Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Janji Davin
Davin mematut dirinya di depan cermin, memastikan penampilannya sempurna. Dia mengenakan pakaian semi formal; blazer navy kemeja putih dipadu celana chino warna khaki serta sepatu loafer coklat membuat tampilan dirinya terlihat rapi dan kharismatik yang memancarkan kesan santai sekaligus profesional. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa kagum dan tertarik. Kombinasi warna yang dipilihnya juga memberikan nuansa yang hangat dan modern, sangat cocok dengan cuaca pagi itu yang sangat cerah.
"Sempurna..." ucapnya seraya menyisir rambutnya, membiarkan sedikit poninya jatuh di dahi memberi kesan segar dan trendy.
Hari ini merupakan peresmian perumahan yang telah rampung pembangunannya. Dan pagi ini, Davin sengaja ijin tidak ke Puskesmas serta meminta Pak Mantri Kesehatan untuk menggantikan tugasnya.
"Sebelum ke acara itu,apa sebaiknya aku menemui Melodi dulu, ya?" gumamnya sambil menatap pantulan dirinya.
"Haah...aku sudah setampan ini, masa iya dia tak melihatku?" Dia tersenyum seraya mengusap bahunya seolah menyingkirkan ketombe yang menempel.
Beberapa saat lalu dia baru saja menerima rekaman suara dari seseorang yang diminta bantuannya untuk membuatnya lebih dekat dengan Melodi.
"Hahhh..." Davin menarik napas panjang dan membuangnya kasar. "Di saat gadis lain berusaha mengejarku demi kepentingannya; entah karir atau demi hidup enak, tapi dia masih dengan keraguannya. Aku jadi semakin yakin untuk segera mengikatnya. Dia benar-benar gadis langka."
Davin mengakhiri bercerminnya, setelah memastikan penampilannya sempurna. Tak lupa menyemprotkan parfum mahalnya di pergelangan tangan dan lehernya. Kemudian mengambil dompet juga ponselnya, memasukkannya ke dalam saku blazer lalu keluar dari pondoknya.
.
Beberapa saat kemudian, Davin sudah berdiri di depan rumah Melodi. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, tetapi secara bersamaan pintu terbuka dari dalam. Tampak sosok penuh Melodi di hadapannya yang terkesima melihat kehadirannya.
"Assalamualaikum, wahai calon bidadari surgaku," sapanya sembari tersenyum menggoda.
Melodi tak mampu berkata-kata. Bibirnya terbuka, tetapi suaranya seakan nyangkut di kerongkongan. Ia sungguh terpukau oleh penampilan Davin yang menurutnya sangat sempurna. Begitu tampan dan berkharisma.
"Waalaikumsalam." Alvian datang dari dalam dan menyahut salam dari Davin.
"Wah...! Kak Davin tampan sekali?" seru Alvian dengan antusias.
Mendapat pujian dari Alvian, Davin tersenyum manis menampilkan lesung pipinya di sebelah kanan, sehingga menambah daya tarik visualnya.
"Bagaimana penampilan kakak pagi ini?" tanyanya, lalu mendekat pada Alvian dan berjongkok.
"Kak Davin sangat keren," jawabnya jujur.
"Benarkah?" Senyum Davin makin lebar.
"Iya kan, Kak Mel? Kak Davin sangat tampan dan keren?" tanyanya kemudian pada sang kakak seraya menatapnya meminta persetujuan.
Melodi tersentak, ia bingung harus menjawab apa. Ingin menjawab sama seperti adiknya, tetapi bibirnya seolah sulit digerakkan, saking terpukaunya dengan sosok Davin. Karena pada kenyataannya, hanya memakai pakaian santai saja, visual pemuda itu sudah sangat menonjol, terus mau ngomong apa lagi. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum kaku.
Davin mengerucutkan bibirnya kecewa, karena ekspektasinya terlalu tinggi pada Melodi dan gadis itu hanya mengangguk saja. Padahal Davin tidak tahu saja bahwa Melodi mati-matian menahan degup jantungnya yang seperti orang habis lari estafet. Dan rasa insecure dalam dirinya kembali mencuat.
"Emmm... maaf, s-saya ha-rus berangkat bekerja. Permisi..." Melodi segera keluar dari dalam rumah. Menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat meninggalkan halaman rumahnya.
Davin memiringkan kepalanya, menatap kepergian Melodi, lalu membuang napas kasar. Dia menatap Alvian dengan intens. "Vian, menurutmu Mbak Mel suka nggak sama Kak Davin?"
"Apa Kak Davin beneran suka sama Kak Mel?" tanya Alvian balik.
"Ooh, jelas dong," sahut Davin yakin. "Emang kamu nggak bisa lihat ya, perjuangan kakak?"
"Vian pernah dengar doa Kak Mel pas sholat malam...."
"Gimana...gimana doanya?" potong Davin dengan antusias.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"
"Eeh... Malah ngeledek lagi...?" Davin lantas mengeluarkan dompetnya mengambil uang merah satu lembar dan memberikannya pada Alvian.
"Buat apa ini, Kak? Kakak mau coba menyuap Vian, ya?"
"Bukan begitu, tapi...?
"Inilah mungkin yang membuat Kak Mel ragu sama Kak Davin. Yang sedikit uangnya saja banyak bertingkah, apalagi Kakak yang banyak uangnya?" Alvian menatap Davin, pandangannya tak terbaca.
Davin mengembalikan uangnya ke dalam dompet. Lalu meraih tangan kecil Alvian dan menggenggamnya erat sambil mengusap-usapnya lembut.
"Dengar ya, Vian. Kakak itu sangat serius tulus cinta sama Melodi. Kakak janji sama diri sendiri dan kamu sebagai saksinya, kakak nggak akan menyia-nyiakan wanita langka seperti Melodi. Dan keluarga kakak sangat menghargai pilihan anak-anaknya," ujar Davin serius.
"Apa kamu mengerti maksud kakak?" Davin menatap Alvian penuh harap.
Alvian mengangguk, netra kecilnya menatap Davin seolah mencari kesungguhan.
"Sekarang katakan apa doa Mbak Mel?"
"Emmm... Kak Mel bilang kalau emang Kak Davin jodoh terbaik, mohon didekatkan dan dipermudah jalannya, tapi kalau bukan jodohnya tolong dijauhkan..."
Davin tersenyum lebar, dia berdiri merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil berputar layaknya melakukan selebrasi.
Alvian mengernyit bingung, melihat tingkah Davin yang menurutnya sangat konyol. Mungkin dalam benaknya berpikir, 'kenapa orang dewasa sangat aneh ketika sedang jatuh cinta atau mencintai seorang gadis?'
"Makasih, Vian." Davin mencium kepala Alvian tanpa ragu. Senyum tak lepas dari bibirnya.
"Kamu pegang janji kakak ya, kakak akan selalu mencintai Melodi dalam suka dan duka, juga menyayangimu. Kakak akan lakukan apapun untuk membahagiakan kalian," ucapnya penuh keyakinan.
"Dan tugas kamu adalah membantu kakak meyakinkan Kak Mel. Apa kamu bersedia?"
"Iya, Kak. Vian, siap," jawab Alvian. Entah bocah itu mengerti atau tidak, yang pasti dia melihat ada harapan untuk hari esok lebih baik bersama Davin.
Lalu bagaimana dengan Melodi? Apa ia juga sepemikiran dengan Alvian? Atau ia akan lakukan apapun asalkan adiknya bahagia?
.
Tolong, jangan numpuk bab dalam membacanya ya, Gaes. Moms udah baik hati up 1 bab tiap hari, karena moms tahu yang kalian baca bukan cuma karya moms saja, jadi mohon pengertiannya, ya. Terima kasih.🙏
tidak akan tinggal diam mengenai hal ini.
tak bukan taj mom typo nih
Gagal rencanamu Renata dan semoga Davin melaporkan hal ini ke manajemen rumah sakit, biar Renata kena sanksi dan berharap dikeluarkan