"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah
"Nak, kamu yakin tidak mau ikut pulang ke kampung dengan Ibu?" Tanya Ibu Ara entah untuk keberapa kalinya. Wanita paruh baya itu masih tidak rela berpisah dengan putri semata wayangnya.
"Tidak Bu. Aku akan tetap tinggal di kota ini. Dokter Jacob berjanji akan mencarikan pekerjaan yang bagus untukku, pekerjaan yang bisa mengubah hidup kita jadi lebih baik. Bukankah Ibu juga sudah menyetujuinya." Ara mencoba mengingatkan sang Ibu akan pembicaraan mereka dengan Dokter Jacob sebelum keluar dari rumah sakit.
"Iya Ibu ingat, tapi Ibu tidak pernah berpisah denganmu dalam waktu yang lama. Bagaimana Ibu bisa hidup tanpa kamu di sisi ibu nak." Lirih Ibu Ara.
"Ibu tidak usah khawatir, Ibu bisa menghubungiku kapan saja setiap Ibu merindukanku. Di dalam ponsel ini ada nomer teleponku dan juga nomer Dokter Jacob." Ucap Ara seraya menyerahkan sebuah ponsel android pada sang Ibu. Ponsel yang sengaja Ara beli agar bisa berkomunikasi dengan sang ibu kapan saja.
"Kamu ini bagaimana nak? Kamukan tahu sendiri kalau Ibu tidak bisa menggunakan ponsel." Ibu Ara menolak ponsel pemberian putrinya.
"Tidak papa bu, aku akan mengajari Ibu. Kalau Ibu masih belum mengerti juga, aku akan meminta Paman Hisyam dan Bibi Mirna untuk mengajari Ibu nanti." Layla memasukan ponsel tersebut ke dalam tas sang Ibu.
Kemudian Ara dan Ibunya saling berpelukan dengan erat. Tubuh Ibu Ara sudah lebih kuat sekarang, setelah melalui proses pengobatan yang memakan waktu berbulan-bulan. Waktu yang cukup panjang dan tentunya sangat melelahkan untuk keduanya.
Hari ini Ibu dan anak itu akan berpisah. Ibu Ara akan pulang ke kampung tempat tinggalnya, diantarkan oleh paman Hisyam, paman Ara satu-satunya. Sementara itu, Ara akan menetap di Ibu Kota.
Semua ini dimulai dari kata-kata Dokter Jacob, yang berkata pada Ibu Ara akan mencarikan pekerjaan yang bagus untuk Ara. Ketulusan Dokter Jacob membuat Ibu Ara yang semula tidak setuju dengan keinginan Ara untuk menetap di Ibu Kota, lambat laun jadi luluh dan akhirnya menyetujui keinginan sang putri. Itu adalah keputusan yang sulit, tapi keduanya tahu bahwa ini adalah langkah untuk masa depan yang lebih baik.
Tidak mungkin Ara kembali ke kampung dalam keadaan hamil seperti sekarang, selain akan mengecewakan Ibunya, mereka juga akan jadi bahan pergunjingan warga di sana jika mereka tahu Ara hamil sebelum menikah.
"Jaga dirimu baik-baik ya nak, dan jangan lupa berdoa setiap hari." Lirih Ibu Ara dengan Air mata yang berderai. Sebelum pulang, Ibu Ara berpesan banyak hal pada putri kesayangannya. Ara hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban, tenggorokan Ara terasa tercekat karena menahan sedih, jadi tak kuasa menjawab kata-kata sang Ibu.
"Ara juga minta maaf karena tidak bisa menjaga ibu di kampung selama Ara bekerja."
Kata-kata Ara membuat hati keduanya terasa semakin sesak, keduanya saling meneteskan air mata karena perpisahan ini. Tak ada kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa rindu yang akan datang, hanya pelukan yang erat saja yang seakan mencoba menangkap semua emosi.
***
Setelah mobil yang membawa Ibu Ara dan Paman Hisyam melaju jauh hingga hilang dari pelupuk mata, Dokter Jacob mendekat ke arah Ara dan berkata "Ayo pulang."
Ara terkejut, matanya memandang dokter tampan itu dengan tatapan bingung.
"Pulang? Pulang ke mana?" tanya Ara. Ia sama sekali tidak punya tempat tinggal tetap di Ibu Kota. Selama Ibunya di rawat di rumah sakit, Ara tinggal di rumah singgah yang diperuntukan untuk keluarga pasien yang tidak punya tempat tinggal atau berasal dari luar kota, dan hari ini adalah hari terakhir Ara bisa tinggal di sana karena ibunya sudah keluar dari rumah sakit hari ini.
Dokter Jacob melihat Ara dengan perasaan prihatin, meskipun wajahnya tetap terlihat datar.
"Aku akan mencarikan tempat tinggal untukmu," jawab dokter Jacob dengan wajah tanpa ekspresi.
"Baiklah, aku akan ikut kemanapun kau akan membawaku." Balas Ara pasrah.
Bersambung...