Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpindah-pindah hati
Vallerie menilai dengan jari telunjuknya dan mata menyipit seakan meneliti beberapa orang di hadapannya. Eleanor dan Hugo yang duduk disofa ruang tamu rumah Vallerie hanya menyandarkan punggung dengan malas di sofa.
Hari ini Vallerie memilih menyewa baby sitter untuk Hugo, karena ada bocah itu di hidupnya, langkah Vallerie menjadi terhambat.
Tetapi dari beberapa baby sitter yang dia mintai datang kerumahnya, tidak ada yang benar-benar bisa dia percaya. Pantas saja Freya tidak berani membayar baby sitter, ternyata se sulit itu untuk mencari orang yang bisa dipercaya.
"Sudahlah Val. Kalau tidak suka satu pun dari mereka, mending minta Tante Devina aja."Ucap Eleanor dengan malas.
Vallerie yang awalnya berdiri membelakangi mereka berbalik, menatap penuh tanya Eleanor. "Kenapa Tante Devina?"
"Tante Devina sudah tidak bekerja, mungkin saja dia kesepian dirumah. Lagian dia suka anak kecil, tidak seperti mu." Vallerie mengangguk sembari berfikir, lalu duduk disebelah Eleanor.
"Aku suka anak kecil, tapi saat ini urusanku banyak, untuk mengurus nya tidak ada waktu."ucap Vallerie dengan malas.
Eleanor mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mengiyakan. Eleanor dengan lirikan matanya meminta beberapa orang dihadapan mereka untuk pergi, karena sejak awal Eleanor yang mencarikan orang-orang itu.
"Jadi gimana?"tanya Eleanor.
Vallerie menggapai kopi di atas meja, menyesap kopinya yang sudah mendingin itu, "Yasudah ayo kerumahnya, aku tahu kamu juga ingin bertemu Dominic kan?"
Mendengar itu Eleanor tersenyum malu-malu, yang membuat Vallerie rasanya ingin menghajar wanita dihadapannya itu.
"Kamu harus ingat misi kita, Elea. Waktu kamu cuma tiga bulan."peringat Vallerie.
"Tiga bulan itu rasanya lama sekali."keluh Eleanor, karena dia tidak sabar ingin mengejar Dominic secara terang-terangan seperti sebelumnya.
Vallerie menghela nafas panjang. "Sudah berapa kali aku katakan. Kamu harus bisa main tarik ulur, cuma tiga bulan, setelah itu terserah padamu."
Eleanor mengangguk dengan wajah ditekuk nya, dia juga berusaha mengikuti perintah Vallerie, dia tidak lagi mengejar Dominic. Kata menyerah yang pernah dia katakan, itu terkahir kalinya dia berbicara panjang dengan pria itu. Setelah nya mereka hanya berbicara soalan pekerjaan saja.
Rasanya berat harus mengubah sifatnya menjadi cuek kepada Dominic, tapi demi mendapatkan hati pria itu kembali, dia harus lakukan.
Satu jam kemudian mobil mewah Vallerie berhenti di sebuah kediaman asri. Devina, wanita paruh baya dengan aura keibuan yang kental namun memiliki sorot mata yang bijak, menyambut mereka di lobby.
"Vallerie, Eleano. dan Hugo?" tanya Devina lembut saat melihat Hugo bersembunyi di balik kaki Vallerie.
"Iya, Tante," jawab Vallerie, meski tangannya secara refleks mengusap kepala Hugo. "Ibunya menitipkannya padaku. Aku terlalu sibuk untuk mengurus nya."Vallerie menatap lurus Devina dengan tatapan memohon.
"Maaf lancang, Tante. Aku boleh menitipkan Hugo disini? Eleanor bilang tante suka anak kecil."
Eleanor yang berdiri disebelah Vallerie melebarkan bola matanya, karena membawa-bawa namanya, dia menatap tajam Vallerie seakan mengatakan kalau dia tidak suka dengan kata-kata terkahir Vallerie.
"Ah, Tidak masalah kok, malah Tante senang. Ayo sini Hugo sama Tante."
Bocah itu keluar dari dalam persembunyian nya dan perlahan dengan langkah kecilnya mendekati Devina. Hugo berdiri depan Devina sembari mendongak menatap Vallerie.
"Kakak tidak suka Hugo ya?"tanya anak itu, sepertinya dia merasa diusir dari hidup Vallerie.
Semua orang terdiam, Vallerie menatap Devina dan Eleanor sekilas sebelum berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Hugo.
"Suka kok, tapi aku sedang sibuk, jadi belum bisa mengurus mu." Hugo menatap dalam diam Vallerie. Dia tidak menangis sama sekali, wajah nya pun tidak menunjukkan kalau dia akan menangis. Hugo hanya bingung karena dia berpindah tempat lagi.
"Kata Mama, Kakak akan mengurus ku. Kata Mama, Kakak itu Kakak aku."mendengar itu Vallerie terdiam, tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Devina yang merasa suasana menjadi canggung, membawa mereka masuk kedalam rumahnya. "Eh. Ayo masuk, kenapa bicara disini?"
Vallerie berdiri dari berjongkok nya, lalu mengikuti langkah Devina masuk kedalam rumah bersama Hugo.
"Yasudah kalau begitu kalian lakukan aja sesuka hati dirumah ini, ini rumah kalian juga. Tante mau membawa Hugo ke taman belakang rumah dulu "ucap Devina yang di angguki Vallerie dan Eleanor.
Saat Devina membawa Hugo ke taman belakang untuk melihat kelinci, Eleanor menyenggol lengan Vallerie. "Lihat? Hugo aman di sini. Gimana? Kita pulang atau disini?"
"Menurutmu saja?"jawab Vallerie seadanya lalu duduk disofa tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Eleanor mengikuti langkah Vallerie dan ikut duduk disebelahnya. "Kira-kira Dominic ada dirumah tidak?"
Vallerie mengedipkan bahunya pertanda tidak tahu. "Kalau pun ada, kamu mau mengejarnya?"
Eleanor dengan cepat menggeleng. "Tidak. Dia taunya aku sudah menyerah."
Vallerie mengangguk. "Bagus kalau begitu, satu bulan mu juga hampir berlalu. Sedikit lagi, kalau tidak berhasil juga, terserah padamu."
"Sedikit lagi apanya? Belum juga sebulan."protes Eleanor.
"Kamu mau dia tidak?"ucap Vallerie menatap datar Eleanor.
"Tentu mau, kamu tahu sendiri, aku suka dia sudah dari kecil."Vallerie mengangguk dengan malas.
"Ya ya. Soal Vernandes bagaimana?" Tanya Vallerie tiba-tiba.
Eleanor menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil menghela nafas. "Aku tidak tahu, sulit untuk memutus hubungan ku dengannya."
"Kamu pernah meminta bantuan padaku kan? Kalau aku bantu dengan cara ku, tidak masalah?"tanya Vallerie, dia sedikit ragu untuk berpura-pura pacaran dengan Vernandes, takutnya Eleanor akan mengira dia menyukai Vernandes. Walaupun dihubungan mereka tidak ada cinta, tapi mereka sudah bertunangan.
"Tentu saja, aku malah senang kalau rencana mu itu berhasil."
★★★
Tidak terasa matahari hampir menenggelamkan dirinya, Vallerie dan Eleanor berpamitan untuk pulang setelah memastikan Hugo nyaman, hari ini, hari libur karena itu Vallerie dan Eleanor bisa berlama-lama dirumah Devina, Eleanor sempat bertemu Dominic, saat pria itu turun untuk mengambil minum. Tapi Eleanor berhasil untuk tidak meladeninya, tidak menyapa seperti biasanya.
Kedua wanita itu melangkah keluar rumah. Tiba-tiba sebuah mobil SUV hitam berhenti di lobby. Sosok pria dengan bahu lebar dan setelan jas yang sempurna keluar dari sana.
Langkah pria itu terhenti saat melihat Vallerie dan Eleanor berdiri di teras rumah Devina. Ia menurunkan kacamata hitamnya, menatap Vallerie dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sedang melakukan survei tempat untuk membuang adikmu?" tanya Victor dengan suara baritonnya yang khas.
Vallerie melangkah turun dari teras, mendekati Victor hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah. Aroma parfum yang maskulin kembali menyerang indranya.
"Aku tidak membuangnya. Aku hanya menitipkannya," balas Vallerie, ia meraih ujung dasi Victor dan merapikannya dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda. "Lalu, apa alasan pria sibuk sepertimu pulang ke sini?" Vallerie mendongak, sedikit berjinjit membisikkan sesuatu di telinga Victor.
"Kenapa tidak pulang ke Apart? Apa kamu tau aku disini?"
Victor meraih tangan Vallerie yang berada di dasinya, menggenggamnya kuat namun tidak menyakiti Vallerie."Jangan terlalu percaya diri. Ini rumah ku, aku berhak pulang pergi dari sini."
[Ding! Tuan Putri, tingkat ketertarikan Victor selalu penuh 100% aku tidak mengerti kenapa angkanya tidak pernah turun.]
Vallerie yang mendengar itu membenarkan posisi berdiri nya lalu mundur satu langkah.
"Betul juga, aku tidak akan menganggu mu. Kalau begitu kami pulang dulu."ucap Vallerie, lalu menarik tangan Eleanor untuk masuk kedalam mobil. Eleanor yang sedari tadi mematung melihat interaksi Vallerie dan Victor hanya menurut.
Victor memandang mobil Eleanor yang dikendarai Vallerie sudah menjauh. Tanpa sadar senyum tipis terbit dibibirnya.