Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kerja Bakti Dua Orang
Nayla tidak segera beranjak pergi setelah percakapan mereka mereda, ia justru mulai membantu Bayu menyisihkan barang-barang yang menghalangi akses ke rak perkakas. Langkah kakinya yang ringan bergerak di antara tumpukan barang lama, mencoba mencari ruang agar Bayu bisa bergerak lebih leluasa di dalam gudang yang sempit itu.
Mereka bekerja dalam keheningan yang panjang di dalam gudang yang hanya diterangi oleh lampu neon redup dan seberkas cahaya senter. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar, namun keheningan ini tidak terasa canggung melainkan penuh dengan sinkronisasi gerakan yang alami antara mereka berdua.
Bayu membungkuk untuk mengangkat sebuah peti kayu yang nampak sangat berat dan dipenuhi oleh tumpukan baut tua serta sisa potongan besi. Otot-otot lengannya menegang saat ia mencoba memindahkan peti tersebut ke sudut ruangan yang lebih lapang agar rak perkakas utama bisa dijangkau.
Nayla yang melihat Bayu sedikit kesulitan segera mendekat dan memegang sisi lain peti tersebut untuk membantu menyeimbangkannya agar tidak jatuh. Ia memberikan sedikit dorongan tambahan dengan tenaganya yang terbatas, memastikan beban itu terbagi sehingga Bayu tidak perlu bertumpu pada satu titik saja.
Napas mereka terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu, beradu dengan suara gesekan kayu peti yang bertemu dengan lantai semen kasar. Bayu bisa merasakan kehadiran Nayla begitu dekat, memberikan sebuah dukungan fisik yang sederhana namun sangat berarti bagi semangatnya yang sedang diuji.
Mereka meletakkan peti itu perlahan di sudut ruangan, menyisakan ruang yang cukup bagi Bayu untuk bisa berdiri tegak di depan rak kayu utama. Bayu menyeka peluh yang mulai membasahi dahinya, sesekali ia melirik ke arah Nayla yang juga nampak mulai kepanasan karena udara gudang yang statis.
Bayu memperhatikan helai jilbab Nayla yang kini nampak terkena debu tebal akibat gesekan dengan tumpukan kardus dan peti kayu tadi. Ada keinginan kuat di hatinya untuk membersihkan noda itu, namun ia tidak berani mengatakannya apalagi menyentuhnya karena rasa hormat yang mendalam.
Ia hanya bisa diam sembari menyimpan kekhawatiran itu di dalam pikirannya, lebih memilih untuk membiarkan momen kerja sama ini tetap berjalan apa adanya. Bayu menyadari bahwa debu yang menempel di jilbab Nayla adalah simbol bahwa wanita ini rela mengotori dirinya demi membantunya memperbaiki keadaan panti.
Mereka berdua kemudian berjongkok bersamaan untuk membersihkan lantai gudang dari sisa serutan kayu yang berserakan di sekitar meja kerja. Dengan menggunakan potongan triplek bekas sebagai sekop darurat, mereka mengumpulkan sampah-sampah kecil itu ke dalam satu tumpukan di sudut ruangan.
Gerakan mereka nampak sangat serasi, seolah-olah mereka sudah sering melakukan hal semacam ini bersama selama bertahun-tahun yang lalu. Bayu merasa nyaman dengan kehadiran Nayla di sisinya meskipun tidak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka selama hampir sepuluh menit terakhir.
"Debu ini kayaknya udah nempel sejak panti ini pertama kali dibangun," gumam Bayu pelan sembari mengumpulkan sisa serutan kayu yang sangat kering.
Nayla hanya menanggapi dengan senyum tipis. Ia terus bekerja dengan telaten tanpa mempedulikan tangannya yang kini sudah sepenuhnya menghitam karena debu.
Kehadiran Nayla di sisinya memberikan sebuah ketenangan batin yang belum pernah Bayu rasakan selama ia berkarier di tengah kebisingan kota Jakarta. Di sini, di dalam gudang tua yang pengap, ia justru merasa jauh lebih utuh dan memiliki arti bagi seseorang yang sangat ia hargai keberadaannya.
Bayu mengambil sebilah papan tua yang menghalangi jalan, lalu ia meletakkannya di tumpukan kayu bekas agar lantai nampak lebih bersih dan rapi. Ia ingin memastikan bahwa besok pagi, saat ia mulai bekerja dengan palu dan gergaji, ia tidak akan tersandung oleh kekacauan yang ada di ruangan ini.
Nayla bergerak menuju sudut lain, memindahkan beberapa kaleng cat kosong yang sudah mengering dan nampak sudah sangat berkarat permukaannya. Ia menyusun kaleng-kaleng itu secara vertikal di pojok ruangan, mencoba memaksimalkan setiap inci ruang yang tersedia di dalam gudang yang sempit tersebut.
Bayu kembali memperhatikan gerakan Nayla yang sangat cekatan, menyadari bahwa panti ini tetap tegak berdiri selama ini karena ketelatenan wanita di depannya. Ia merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk berdiri di sisi Nayla malam ini, membagi beban yang selama ini mungkin Nayla tanggung sendirian.
"Nay, sudah dulu. Biar sisanya aku yang beresin besok pagi pas matahari sudah naik," pinta Bayu sembari menepuk-nepuk debu di celana jinnya yang sudah kotor. Ia tidak tega melihat Nayla terus bekerja di dalam ruangan yang sirkulasi udaranya sangat buruk dan dipenuhi oleh partikel debu yang membahayakan.
Nayla berhenti sejenak, ia berdiri dan merapikan pakaiannya yang nampak sudah sangat berantakan akibat aktivitas kerja bakti dadakan mereka berdua. "Cuma tinggal sedikit lagi, Bay. Tanggung kalau nggak diselesaikan sekarang, biar besok kamu tinggal fokus sama struktur bangunan panti."
Bayu akhirnya menyerah dan kembali membantu Nayla menyelesaikan pembersihan lantai hingga area di bawah rak perkakas nampak jauh lebih layak dari sebelumnya. Kerja sama tanpa suara ini seolah mengikis setiap jarak yang selama sepuluh tahun ini sempat membentang lebar di antara kehidupan mereka berdua yang sangat berbeda.
Setelah area itu bersih, Bayu berdiri dan menatap rak perkakas yang kini sudah terlihat jelas semua isinya berkat bantuan pencahayaan dari senter Nayla. Ia melihat martil, gergaji, dan kunci Inggris yang tersusun rapi, menanti untuk digunakan kembali demi menyelamatkan atap tempat sembilan belas anak bernaung.
"Makasih udah ditemenin malam ini, Nay," ucap Bayu tulus.
Nayla hanya mengangguk sembari mengatur napasnya yang sedikit terengah. Ia nampak lelah namun sorot matanya menunjukkan sebuah kepuasan yang sangat mendalam.
Mereka berdua berjalan keluar dari gudang secara perlahan, meninggalkan ruangan yang kini nampak jauh lebih teratur dibandingkan dengan saat Bayu pertama kali membukanya. Bayu menarik pintu jati itu dan menutupnya tanpa mengunci, ia hanya menempelkan daun pintu ke bingkainya agar udara bisa sedikit bersirkulasi di dalam.
Sesampainya di teras utama, udara malam yang segar langsung menerpa wajah mereka, memberikan kesegaran yang sangat kontras dengan udara pengap yang baru saja mereka hirup. Bayu menatap Nayla sejenak, menyadari betapa kuatnya wanita ini dalam menghadapi segala keterbatasan yang ada di panti asuhan tempat mereka dibesarkan.
"Kamu istirahat ya, Nay. Besok pagi aku akan datang lebih awal buat mulai benerin genteng yang geser tadi," janji Bayu sembari mulai melangkah menuju gerbang.
Nayla mengangguk kecil dan hendak berbalik untuk masuk ke dalam panti melalui jalan samping teras yang sedikit gelap. Namun, ia tidak menyadari bahwa ia menginjak bagian tanah yang becek karena terkena air hujan yang jatuh dari talang yang bocor tempo hari.
Tubuh Nayla limbung seketika saat kakinya kehilangan tumpuan di atas permukaan tanah yang sangat licin tersebut. Ia tidak sempat mengeluarkan suara teriakan, hanya napas pendek yang tertahan karena rasa terkejut yang datang dengan begitu mendadak.
Bayu yang masih berada di dekatnya merespons dengan gerakan refleks yang sangat sigap untuk mencegah Nayla jatuh ke tanah. Tangannya terjulur cepat menangkap pinggang Nayla, sementara tangan lainnya menahan punggung wanita itu agar tidak terhempas ke lantai semen yang keras.
Akibat dorongan gravitasi dan posisi yang tidak seimbang, tubuh mereka berdua akhirnya bersentuhan sangat dekat hingga tanpa sengaja mereka saling berpelukan. Bayu mendekap Nayla cukup erat untuk memastikan wanita itu benar-benar stabil, sementara tangan Nayla secara refleks memegang pundak Bayu dengan sangat kencang.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰