"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 13
BAB 13 — Tantangan Logika
Senin pagi di SMA Pelita Bangsa terasa berbeda. Atmosfer koridor yang biasanya dingin oleh AC sentral, kini terasa panas oleh bisik-bisik.
Penyebabnya satu: Kejadian kemarin pagi. Sebuah Ferrari merah parkir di depan gerobak bubur kumuh.
Mayang berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Dia menunduk, mendekap buku LKS di dada. Tapi dia bisa merasakan tatapan mata yang mengikuti setiap langkahnya.
“Itu ceweknya, kan?” “Gila, pake pelet apaan tuh?” “Vino Al-Fatih makan bubur pinggir jalan? Kiamat sudah dekat.”
Mayang mempercepat langkah. Dia tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Baginya, ketenaran adalah pedang bermata dua. Satu sisi melindunginya dari bully fisik (karena orang takut pada Vino), sisi lain membuatnya menjadi target kebencian kolektif para penggemar fanatik Vino.
Tepat di depan pintu kelas X-1, Vivie berdiri bersandar di kusen pintu. Dia sedang memikirkan kukunya yang baru dicat merah marun.
Mayang berhenti. “Permisi, Vivie.”
Vivie menurunkan tangannya. Dia menatap Mayang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya tidak lagi meremehkan seperti dulu. Kini ada kilatan waspada di sana.
“Minggu pagi yang indah ya, May?” tanya Vivie, suaranya manis tapi berbisa.
“Biasa saja. Ramai pembeli,” jawab Mayang datar.
“Gue denger ada pelanggan VIP. Ferrari merah. Wah, marketing lo jago juga. Lo kasih diskon apa ke Vino? Buy one get one? Atau diskon plus-plus?”
Sindiran murahan. Mayang menarik napas. Dia ingat kata-kata Vino: Jangan ladeni hal yang tidak produktif.
“Vino cuma beli bubur, Vie. Dia bayar dua puluh ribu. Nggak ada diskon. Kalau kamu mau beli, harganya sama. Minggir, aku mau masuk.”
Mayang melangkah maju.
Vivie merentangkan tangan, menghalangi jalan.
“Lo pikir karena Vino makan di tempat lo, lo udah selevel sama dia?” desis Vivie. “Jangan mimpi. Vino itu cuma lagi bosan. Dia lagi main peran jadi rakyat jelata. Begitu dia bosen main becek-becekan, dia bakal balik ke istana. Dan lo... lo bakal ditinggal sendirian bersihin lumpur di sepatu lo.”
“Mungkin,” jawab Mayang tenang. “Tapi setidaknya dia pernah datang. Kamu? Pernah diajak makan bareng Vino di tempat favoritmu?”
Mata Vivie membelalak. Itu serangan telak. Vivie sudah mengejar Vino dua tahun, tapi Vino selalu menolak ajakan dinner-nya.
Mayang memanfaatkan momen kaget Vivie untuk menyelinap masuk ke kelas.
Dia duduk di bangkunya, jantungnya berdebar kencang. Melawan Vivie butuh energi ekstra.
Baru saja Mayang meletakkan tas, speaker kelas berbunyi.
“Panggilan untuk Mayang Sari, kelas sepuluh satu. Ditunggu di Ruang Arsip OSIS sekarang juga. Menghadap Wakil Ketua.”
Naufal yang baru datang melempar tasnya ke meja. “Lagi? May, lo diapain lagi sama dia? Gue temenin ya?”
“Nggak usah, Fal. Ini urusan beasiswa mungkin,” tolak Mayang halus.
“Hati-hati, May. Ruang Arsip itu di basement. Sepi. Kalau dia macem-macem, teriak aja.”
Mayang mengangguk, lalu berjalan keluar.
Ruang Arsip OSIS terletak di lantai dasar, di ujung lorong yang jarang dilewati siswa. Ruangan ini berbeda dengan Ruang Eksekutif di lantai 3 yang mewah dan wangi.
Ruang Arsip berbau debu, kertas tua, dan tinta printer. Dindingnya dipenuhi lemari besi abu-abu setinggi plafon. Tidak ada jendela. Hanya lampu neon putih yang berdengung pelan.
Mayang mengetuk pintu besi itu.
“Masuk.”
Mayang mendorong pintu. Berat.
Di dalam, Vino sedang berdiri di tengah ruangan. Dia tidak memakai jas almamater. Dia hanya memakai kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku. Di wajahnya ada masker medis hitam.
Di sekelilingnya, menumpuk ratusan—mungkin ribuan—buku tebal, map, dan bundel kertas yang berserakan di meja panjang dan lantai.
Kekacauan total.
“Tutup pintu. Kunci,” perintah Vino tanpa menoleh. Suaranya teredam masker.
Mayang menutup pintu, memutar kuncinya. Klik.
“Ada apa, Kak... eh, Vino?” tanya Mayang ragu.
Vino berbalik. Dia menurunkan maskernya sedikit.
“Ini gudang data sejarah sekolah selama 20 tahun terakhir. Laporan kegiatan, proposal dana, surat keputusan, data alumni. Semuanya ada di sini.”
Mayang melihat tumpukan kertas menggunung itu. “Lalu?”
“Berantakan,” kata Vino jijik. “Pengurus lama kerjanya asal-asalan. Mereka numpuk file kayak numpuk sampah. Gue butuh data spesifik buat audit anggaran tahunan, tapi nyarinya kayak nyari jarum di tumpukan jerami.”
Vino menunjuk tumpukan paling besar di meja tengah. Ada sekitar 50 buku besar hardcover hitam.
“Itu Log Book Kegiatan dan Anggaran dari tahun 2005 sampai 2024. Tugas lo hari ini: Rapikan.”
Mayang mendekat. Dia melihat buku-buku itu. Debunya tebal.
“Rapikan gimana? Disusun di rak?”
“Disortir. Dan diindeks ulang,” kata Vino. Dia menyerahkan sepasang sarung tangan kain putih dan masker baru ke Mayang. “Pake ini. Gue nggak nanggung biaya pengobatan kalau lo kena asma.”
Mayang memakai sarung tangan itu. “Oke. Saya susun berdasarkan abjad judul kegiatannya ya? Biar gampang dicari. Misal: Pensi, Lomba Basket, Seminar...”
“Salah,” potong Vino cepat.
Mayang berhenti. “Kenapa salah? Abjad kan paling efisien. Kalau mau cari data Pensi, tinggal cari huruf P.”
“Itu pola pikir pustakawan, bukan analis,” kata Vino dingin. Dia berjalan mendekati Mayang, mengambil satu buku tebal.
“Susun berdasarkan Kronologis. Tahun, Bulan, Tanggal. Urutkan dari yang paling tua ke yang paling muda.”
Mayang mengerutkan kening. Dia menatap tumpukan buku yang acak-acakan itu.
“Tapi itu bakal lama banget, Vin. Saya harus buka satu-satu, liat tanggalnya. Kalau berdasarkan abjad, saya tinggal liat judul di punggung buku. Kenapa harus tahun?”
“Karena sejarah itu kausalitas. Sebab-akibat,” jawab Vino. Matanya tajam menatap Mayang. “Kalau lo susun berdasarkan abjad, lo cuma dapet daftar nama. Lo nggak dapet konteks.”
Vino membuka buku di tangannya secara acak. Debu mengepul.
“Misal, Pensi tahun 2018 rugi besar. Kalau lo cuma liat di huruf P, lo cuma tau itu rugi. Tapi kalau lo liat secara kronologis, lo bakal nemu bahwa tiga bulan sebelum Pensi, ada pengeluaran besar mencurigakan untuk Renovasi Kantin yang dikerjakan oleh vendor fiktif.”
Vino menutup buku itu keras. Blam!
“Kronologi membuka pola korupsi, Mayang. Abjad menyembunyikannya. Gue mau lo cari pola itu.”
Mayang terdiam. Dia mencerna logika Vino.
Efisien vs Efektif. Mayang ingin cepat (efisien). Vino ingin dalam (efektif).
“Oke,” kata Mayang akhirnya. “Saya paham. Berdasarkan tahun.”
“Bagus. Gue kasih waktu tiga jam. Gue harus rapat guru di lantai atas. Jangan ada yang terlewat satu hari pun.”
Vino berjalan ke pintu.
“Vin,” panggil Mayang.
“Apa?”
“Kalau saya nemu... pola yang aneh. Saya harus apa?”
Vino tersenyum miring di balik maskernya.
“Tandai pakai sticky note merah. Itu bakal jadi amunisi gue buat rapat yayasan bulan depan.”
Vino keluar, meninggalkan Mayang sendirian di ruang arsip yang sunyi dan berdebu.
Satu jam berlalu.
Mayang tenggelam dalam lautan kertas. Dia duduk di lantai dingin, dikelilingi menara-menara buku.
2005... 2006... 2007...
Pekerjaan ini membosankan secara fisik, tapi menarik secara mental. Mayang mulai melihat apa yang dimaksud Vino.
Dia melihat pola.
Setiap kali ada pergantian Kepala Sekolah, pengeluaran untuk "Biaya Tak Terduga" melonjak drastis. Setiap kali ada acara Pensi besar, anggaran untuk "Konsumsi Rapat" naik tiga kali lipat dari kewajaran.
Pintar juga si Vino, batin Mayang. Dia menggunakan tenagaku untuk jadi detektif swastanya.
Tangan Mayang kotor oleh debu hitam. Keringat menetes di pelipisnya. Maskernya terasa sesak.
Dia mengambil buku tahun 2015. Buku ini aneh. Lebih tipis dari yang lain.
Mayang membukanya. Halamannya banyak yang disobek paksa. Sisa sobekannya masih terlihat di jilidan.
“Aneh,” gumam Mayang. Dia mengecek tanggalnya. September 2015. Bulan di mana sekolah ini membangun Gedung Olahraga baru.
Mayang menandainya dengan sticky note merah.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka.
Mayang menoleh, mengira Vino sudah kembali.
Tapi yang masuk bukan Vino.
Naufal.
Naufal masuk dengan wajah cemas, celingukan. Begitu melihat Mayang duduk di lantai dikelilingi debu, wajahnya berubah merah padam.
“Ya Tuhan, May!” seru Naufal. Dia berlari menghampiri Mayang. “Lo ngapain di sini?!”
“Lagi kerja, Fal. Nyusun arsip,” jawab Mayang santai, menyeka keringat dengan punggung tangan.
Naufal melihat sekeliling. Tumpukan buku kotor. Debu di mana-mana.
“Ini bukan kerja, May. Ini perbudakan!” Naufal marah. Dia menarik tangan Mayang agar berdiri. “Vino gila ya? Lo itu murid beasiswa prestasi, bukan cleaning service! Kenapa dia nyuruh lo ngerjain kerjaan kasar gini?”
Mayang melepaskan tangan Naufal. “Fal, tenang dulu. Ini bukan kerjaan kasar. Ini...”
“Liat tangan lo! Hitam semua! Baju lo kotor!” Naufal menunjuk sarung tangan Mayang yang dekil. “Dia manfaatin lo, May. Dia tahu lo butuh beasiswa, jadi dia injek-injek lo seenaknya. Lo disuruh bersihin gudang sementara dia duduk manis di ruang rapat ber-AC!”
“Naufal, dengerin aku dulu!” potong Mayang tegas.
Naufal diam, napasnya memburu.
“Aku yang mau ngerjain ini. Vino minta tolong nyortir data. Ini penting buat audit sekolah.”
“Penting buat dia! Bukan buat lo! Lo dapet apa? Dapet debu? Dapet capek?”
Naufal menendang tumpukan buku di dekatnya. Buku-buku itu runtuh, menghamburkan debu ke udara.
“Uhuk!” Mayang terbatuk.
“Ayo keluar. Gue anter lo ke kantin. Gue yang bakal ngomong sama Vino nanti. Ini nggak manusiawi.”
Naufal menarik lengan Mayang lagi, kali ini lebih keras.
“Lepaskan dia.”
Suara dingin itu datang dari pintu.
Vino berdiri di sana. Dia sudah kembali. Di tangannya ada dua botol air mineral dingin.
Dia menatap Naufal dengan tatapan yang bisa membekukan air mendidih. Dia melihat buku-buku yang berantakan karena tendangan Naufal.
“Lo ngotorin lagi apa yang udah dia rapikan, Naufal,” kata Vino datar. Dia masuk, menutup pintu di belakangnya.
“Lo yang keterlaluan, Vin!” bentak Naufal. “Lo apain Mayang? Lo jadiin dia babu di gudang? Lo punya hati nggak sih?”
Vino berjalan tenang, meletakkan botol air di meja yang bersih.
“Gue nggak nyuruh dia bersihin gudang. Gue nyuruh dia analisis data. Itu proses intelektual, bukan fisik. Otak lo mungkin nggak nyampe buat bedainnya.”
“Analisis apaan?! Liat dia keringetan gini!”
“Karena dia kerja keras. Sesuatu yang jarang lo lakuin,” balas Vino tajam.
Vino beralih menatap Mayang.
“Mayang. Lo merasa diperbudak?” tanya Vino.
Mayang memandang kedua cowok itu. Naufal yang emosional karena peduli, dan Vino yang rasional tapi terkesan kejam.
“Nggak,” jawab Mayang jujur. “Saya belajar banyak dari buku-buku ini.”
Naufal ternganga. “May, lo belain dia lagi? Lo udah dicuci otak?”
“Bukan gitu, Fal. Di sini ada data mencurigakan tahun 2015. Halamannya disobek. Ini penting.”
Vino tersenyum tipis. Sangat tipis.
“Lo nemu?” tanya Vino antusias, mengabaikan Naufal.
“Iya. September 2015. Proyek GOR. Halaman 45 sampai 50 hilang.”
Vino mengangguk puas. “Itu dia. The Missing Link. Gue udah curiga lama, tapi gue nggak punya waktu buat nyari fisiknya. Good job.”
Vino mengambil botol air mineral, membuka tutupnya, dan menyodorkannya pada Mayang.
“Minum. Lo pasti haus kena debu.”
Mayang menerima botol itu. “Makasih.”
Naufal merasa seperti orang asing di antara mereka. Ada koneksi aneh yang terjalin lewat tumpukan kertas tua itu, koneksi yang tidak bisa ditembus Naufal.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran kalian,” kata Naufal frustasi. “Terserah. May, kalau lo sakit gara-gara debu ini, gue nggak segan-segan laporin Vino ke Bokapnya.”
Naufal berbalik dan membanting pintu saat keluar.
Hening kembali di ruang arsip.
Mayang meminum airnya. Dingin dan segar.
Vino memunguti buku-buku yang tadi ditendang Naufal. Dia tidak memanggil staf kebersihan. Dia memungutnya sendiri.
“Maafin Naufal,” kata Mayang pelan. “Dia cuma khawatir.”
“Dia berisik,” sahut Vino. “Khawatir tanpa logika itu cuma gangguan.”
Vino meletakkan buku itu di meja. Lalu dia menatap Mayang. Wajah gadis itu cemong oleh debu hitam di pipi dan dahi. Rambutnya berantakan. Keringat membasahi lehernya.
Di mata kebanyakan orang, Mayang terlihat kucel. Tapi di mata Vino saat ini, Mayang terlihat... brilian.
“Lo tahu kenapa gue suruh lo urutin berdasarkan tahun, bukan abjad?” tanya Vino lagi, memastikan.
“Karena sejarah lebih penting dari nama,” jawab Mayang, mengulangi kata-kata Vino di awal tadi. “Dan karena pola korupsi berulang dalam siklus waktu, bukan siklus alfabet.”
Vino menatap Mayang lekat-lekat.
“Lo cerdas, Mayang. Lebih cerdas dari dugaan gue. Sayang banget kecerdasan lo ketutup sama rasa nggak enakan lo ke orang lain.”
Vino mengambil tisu basah dari saku celananya. Dia menarik selembar.
Tanpa peringatan, Vino mengulurkan tangan.
Dia menyeka noda debu hitam di pipi Mayang.
Gerakannya pelan. Hati-hati.
Mayang membeku. Napasnya tertahan. Tangan Vino terasa hangat menembus tisu basah yang dingin. Jarak mereka begitu dekat hingga Mayang bisa melihat pori-pori kulit Vino dan bulu mata lentiknya.
“Diam,” bisik Vino saat Mayang hendak mundur. “Muka lo kayak kucing masuk cerobong asep.”
Mayang menurut. Dia membiarkan Vino membersihkan wajahnya.
“Kenapa Kakak... eh, Vino... lakuin ini?” tanya Mayang gugup.
“Investasi,” jawab Vino, mantra andalannya. “Aset gue harus tetap bersih biar nilainya nggak turun.”
Vino selesai membersihkan pipi Mayang. Dia membuang tisu kotor itu ke tempat sampah.
“Kerjaan lo selesai buat hari ini. Sisa buku biar diurus staf OSIS junior. Lo udah nemuin apa yang gue cari.”
Vino mengambil buku tahun 2015 yang ditandai sticky note merah tadi.
“Ini kunci buat ngejatuhin Wakil Kepala Sekolah yang korup. Dan lo yang nemuin kuncinya.”
Vino menatap Mayang dengan tatapan penghargaan yang tulus.
“Terima kasih, Partner.”
Kata itu. Partner. Bukan Aset. Bukan Investasi. Bukan Saingan. Tapi Partner.
Mayang tersenyum lebar, meski wajahnya masih agak kotor.
“Sama-sama, Bos.”
Vino melihat jam tangannya.
“Udah jam makan siang. Mau makan bubur lagi? Atau mau coba makanan manusia normal?”
“Saya mau makan bakso, tapi yang pedes banget.”
“Oke. Gue tahu tempat bakso yang enak. Tapi lo harus ganti baju dulu. Gue nggak mau jalan sama orang yang kayak habis guling-guling di tambang batubara.”
“Siap!”
Mereka keluar dari ruang arsip itu beriringan.
Di balik tumpukan kertas berdebu itu, sebuah ikatan baru terbentuk. Bukan sekadar cinta remaja yang berbunga-bunga, tapi sebuah aliansi yang dibangun di atas logika, kerja keras, dan visi yang sama.
Mayang tidak sadar, bahwa dengan menemukan halaman yang hilang di buku itu, dia juga baru saja membuka halaman baru dalam kisah cintanya dengan sang jenius.
Bersambung.....