NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18 Bukan Manusia Sempurna

Happy reading

Mulai detik ini, Hawa memantapkan hati untuk menutup auratnya. Bukan semata karena Rama, melainkan bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. Ia ingin melangkah dengan identitas baru, sebagai wanita yang patuh pada perintah Tuhan-nya.

Setelah meninggalkan Toko Annisa, Rama membawanya menyusuri Malioboro. Mereka duduk di salah satu bangku kayu dengan jarak yang sopan. Tidak terlalu rapat, pun tak terlalu jauh; ada batas tak kasatmata yang mereka kukuhkan demi menjaga Marwah dan adab.

Siang itu, matahari tak begitu terik. Sinarnya tertahan gumpalan awan abu-abu yang menggantung rendah, memberi keteduhan bagi dua insan yang masih ingin menghabiskan waktu dengan berbincang.

Suara denting bel delman dan riuh rendah wisatawan menjadi latar belakang yang samar di telinga mereka.

"Ram, kalau boleh tahu, kenapa kamu memilihku?" Hawa membuka obrolan, memecah hening yang sempat turun sejenak. "Bukan memilih Ning Syifa, seorang gadis yang jelas-jelas terhormat dan salehah. Aku nggak sempurna, Ram. Aku punya banyak kekurangan."

Rama mengulas senyum tipis. Tatapannya lurus ke arah halte bus yang dipenuhi pelajar berseragam SMA, seolah ia sedang memutar kembali memori lama.

"Aku nggak mencari kesempurnaan, Hawa. Karena aku pun bukan manusia tanpa cela. Kita hanyalah dua orang yang sama-sama ingin berproses menjadi lebih baik," jawabnya tenang, suaranya terdengar begitu tulus.

Hawa mengernyit, menoleh sekilas pada lelaki di sampingnya. Ada tanya yang tak terucap, namun seolah terbaca oleh Rama.

"Dulu, saat masih mengenakan seragam putih abu-abu, aku dikenal sebagai siswa badung," Rama menjeda kalimatnya, tersenyum getir mengenang masa lalu. "Aku akrab dengan tawuran, rokok, bahkan pernah menyentuh alkohol. Sampai akhirnya... kecelakaan hebat membuatku koma beberapa hari. Di titik itulah aku tersadar, bahwa hidup ini singkat dan kematian bisa datang tanpa permisi."

Rama menatap Hawa dengan binar yang sulit diartikan, namun hanya sekian detik. "Sejak itu, aku bertekad pulang ke jalan Tuhan. Dan tekad itu semakin menguat setelah kita bertemu lagi, Hawa. Aku ingin memantaskan diri, bukan hanya untuk menjadi laki-laki yang baik, tapi menjadi imam yang mampu membimbingmu menuju cahaya-Nya."

Hawa bergeming. Ia tak menyangka, Rama--sosok yang dikenalnya religius, memiliki masa lalu sekelam itu. Namun, fokusnya justru terkunci pada satu kalimat 'setelah kita bertemu lagi'.

"Apa kita... pernah bertemu sebelum menjadi bagian dari Lentera Bangsa?" tanya Hawa pelan, nyaris berbisik namun menuntut jawaban pasti.

Rama menoleh sekilas, senyumnya semakin lebar saat melihat ekspresi Hawa. "Pernah," jawabnya singkat, sengaja membuat Hawa kian terlilit rasa penasaran.

"Kapan?" kejar Hawa cepat.

"Coba ingat-ingat lagi, Wa. Masa kamu lupa?"

Hawa mendengus pelan, refleks memalingkan wajah untuk menyembunyikan kekesalan bercampur dengan rasa malu. Rama benar-benar tahu cara membuat pikirannya gaduh.

"Ram, jangan main teka-teki, deh. Aku serius," gerutunya.

Rama tertawa kecil. Suaranya terdengar renyah, beradu dengan semilir angin Malioboro. Ia sengaja membiarkan Hawa terjebak dalam labirin ingatannya sendiri, memaksanya menggali kembali kepingan masa lalu yang mungkin tertimbun jauh di sana.

"Ram, please... kasih tahu aku! Kapan kita pernah bertemu dan di mana?" pinta Hawa, suaranya naik satu nada karena rasa penasaran yang memuncak.

"Di suatu tempat. Dua belas tahun yang lalu," jawab Rama. Ia memberikan petunjuk itu dengan tenang, tetap pada pendiriannya untuk tidak mengungkap jawaban utuh.

Hawa terdiam seketika. Ia mencoba menarik paksa memorinya kembali ke masa dua belas tahun silam. Sesekali ia mencuri pandang ke arah wajah Rama, mencoba mencocokkan setiap gurat di sana dengan wajah teman-teman masa kecilnya. Namun, pahatan wajah itu terasa asing, sangat berbeda dengan bayangan masa lalu yang ia punya.

Hawa mengembuskan napas panjang. Untuk saat ini, ia menyerah. "Ram, jangan membuatku nggak bisa tidur seminggu karena memikirkan ini."

Rama terkekeh geli. Andai sudah halal, ingin sekali ia mencubit pipi Hawa yang nampak menggemaskan saat sedang merajuk begitu.

"Aku sengaja nggak memberitahumu sekarang, Wa. Aku ingin kamu semakin mengerti bahwa semua ini adalah kuasa Ilahi. Dia yang memisahkan kita untuk sementara, lalu memulangkan kita pada satu titik pertemuan di saat yang paling tepat."

"Dasar pelit!" gumam Hawa sambil memanyunkan bibir. Tingkahnya itu justru membuat Rama semakin gemas dan serasa ingin segera menghalalkannya. Menghujani dengan cinta dan berusaha membuat Hawa bahagia, hingga gadis yang dicintainya itu lupa pernah terluka.

Angin berembus pelan, memainkan ujung pasmina yang kini membungkus rikma Hawa dengan anggun. Ada rasa damai yang perlahan menyelinap masuk ke rongga hati. Menenangkan, meneduhkan. Seolah alam pun merestui langkah barunya hari ini.

"Sebentar lagi Ashar. Yuk, aku antar pulang?" ajak Rama sambil melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan.

Hawa mengangguk, mengindahkan ajakan itu. Keduanya bangkit, lalu berjalan beriringan menuju area parkir untuk menjemput kendaraan masing-masing.

Hawa mengendarai Scoopy miliknya, sementara Rama menunggangi Vespa Classic kesayangannya.

Di sepanjang jalan, Rama tetap setia mengiringi dari belakang dalam jarak yang sopan. Menjaga dan melindungi tanpa harus menyentuh, namun cukup untuk memberi rasa aman yang nyata bagi Hawa.

Saat berhenti di lampu merah, tiba-tiba Hawa teringat kembali petuah sang bunda mengenai kriteria memilih pasangan: bibit, bebet, dan bobot. Tiga kata sederhana yang memiliki tuntutan berat di baliknya.

Ia ragu untuk menyampaikannya pada Rama. Ada ketakutan jika kejujurannya justru akan mematahkan keyakinan lelaki bermata teduh itu. Hawa tidak ingin menjadi penyebab redupnya binar semangat di mata Rama, namun di sisi lain... restu orang tua adalah gerbang yang harus mereka lalui.

Dalam diamnya di atas motor, benaknya melangitkan pinta pada Sang Maha Cinta. Ia memohon agar Tuhan berkenan memudahkan langkah mereka, melunakkan hati yang keras, dan menyingkirkan segala aral yang melintang jika memang mereka ditakdirkan bersama dalam rida-Nya.

Lampu berganti hijau, Hawa kembali melajukan motornya--masih diiringi Rama.

Tak sampai lima belas menit, mereka tiba di depan gerbang sebuah hunian mewah yang selama ini menjadi tempat Hawa bertumbuh. Kemegahan bangunan itu seolah menjadi tembok pemisah yang nyata antara dunianya dan dunia Rama.

Ada keinginan kuat dalam hati Hawa untuk mengajak Rama mampir, sekadar menjamu sebagai bentuk terima kasih. Namun, akal sehatnya segera menepis niat itu. Ia tahu pasti, kedatangannya bersama Rama, akan memicu murka Ayah dan Bundanya.

"Ram, makasih ya buat hari ini," ucap Hawa tulus, matanya menatap Rama dengan binar yang sulit diartikan.

"Kembali kasih, Hawa," balas Rama. Sebuah lengkungan bibir yang menenangkan terukir di wajahnya, seolah ia mengerti pergolakan batin yang sedang Hawa alami.

Seusai mengucap salam, Rama menarik tuas gas Vespa-nya, perlahan menjauh dan meninggalkan Hawa yang masih mematung di depan gerbang.

Dalam hati, Rama memahat satu janji yang kokoh. Kelak, ia akan kembali ke rumah megah itu bukan sebagai tamu biasa, melainkan laki-laki yang datang untuk menghadap orang tua Hawa--menjemput restu dan meminang belahan jiwanya di bawah rida Sang Pencipta.

🍁🍁🍁

Bersambung

Terima kasih banyak untuk readers yang masih setia mengawal kisah 'Ramadan'S Promise', terlebih untuk Kakak-Kakak yang selalu meninggalkan jejak like, memberi gift atau vote, dan mengklik 'Ingatkan update'. Hal sederhana, tapi membuat authornya serasa dinantikan up-nya dan bersemangat melanjutkan kisah ini.

Kawal Ramadan dan Hawa sampai end ya. Love sekebon ❤️

1
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
Nofi Kahza
beeeugh! badas si Rama. sukakkk
Nofi Kahza
ini baru jantan..👍
Nofi Kahza
Rama, aku padamu🥰
Ayuwidia: Aku bilangin Bang Jae
total 1 replies
Nofi Kahza
pengorbanan apa sih??
Nofi Kahza
keren nih🥰
Nofi Kahza
nggak ada tawar menawar katanya, tapi situ sendiri baru aja nawar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!