di perpustakaan kampus untuk mengambil beberapa buku yang masih harus dikembalikan. Ia tahu bahwa perpustakaan adalah salah satu tempat yang sering dikunjungi Rayyan, jadi ia memilih untuk masuk melalui pintu belakang dan langsung menuju bagian rak buku yang paling dalam.
Namun takdir seolah ingin menguji batas kesabarannya. Saat ia sedang mencari nomor rak buku yang dicarinya, suara langkah kaki yang sangat ia kenal terdengar dari arah pintu utama. Suara itu selalu membuat hatinya berdebar kencang di masa lalu, tapi sekarang hanya membuatnya merasa gelisah dan ingin segera berlari pergi.
Ia cepat-cepat menyembunyikan diri di balik rak buku yang tinggi, menutup wajahnya dengan buku yang baru saja diambilnya. Dari celah rak buku, ia bisa melihat Rayyan yang sedang berjalan bersama dua anggota BEM lainnya. Ia masih tampak sama seperti dulu—rambut hitam yang rapi, jas biru resmi BEM yang dikenakannya dengan rapi, dan wajah yang tampan dengan alis yang sedikit mengerut saat sedang membahas sesuatu dengan serius.
"Kita harus memastikan bahwa acara wisuda tahun ini berjalan lancar," kata Rayyan dengan suara yang tegas. "Hubungi semua departemen untuk memastikan bahwa mereka sudah siap dengan peserta dan fasilitasnya."
Setelah memberi beberapa instruksi, Rayyan menyuruh kedua anggota BEM itu pergi terlebih dahulu. Ia sendiri berjalan ke arah rak buku tempat Sea menyembunyikan diri, seolah tanpa sengaja. Sea merasa jantungnya hampir berhenti berdetak. Ia mencoba bergerak perlahan untuk berpindah tempat, tapi buku yang ia pegang tiba-tiba terjatuh ke lantai dengan suara yang cukup keras.
Suara itu membuat Rayyan berhenti dan menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu, dan dalam hitungan detik, ekspresi wajah Rayyan berubah dari fokus menjadi kejutan yang jelas.
"Sea?" ujar Rayyan dengan suara yang lembut. Ia bergerak satu langkah mendekat, tapi Sea segera mundur ke belakang.
"Jangan datang lebih dekat!" teriak Sea dengan suara yang lebih keras dari yang ia rencanakan, menarik perhatian beberapa mahasiswa lain di perpustakaan. Ia menarik masker wajahnya ke bawah dan menatap Rayyan dengan mata yang penuh kemarahan dan kesedihan. "Kalau ketemu lagi awas saja kamu Rayyan! Akan ku perhitungkan satu persatu apa yang kamu lakukan padaku—dasar penghianat yang hanya bermain-main dengan perasaan orang lain!"
Rayyan melihatnya dengan wajah yang penuh kesedihan dan rasa bersalah. "Sea, tolong dengarkan penjelasanku..."
"Tidak ada yang perlu aku dengar lagi!" seru Sea dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. "Aku sudah tahu segalanya—kamu akan menikahi Amara, kamu memilih orang tuamu daripada aku, dan semua janji kamu tentang cinta dan masa depan hanya omong kosong belaka!"
Tanpa memberi kesempatan Rayyan untuk menjawab, Sea mengambil buku-bukunya dan berlari keluar dari perpustakaan dengan cepat. Ia merasa semua mata di sekitarnya sedang menatapnya, tapi ia tidak peduli lagi. Hanya satu hal yang ada di benaknya—ia harus segera meninggalkan kampus ini dan tidak pernah kembali lagi.
KENANGAN YANG TIDAK BISA DIHAPUSKAN
Setelah sampai di kontrakan sewanya yang baru di Yogyakarta, Sea langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Ia jatuh di atas kasur dan menangis sekeras hati