Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siluet di Ambang Pintu
Lampu gantung kristal di aula utama kediaman Aeru tidak menyala, menyisakan kegelapan yang pekat dan dingin. Hanya cahaya bulan yang menyelinap malu-malu melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan memanjang yang tampak seperti jemari hantu di atas lantai marmer Italia.
Pukul tiga pagi. Sunyi itu mendadak pecah oleh suara kunci yang beradu dengan lubangnya. Pintu ek berukir rumit itu terbuka dengan sentakan kasar, menghantam dinding pembatas dengan bunyi dentum yang menggema ke seluruh penjuru rumah.
Seraphina Aeru melangkah masuk dengan kaki yang tidak lagi sinkron. Sepatu stiletto merah menyala di tangan kanannya terjuntai lemas, sementara tangan kirinya meraba dinding demi mencari keseimbangan. Aroma campuran antara parfum mahal, asap rokok kelab malam, dan alkohol murahan menguar dari tubuhnya. Rambut pirang platina yang biasanya tertata sempurna kini berantakan, menempel di lehernya yang berkeringat.
"Rumah sialan," gumamnya dengan suara serak. "Terlalu luas ... terlalu sepi."
Dia melempar sepatunya ke sembarang arah. Salah satu sepatu mendarat di atas karpet Persia, sementara yang lain menghilang di balik bayangan furnitur antik. Seraphina tertawa kecil, tawa yang terdengar kosong dan sedikit pahit. Dia mulai melangkah menuju tangga melingkar, membayangkan kasur empuknya yang sudah memanggil-mutil.
Namun, langkahnya terhenti secara mendadak. Jantungnya berdegup kencang, memompa sisa-sisa alkohol ke otaknya hingga dia merasa mual.
Di ujung koridor menuju tangga, berdiri sebuah siluet. Sosok itu diam, mematung seperti patung marmer yang menjadi bagian dari dekorasi rumah. Bahunya lebar, posturnya tegak sempurna, dan dia mengenakan setelan jas hitam yang seolah menyatu dengan kegelapan di sekelilingnya.
"Astaga!" Seraphina memekik, hampir terjatuh ke belakang. Dia menyipitkan mata, mencoba fokus pada sosok yang menghalangi jalannya. "Siapa di sana? Keluar atau aku panggil polisi!"
Sosok itu bergerak. Bukan lari, melainkan melangkah perlahan menuju area yang sedikit terkena cahaya bulan. Wajahnya yang kaku dan tegas perlahan terlihat. Rahang yang kokoh, hidung lurus, dan mata yang menatap tajam namun tanpa emosi.
"Ini saya, Nona Seraphina," suara itu terdengar berat dan datar, seperti dentuman lonceng gereja di tengah malam.
Seraphina mendengus, rasa takutnya seketika berganti menjadi kejengkelan yang meluap-luap. "Dareen Christ," desisnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Menunggu mangsa atau sedang berlatih jadi hantu?"
Dareen tidak menjawab hinaan itu. Dia hanya berdiri di sana, kedua tangannya tertaut di belakang punggung. "Anda terlambat tiga jam dari waktu yang ditentukan Tuan Seldin."
"Bodo amat dengan Seldin," Seraphina mengibaskan tangannya di udara dengan gerakan teatrikal. Dia mencoba melangkah melewati pria itu, namun sebelum bahunya sempat bersenggolan dengan lengan Dareen, pria itu bergeser. Hanya satu langkah kecil, namun sangat taktis. Dia kembali berdiri tepat di depan Seraphina, menutup akses menuju tangga.
Seraphina mendongak, matanya yang kemerahan menatap geram pada pria yang lebih tinggi darinya itu. "Minggir, Dareen. Aku mau tidur."
"Tidak sebelum Anda meminum ini," Dareen mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam tipis. Di telapak tangannya terdapat sebuah tablet putih kecil, dan di tangan lainnya, dia memegang segelas air putih yang tampak sangat dingin.
Seraphina menatap obat itu seolah-olah itu adalah racun. "Apa itu? Ekstasi? Atau obat tidur supaya kau tidak perlu menjagaku?"
"Obat pemulih mabuk dan air putih," jawab Dareen tanpa nada. "Seldin tidak ingin melihat adiknya muntah di atas meja makan pagi ini."
"Aku tidak butuh bantuanmu, aku tidak butuh obatmu, dan aku paling tidak butuh namamu disebut-sebut di depanku!" Seraphina berteriak, suaranya melengking di aula yang sepi. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh pria yang statusnya tidak lebih dari sekadar pelayan bersenjata di rumah ini.
"Minum, Nona," Dareen mengulangi dengan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Gelas itu kini tepat berada di depan bibir Seraphina.
Kilatan amarah yang liar muncul di mata Seraphina. Dia meraih gelas itu dengan kasar. Dareen melepaskannya, mengira gadis itu akhirnya menyerah. Namun, sedetik kemudian, Seraphina membalikkan tangannya.
Air dingin itu tumpah sepenuhnya, membasahi ujung celana kain mahal Dareen dan membanjiri sepatu kulit Oxford yang disemir mengkilap milik pria itu. Sisa airnya memercik ke lantai marmer yang bersih.
Seraphina melempar gelas kosong itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Dia kemudian menatap Dareen dengan senyum kemenangan yang bengis. "Aku tidak butuh pengasuh, Dareen. Dan aku tidak butuh anjing penjaga yang tidak tahu tempat. Sekarang, minggir dari hadapanku sebelum aku menyuruh Seldin membuangmu ke jalanan."
Keheningan kembali menyergap. Seraphina menunggu reaksi. Dia berharap Dareen akan marah, berteriak, atau setidaknya menunjukkan raut kesal karena sepatunya yang berharga jutaan rupiah itu kini basah kuyup oleh sisa air dan serpihan gelas.
Namun, Dareen Christ tetaplah Dareen Christ.
Dia tidak bergeming. Dia tidak menunduk untuk melihat sepatunya. Dia bahkan tidak berkedip. Matanya tetap terkunci pada wajah Seraphina, menembus lapisan riasan yang luntur dan sikap angkuh gadis itu. Dareen membiarkan air itu meresap ke dalam kain celananya, berdiri setegar batu karang di tengah badai.
"Anda sudah selesai, Nona?" tanya Dareen lirih. Suaranya tidak mengandung kemarahan, hanya kekosongan yang justru lebih menakutkan daripada teriakan.
Seraphina terpaku. "Kau ...."
"Jika sudah, mari ikut saya," Dareen berbalik badan dengan presisi militer, seolah insiden penyiraman itu tidak pernah terjadi.
"Ke mana? Aku bilang aku mau tidur!"
"Tuan Seldin menunggu Anda di ruang makan. Sekarang," ucap Dareen sambil mulai melangkah menuju koridor sayap kanan, tempat ruang makan utama berada.
"Jam tiga pagi?! Dia gila? Aku tidak mau!" Seraphina mencoba berbalik ke arah tangga, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara langkah kaki Dareen yang berat di belakangnya. Pria itu tidak menyentuhnya, tapi auranya terasa seperti rantai yang menjerat leher Seraphina.
"Tuan Seldin mengatakan, jika Anda menolak, saya diperbolehkan menggunakan kekuatan fisik untuk membawa Anda ke sana. Saya yakin Anda tidak ingin mengakhiri malam ini dengan memar di pergelangan tangan," Dareen berkata tanpa menoleh, namun nada suaranya sangat serius.
Seraphina mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Dia benci betapa pria ini selalu tahu cara menekannya. Dia benci bagaimana Dareen tidak pernah terlihat "kalah" meski dia sudah dihina sedemikian rupa.
Dengan geram, Seraphina menghentakkan kakinya yang telanjang di atas lantai dingin, mengikuti langkah Dareen menuju ruang makan. "Awas kau, Dareen Christ," bisiknya dengan penuh kebencian. "Suatu saat nanti, aku yang akan membuatmu berlutut dan memohon ampun padaku."
Dareen tidak menanggapi. Dia hanya terus berjalan, memimpin jalan menuju "neraka" pribadi Seraphina yang sudah menunggu di ujung koridor. Sepatunya yang basah meninggalkan jejak lembap di atas marmer, satu-satunya tanda bahwa konflik kecil baru saja terjadi di antara mereka.
Di depan pintu ruang makan yang tertutup rapat, Dareen berhenti. Dia membuka pintu ganda itu dengan perlahan, membiarkan cahaya terang dari dalam ruangan menusuk mata Seraphina yang lelah.
"Nona Seraphina sudah tiba, Tuan," lapor Dareen sambil membungkuk rendah saat Seraphina melangkah masuk dengan sisa-sisa keberaniannya.
Di ujung meja panjang yang penuh dengan hidangan dingin, Seldin Aeru duduk dengan setelan jas lengkap, sedang menyesap kopi hitamnya seolah-olah ini adalah jam sepuluh pagi yang normal. Dia tidak mendongak, namun suaranya yang dingin membelah ruangan.
"Duduk, Seraphina. Kita perlu bicara tentang kelakuanmu di kelab malam tadi."
Seraphina melirik ke arah Dareen yang kini berdiri di sudut ruangan, kembali menjadi bayangan yang tak bersuara. Gadis itu tahu, malam panjangnya baru saja dimulai.