Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Ospek Mertua
"Di makan yang benar!" ucap Rakash melihat bagaimana tingkat istrinya itu yang tidak ada niat untuk memakan buah pisang tersebut.
"Apa caranya seperti ini?" tanya Letisha menggoda suaminya saat memakan buah pisang tersebut dengan bibirnya yang terlihat manja seperti mengumpamakan pisang itu dengan sesuatu hal.
"Hmmmmm," Letisha bahkan menyuarakan sesuatu membuat Rakash geleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya di hadapannya itu.
Mau sakit dan tidak tetap saja kelakuannya aneh.
"Ayo! kamu sedang membayangkan apa? Apa kamu bayangkan sesuatu dengan aku akan melakukan hal ini pada milikku?" tanyanya menatap penuh selidik suaminya itu.
"Makan yang benar dan jangan main-main dengan makanan!" tegas Rakash.
Letisha menghela nafas dan akhirnya pisang bersama dengan obat tersebut masuk juga ke dalam perutnya.
"Sekarang kamu istirahat!" Rakash membantu Letisha kembali membaringkan tubuhnya dan juga menyelimuti istrinya itu.
Ketika Rakash ingin pergi dan tiba-tiba saja tangannya ditahan Letisha.
"Jangan kemana-mana! aku tidak ingin sendirian di dalam rumah, bagaimana jika nanti aku membutuhkan sesuatu," ucapnya dengan sangat manja.
"Tidak! Saya tidak kemana-mana dan hanya membawa mangkuk kotor keluar dari kamar kamu," ucap Rakash.
"Kamu memangnya tidak ke kantor?" tanya Letisha memastikan membuat Rakash menggelengkan kepala.
"Tidak terlalu banyak pekerjaan di kantor, kamu istirahatlah!" ucap Rakash membuat Letisha mengganggukan kepala.
Rakash ternyata merawat istrinya dengan sangat baik, sebentar-sebentar memeriksa suhu tubuhnya, mengantarkan ke toilet dan selalu mengambilkan air putih jika dibutuhkan Letisha. Letisha jika sakit manjanya naudzubillah.
Rakash juga sampai sholat di dalam kamar Letisha, walau kesibukannya dalam merawat istrinya tetapi ibadahnya tidak akan pernah tinggal. Saat Letisha membuka matanya dan melihat bagaimana suaminya itu semakin tampan dengan gerakan salatnya yang sangat khusuk.
Letisha dalam sakitnya tersenyum tipis, dia merasa bangga memiliki suami seperti Rakash, orangnya tidak terlalu banyak bicara tetapi juga tidak pernah mengekang dan juga mengaturnya. Rakash punya cara sendiri dalam memberitahu istrinya jika menurutnya tidak cocok.
Setelah Rakash selesai sholat dan matanya langsung tertuju kepada Letisha yang ternyata dengan cepat menutup mata kembali.
Rakash berdiri dengan mengangkat sajadahnya dan kemudian menghampiri Letisha dengan kembali memeriksa suhu tubuh tersebut.
"Alhamdulillah panasnya sudah mulai berkurang," ucap Rakash merasa lega.
Lagi dan lagi dia memperbaiki selimut istrinya dan kemudian langsung keluar dari kamar tersebut.
"Benar-benar penuh dengan perhatian," batin Letisha merasa begitu sangat beruntung karena diberikan perhatian yang sangat besar oleh suaminya.
****
Letisha merasa tidurnya sudah begitu lama dengan membuka matanya, samar-samar dilihatnya seseorang sedang berdiri mengambil sesuatu dari atas nakas.
Letisha memastikan orang tersebut dengan membuka matanya untuk memastikan orang tersebut.
"Tante Sulis!" ucap Letisha langsung terduduk dengan wajah kagetnya.
"Pelan-pelan Letisha, kamu sedang sakit jangan terlalu mengeluarkan energi dengan banyak," ucap Sulis.
"Ta- Tante kenapa bisa ada di sini?" tanya Letisha.
"Hey, saya adalah ibu dari suami kamu dan sangat tidak sopan jika kamu memanggil saya Tante. Kamu juga putri saya dan panggil saya Mama seperti Rakash memanggil saya," ucap Sulis.
"Hmmm, lalu kenapa Tante, maksud saya Mama ada di sini?" tanya Letisha.
"Mama tadi pagi bertemu dengan Dokter Indra, Dokter pribadi keluarga Adi Pratama, dan ternyata beliau mengatakan baru saja dari rumah Rakash, karena kamu sedang sakit," jawab Sulis
"Jadi Mama memutuskan untuk melihat keadaan kamu, Karena Mama juga mengetahui asisten rumah tangga di rumah ini sedang pulang kampung. Jadi pasti tidak akan ada yang merawat kamu," ucap Sulis.
"Hah!" Letisha sepertinya benar-benar kaget dengan kedatangan Ibu mertuanya itu.
"Kamu sudah bangun yang sebaiknya langsung saja makan malam," ucap Sulis.
"Malam! Apa ini sudah malam?" tanya Letisha.
"Benar Letisha, mungkin karena kelelahan dan pengaruh obat yang kamu minum tadi pagi, jadi kamu tidurnya terlalu lelap, jadi sekarang sebaiknya kamu makan dulu," ucap Sulis sudah mengambil makanan tersebut dan duduk di samping Letisha.
Mata Letisha melihat ke arah piring tersebut dan benar-benar tidak selera untuk menikmati makanan berat dengan jenis lauk yang disiapkan Ibu mertuanya itu.
"Ayo di makan!" Sulis bahkan menyuapi menantunya membuat Letisha membuka mulut dengan terpaksa.
Letisha sepertinya tidak bisa bertingkah di depan Ibu mertuanya dan jika itu suaminya sudah pasti dia banyak drama.
"Hmmm, bagaimana ini, aku ingin sekali memuntahkan makanan ini, benar-benar tidak cocok di lambungku," batin Letisha ternyata tidak bisa berbuat apa-apa dan padahal sebelum dia menikah dengan Rakash.
Letisha banyak tingkah dan ingin membuat keluarga suaminya itu tidak menyukainya dan sekarang justru dia tidak berani melakukan hal itu.
"Bukankah waktu itu kamu pernah mengatakan kepada Mama, bahwa ini adalah makanan kesukaan kamu, Mama sengaja membuatkannya secara langsung di rumah ini agar masih terasa hangat dan ketika kamu bangun dimakan masih enak," ucap Sulis dengan begitu santai menyuapi menantunya tanpa ingin tahu menantunya menyukai makanan itu apa tidak.
"Jika orang sakit lidahnya akan bermasalah dan mau sesuka apapun dengan makanan itu pasti sudah tidak terasa enak lagi," batin Letisha.
"Maafkan Mama Letisha, seharusnya ketika kalian menikah pindah saja ke rumah Mama, tetapi karena pekerjaan Rakash begitu banyak dan tidak mungkin bolak-balik ke Bogor, jadi kamu tidak bisa tinggal di rumah Mama dan Mama tidak bisa menyiapkan makanan setiap hari untuk kamu," ucap Sulis mengingatkan menantunya itu pada pembicaraan mereka bagaimana Letisha seolah-olah menggambarkan jika dia menikah maka Ibu suaminya akan menjadi pembantu untuknya.
"Tetapi Mama akan bicarakan dengan Rakash agar bisa menyesuaikan jadwal dan kamu bisa tinggal bersama Mama dan yang lain," ucap Sulis.
"Tidak. Ma!" Letisha langsung menjawab dengan cepat.
"Hmmmm, Mama tidak perlu repot-repot seperti itu. Letisha akan tinggal di sini saja bersama dengan suami dan bukankah seorang istri memang harus tinggal dengan suaminya," ucap Letisha.
"Tetapi kamu sangat ingin sekali tinggal bersama mertua jika sudah menikah agar kamu bisa makan enak setiap hari," sahut Sulis.
"Itu hanya candaan Letisha saja, please jangan dianggap serius," ucapnya dengan wajahnya tampak cemberut.
Letisha tidak mungkin tinggal dengan ibu mertuanya yang memang sangat baik dan begitu perhatian, Letisha yang adanya tidak akan bebas dan bukannya menunjukkan keburukannya kepada Ibu mertuanya agar dia dan Rakash berpisah dan justru Letisha tidak berani melakukan hal itu.
"Mama, sudah tidak ingin memakannya lagi," ucap Letisha dengan menunduk akhirnya jujur bahwa dia benar-benar sudah sangat kenyang.
"Baiklah!" Sulis terlihat begitu santai dan bahkan mengusap rambut Letisha.
"Yang terpenting kamu sudah makan dan perut kamu sudah tidak kosong, sekarang waktunya kamu minum obat," ucap Sulis.
"Obat lagi! Bagaimana ini? Isss pria tua itu pasti sengaja menyerahkanku kepada ibunya agar aku diberi pelajaran, aku tidak mungkin menolak seperti anak kecil dan mata bisa aku akan diejek habis-habisan," batin Letisha.
"Ayo sayang, kamu langsung minum obatnya," Sulis sudah memegang obat tersebut dan lihatlah bagaimana terpaksa nya Letisha meminum obat tersebut dan baru saja sampai di lidahnya sudah langsung dibuang dengan memuntahkan obat itu.
"Pelan-pelan Letisha!" Sulis juga terlihat begitu sabar dalam merawat menantunya itu.
"Maaf!" ucapnya dengan manja membuat Sulis hanya tersenyum dan justru gemas dengan menantunya itu.
Bersambung.. .