Reneesha Yeshe kirina al basten, adalah gadis cantik bermata hitam dan memiliki sifat dingin sedikit kejam, namun setelah kembali dari kematian, ia memutuskan kalau di kehidupan kedua ini, dirinya akan melakukan yang lebih extrem dari sebelumnya.
mon maap kalo cringe,
tapi minimal baca 12 bab.
di awal awal emang boring, tapi tolong tetap baca sampai bab terbaru ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Bab 20~
"Reneesha"
"paman harap, kamu dan putra kecil paman bisa akrab ya" ucap ya mengelus puncak kepala Rene.
seorang pria dan gadis kecil sedang duduk bersama di sebuah bangku taman.
menatap langit sore yang terlihat sangat cantik, di hadapan mereka ada 3 orang anak kecil yang sedang bermain bersama.
mereka bermain dengan sangat ria, terlihat dari senyum mereka yang tak pernah luntur bahkan setelah salah satu dari mereka ada yang terjatuh.
"huaaaaa!!!
" ahahahhah"
"ahahalahah" benar-benar mencerminkan seorang teman.
pria yang tadi duduk bersama Renee kecil, langsung berlari panik menghampiri anak yang terjatuh tadi.
"eh eh eh"
"kenapa? kamu gak papa?
" ada yang sakit gak?
"huaaaaaa!!!
Renee hanya menatap malas, menurutnya anak kecil itu merepotkan, ia lalu lanjut memakan es krim nya dengan tenang.
........
Oh ayolah, ini benar benar merepotkan.
Renee saat ini sedang di paksa merawat Kean yang sedang lemas karena terlalu banyak muntah.
bagaimana bisa anak itu muntah, padahal saat baru datang ke sini ia baik baik saja.
mungkin efek rindu yang terlalu dalam bisa menyumbat lubang hidung.
"hufftt"
Renee hanya mengehela nafas panjang sambil memegangi kepala nya, ia lalu berjalan mengambil minyak kayu putih dan teh hangat yang tadi di buat oleh Leo.
"Likean" panggil Renee pada pemuda yang sedang terbaring lemas itu.
ia menggoyang goyangkan tubuh nya namun masih saja tidak di respon.
Renee lalu dengan terpaksa mengangkat baju likean dan mengoleskan minyak kayu putih di perut dan dadanya.
ia lalu lanjut mengoleskan nya di hidung dan pelipis Kean.
"Ren"
"hmmm
" kayaknya gue udah mau mati deh" ucap nya lemas sambil menatap Renee memelas.
"mati aja sana"
Renee menyelimuti tubuh kean lalu keluar dari kamar, ia berniat membantu Riize agar pria itu tidak marah marah lagi padanya.
"lah"
"malah di tinggal, udah tau ada orang yang lagi sekarat.
setelah meratapi kepergian Renee, Kean lalu menutup matanya dan tertidur.
" gimana Kean Ren? tanya Karen saat melihat Renee keluar dari kamar tempat Kean berada.
"mau mati katanya" Renee membalas singkat ia lalu menguncir rambut nya dan memakai masker, tidak lupa dengan sarung tangan.
"gila! udah mau mati dia" karen lalu lanjut dengan pekerjaan nya yaitu mengangkut menuju mobil.
"Rey!
panggil Leo pada Rey yang sedang menyusun barang barang ke dalam kardus.
" apa?
"udah selesai"
"oh ok"
Rey lalu lanjut bergegas menyusun barang barang itu ke dalam kardus dan segera membawa nya keluar.
Renee menghampiri Riize yang terlihat kesusahan membawa kardus yang berisi botol botol.
Ia lalu menyuruh Riize meletakkan 2 kardus di punggung nya, dan mereka berdua lalu bekerja sama membawa dan menyusun semua barang ke mobil.
2 jam berlalu, hingga akhirnya mereka selesai membereskan semua isi labo Riize.
hal ini benar-benar membuat stamina mereka terkuras habis.
jika di hitung, sudah 26 kali mobil pickup yang pergi membawa barang Riize menuju markas Renee.
Omong-omong yang menyetir mobil pickup itu adalah Gabriel.
"Akhhhhh!!!
" akhirnya!!!
karen lalu terbaring kelelahan di rumput, ia dan Rey benar-benar merilekskan diri di rumput.
Likean hanya duduk tenang di samping pengemudi, pemuda itu benar-benar menikmati penderitaan saudara nya, dengan tawa jahat.
"anak muda benar-benar tidak memiliki cukup stamina" celetuk Riize sambil mengusap keringat nya.
Karen menatap tajam pria itu, ia lalu duduk bersila dengan wajah menantang.
"tua bangka"
"hah!
Riize tak Terima, ia membalas dengan tatapan yang tak kalah tajam.
" bocah tau apa "
"tua bangka bau tanah mending diem aja"
kilatan petir terlihat sangat jelas di antara tatapan mereka berdua.
benar-benar persaingan sengit, tidak ada yang mau mengalah.
Rey memasang ekpresi jengkel, suara keributan mereka benar-benar memenuhi telinganya.
ia menutup lubang telinga nya lalu tidur menyamping, jika di gabung usia mereka itu lebih dari 50 tahun loh.