Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Kecemasan Menuju Pelabuhan Ketapang
Lampu neon di dalam kabin Bus 4 diredupkan, menyisakan keremangan yang hanya ditembus oleh lampu-lampu jalanan Jawa Timur yang mulai jarang. Deru mesin bus yang stabil menciptakan getaran ritmis yang membuat hampir seluruh penumpang terbuai dalam kantuk. Feri, Dion, dan Reno sudah lama "tumbang" di kursi belakang, tertidur lelap dengan posisi yang tidak beraturan setelah kelelahan bernyanyi dan tertawa.
Di tengah kesunyian itu, Nadia tiba-tiba berdiri dari kursinya dan menghampiri Vanya. Mereka berbisik-bisik sejenak, sebuah sesi curhat rahasia antar perempuan yang hanya mereka berdua yang tahu. Namun, tak lama kemudian, suasana berubah. Nadia tampak lesu, langkahnya gontai saat ia beranjak dari sisi Vanya.
Vanya memberikan kode kepada Gery dengan tatapan mata yang khawatir. Tanpa kata, Nadia berjalan ke arah kursi di samping Gery—kursi yang tadinya ditempati Feri sebelum ia pindah ke bangku paling belakang untuk tidur. Gery, yang sedari tadi terjaga menatap gelapnya malam, segera menggeser kakinya, memberi ruang bagi Nadia untuk masuk dan duduk di sisi jendela.
"Lo nggak apa-apa, Nad?" tanya Gery sangat pelan, nyaris berupa bisikan.
Nadia hanya menggeleng lemah, ia menarik jaketnya lebih rapat ke tubuhnya yang mungil. Matanya terpejam rapat, seolah menahan beban yang sangat berat di kepalanya. Gery tidak berani bertanya lebih jauh; ia hanya memberikan privasi yang Nadia butuhkan.
Bus perlahan memasuki area Pelabuhan Ketapang, mulai mengantre di jalur dermaga. Guncangan bus saat melewati jalanan pelabuhan yang tidak rata membuat kepala Nadia yang sedari tadi terkulai lemas, akhirnya mendarat di bahu kiri Gery.
Gery tersentak. Tubuhnya kaku seketika. Jantungnya berdegup kencang karena ini adalah pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan gadis yang ia kagumi. Namun, rasa canggung itu segera sirna dan berganti dengan kekhawatiran yang mencekam. Melalui kain seragamnya, Gery merasakan panas yang tidak wajar merembes dari dahi Nadia.
Gery memberanikan diri menyentuh punggung tangannya ke dahi Nadia. Panas sekali.
"Dion! Yon! Bangun!" Gery setengah berbisik namun dengan nada mendesak, sambil tangannya yang bebas mengguncang kaki Dion yang menjuntai di dekatnya.
Dion mengerang, mengucek matanya dengan bingung. "Hah? Udah sampai Bali, Ger?"
"Belum! Nad, bangun dulu sebentar..." Gery mencoba memanggil Nadia, namun gadis itu hanya merintih kecil tanpa membuka mata. "Yon, Nadia demam tinggi. Badannya panas banget. Mana kotak obat darurat yang lo bawa?"
Mendengar kata "demam tinggi", suasana di barisan belakang bus langsung berubah drastis. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti Reno, Feri, dan anak-anak lainnya lenyap seketika. Mereka sontak terbangun, saling melempar pandang dengan wajah panik yang terekam jelas di bawah lampu rem bus yang memantul masuk ke kabin.
"Hah? Serius?" Reno ikut bangkit, kepalanya hampir terantuk bagasi atas.
Dion dengan sigap merogoh tas ranselnya, mengeluarkan kotak P3K yang memang sudah ia siapkan sebagai tanggung jawab ketua kelas. "Bentar, bentar... Gue ada paracetamol sama termometer."
Vanya yang duduk didepan kursinya langsung berdiri dan menghampiri. Wajahnya yang tadi sudah mulai ceria kembali diliputi kecemasan. Ia melihat sahabatnya terkulai di bahu Gery dengan napas yang mulai pendek.
"Ger, pindahin dia ke posisi yang lebih nyaman. Sini, gue kompres pake air mineral dingin dulu," ujar Vanya sigap, naluri perhotelannya dalam menangani tamu yang sakit mulai muncul meski dalam keadaan darurat.
Di depan gerbang pelabuhan yang riuh dengan suara klakson kapal feri, barisan belakang Bus 4 mendadak menjadi ruang perawatan kecil. Gery tetap membiarkan bahunya menjadi sandaran Nadia, menjaga agar kepala gadis itu tidak terbentur kaca bus yang bergetar hebat saat bus mulai bergerak naik ke atas ramdoor kapal.
Suasana di dalam dek kapal feri yang pengap oleh asap kendaraan membuat anak-anak laki-laki PH2 bergerak cepat. Tanpa banyak komando, mereka berbagi tugas. Reno dan Dion membuka jalan, sementara Gery dan Feri membantu memapah Nadia keluar dari bus menuju area kabin penumpang di lantai atas.
Langkah kaki mereka menggema di tangga besi kapal yang curam. Di dalam kabin yang lebih luas dan sejuk, para guru segera mengambil alih. Nadia dibaringkan di sofa panjang, sementara guru pendamping mulai memberikan pertolongan pertama dengan peralatan medis yang lebih lengkap.
"Kalian tunggu di luar saja ya, biar Ibu yang jaga Nadia di sini," ujar salah satu guru dengan nada menenangkan.
Gery dan rombongan anak laki-laki PH2 pun melangkah keluar menuju dek terbuka. Mereka berdiri berjajar di sepanjang pagar pembatas kapal, menatap buih laut yang putih keperakan terkena lampu kapal di tengah kegelapan Selat Bali. Angin laut malam itu berembus kencang, membawa aroma garam yang tajam dan dingin yang menusuk tulang.
Gery menoleh ke samping. Vanya berdiri di sana, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Ia hanya mengenakan kaos tipis, karena jaketnya tertinggal di dalam bus saat mereka panik mengurus Nadia tadi. Kulit lengannya tampak merinding karena terpaan angin laut yang ganas.
Tanpa berkata apa-apa, Gery melepas jaket yang ia kenakan.
"Pake ini, Van," ucap Gery sambil menyampirkan jaketnya ke bahu Vanya.
Vanya tersentak kecil, lalu menatap Gery. "Eh, nggak usah Ger. Nanti lo yang kedinginan."
"Badan gue lebih kuat dari lo. Lagian, satu orang sakit udah cukup buat bikin kita panik. Gue nggak mau besok pagi liat lo juga tumbang," balas Gery dengan nada tegas namun lembut, tidak menerima penolakan.
Vanya akhirnya mengalah. Ia memasukkan tangannya ke dalam lengan jaket Gery yang kebesaran di tubuhnya. Aroma khas parfum Gery yang bercampur bau sabun samar segera menyelimutinya, memberikan rasa hangat yang bukan sekadar fisik. "Makasih ya, Ger. Lo selalu kepikiran hal-hal kecil kayak gini."
Tak lama kemudian, Dion keluar dari pintu kabin dengan wajah yang jauh lebih cerah. "Woi! Nadia udah mendingan. Suhu badannya mulai turun setelah minum obat dari Bu Guru. Dia udah bisa tidur tenang sekarang."
Hembusan napas lega terdengar serentak dari anak-anak laki-laki itu. Beban di pundak mereka seolah luruh bersama deburan ombak.
"Alhamdulillah... kalau gitu, perut gue sekarang yang protes," celetuk Reno sambil memegang perutnya. "Kantin kapal yuk? Pop Mie sama kopi kayaknya asik nih sambil nunggu sandar."
"Setuju!" sahut Feri semangat.
Rombongan itu mulai bergerak menuju kantin kapal yang lampunya benderang. Gery menoleh ke arah Vanya yang masih betah menatap laut. "Yuk, Van. Ikut ke kantin. Cari yang anget-anget buat perut, biar lo makin rileks."
Vanya tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih ringan. "Boleh. Gue mau cokelat panas kalau ada."
Mereka berjalan beriringan menuju kantin, membaur dengan penumpang lain. Di antara uap Pop Mie yang mengepul dan aroma kopi instan, tawa mereka kembali pecah. Di tengah Selat Bali, di atas kapal yang bergoyang pelan, Gery menyadari bahwa kebersamaan ini adalah bagian dari "perjalanan" yang sebenarnya—saling menjaga saat salah satu terjatuh, dan merayakan kelegaan bersama-sama.
Suara mesin bus yang menderu pelan di atas dek kapal feri menjadi penanda bahwa perjalanan laut telah usai. Saat ban-ban besar bus 4 menyentuh aspal Pelabuhan Gilimanuk, langit di ufuk timur masih berwarna biru pekat dengan semburat ungu tipis. Waktu belum menunjukkan pukul lima pagi, namun gairah untuk segera menginjakkan kaki di tanah Bali telah menghapus sisa-sisa kantuk yang menggelayuti para siswa.
Di dalam kabin bus yang remang-remang, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu saat kepanikan melanda. Nadia, yang kini wajahnya sudah kembali memiliki rona kehidupan, duduk bersandar di kursinya. Meski tubuhnya masih sedikit lemas, panas di dahinya telah menguap, menyisakan ketenangan setelah melewati masa kritis di kabin kapal.
Di sampingnya, Vanya masih setia mengenakan jaket biru tua milik Gery. Jaket itu tampak terlalu besar di tubuh mungil Vanya; lengan jaketnya menutupi hingga ujung jemari, dan aroma parfum Gery yang bercampur harum angin laut masih tertinggal kuat di sana.
Nadia melirik jaket itu, lalu melirik ke arah kursi belakang di mana Gery tampak sedang sibuk bercanda pelan dengan Dion dan Reno. Sebuah senyum jahil tersungging di bibir Nadia yang masih pucat.
"Ciee... yang hangatnya awet sampai ke Bali," bisik Nadia pelan, menyenggol lengan Vanya dengan bahunya.
Vanya menoleh, alisnya bertaut. "Apaan sih, Nad? Ini kan dipinjemin gara-gara si Gery maksa, takut gue ikutan demam kayak lo."
Nadia tidak berhenti di situ. Ia menarik ujung lengan jaket yang dipakai Vanya sambil terkekeh pelan. "Tapi kayaknya lo nyaman banget tuh. Nggak mau dilepas ya? Baunya harum Gery banget, kan?"
Wajah Vanya seketika memanas. Beruntung lampu kabin bus masih redup, sehingga rona merah di pipinya tidak terlihat terlalu jelas. Ia tahu Nadia sedang mencoba membalas perasaannya yang tadi malam sempat diaduk-aduk karena masalah putus cinta.
"Heh, anak kecil baru sembuh udah berisik ya!" Vanya memasang wajah ketus yang dibuat-buat, meski matanya memancarkan binar jenaka. "Denger ya, Nadia... kalau lo nggak berhenti ngeledek gue, itu semua rahasia yang lo bisikin ke gue tadi, bakal langsung gue setor ke orangnya. Sekarang juga!"
Nadia seketika bungkam. Matanya membelalak, dan ia refleks menutup mulutnya dengan tangan. Ia teringat akan curhatan emosionalnya tadi malam—tentang bagaimana ia merasa nyaman setiap kali Gery membantunya belajar, dan tentang keraguannya pada hubungannya sendiri yang mulai terasa hambar dibandingkan perhatian tulus yang sering Gery tunjukkan secara diam-diam.
"Eh, jangan dong! Van, jahat banget sih!" protes Nadia dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai ke belakang.
"Makanya, diem! Jangan bahas jaket ini lagi," ancam Vanya sambil menarik resleting jaket Gery hingga ke dagu, seolah ingin menyembunyikan senyum kemenangannya.
Di barisan belakang, Gery yang sedang memandang keluar jendela ke arah gerbang Bali yang ikonik, tidak menyadari bahwa di barisan tengah, dua orang yang paling berarti baginya sedang memperebutkan rahasia tentang dirinya. Baginya, melihat Nadia sudah bisa bercanda lagi dan Vanya tidak lagi menangis adalah pemandangan paling indah di subuh pertama mereka di Bali.