Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.
Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.
Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.
Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PERJAMUAN BERDARAH DI BATAVIA
Batavia malam itu tidak bernafas seperti biasanya.
Udara terasa berat, seolah kota tua itu tahu sesuatu yang kejam sedang dirayakan di dalam tembok-tembok megah yang dulu dibangun untuk kekuasaan, dan kini berpindah tangan tanpa meminta izin kepada siapa pun.
Lampion merah menggantung di sepanjang serambi gedung gubernemen yang telah direbut. Cahaya mereka tidak hangat—lebih menyerupai warna darah yang memantul di lantai marmer.
Musik shamisen terdengar tipis, mengalir seperti pisau yang diseret perlahan di atas meja kayu.
Dan di tengah semua itu, Melati berdiri.
Kimono yang dikenakan padanya terlalu indah untuk terasa benar. Sutra hitam dengan sulaman bunga krisan emas, lengan panjang yang jatuh anggun, obi yang diikat terlalu kencang hingga ia sulit bernapas.
Ia tidak pernah merasa sekecil ini.
Seorang pelayan Jepang membetulkan rambutnya sekali lagi.
“Cantik,” katanya singkat.
Melati tidak menjawab.
Cantik bukan kata yang terasa seperti pujian malam ini. Cantik terasa seperti label pada barang.
Pintu aula terbuka lebar.
Suara percakapan, tawa, denting gelas—semua menyambarnya sekaligus.
Kenjiro berdiri di tengah ruangan seperti seseorang yang tidak pernah meragukan bahwa dunia memang miliknya. Seragamnya rapi, sarung pedangnya berkilau, dan senyum tipis di bibirnya terlihat lebih berbahaya daripada kemarahan.
Tatapannya langsung menemukan Melati.
Selalu begitu.
Seolah tidak ada orang lain.
“Akhirnya,” katanya pelan ketika Melati mendekat. “Batavia punya bunga.”
Melati menahan diri untuk tidak mundur.
“Aku bukan milik perayaanmu,” katanya pelan.
Kenjiro tersenyum, bukan tersinggung—lebih seperti terhibur.
“Semua orang di ruangan ini adalah bagian dari perayaan,” jawabnya. “Perbedaannya hanya… siapa yang menyadarinya.”
Ia mengulurkan tangan. Tidak memaksa. Tidak menarik.
Tetapi semua orang melihat.
Melati merasakan puluhan pasang mata sebelum ia benar-benar melangkah.
Dan ketika ia masuk ke aula, dunia berubah.
Para perwira Jepang berhenti bicara.
Para tamu sipil menoleh.
Dan di sisi ruangan, di area yang tidak terang tetapi sengaja terlihat…
Para tawanan.
Melati langsung tahu mereka bukan tawanan biasa.
Pakaian mereka sederhana, beberapa lusuh, beberapa masih menyimpan sisa kemewahan yang tidak bisa sepenuhnya dihapus oleh kekalahan.
Dunia lama duduk di kursi kayu.
Dunia yang runtuh.
Dan di antara mereka—
Tatapan pertama menghantamnya seperti benturan.
Edward.
Bahkan dalam kondisi tawanan, lelaki itu masih membawa sesuatu yang tidak bisa diambil: keyakinan bahwa ia pernah memerintah. Wajahnya lebih pucat, rambutnya tidak serapi dulu, tetapi matanya…
Matanya tidak berubah.
Tatapan itu langsung melekat pada Melati seperti masa lalu yang menolak mati.
Di sebelahnya, Lucien.
Lucien tidak menatap seperti Edward. Tidak terbuka. Tidak terang.
Lucien menatap seperti seseorang yang mengingat terlalu banyak.
Dan keduanya melihat hal yang sama:
Melati dalam kimono.
Melati di sisi Kenjiro.
Melati… bukan bebas.
Napas Melati goyah.
Kenjiro menyadarinya.
“Tamu kita menarik, bukan?” bisiknya di dekat telinga Melati.
Melati tidak menjawab.
Kenjiro mengangkat gelasnya.
“Untuk kemenangan,” katanya keras.
Suara gelas beradu memenuhi ruangan.
Hanya area tawanan yang tidak ikut.
Kenjiro menoleh ke sana dengan santai, seolah keheningan mereka adalah bagian dari hiburan.
“Lihatlah,” katanya pada Melati, cukup pelan tetapi cukup jelas. “Para raja tanpa kerajaan.”
Edward tersenyum tipis.
Senyum itu tidak tunduk.
Lucien hanya menatap Melati.
Kenjiro membawa Melati berjalan melewati ruangan. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas panggung yang tidak ia pilih.
Ia mendengar bisikan.
Tentang kecantikan.
Tentang keberuntungan Kenjiro.
Tentang gadis pribumi yang menjadi simbol kemenangan.
Simbol.
Bukan manusia.
Kenjiro berhenti di depan para tawanan.
Sunyi jatuh seperti sesuatu yang disengaja.
“Apakah kalian mengenalnya?” tanya Kenjiro ringan.
Edward tidak langsung menjawab. Ia menatap Melati lama sekali, seolah mencoba memastikan bahwa ia nyata.
“Sulit melupakan cahaya,” kata Edward akhirnya, suaranya serak tetapi masih memiliki wibawa yang anehnya tidak hilang.
Melati ingin menoleh. Tidak sanggup.
Lucien berbicara tanpa memutus tatapan.
“Kau menempatkan bunga di kandang serigala,” katanya pelan.
Kenjiro tersenyum.
“Serigala sudah kehilangan gigi,” jawabnya.
Edward tertawa pendek. Bukan tawa bahagia—tawa seseorang yang melihat ironi terlalu jelas.
“Kau salah,” katanya. “Keinginan tidak membutuhkan kekuasaan.”
Melati merasakan tubuhnya dingin.
Tatapan Edward bukan tatapan lelaki kalah.
Itu tatapan lelaki yang masih menginginkan.
Lucien bahkan lebih sunyi. Tatapannya lembut dengan cara yang membuat Melati lebih tidak nyaman.
Seolah ia melihat luka, bukan hanya tubuh.
Kenjiro memiringkan kepala.
“Kalian masih memandangnya seperti hadiah,” katanya.
Edward menjawab tanpa ragu.
“Kami memandangnya seperti seseorang yang tidak seharusnya berdiri di sisimu.”
Udara menegang.
Perwira Jepang di belakang Kenjiro bergerak sedikit.
Kenjiro tidak marah.
Ia justru tampak… puas.
“Menarik,” katanya. “Kekalahan tidak mengubah selera.”
Lucien akhirnya mengalihkan tatapan ke Kenjiro.
“Obsesi juga tidak,” katanya tenang.
Itu pertama kalinya senyum Kenjiro menipis.
Melati berdiri di antara mereka seperti garis pertempuran yang tidak terlihat tetapi terasa di kulit.
Ia ingin menghilang.
Ia ingin berteriak.
Ia ingin melepaskan kimono yang terasa seperti kulit orang lain.
Kenjiro menoleh padanya.
“Katakan sesuatu,” bisiknya.
Melati menatap para tawanan. Edward yang masih menatapnya seperti dunia belum runtuh. Lucien yang menatapnya seperti dunia runtuh terlalu cepat.
“Aku bukan trofi,” kata Melati pelan.
Sunyi.
Edward menutup mata sebentar.
Lucien menunduk tipis.
Kenjiro tertawa pelan.
“Tidak ada trofi yang bisa bicara seindah itu,” katanya.
Tetapi ia tidak membantah.
Perjamuan berlanjut. Musik kembali. Tawa kembali.
Namun bagi Melati, ruangan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Ia duduk di sisi Kenjiro, merasakan tatapan terus kembali. Dari perwira. Dari tamu. Dari tawanan.
Ia merasa kotor dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh kata.
Bukan karena kimono.
Bukan karena mereka.
Karena cara semua orang melihatnya.
Seperti simbol.
Seperti milik.
Seperti hadiah yang diperebutkan bahkan setelah perang menentukan pemenang.
Kenjiro menuangkan sake.
“Kau gemetar,” katanya.
“Aku manusia,” jawab Melati.
Kenjiro menatapnya lama.
“Itulah yang membuatmu berharga,” katanya.
Melati hampir tertawa.
Berharga.
Kata itu terasa lebih dingin daripada rantai.
Di sisi ruangan, Edward berbicara pelan pada Lucien.
“Aku membencinya,” bisik Edward.
Lucien tidak bertanya siapa.
“Aku tahu,” jawabnya.
Edward menatap Melati lagi.
“Aku membenci bahwa aku masih ingin menyelamatkannya,” katanya.
Lucien menatap dengan tatapan yang lebih tenang, lebih kejam dalam kejujurannya.
“Itu bukan keinginan menyelamatkan,” katanya. “Itu keinginan memiliki yang berubah bentuk.”
Edward tidak menyangkal.
Lucien menambahkan pelan, “Dan kita kalah terlalu lambat untuk menyadarinya.”
Melati tidak mendengar kata-kata mereka, tetapi ia merasakan sesuatu. Cara tatapan tidak berubah. Cara masa lalu menolak selesai.
Kenjiro berdiri lagi, menarik perhatian ruangan.
“Malam ini,” katanya, “kita merayakan berakhirnya satu dunia dan lahirnya dunia baru.”
Semua orang mendengar.
Melati merasakan kalimat itu seperti hukuman.
Kenjiro melanjutkan, suaranya halus.
“Dan setiap dunia membutuhkan simbol.”
Tangannya berhenti di bahu Melati.
Ruangan melihat.
Melati menahan napas.
Edward menegang.
Lucien menatap seperti seseorang yang sudah tahu ini akan terjadi.
Melati berdiri perlahan.
Bukan karena patuh.
Karena ia tahu melawan di ruangan itu hanya akan membuatnya lebih menjadi tontonan.
Musik mengalun lagi.
Kenjiro menuntunnya ke tengah.
Melati merasa seperti berjalan ke dalam air yang terlalu dalam.
Ia tidak menari.
Ia hanya berdiri sementara dunia melihat.
Dan dalam momen itu, Melati mengerti sesuatu yang menakutkan:
Perang tidak hanya merebut tanah.
Perang merebut cara orang melihatmu.
Di tepi ruangan, Edward berbisik hampir tanpa suara, “Maaf.”
Lucien menutup mata.
Kenjiro tersenyum tipis, puas dengan sesuatu yang hanya ia pahami sepenuhnya.
Dan Melati, di bawah cahaya lampion merah, merasa seperti lukisan mahal yang tergantung di dinding rumah orang lain.
Indah.
Diperhatikan.
Tidak bebas.
Perjamuan malam itu dipenuhi tawa, kemenangan, dan gelas yang tak pernah kosong.
Tetapi bagi Melati, malam itu hanya memiliki satu warna:
Merah.
Bukan merah kemenangan.
Merah sesuatu yang perlahan berdarah di dalam dirinya.