NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PREDIKSI YANG TERABAIKAN

Setelah drama di kantor Kepala Sekolah mereda, Arini melangkah keluar dengan perasaan yang bener-bener mixed feelings.

Begitu mereka menjauh dari pintu kayu jati yang kokoh itu, Arini langsung ngelepasin tangan Rian dengan paksa.

Matanya berkaca-kaca,

"Rian! Kamu nggak seharusnya bela aku sampai mukulin adik kelas kayak gitu!" Arini setengah berteriak, suaranya gemetar nahan tangis. "Lihat kan jadinya? Kamu malah dihukum! Kenapa sih kamu harus se-barbar itu?"

Rian berhenti melangkah. Dia muter badan, natap Arini dengan tatapan yang bener-bener tulus—jenis tatapan pure yang bikin Arini mendadak bungkam. Belum pernah ada cowok yang natap dia se-intens dan se-protektif itu sebelumnya.

"Arini, dengarkan aku," ucap Rian dengan suara rendah yang vibrasi-nya kerasa sampai ke hati. "Aku akan terus menjagamu. Itu janji aku. Dan aku tidak pernah ingkar janji, apalagi kalau itu menyangkut keselamatan kamu."

"Tapi kalau kayak gini kan kamu jadi diskors, Rian! Satu minggu itu lama banget! Aku merasa bersalah tahu..." keluh Arini, setetes air mata akhirnya lolos jatuh ke pipinya.

Rian senyum tipis, tipis banget. Dia ngulurin jempolnya buat ngapus air mata itu dengan gerakan super lembut. "Kenapa? Kalau aku diskors, kamu akan kangen ya sama aku?"

"Ih, Rian! Kamu ini keterlaluan deh! Bisa-bisanya masih bercanda di saat seperti ini!" Arini mukul lengan Rian dengan kesal, meskipun pertahanannya mulai runtuh gara-gara gombalan maut cowok itu.

Rian terkekeh pelan, rasa nyesek di hatinya liat Arini nangis sedikit berkurang. "Sudah, jangan menangis lagi. Cantiknya hilang nanti. Sekarang, kamu masuk saja ke kelas ya. Aku harus pergi dulu untuk mengurus administrasi hukuman ini."

Tanpa nunggu balasan, Rian berbalik dan lari kecil nuju arah gerbang parkiran. Arini cuma bisa berdiri matung di koridor yang mendadak kerasa sepi banget, natap punggung "pelindungnya" yang perlahan ilang di belokan lorong.

Siang itu suasananya bener-bener gerah, polusi dan debu di depan SMA Tunas Bangsa kerasa makin parah.

Arini melangkah keluar gerbang dengan pikiran yang masih stuck di kejadian ruang Kepsek tadi.

Tapi, langkahnya auto berhenti pas liat sesosok cowok yang visual-nya udah dia hafal luar kepala lagi nyender di motor sport hitam legam di pinggir jalan.

Rian. Meskipun statusnya udah resmi diskors, mukanya nggak ada vibe penyesalan sama sekali. Malah kelihatan kayak lagi nungguin jemputan pacar.

"Pulang sama aku ya, Rin," ajak Rian sambil nyodorin helm ke arah Arini.

Arini menghela napas, nyoba tetep set boundary. "Rian... nggak. Aku mau naik angkot saja seperti biasa. Kamu kan harusnya sudah pulang dari tadi."

Rian negakin tubuhnya. Tatapannya mendadak berubah tajam dan serius—ciri khas kalau dia lagi dapet "penglihatan" atau firasat batin. "Pulang bareng aku saja ya, Rin. Ramalanku mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk padamu kalau kamu nekat naik angkot hari ini."

"Sesuatu apa lagi sih, Yan? Jangan mulai deh nakut-nakutin aku cuma biar bisa antar pulang," sahut Arini sambil ngelirik jam tangannya. Dia mikir ini cuma taktik modus terbaru Rian.

"Sudah, pokoknya pulang bareng aku saja. Aku punya firasat yang sangat tidak enak, Rin. Tolong kali ini saja," paksa Rian, suaranya makin berat.

"Nggak, aku nggak mau! Oh ya, gimana tadi urusanmu di ruang Kepala Sekolah? Jadi diskors satu minggu kan?" Arini nyoba shifting topik.

Rian ngangguk santai. "Iya, tapi nggak usah urusin itu ya. Walaupun aku diskors dan tidak di sekolah, aku tetap punya cara untuk menjagamu."

Arini ngerasa geli sekaligus kesel. "Aku nggak perlu dijagain setiap detik, Rian. Aku ini bukan anak kecil! Lagian, coba saja tadi kamu tidak emosional sampai memukuli orang, pasti kamu tidak akan diskors begini."

"Sudah, Arini... ayo naik," Rian masih berusaha bujuk, suaranya kedengeran tulus banget.

"Nggak mau! Aku mau naik angkot!" tegas Arini sambil jalan ngejauh, ninggalin Rian yang masih matung di samping motornya dengan muka penuh kekhawatiran.

Arini berhasil dapet angkot jurusan rumahnya. Dia duduk di pojok, nyoba buat healing pikirannya dari drama hari ini. Tapi, baru aja angkot itu jalan sekitar satu kilometer dan ngelewatin jalanan turunan yang lumayan curam, suasana mendadak berubah jadi horor.

Sopir angkot mulai injek rem berkali-kali dengan gerakan panik. Mukanya pucet pasi, keringet segede jagung muncul di dahinya. "Aduh, remnya! Remnya blong!" teriak pak sopir histeris.

Angkot itu melaju makin kenceng, uncontrollable di tengah kepadatan lalu lintas sore. Arini panik luar biasa. Badannya gemeteran parah, dia pegangan erat ke besi samping, jantungnya berasa mau copot. Di tengah ketakutannya, dia nengok ke jendela belakang.

Vrooommm! Meraung-raung!

Motor hitam Rian muncul tepat di belakang angkot kayak scene film aksi. Rian berteriak kenceng, suaranya nembus deru angin. "Arini! Pegangan yang erat! Menjauh dari kaca depan, cepat!"

Arini langsung geser ke bagian paling belakang angkot, ngeringkuk ketakutan sambil merem. Pak sopir yang udah loss kontrol akhirnya banting setir nuju trotoar kosong buat ngehindarin tabrakan beruntun yang lebih parah.

BRAKKK!

Angkot itu ngehantam pembatas jalan dan berhenti seketika. Asap mulai ngepul dari kap mesin depan. Rian langsung loncat dari motornya bahkan sebelum mesinnya bener-bener mati. Dia lari dan buka pintu belakang angkot dengan kasar.

"Arini! Keluar, cepat!" Rian narik tangan Arini dengan sigap.

Arini keluar dengan kondisi shock berat, pusing, dan badannya gemeteran hebat. Napasnya tersengal-sengal. "Hah... hah... Yan... aku takut banget. Aku takut..." ucap Arini sambil tumpahin air matanya di dada Rian.

Rian langsung ngerangkul bahu Arini, nyoba kasih safety feeling. "Tenang, Rin. Sekarang kamu sudah aman. Ikut aku ya, kita tenangkan diri kamu dulu."

Arini cuma bisa ngangguk lemes. Dia naik ke atas motor Rian, dan tanpa sadar, tangannya melingkar erat meluk pinggang Rian. Trauma kejadian tadi bikin dia insting pengen pegangan ke sesuatu yang nyata, dan saat ini, cuma Rian yang dia punya.

Rian bawa Arini ke sebuah taman kota yang estetik dan tenang, jauh dari kebisingan jalanan. Dia markirin motornya di bawah pohon rindang yang adem.

"Ayo turun. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku belikan minum dulu," ucap Rian lembut, matanya natap Arini buat pastiin cewek itu udah mulai tenang.

Arini duduk di bangku taman dengan wajah yang masih pucet. Nggak lama, Rian dateng lagi. Tapi bukannya bawa botol air mineral, dia malah bawa dua buah es krim cone.

"Nih, buat kamu. Biar tenang dan bisa senyum lagi," ucap Rian sambil nyodorin es krim rasa vanila cokelat.

Arini natap es krim itu dengan muka bingung. "Kok malah beli es krim, Rian? Katanya tadi mau beli minum?"

Rian senyum manis, terus duduk di samping Arini. "Minum air putih itu cuma bisa menghilangkan haus, tapi tidak bisa menenangkan rasa takut kamu. Kalau es krim? Sudah pasti bakal bikin kamu happy lagi."

Liat tingkah konyol tapi sweet dari Rian, Arini akhirnya senyum tipis. Wajahnya yang tadinya lemes mendadak dapet energy boost. Dia mulai jilat es krimnya, sementara Rian terus merhatiin dia dengan tatapan yang dalem banget.

"Coba tadi kamu dengarkan omonganku dan percaya sama ramalanku, pasti kejadian tadi tidak perlu terjadi," ucap Rian pelan, nggak ada nada nyalahin, cuma ngingetin.

Arini menghela napas, kali ini udah nggak ada nada marah. "Ih, nggak ya! Aku tetap nggak percaya ramal-ramalan begitu!" Tapi di dalem hatinya, Arini mulai ragu. Kenapa semua yang dibilang Rian selalu kejadian? Apa ini beneran gift atau cuma pure kebetulan?

Rian ketawa tipis. "Suatu saat kamu pasti akan percaya sama semua ramalanku, Rin."

Dia terus ngambil sapu tangan di kantongnya dan deketin wajah Arini. "Kamu kalau makan es krim sampai ke muka-muka begini sih, Rin?"

"Ah, mana?" Arini meraba-raba wajahnya dengan panik.

Bukannya bantu lap, Rian malah dengan iseng nyolekin sedikit es krim ke ujung hidung Arini. "Tuh, pas di hidung!"

"Ih, Rian! Iseng deh kamu tuh!" Arini nyoba bales nyolek pipi Rian, tapi Rian dengan gesit ngehindar sambil ketawa kenceng.

Di tengah tawa mereka, Arini terdiam sejenak liat wajah Rian yang kelihatan bahagia banget. Kenapa Rian selalu ada ya pas aku kena masalah? Dia bener-bener kayak superhero buat aku, batin Arini.

"Rin, yuk aku antar pulang. Hari sudah mulai sore," ajak Rian.

"Iya," jawab Arini singkat, tapi kali ini dengan senyum yang tulus.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!