Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: BADAI SETELAH HUJAN
Suara guruh kembali menggelegar, seolah merestui ketegangan yang merambat di antara tiga manusia yang basah kuyup di atap gedung sekolah itu. Hujan Surabaya sore ini tidak main-main, angin kencang menampar wajah mereka bertiga, namun tidak ada yang bergeming.
Vanya mengarahkan kamera ponselnya tepat ke wajah Keyla yang pucat pasi. Lampu kilat menyala sesaat, membelah keremangan sore yang tertutup mendung tebal.
"Satu foto untuk kenang-kenangan," ujar Vanya dengan nada manis yang berbisa. "Judulnya apa ya yang bagus? 'Kapten Basket SMA Cakrawala Terpadu Tertangkap Basah Bersama Penguntit Kelas Kakap'? Atau mungkin, 'Keyla Aluna: Di Balik Wajah Polos, Ternyata Obsesif'?"
Keyla merasakan darahnya berdesir dingin, lebih dingin dari air hujan yang merembes ke seragam putih abu-abunya. Ia tahu kekuatan media sosial. Ia tahu bagaimana satu unggahan dari Vanya Clarissa—Ratu Lebah sekolah dengan puluhan ribu pengikut—bisa menghancurkan sisa masa SMA-nya dalam hitungan detik. Reputasi sebagai 'invisible girl' yang selama ini ia jaga demi kenyamanan, akan berubah menjadi 'public enemy'.
"Vanya, gue peringatin lo sekali lagi. Hapus," suara Bintang terdengar tenang, namun ada ancaman nyata di balik intonasinya. Cengkeramannya di tangan Keyla mengerat, bukan menyakiti, tapi memberi sinyal: *Aku di sini.*
"Kenapa gue harus hapus?" Vanya tertawa kecil, menurunkan ponselnya namun tetap menggenggamnya erat. "Ini berita besar, Bin. Lo pikir orang-orang bakal diem aja tau idola mereka dipacari sama cewek... *freak* kayak dia? Yang cuma berani nulis surat kaleng dan sembunyi di laci meja lo?"
"Dia nggak sembunyi," potong Bintang tajam. Ia melangkah maju, memaksa Keyla ikut bergerak bersamanya, menantang Vanya. "Dia menulis. Dia menuangkan pemikirannya di saat orang lain cuma sibuk mikirin *skin care* dan popularitas semu. Dan lo tau apa yang paling menyedihkan, Van? Lo harus mencuri identitas dia cuma biar gue mau ngelirik lo."
Kalimat itu menohok Vanya tepat di ulu hati. Wajah cantiknya memerah padam, campuran antara marah dan malu. Air hujan melunturkan maskaranya, membuat riasannya berantakan, mencerminkan kekacauan rencananya.
"Lo bakal nyesel, Bin," desis Vanya, suaranya bergetar menahan amarah. "Lo pikir dia pantas buat lo? Lihat dia! Dia bahkan nggak berani natap mata gue!"
Keyla menunduk. Insting alaminya menyuruhnya untuk lari, untuk menghilang, untuk kembali menjadi debu bintang yang tak terlihat. Tapi kemudian, ia merasakan hangat tangan Bintang. Ia teringat draf surat yang kini basah di saku celana cowok itu. Surat di mana ia akhirnya jujur.
*Kalau aku lari sekarang, aku bukan Cassiopeia. Aku cuma pengecut.*
Perlahan, dengan napas yang memburu, Keyla mengangkat wajahnya. Ia tidak menatap Vanya dengan kebencian, melainkan dengan tatapan lelah namun tegas. Tatapan seseorang yang sudah selesai bersembunyi.
"Aku memang takut sama kamu, Vanya," suara Keyla terdengar kecil, hampir tenggelam oleh suara hujan, tapi cukup jelas bagi mereka bertiga. "Kamu cantik, populer, dan punya segalanya yang nggak aku punya. Tapi... surat-surat itu bukan tentang siapa yang paling bersinar. Itu tentang siapa yang paling mengerti gelap."
Keyla menelan ludah, memberanikan diri melanjutkan meski kakinya gemetar. "Dan kamu... kamu nggak pernah mengerti Bintang Rigel. Kamu cuma mengerti 'Kapten Basket' yang ingin kamu pamerkan."
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang menghantam beton.
Rahang Vanya mengeras. Ia seperti baru saja ditampar oleh orang yang selama ini ia anggap semut. Sebelum Vanya sempat membalas dengan cacian lain, Bintang sudah menarik Keyla menjauh.
"Kita pergi, Key," ujar Bintang tegas, tidak lagi memedulikan Vanya yang berdiri mematung di tengah hujan. "Urusan gue sama dia udah selesai."
"Tapi fotonya..." Keyla berbisik cemas saat Bintang membawanya menuju pintu tangga darurat.
Bintang berhenti tepat di ambang pintu, menoleh ke arah Vanya yang masih berdiri di sana dengan ponsel di tangan. "Post aja, Van," tantang Bintang lantang. "Post foto itu. Biar satu sekolah tau kalau gue, Bintang Rigel, memilih Keyla Aluna. Biar mereka tau kalau gue bangga sama dia. Dan saat lo lakuin itu, gue juga nggak akan segan untuk cerita ke semua orang tentang kebohongan lo soal Cassiopeia."
Itu adalah skakmat. Bintang tahu Vanya terlalu mencintai citranya sendiri. Membuka aib Keyla berarti membuka risiko aibnya sendiri terbongkar.
Vanya menjerit frustrasi, melempar tas mahalnya ke lantai yang basah saat pintu besi berat itu tertutup, memisahkan dunianya dengan dunia Bintang dan Keyla.
***
Suasana di tangga darurat jauh lebih tenang, meski gema hujan masih terdengar samar. Mereka berdua basah kuyup, air menetes dari ujung seragam ke lantai keramik yang dingin. Napas mereka beradu dalam kesunyian yang canggung namun melegakan.
Bintang melepaskan genggaman tangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, menampilkan keningnya yang lebar. Keyla tidak berani menatapnya langsung. Ia memeluk dirinya sendiri, menggigil kedinginan.
"Key," panggil Bintang lembut.
"Maaf..." cicit Keyla. "Maaf karena... karena aku nggak jujur dari awal. Maaf bikin kamu basah kuyup. Maaf bikin kamu ribut sama Vanya."
Bintang tertawa pelan, tawa yang tulus dan hangat, sangat kontras dengan situasi mereka. Ia melepas jaket *varsity* basketnya—yang ajaibnya bagian dalamnya masih agak kering—dan menyampirkannya ke bahu Keyla. Aroma parfum maskulin bercampur petrichor langsung menyergap indra penciuman Keyla.
"Kamu minta maaf buat hal yang justru bikin gue lega?" Bintang menunduk, berusaha mencari tatapan mata Keyla. "Lo tau betapa frustrasinya gue ngomong sama 'Cassiopeia' palsu selama seminggu ini? Gue nanya soal rasi bintang, dia jawab soal zodiak. Gue nanya soal nebula, dia malah ngomongin warna kuteks."
Keyla tersenyum tipis, mau tak mau merasa geli.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang?" tanya Bintang lagi, kali ini nadanya lebih serius. "Kenapa harus sembunyi?"
Keyla memainkan ujung jaket Bintang yang kebesaran di tubuhnya. "Karena aku takut realita nggak seindah surat-surat itu, Bin. Di surat, aku bisa jadi siapa aja. Aku bisa jadi puitis, berani, dan menarik. Tapi di dunia nyata... aku cuma Keyla. Cewek IPA 2 yang kalau ngomong suka gagap dan lebih suka ngobrol sama buku daripada sama orang."
"Dan menurut lo gue nggak suka itu?" Bintang melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. "Key, gue nggak jatuh cinta sama kertas. Gue jatuh cinta sama pikiran orang yang nulis di atasnya. Dan sekarang, setelah gue tau kalau pikiran itu milik cewek yang suka mojok di perpus sambil baca buku astronomi... *it makes sense*. Semuanya masuk akal."
Jantung Keyla berdetak begitu kencang hingga ia takut Bintang bisa mendengarnya. "Tapi Vanya... dia cantik, dia..."
"Vanya itu matahari, Key. Silau, panas, dan pengen jadi pusat tata surya," potong Bintang. Ia menyentuh dagu Keyla, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. "Tapi gue nggak nyari matahari. Gue nyari bintang utara. Penunjuk arah saat gue tersesat. *And that's you*."
Wajah Keyla memanas hebat. Ia tidak pernah menyangka Bintang Rigel bisa segombal ini, atau mungkin se-tulus ini. Segala ketakutannya tentang penolakan seolah luruh bersama air hujan yang menetes dari rambutnya.
"Ayo pulang," ajak Bintang akhirnya, menarik tangannya namun tetap menatap Keyla intens. "Dinda pasti udah nyariin lo. Gue anter lo balik. Nggak ada penolakan."
Keyla mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia berjalan di samping Bintang Rigel bukan sebagai bayangan, tapi sebagai seseorang yang nyata.
Mereka menuruni tangga menuju lobi sekolah yang sudah sepi. Hujan mulai reda menjadi gerimis halus. Bintang bersikeras mengantar Keyla sampai ke parkiran mobilnya. Di dalam mobil Bintang yang hangat, Keyla merasa aman. Seolah badai tadi hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara, tapi itu bukan keheningan yang menyiksa. Bintang menyetel radio yang memutar lagu jazz pelan, sesekali melirik Keyla dan tersenyum. Keyla merasa seperti Cinderella yang sepatu kacanya baru saja pas, namun alih-alih sepatu kaca, ia mendapatkan jaket basket kapten tim.
Sesampainya di depan gerbang rumah Keyla, Bintang mematikan mesin. "Besok... di sekolah, lo nggak perlu sembunyi lagi ya?"
Keyla menatap mata cokelat itu. "Aku akan coba. Tapi mungkin pelan-pelan?"
"Pelan-pelan," setuju Bintang. "Gue bakal tunggu."
Keyla turun dari mobil dengan perasaan melambung. Ia melambaikan tangan saat mobil Bintang melaju menjauh, membelah genangan air di jalanan kompleks perumahan. Ia masuk ke dalam rumah, disambut omelan ibunya yang panik melihat kondisinya yang basah kuyup, tapi Keyla hanya bisa tersenyum simpul.
Setelah mandi air hangat dan berganti piyama, Keyla merebahkan diri di kasur. Ia meraih ponselnya yang sejak tadi ia tinggalkan di meja belajar. Ada lima belas panggilan tak terjawab dari Dinda.
Baru saja Keyla hendak menekan tombol panggil balik, sebuah notifikasi Instagram muncul di layar kuncinya. Bukan dari akun pribadi Vanya, tapi dari akun gosip sekolah, *@Cakrawala_Lambe*.
Jantung Keyla yang tadi sudah tenang, kembali mencelos jatuh ke dasar perut.
**@Cakrawala_Lambe:** *BREAKING NEWS! Ternyata selama ini ada 'Snake' di kelas XI IPA 2 yang mencoba merebut Pangeran Sekolah kita dari Queen V. Bukti chat dan DM teror akan di-spill malam ini jam 8! #DramaCakrawala #FakeFriend*
Keyla menahan napas. Foto yang diunggah memang buram dan disensor, tapi Keyla mengenali siluet itu. Itu bukan foto dari atap sekolah. Itu adalah foto lama yang diedit sedemikian rupa, seolah Keyla sedang memata-matai Bintang dari jauh dengan *caption* yang memutarbalikkan fakta.
Vanya tidak memposting foto mereka berdua di atap. Vanya melakukan sesuatu yang jauh lebih licik: Ia tidak menyerang hubungan Bintang dan Keyla secara langsung. Ia menyerang karakter Keyla, membangun narasi bahwa Keyla adalah penguntit berbahaya yang perlu dijauhi, memposisikan dirinya sebagai korban yang 'diganggu' oleh obsesi Keyla.
Telepon dari Dinda masuk lagi. Dengan tangan gemetar, Keyla mengangkatnya.
"Key! Lo jangan buka IG!" Suara Dinda terdengar panik di ujung sana, logat Suroboyo-nya makin kental karena emosi. "Si Uler Vanya main *playing victim*! Satu sekolah lagi geger, Key!"
Keyla memandang nanar ke arah jendela kamarnya yang masih basah oleh sisa hujan. Bintang mungkin sudah memilihnya, tapi Vanya baru saja menyatakan perang terbuka kepada seluruh dunia. Dan kali ini, Keyla tidak yakin apakah jaket Bintang cukup untuk melindunginya dari badai hujatan yang akan datang.