Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi yang cerah menyinari Istana Mahkota Perak dengan penuh sinar matahari.
Nabila kini sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah setelah berdebat panjang dengan para pelayan yang ditugaskan untuk merawatnya oleh Reynaldo. Perutnya terasa sangat lapar, sehingga dia memutuskan untuk turun ke ruang makan terlebih dahulu. Saat turun dari lantai atas, dia melihat Reynaldo yang baru saja pulang setelah tidak datang sepanjang malam kemarin.
"Kau pulang??" tanya Nabila dengan suara pelan.
"Ini istanaku sendiri..!" jawab Reynaldo kemudian berjalan menjauh tanpa melihatnya lagi.
"Kau dari mana?" teriak Nabila dari belakang.
"Bukan urusanmu!" ucapnya dengan singkat.
"Ada apa dengannya?? Mengapa dia sangat dingin!" gumam Nabila dalam hati, merasa aneh dengan sikap Reynaldo yang berbeda dari kemarin.
"Cihh padahal aku mau meminta izin untuk sekolah.., harusnya aku minta izin padanya dulu" ucap Nabila kesal.
Dia mulai mengikuti langkah Reynaldo dari belakang. Kakinya yang kecil membuatnya harus berjalan cepat agar bisa menyusul dan berbicara dengannya.
"Reynaldo tunggu..!" panggil Nabila dengan sedikit meningkatkan suara.
Tiba-tiba Reynaldo berhenti berjalan dan menoleh sebentar.
"Ada apa?" tanya dia singkat.
"Aku ingin sekolah – hari ini ada tes kelas terakhir yang harus aku ikuti.." ucap Nabila dengan penuh harapan.
"Tidak!" ucap Reynaldo kemudian melanjutkan langkahnya.
"Reynaldo ayolahhh tunggu!!" ucap Nabila semakin kesal.
"Aku bilang tidak tidakk!"
"Aku harus ikut tes itu, aku ingin menyelesaikan sekolahku..!"
"Kau tidak perlu sekolah!" "Reynaldo tunggu!!" ucap Nabila berlari dan berdiri di depan Reynaldo untuk menghalangi jalannya.
"Awas aku ingin masuk sekolah!"
"Tidak!" ucap Reynaldo tetap tegas.
Nabila merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi jalan.
"Aku sedang tidak ingin berdebat!"
"Aku juga tidak ingin berdebat tapi hanya meminta izin saja!"
"Aku sudah mengatakan tidak.."
"Baiklah kalau begitu kau tidak bisa lewati sini!!" ucap Nabila melotot menatapnya.
"Menjauhlah Nabila aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.." ucap Reynaldo dengan pandangan malas.
"Tapi aku ingin sekolah! Reynaldoo..!" ucap Nabila sambil memegang lengan Reynaldo dan menggoyangkannya seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu.
"Nabila, hentikan dan kembali kekamarmu.."
"Tidak aku ingin kesekolah.." "Nabila..!!"
"Tidakkk aku tetap ingin sekolah!!" ucap Nabila terus memaksa.
Reynaldo yang sudah tidak tahan langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
"Nabila!! Kembali kekamarmu sekarang juga!?" teriaknya dengan suara keras, menghempaskan tangannya yang sedang digenggam Nabila.
Nabila sedikit terhuyung ke belakang dan terkejut melihat tatapan tajam serta suara keras Reynaldo.
"Ka-kauu! Membentakkuu..!!" ucap Nabila dengan suara pelan, wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan sedikit takut.
Reynaldo segera menyadari bahwa perilakunya membuat Nabila terkejut dan takut. Nabila mundur beberapa langkah, matanya mulai memerah seolah menahan air mata. Kemudian dia berjalan cepat meninggalkan Reynaldo, bahkan berlari menuju kamarnya dan mengunci pintunya rapat.
"Apa yang aku lakukan.." gumam Reynaldo tersadar dari perlakuan yang terlalu kasar terhadapnya.
Reynaldo berbalik dan berjalan menuju kamar Nabila, tapi pintunya sudah terkunci erat.
"Dimana Nabila??" tanya dia kepada pelayan yang berjaga di luar kamar.
"Nyonya ada didalam tuan, tadi dia menangis dan saat kami ingin masuk untuk membantu, dia langsung menutup dan mengunci pintunya.." jelaskan pelayan dengan hormat.
"Kalian bisa pergi.." ucap Reynaldo memerintahkan pelayan untuk menjauh.
"Tokkkk..tokkk..tokkk"
"Nabila, boleh aku masukk..?" teriak Reynaldo sambil mengetuk pintu dengan lembut.
Nabila dengan cepat membuka pintu kamar. Wajah cantiknya masih basah akibat air mata. Setelah membuka pintu, dia langsung berjalan ke ranjang dan membenamkan wajahnya di bantal empuk.
Reynaldo kini duduk di pinggiran ranjangnya.
"Maafkan aku.." ucap dia kepada Nabila.
Nabila hanya diam dan tetap menghadapkan punggungnya.
Tanpa ada balasan membuat Reynaldo sedikit bingung menghadapinya.
"Nabila ...?"
"Hem..!!!" ucap Nabila dengan nada pendek.
"Maafkan aku.." ucap Reynaldo sekali lagi.
"Hemm.." jawabnya singkat.
"Aku sedang berbicara padamu – tatap aku!" ucap Reynaldo dengan suara yang tetap lembut.
Tidak ada jawaban dari Nabila, dia tetap memalingkan wajahnya.
"Nabila.."
"Hemm.."
"Baiklah kau boleh sekolahh..!" ucap Reynaldo akhirnya memilih mengalah.
"Apaa??? Kau serius??" ucap Nabila langsung menoleh dan menatapnya, sambil menghapus air mata yang masih menetes di pipinya. Dia memberikan senyuman ceria yang membuat wajahnya semakin cantik.
"Kau seriuuss aku boleh ikut tes hari ini??" ucap Nabila sambil memegang tangan Reynaldo dengan erat.
"Iyaaa tapi dengan satu syarat!!" ucap Reynaldo menatapnya dengan wajah serius.
"Cihhh mengapa harus ada syarat!!" gumam Nabila sambil menghempaskan tangannya.
"Kau kasar sekali..!" ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Kau menyebalkan!!" balas Nabila dengan cepat.
"Kau masih ingin sekolah atau mau mengikuti syaratnya!" ucap Reynaldo menatap wajahnya dengan tegas.
"Syaratnya apa?" tanya Nabila dengan sedikit khawatir.
"Menikah denganku! Dan kau bisa melakukan apapun selama berada dalam pengawasanku!!" ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Syarat apaan seperti itu!! Tidakk aku tidak ingin menikah!!" ucap Nabila dengan sangat tegas.
"Baiklah kalau begitu kau tidak bisa sekolah" balas Reynaldo tanpa ragu.
"Okeeehhh! Aku akan menikah denganmu, tapi dengan beberapa syarat lagi!!" ucap Nabila kini menatap tajam ke arahnya.
"Kau banyak sekali maunya!" ucap Reynaldo dengan pandangan malas.
"Aku ingin menikah denganmu tapi tidak ada tidur berdua! Izinkan aku sekolah bahkan sampai kuliah nanti! Dan aku tidak ingin diatur dalam hal apapun..!" ucap Nabila dengan suara yang sangat tegas.
"Baiklah tapi kita harus satu kamar!" ucap Reynaldo dengan nada santai.
"Tidakk!! Aku terbiasa sendiri!"
"Tidak – satu kamar atau tidak kuliah??" ucap Reynaldo memberikan pilihan yang tidak menyenangkan.
"Sialan!! Itu bukan pilihan yang benar!!" pekik Nabila kesal.
"Kau hanya bisa memilih!"
"Okeh baiklah! Kalo begitu biarkan aku sekolah dulu..!" "Okeh, besok kita akan menikah dihadapan pendeta dan pejabat negara.." ucap Reynaldo dengan cepat.
"Itu terlalu cepat! Aku masih 19 tahun!"
"Menikah atau tidak bersekolah!"
"Ahhkkk bangsattt!! Baiklah!" teriak Nabila menyerah.
"Jangan mengumpat di istana milikku! Ini jatahmu untuk sebulan," ucap Reynaldo sambil meletakkan kartu hitam di atas ranjang, "dan setiap bulan akan aku transfer lagi. Kau kemana saja akan diantar oleh supir! Jika ingin keluar, harus memberitahuku dulu.." kemudian dia berjalan keluar dari kamar.
Nabila terkejut melihat kartu hitam yang ada di ranjangnya. Dia tidak terlalu peduli dengan kekayaan itu, hanya memasukkannya ke dalam tas ransel miliknya. Kemudian dia bersiap untuk pergi.
Semenjak Nabila ditukar dengan uang oleh sang ayah, Reynaldo telah menyuruh para pelayan membeli segala kebutuhannya – mulai dari pakaian, aksesoris, hingga kosmetik terbaik.
Kini Nabila berjalan menuju ruang makan untuk membawa bekal, karena menurutnya makanan kantin sekolah sangat mahal. Saat hendak keluar, dia melihat Reynaldo yang seolah-olah sedang menunggunya.
"Gunakan ini untuk berkomunikasi!!" ucap Reynaldo memberikan telepon genggam keluaran terbaru.
"Hemm..." ucap Nabila langsung memasukkannya ke dalam tasnya. Meskipun terkejut dengan hadiah itu, dia tidak ingin terlihat seperti wanita yang terpikat kekayaan.
Kini pengawal mengantarkan Nabila ke Sekolah Menengah Atas Elite Kota Perak.
Sekali lagi, seluruh siswa menatapnya dengan intens. Berbeda dengan guru dan pihak sekolah – setelah kedatangan Reynaldo yang menyatakan sebagai wali Nabila, mereka tidak berani mencari masalah dengan dia, karena tahu bahwa Reynaldo adalah salah satu investor terbesar dan memiliki kekuasaan yang tidak bisa dianggap remeh.
"Tuan, hari ini Tuan Raden Wijaya ingin menginap di istana.." ucap asisten pribadi Reynaldo yang datang memberitahu.
"Katakan padanya istanaku bukan tempat tinggal sementara.." ucap Reynaldo dengan nada dingin.
"Tuan Raden mengatakan jika tuan tidak mengizinkan, berarti tuan dan nona Nabila berbohong mengenai pernikahan.."
"Ahhhkkk sialaaan!! Dia ingin mencari informasi ternyata.., biarkan saja dia menginap. Pindahkan semua barang Nabila kekamarku, dan suruh pelayan menyiapkan barang-barang merek terkenal di kamar yang tadinya milik Nabila – jadikan kamar itu sebagai tempat koleksi barang wanita untuknya. Aku ingin lihat reaksi wanita jalang itu!!" ucap Reynaldo dengan wajah sinis.
"Baik tuan..!" ucap asistennya kemudian keluar dari ruangan.
"Baiklahh Tuan Raden – aku ingin lihat bagaimana reaksi wanita itu ketika tahu bahwa calon istriku dirawat seperti ratu!!" gumam Reynaldo dengan senyuman licik..