NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi di Antara Dua Pertarungan

Tapi Rommy sigap dan segera melompat ke dalam ring, memegang tangan Tony dan menahannya agar tidak melanjutkan pukulan itu. Dan Axel rubuh tanpa Tonny harus melancarkan pukulan pamungkasnya itu. Dan wasit memutuskan pertandingan langsung dihentikan tanpa harus menunggu sepuluh hitungan.

Coach Bruno segera melompat ke dalam ring dan memberikan pertolongan sebisanya kepada Axel. Axel akhirnya sadar dan segera berdiri lagi dan merangkul lawannya.

“Kau yang menang, Ton,” bisik Axel. “Aku ingat janji gua kalau gua yang kalah.”

“Terima kasih, gua tunggu,” jawab Tony sambil mengangkat kedua tangannya tanda kemenangan.

Para anggota Geng Kelelawar Hitam pendukung Tony segera meneriakkan yel-yel, “Hidup Tony! Hidup Tony!”

Sementara anggota geng The Executioners tampak sedih seolah tidak percaya pimpinannya dikalahkan dengan KO oleh Tony.

Baik di grup WhatsApp Kelelawar Hitam maupun grup sekolah, kemenangan Tony itu viral. Tapi di grup sekolah, potongan video Rommy melompat ke dalam ring dan menahan pukulan Tony agar berhenti memukul malah lebih viral dan mendapatkan pujian, termasuk dari Mauren.

“Hebat, kamu, Rom,” puji Mauren. “Kamu sudah berubah sejak pertama kali kita bertemu.”

“Hanya spontanitas saja kok, Ren,” jawab Rommy.

Dalam hati Rommy berkata, “Kalau aku belum pernah berkenalan denganmu, mungkin aku masih seperti Rommy yang dulu.” Rommy sebenarnya ingin mengucapkan itu, namun dia tak punya cukup nyali untuk mengatakannya.

“Besok aku akan memulai kompetisi. Aku berharap kamu bisa menonton,” kata Mauren pelan.

“Aku usahakan,” jawab Rommy basa-basi. Satu yang pasti, dia tidak akan melewatkan gebetannya bertanding.

“Omong-omong, bagaimana latihan tinjumu?” tanya Mauren.

“Sudah lebih maju. Coach Barda minggu depan sudah mengizinkan untuk melakukan sparring,” jawab Rommy pelan. Kini dia sudah lebih bisa menguasai diri kalau berhadapan dengan Mauren dibanding dulu. Tapi rasa berdesir itu masih ada, terutama kalau Mauren tersenyum manis.

“Sip, aku akan bilang Coach Barda supaya sparring dengan aku saja,” canda Mauren yang membuat Rommy jadi salah tingkah dan tak bisa berkata-kata.

Sore itu ekskul karate berlangsung biasa saja, dan hari itu murid-murid datang ikut ekskul karate, kecuali Axel yang tidak nampak. Seperti biasa, Rommy juga datang ke sekolah meski tidak ikut ekskul karate, melainkan melakukan shadow boxing di lapangan basket di sebelah aula tempat Mauren berlatih karate.

Mauren membantu Sensei Nakamura memberikan dasar-dasar kuda-kuda dan pukulan karate. Setelahnya, Sensei Nakamura meminta waktu Mauren untuk berlatih tambahan jelang kompetisi esok hari. Tidak ada latihan berat, hanya gerakan sambil duduk dan memutar-mutar tangan dengan perlahan selama 1–2 menit.

“Besok sudah kompetisi, jangan latihan berat-berat,” kata Sensei Nakamura. “Latihan ini saja untuk melemaskan otot-otot. Dalam karate namanya tensho, atau biasanya disebut juga sebagai moving meditation jelang kompetisi.”

“Tenangkan pikiran, jangan nervous jelang kompetisi besok,” pesan Sensei Nakamura. “Kalau ada waktu, lakukan meditasi sebentar di rumah untuk membuang rasa nervous.”

Setelah selesai latihan di dojo sekolah, latihan ringan dilakukan di rumah Mauren. Mama Mauren melatih kuda-kuda Mauren untuk kompetisi besok.

“Jangan terlalu capai latihan ini itu. Cukup tenangkan diri dan bermeditasi,” kata Mama Mauren berbagi pengalamannya dulu sebagai mantan atlet karate. “Dalam karate kita mengenal mokuso, yaitu duduk diam untuk bermeditasi.”

Lalu Mauren dan mamanya duduk bersimpuh di lantai, kedua tangan menengadah ke atas dan memejamkan mata selama kurang lebih 15 menit. Perasaan Mauren tampak lebih tenang dan tidak lagi terlalu nervous menghadapi kompetisi besok.

“Lakukan satu menit saja menjelang pertandingan besok agar kamu makin rileks, Ren,” kata mamanya Mauren.

“Baik, Ma,” jawab Mauren.

Berbeda dengan di rumah Mauren yang tenang dan hangat, suasana di rumah Axel terasa panas.

“Kau tidak usah mengurusi aku!” teriak papa Axel ke mama Axel. “Urus saja urusanmu sendiri.”

“Kalau begitu, kamu nggak usah ulang,” jawab Mama Axel dengan teriakan pula.

Axel sudah sangat terbiasa dengan keributan itu, dan dia diam saja dan sibuk membuka-buka ponselnya. Dia sedang memikirkan apa yang akan dia tulis di grup WhatsApp sekolah mengenai permintaan maaf terbuka kepada Tony yang dijanjikannya kalau kalah tanding tinju. Akhirnya dia mengetik:

“Tony, aku minta maaf telah memfitnah kamu sehingga kamu diskors.”

Lama Axel mempertimbangkan isi pesan itu, lalu dihapusnya dan diketik lagi dengan isi pesan yang sama. Setelah lama bimbang, akhirnya dia menekan tombol kirim, dan pesan tersebut terkirim.

Tak lama, anak-anak yang membaca permintaan maaf Axel itu pun heboh. Tak terkecuali Pak Sajit.

Esok harinya, Axel, Tonny, dan Rommy dipanggil ke ruangan Pak Sajit. Bu Catarina dan beberapa guru juga ikut rapat. Setelah berbasa-basi sejenak, maka “sidang” pun dimulai.

Pak Sajit membuka rapat hari itu dengan bertanya kepada Axel, “Apa maksud pesan kamu di grup sekolah itu, Xel?”

Axel tidak menjawab, hanya diam saja sambil tertunduk.

Lama dia tidak menjawab. “Tony berkata jujur waktu itu, Pak. Dia tidak pernah menghajar saya, kami yang berniat mengeroyok Tony.”

Pak Sajit membuka kacamatanya dan bertanya, “Maksudmu?”

Axel menjawab dengan pelan, pelan sekali, “Tony berkata jujur tiga bulan lalu, Pak. Pemuda kampung yang tak diketahui itu menyelamatkannya ketika kami akan mengeroyoknya, Pak.”

“Artinya kamu yang berbohong?” desak Pak Sajit.

Lama Axel menjawab. Akhirnya dia berkata sambil terus menunduk, “Benar, Pak.”

Sejenak wajah Pak Sajit, guru-guru, Tony, dan Rommy berubah. Pak Sajit hanya bisa menggelengkan kepalanya dan sadar dia telah mengambil keputusan yang salah tiga bulan lalu.

“Anak-anak silakan kembali ke ruangan masing-masing,” kata Pak Sajit. “Saya akan rapat dengan para guru.”

Setelah anak-anak keluar, rapat dilanjutkan hanya oleh para guru.

“Itu sudah tindakan manipulatif, Pak,” ujar Pak Wito. “Dan Axel adalah trouble maker di SMA Tunas Bangsa.”

“Tidak setuju saya, Pak. Hukuman memang perlu, tapi harus hukuman yang mendidik,” ujar Bu Catarina. “Pemecatan adalah jalan terakhir.”

Pak Sajit mencatat semua pendapat itu di agendanya.

Bu Woro ikut menimpali, “Saya setuju pendapat Bu Catarina. Kita kasih kesempatan sekali lagi pada Axel. Pemecatan adalah jalan terakhir.”

Bu Ria ikut berpendapat, “Saya sependapat dengan Pak Wito. Memang pemecatan adalah jalan terakhir, tapi attitude Axel sudah sangat keterlaluan.”

“Masalah Axel sudah saya investigasi dan bahkan sudah pernah memanggil Axel secara pribadi,” Pak Jamal, guru BK, ikut berpendapat. “Axel menjadi begitu karena situasi tidak harmonis terjadi di keluarganya. Tiap hari orang tuanya cekcok terus. Kalau dikeluarkan dari sekolah ini, saya khawatir akan makin jelek ke depannya bagi Axel.”

“Baik, Bapak dan Ibu semua. Semua masukan sudah saya tampung dan catat. Beri waktu saya sampai Senin, saya akan ambil keputusan yang terbaik bagi Axel,” kata Pak Sajit menutup rapat siang itu. “Omong-omong, nanti Mauren mewakili sekolah ini akan bertanding karate di turnamen. Bagi yang tidak ada halangan, mari kita sama-sama ke tempat pertandingan untuk memberi semangat kepada Mauren.”

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!