NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Saat Brian mulai berani

Tiba-tiba, ia melihat ponsel Bara yang tertinggal di atas kasur. Ada sebuah draft pesan yang belum sempat terkirim untuk Aluna, Bara menulis pesan, itu tadi malam saat hujan deras, sebelum Bara jatuh pingsan:

"Aluna, cokelatnya dimakan ya? Maaf kalau semalam aku ganggu kamu. Aku cuma mau bilang... jaga diri baik-baik kalau nanti aku nggak ada di sekolah. Aku sayang kamu,".

Aluna jatuh terduduk di lantai kamar Bara. Ia memeluk lututnya, menangis sejadi-jadinya di tengah kamar yang penuh dengan bukti cinta Bara, yang kini sedang bertaruh nyawa di rumah sakit.

*******

Di sebuah kamar rumah sakit yang beraroma antiseptik, perlahan-lahan Bara membuka matanya. Pandangannya masih agak kabur, namun hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit putih, melainkan sosok Brian yang duduk setia di samping ranjangnya.

"Brian..." ucap Bara lirih, suaranya masih serak.

"Eh, Bro! Udah sadar?" Brian langsung menegakkan duduknya, wajahnya tampak lega sekaligus penuh semangat.

Bara mengangguk pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan.

"Bara, lho kenapa sih sakit tapi gak bilang ke gue? Gue kan jadi khawatir banget sama Lo!" seru Brian dengan nada sedikit mengomel, namun terselip rasa sayang seorang sahabat di sana.

"Iya, maaf ya..." Bara memaksakan senyum tipis. Hatinya terasa berat, ia merasa bersalah karena telah menyembunyikan banyak hal dari orang sebaik Brian.

"Oke, oke. Gue maafin. Yaudah, sekarang Lo harus makan ya. Gue nggak mau Lo sakit-sakitan lagi kayak gini," ucap Brian tegas sambil meraih mangkuk bubur di atas meja.

Bara menggeleng lemah. "Nanti aja lah... biar mama aja, yang suapin gue nanti, Brian."

Mendengar itu, Brian justru mengerutkan dahi. "Yaelah, Bar! Lo tuh nganggep gue sahabat bukan sih? Lo dengerin gue ya, sahabat itu harus saling bantu. Jadi Lo nggak usah sungkan atau merasa nggak enak sama gue. Paham?"

Bara terdiam. Kata-kata "sahabat" itu terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. Semakin baik Brian padanya, semakin besar rasa sakit yang Bara rasakan karena mencintai Aluna.

"Tapi gue beneran nggak lapar, Brian,".

"Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya Lo harus makan!" Brian tidak menerima penolakan. Dengan telaten, ia mulai menyuapi Bara sesendok demi sesendok. Bara hanya bisa pasrah, menerima perhatian tulus dari sahabatnya itu dengan perasaan yang campur aduk.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk untuk melakukan pemeriksaan terakhir.

"Permisi ya, saya periksa dulu kondisinya," ucap Dokter ramah. Setelah memeriksa detak jantung dan suhu tubuh Bara, sang Dokter tersenyum. "Oke, baik. Kondisinya sudah stabil. Hari ini Bara sudah boleh pulang ke rumah. Jangan lupa istirahat yang cukup ya. Kalau begitu, saya permisi."

"Silakan, Dok. Terima kasih banyak ya," sahut Mama Bara yang baru saja masuk ke ruangan.

Begitu Dokter keluar, Brian langsung bersorak senang. "Hore! Sahabat gue udah sembuh! Jadi besok bisa sekolah lagi dan duduk bareng lagi deh!"

Mama Bara tersenyum melihat keakraban mereka. "Iya, dong. Brian, makasih banyak ya kamu sudah jenguk dan jagain Bara dari tadi."

"Iya, Tante, sama-sama. Bara kan udah kayak saudara saya sendiri," jawab Brian mantap.

Bara hanya tertegun di atas ranjangnya. Ia senang bisa pulang, namun ia tahu, besok di sekolah, ia harus kembali menghadapi kenyataan pahit, melihat Brian dan Aluna bersama. sementara ia harus berpura pura tidak peduli.

Sesampainya di rumah, Brian dengan sigap menuntun Bara masuk ke ruang tamu. Namun, saat Brian hendak memapahnya menuju kamar, Bara mendadak dilanda kepanikan yang luar biasa. Ia teringat akan isi kamarnya , foto-foto Aluna dan buku catatan rahasianya.

"Bar, gue anterin Lo ke kamar ya," tawar Brian tulus.

"Eh, gak! Gak usah, Bri. Gue bisa sendiri kok," tolak Bara cepat, suaranya sedikit meninggi karena gugup.

"Haduh, gapapa lah. Yok, mumpung gue masih di sini," Brian bersikeras.

"Em... tapi gue mau duduk dulu di sini, Brian. Gue pengen hirup udara di ruang tamu dulu. Jadi gapapa, kan?" Bara mencari alasan sekenanya.

"Ya udah, oke deh," sahut Brian sambil ikut duduk di sofa. Ia terdiam sejenak, lalu menatap Bara dengan tatapan serius. "Oiya, Bar. Gue boleh minta tolong gak sama Lo?"

"Minta tolong apa, Bri?"

"Jadi gini... rencananya besok gue mau nembak Aluna. Menurut Lo, hadiah apa ya yang paling cocok buat dia?" tanya Brian dengan mata berbinar penuh harap.

Bara hanya diam. Lidahnya terasa kelu. Pertanyaan itu menghantam dadanya begitu keras. Sahabat terbaiknya sedang meminta saran untuk mencuri hatinya yang paling dalam.

"Bara? Kok Lo diam aja sih? Gue butuh solusi tauk!" Brian menyenggol bahu Bara.

"Ya... gue juga gak tau, Bri. Gue kan gak pernah nembak cewek," jawab Bara pelan, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"AHA! Kalau gak, gini aja... Lo kan pinter bikin puisi romantis. Gue minta tolong banget, bikinin satu puisi cinta buat Aluna ya? Atas nama gue. Plis, Bar!" mohon Brian.

Dunia Bara serasa runtuh. Menulis puisi cinta untuk Aluna adalah rutinitas jiwanya, tapi melakukannya untuk Brian adalah sebuah siksaan. "Gue gak bisa."

"Kenapa?" Brian mengerutkan kening.

"Karena..."

Belum sempat Bara melanjutkan kalimatnya yang mungkin akan menjadi pengakuan jujur, Mama Bara tiba-tiba muncul dari arah dapur. Beliau sudah mendengar percakapan itu dan tahu betapa tersiksa putranya.

"Brian, sudah ya. Jangan paksa Bara kalau dia gak bisa," tegur Mama lembut namun tegas. "Bara kan baru sembuh, dia butuh istirahat total."

"Tapi Tante, bikin puisi kan gak berat. Dan Bara kan jago banget bikin puisi romantis," Brian mencoba membela diri.

"Tante tahu bikin puisi itu kelihatannya nggak berat, tapi Bara perlu ketenangan pikiran. Kamu harus mengerti ya, Brian?"

Brian tertunduk, wajahnya terlihat murung karena keinginannya ditolak.

"Brian, please deh, jangan ngambek ya. Tante bilang begini demi kebaikan Bara," tambah Mama lagi.

"Iya Tante, Brian paham kok. Ya udah kalau gitu Brian pamit pulang dulu ya," ucap Brian lesu. Ia berpamitan pada Bara dan Ibunya dengan perasaan sedikit kecewa.

"Iya sayang, hati-hati di jalan ya," sahut Mama.

Begitu pintu depan tertutup dan Brian benar-benar pergi, suasana menjadi hening.

Mama menghampiri Bara yang masih tertunduk di sofa, lalu mengusap punggungnya dengan penuh empati.

"Bara... Mama tahu perasaan kamu yang sebenarnya. Kamu suka kan sama Aluna? Itu sebabnya kamu keberatan saat Brian minta dibuatkan puisi," ucap Mama lembut.

Bara menghela napas panjang, matanya nampak berkaca-kaca. "Iya, Mah. Tapi sepertinya Bara memang harus cepat-cepat melupakan Aluna. Bara gak mau nyakitin Brian terlalu dalam. Brian terlalu baik buat Bara sakiti."

"Oke, Mama mengerti..." Mama memeluk bahu putranya. "Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat ya. Jangan dipikirkan dulu."

"Iya, Mah."

Bara berjalan perlahan menuju kamarnya. Ia sadar, mencintai dalam diam adalah sebuah perjalanan panjang, namun mengalah demi sahabat adalah luka yang mungkin tak akan pernah sembuh.

Bersambung.......

Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲 🤲 🙏 😁

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!