Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu selingkuh???
Lampu ruang tamu menyala benderang seketika, memecah kegelapan dan mengejutkan Arga yang baru saja melangkah masuk.
"Dari mana, Mas? Jam begini baru pulang?" Suara Laras terdengar dingin, membuat jantung Arga nyaris melompat. Ia tidak menyangka Laras ada di sana.
Padahal, Arga sudah sangat berhati-hati saat membuka pintu dan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara. Ternyata, istrinya belum tidur. Laras duduk tegak di sofa ruang tamu, menunggunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Eh, Laras... Aku kira siapa. Kok belum tidur? Bukannya besok harus ke kantor?" Arga mencoba bersikap santai, berusaha mengalihkan pembicaraan sambil merapikan jaketnya.
"Kamu juga besok kerja, tapi jam segini baru pulang. Ke mana saja kamu, Mas? Main sampai tidak ingat waktu. Lihat, sudah jam dua belas malam." cecar Laras tegas.
Arga terdiam. Ia tidak menyangka akan dikonfrontasi seperti ini. Saat Laras bangkit dan berjalan mendekatinya, hidung Laras menangkap sesuatu. Aroma parfum yang sangat familiar, aroma yang sama dengan yang ia temukan di kemeja Arga tempo hari.
"Mas, kamu bau parfum wanita? Kamu habis ngapain? Kamu selingkuh, ya?" tuduh Laras tanpa basa-basi.
"Selingkuh? Siapa yang selingkuh? Ini bau parfumku sendiri, Ras. Jangan mengada-ada." Arga menjawab gugup, lalu bergegas melangkah menuju kamar, berusaha melarikan diri dari interogasi.
"Tunggu, Mas!!!" Laras menyambar lengan Arga, mencengkeramnya kuat.
Ia mengendus lagi. Bau itu sangat tajam. Laras tidak sebodoh itu untuk percaya bahwa itu adalah parfum suaminya. Sejak kapan Arga memakai parfum dengan wangi floral yang sangat feminin?
"Wangi ini persis dengan yang ada di kemejamu kemarin. Siapa wanita itu, Mas?"
"Wanita siapa sih, Ras? Ini parfumku. Kamu ini kenapa jadi orang tidak percayaan sekali? Aku capek baru pulang kerja, jangan ajak ribut." bentak Arga, mencoba menyerang balik dengan kemarahan.
"Kenapa malah marah? Aku tanya baik-baik. Kalau memang ini parfummu, mana botolnya? Aku mau lihat sekarang juga." tantang Laras semakin tegas.
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terjepit. Mana mungkin ia punya botolnya? Bau itu menempel karena Angel memeluknya erat hampir sepanjang hari.
"Sudah habis, jadi aku buang." kilahnya asal.
"Alasan!!! Kamu pasti jalan dengan perempuan lain, kan? Mengaku saja, Mas. Aku tahu kamu tidak pernah punya parfum seperti ini. Kamu benar-benar berkhianat?"
Ppllaakk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Laras. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Arga main tangan. Laras terpaku, rasa panas di pipinya tak sebanding dengan rasa hancur di hatinya.
"Mas... kamu menamparku?" bisik Laras sambil memegangi wajahnya.
"Iya! Kenapa? Kurang? Mau lagi?" Arga melotot tanpa rasa sesal sedikit pun. "Kamu itu semakin kurang ajar. Jangan mentang-mentang penghasilanmu lebih besar, kamu jadi merasa bisa seenaknya mengaturku. Berani-beraninya menuduhku selingkuh."
Laras tak habis pikir. Mereka sedang bicara soal parfum dan keterlambatan pulang, tapi Arga malah memutarbalikkan fakta dan menyerang harga dirinya terkait pekerjaan dan penghasilannya.
"Siapa yang tidak menghargaimu, Mas? Masalah malam ini tidak ada hubungannya dengan gaji atau kerjaan. Kenapa bicaramu melantur ke mana-mana? Dan aku tidak menyangka... kamu tega memukulku." suara Laras bergetar, air mata mulai menggenang.
"Untuk apa aku menyesal? Itu pantas kamu dapatkan karena sudah tidak sopan pada suami." ketus Arga.
Laras terdiam, mencoba menelan pahitnya kenyataan. " Ada yang dia sembunyikan. Dia sedang menutupi pengkhianatannya dengan kemarahan." batin Laras. Ia sadar, menuduh tanpa bukti hanya akan membuat Arga semakin beringas. Ia harus mengubah strategi. Ia harus mencari bukti yang tak bisa dibantah.
Ceklek.
Pintu kamar Bu Ajeng terbuka kasar. Wanita tua itu keluar dengan wajah garang.
"Ada apa sih ribut-ribut? Ini tengah malam, orang mau istirahat. Pasti kamu kan, Laras, yang bikin Arga marah? Dasar istri tidak tahu aturan, malam-malam bukannya melayani suami malah cari ribut." semprot Bu Ajeng.
Laras hanya bisa menghela napas. Sudah biasa. Di rumah ini, Laras selalu menjadi pihak yang salah. Bu Ajeng akan selalu membela Arga, anak lelakinya, meski Arga sedang melakukan kesalahan fatal sekalipun.
"Ini loh, Bu... Laras menuduh Arga selingkuh. Capek-capek pulang kerja malah disambut tuduhan." adu Arga sambil mengedipkan mata pada ibunya.
"Apa? Berani kamu menuduh anakku? Mana buktinya? Jangan asal fitnah ya, Laras. Aku bisa saja menghajarmu kalau kamu sembarangan bicara." Bu Ajeng mulai memainkan perannya, membela anaknya habis-habisan.
Laras menarik napas panjang. Ia memang belum punya bukti fisik. Aroma parfum tidak cukup kuat untuk menjatuhkan Arga di depan ibu mertuanya.
"Maaf kalau aku salah menuduh, Mas." ucap Laras pelan, menurunkan egonya demi menyusun rencana yang lebih matang. "Aku hanya heran kenapa bajumu wangi parfum wanita dan kamu pulang jam dua belas malam tanpa kabar."
"Apa salah kalau aku kumpul sama teman-teman? Aku ini laki-laki, mau pulang jam berapa pun itu hakku. Aku tidak suka dituduh begitu lagi." Arga merasa di atas angin.
"Tapi kamu punya istri, Mas. Seharusnya kamu luangkan waktu untukku juga. Aku ini punya suami, tapi rasanya seperti janda." balas Laras getir.
"Kamu ini kenapa sih? Mau bikin aku emosi lagi?!"
**
Pukul lima pagi, Laras keluar kamar dengan mata sembab. Saat melewati ruang TV, ia melihat Arga tertidur di sofa tanpa mengenakan baju karena kegerahan.
Laras berdiri sejenak, menatap suaminya. Ada rasa kasihan, namun rasa sakit hati lebih mendominasi. Saat ia memperhatikan dada Arga yang terbuka, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ada tanda merah di sana. Jelas sekali. Bukan hanya itu, di bahu Arga juga terdapat bekas cakaran halus.
Tanda merah itu...Laras membekap mulutnya sendiri. Sebagai wanita dewasa, ia tahu persis itu bekas apa. Hatinya hancur berkeping-keping.
Air matanya luruh. Ternyata benar. Arga telah jauh mengkhianatinya. Selama empat tahun ini, Laras banting tulang di kantor, membiayai hidup Arga, bahkan menanggung kebutuhan Bu Ajeng dan Tiara dari hasil keringatnya sendiri. Orang tuanya di kampung yang kaya raya dengan perkebunan cengkeh dan kakao selalu berpesan agar Laras menjadi istri yang berbakti, namun inikah balasannya?
Laras menghapus air matanya dengan kasar. Cukup. Ia tidak akan menangis lagi.
"Sampai semua terbukti, kamu akan tahu akibatnya, Mas. Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu lawan." gumam Laras dengan tatapan dingin.
Ia memilih tetap memasak sarapan sesederhana mungkin, nasi goreng dan telur dadar. Ia tidak membangunkan Arga. Saat ia berangkat ke kantor dengan pakaian rapinya, ia sengaja menutup pintu depan dengan keras.
Bbrraakkk!
"Kenapa tidak kamu tampar lagi semalam? Padahal Ibu ingin melihatnya." suara Bu Ajeng terdengar dari dalam, berbicara pada Arga yang baru terbangun.
"Cukup sekali dulu, Bu. Kita masih butuh dia. Ibu tahu sendiri gaji Laras itu puluhan juta. Kalau dia pergi, siapa yang mau membiayai Ibu dan Tiara? Tunggu saja, kalau urusanku dengan Angel sudah beres, Laras akan aku buang." sahut Arga santai sambil tersenyum membayangkan selingkuhannya.
Di sudut lain, Tiara, adik bungsu Arga, keluar kamar sambil mengomel. "Ibu.....Mana kemeja toska-u? Kok tidak ada di lemari? Mbak Laras kebiasaan deh belum menyetrika baju-bajuku."
Tiara dan Bu Ajeng memeriksa ruang cuci. Benar saja, tumpukan baju kotor masih menggunung di keranjang. Laras sengaja tidak menyentuhnya.
"Mbak Laras benar-benar keterlaluan." teriak Tiara manja.
Namun mereka tidak sadar, singa yang sedang diam itu kini tengah bersiap untuk menerkam balik.