NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Matahari pagi menyusup masuk melalui jendela besar perpustakaan, menyinari ruangan yang kini telah kembali tenang setelah badai fitnah kemarin.

Di depan cermin besar, Rizal berdiri mematung. Ia tidak lagi mengenakan kemeja lusuh atau kaos sederhana.

Tubuhnya kini dibalut setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap pesanan khusus dari Aisyah.

Potongan jas itu sangat pas di bahunya yang tegap, menyamarkan kekurangan fisiknya dan justru menonjolkan kewibawaan yang selama ini terpendam.

Rizal membetulkan letak dasinya dengan tangan yang lebih stabil.

Ia tidak lagi terlihat seperti pria malang yang dipungut dari jalanan; ia terlihat seperti seorang bangsawan yang tenang, siap menaklukkan dunia.

Di dalam perpustakaan, Madame Claire sudah menunggu dengan tumpukan buku dan kamus bahasa Prancis serta Jerman.

Pelajaran dimulai dengan intensitas tinggi. Madame Claire memberikan daftar kosakata teknis bisnis yang sangat rumit, berharap Rizal akan kesulitan di hari pertamanya.

"Silakan baca dan hafalkan sepuluh halaman ini dalam satu jam, Monsieur Rizal. Kita akan menguji pelafalan Anda setelah itu," ucap Madame Claire dengan nada formal.

Rizal hanya mengangguk. Ia membalik halaman demi halaman dengan saksama.

Matanya bergerak cepat, menyerap setiap huruf dan tanda baca seolah sedang memotretnya ke dalam otak. Belum sampai tiga puluh menit, Rizal menutup bukunya.

"Saya siap, Madame," ucap Rizal tenang.

Madame Claire mengangkat alisnya, ragu. Namun, saat pengujian dimulai, wanita Prancis itu dibuat ternganga. Rizal tidak hanya melafalkan kata-kata itu dengan aksen yang hampir sempurna, tetapi ia mampu mengulang isi teks tersebut kata demi kata tanpa satu pun kesalahan.

"Masya Allah, ini luar biasa, Monsieur!" seru Madame Claire, kehilangan sikap kaku biasanya.

"Anda memiliki daya ingat fotografis. Saya belum pernah melihat murid sedewasa Anda yang mampu menyerap struktur bahasa Jerman yang rumit secepat ini dalam hitungan menit!"

Di balik pintu perpustakaan yang sedikit terbuka, Aisyah berdiri mematung.

Ia yang awalnya berniat masuk untuk membawakan teh, mengurungkan niatnya.

Ia menyandarkan punggungnya di tembok samping pintu, mendengarkan pujian tulus dari sang guru.

Aisyah tersenyum tipis. Ada binar kebanggaan yang tak terbendung di matanya.

Ternyata, pria yang ia pilih bukan hanya pria yang tulus, tapi juga permata yang selama ini tertimbun lumpur kemiskinan.

"Aku tahu pilihanku tidak salah," bisik Aisyah pada dirinya sendiri.

Ia memeluk nampan tehnya erat-erat, merasa sangat lega.

Ia sangat percaya dengan suaminya. Jika Rizal memiliki kecerdasan sehebat itu, maka rencana Aisyah untuk menjadikannya CEO di perusahaan mendiang suaminya bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kenyataan yang tinggal menunggu waktu.

Aisyah menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu dengan lembut.

Ia ingin menjadi orang pertama yang merayakan keberhasilan kecil suaminya pagi ini.

Aisyah mengetuk pintu pelan sebelum melangkah masuk dengan keanggunan yang alami.

Di tangannya, sebuah nampan perak membawa dua cangkir teh porselen yang mengepulkan aroma melati yang menenangkan.

Ia meletakkan nampan itu di meja marmer dengan gerakan halus, nyaris tanpa suara.

"Maaf mengganggu pelajaran kalian, Madame Claire, Mas Rizal," ucap Aisyah lembut.

"Saya bawakan teh untuk menyegarkan pikiran."

Rizal menatap istrinya dengan binar mata yang penuh rasa terima kasih.

Setelan jas yang ia kenakan membuatnya tampak sangat serasi berdiri di samping Aisyah.

Sementara itu, Madame Claire masih tampak sangat bersemangat, wajahnya yang kaku kini cerah oleh rasa takjub.

"Ah, Nyonya Aisyah! Pas sekali Anda datang," seru Madame Claire sambil merapikan kacamatanya.

Ia menarik sebuah kursi kosong di samping meja instruksinya.

"Silakan duduk, Nyonya. Saya mohon Anda meluangkan waktu sejenak."

Aisyah sedikit tertegun, namun ia menuruti permintaan guru bahasa tersebut dan duduk dengan sikap sempurna.

"Ada apa, Madame? Apakah ada kendala dengan pelajaran Mas Rizal?" tanya Aisyah sedikit cemas.

Madame Claire menggelengkan kepalanya dengan mantap.

"Justru sebaliknya. Nyonya, selama puluhan tahun saya mengajar para ekspatriat dan CEO, saya belum pernah menemukan bakat seperti suami Anda. Tuan Rizal tidak hanya belajar; dia 'menyerap' informasi. Dia memiliki daya ingat fotografis yang sangat langka."

Madame Claire menunjuk ke arah buku teks Jerman yang tebal di atas meja.

"Dia baru saja menghafal struktur kalimat bisnis yang biasanya butuh waktu seminggu untuk dikuasai murid biasa. Dan pelafalannya, Masya Allah, Monsieur Rizal seolah-olah pernah tinggal di Paris sebelumnya."

Rizal hanya menunduk rendah hati, namun tangannya diam-diam menggenggam jemari Aisyah di bawah meja.

Aisyah menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara bangga, haru, dan keyakinan bahwa masa depan mereka akan sangat cerah.

Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Rizal, sebuah kekuatan yang memberitahunya bahwa pria ini siap bertarung di sisinya.

"Saya sudah menduganya, Madame," sahut Aisyah pelan, suaranya bergetar karena bangga.

"Mas Rizal hanya butuh panggung yang tepat untuk bersinar."

Madame Claire tersenyum lebar. "Kalau begitu, Nyonya, saya rasa kita bisa mempercepat kurikulum ini. Dalam satu bulan, saya jamin Tuan Rizal siap memimpin rapat dengan mitra kita dari Berlin maupun Lyon."

Setelah pujian yang meluap-luap itu, Madame Claire kembali fokus pada materi pelajarannya.

Suasana perpustakaan kembali dipenuhi dengan pelafalan kata-kata Prancis yang elegan dan istilah bisnis Jerman yang tegas.

Aisyah berdiri perlahan, memandangi suaminya yang tampak begitu serius di balik jas barunya.

"Kalau begitu, saya serahkan Mas Rizal kembali pada Anda, Madame," ucap Aisyah sambil tersenyum ke arah suaminya.

"Nanti malam, giliran aku yang akan menjadi gurunya."

Rizal mendongak, alisnya bertaut sedikit. "Belajar apa lagi, Sayang?"

Aisyah mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka.

"Etika makan malam formal. Kamu harus tahu mana garpu untuk appetizer dan mana sendok untuk sup sebelum kita bertemu dengan para investor minggu depan."

Selesai belajar bersama dengan Madame, Rizal merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sebelum nanti malam ia belajar makan malam formal.

Malam harinya, ruang makan besar itu disulap menjadi ruang kelas pribadi.

Bi Inah telah menata meja dengan sangat lengkap: piring porselen bertumpuk, tiga jenis garpu di sisi kiri, tiga jenis pisau di sisi kanan, serta deretan gelas kristal yang berjejer rapi.

Rizal duduk dengan kaku, menatap tumpukan alat makan itu seolah-olah sedang menatap peralatan bedah medis yang rumit.

Ia mengenakan kemeja santai, namun tetap terlihat gagah.

"Oke, Mas. Bayangkan kita sedang di jamuan resmi. Ambillah sendok supmu," perintah Aisyah dengan nada bicara yang dibuat-buat seperti seorang instruktur protokol istana.

Rizal meraih sendok yang paling besar, namun tangannya yang besar dan kuat itu tampak sangat kikuk memegang gagang perak yang ramping.

Saat ia mencoba menyendok sup fiktif dengan gerakan dari arah dalam ke luar seperti yang diinstruksikan Aisyah, tangannya malah menyenggol gelas air putih hingga hampir tumpah.

"Aduh!" Rizal segera menangkap gelas itu dengan refleks cepat, namun wajahnya tampak sangat frustrasi.

"Aisyah, tanganku ini lebih cocok memegang cangkul atau linggis daripada memegang garpu sekecil ini."

Aisyah yang sejak tadi mencoba menahan wibawanya, akhirnya tidak sanggup lagi.

Ia melihat bagaimana suaminya yang cerdas dan mampu menghafal bahasa asing dalam sekejap, justru tampak "berkelahi" dengan sebutir zaitun di atas piringnya.

"Hahaha! Mas! Bukan begitu cara memegang garpunya!"

Aisyah tertawa terbahak-bahak hingga air matanya sedikit keluar.

Suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan yang biasanya sunyi dan kaku itu.

Ia merasa sangat bahagia melihat sisi manusiawi Rizal yang menggemaskan.

"Kenapa tertawa? Ini lebih sulit daripada menghafal kamus Prancis!" keluh Rizal, namun ia tidak bisa menahan senyum melihat istrinya begitu ceria.

Aisyah bangkit dari kursinya dan berjalan ke belakang Rizal.

Ia melingkarkan lengannya di bahu suaminya, lalu memegang tangan kanan Rizal, membimbingnya memegang pisau dengan benar.

"Pelan-pelan saja, Sayang. Jangan tegang," bisik Aisyah di dekat telinga Rizal, tawanya kini berubah menjadi senyuman manis.

"Ingat, kamu adalah penguasa meja ini. Alat makan ini yang harus tunduk padamu, bukan sebaliknya."

Rizal menarik napas dalam, mencium aroma parfum Aisyah yang menenangkan, dan perlahan-lahan mulai mengikuti gerakan tangan istrinya.

Di tengah kemewahan itu, mereka berdua berbagi momen hangat yang membuat cinta mereka semakin kuat.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!