NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: DEBRIS DAN GRAVITASI

Lantai koridor terasa dingin menembus kain rok abu-abu Keyla, namun itu tidak sebanding dengan kebekuan yang merambat di dadanya. Ia menatap layar ponsel yang masih menyala, menampilkan foto buram punggung Bintang yang menjauh—sebuah visualisasi sempurna dari ketakutan terbesarnya. Gosip itu menyebar lebih cepat daripada cahaya, membakar reputasi hubungan mereka menjadi abu bahkan sebelum Keyla sempat menjelaskan apa pun.

"Heh, Kon iku sopo? Keyla opo demit?" (Kamu itu siapa? Keyla atau hantu?)

Suara itu memecah gelembung kepanikan Keyla. Ia mendongak, mendapati Dinda berdiri menjulang di hadapannya dengan tangan bersedekap. Wajah sahabatnya itu campuran antara kekaguman ngeri dan kekhawatiran tulus.

Keyla menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Din... kamu denger?"

"Denger? Aku ndelok kabeh, Key!" seru Dinda setengah berbisik, lalu berjongkok di hadapan Keyla. "Gila... Sumpah, aku merinding. Cara kamu ngomong sama Vanya barusan... itu bukan Keyla yang nangis gara-gara nggak bisa ngerjain soal integral. Itu tadi... dingin pol. Medeni."

Keyla tertawa hambar, suara yang terdengar pecah di ujungnya. "Aku harus ngelakuin itu, Din. Kalau nggak, beasiswaku dicabut. Aku bakal di-DO."

Ekspresi Dinda berubah drastis. Matanya membulat. "Jancuk! Serius? Si Uler Vanya ngancem gitu?"

Keyla mengangguk lemah, menyerahkan ponselnya yang masih menampilkan laman akun gosip 'Cakrawala Lambe'. "Dan sekarang, aku mungkin nyelametin sekolahku, tapi aku ngancurin ini."

Dinda menyambar ponsel itu, memindai beritanya dengan kening berkerut dalam. "Halah, lambemu! Foto buram gini dipercaya. Netizen sekolah ini emang kurang asupan gizi otak."

Dinda menarik lengan Keyla, memaksanya berdiri. "Dengerin aku. Kamu barusan ricuh sama Vanya, ketua geng plastik itu, dan kamu menang. Kamu pikir ngelurusin masalah sama Bintang bakal lebih susah dari itu? Bintang itu bucin sama kamu, Key. Dia bukan Vanya yang otaknya isinya cuma pom-pom sama followers."

"Tapi aku bohong sama dia, Din. Aku jauhin dia seharian ini biar dia nggak kena masalahku. Dan sekarang berita ini..."

"Ya makanya dijelasin!" potong Dinda gemas, menepuk bahu Keyla keras-keras—kebiasaan khasnya untuk mentransfer keberanian. "Sana cari dia. Jelasin kalau kamu lagi mode 'survival', bukan mode 'minta putus'. Kalau kamu diem aja di sini kayak onggokan sampah antariksa, ya jelas dia bakal salah paham."

Metafora 'sampah antariksa' itu entah kenapa menampar kesadaran Keyla. Benar. Puing-puing satelit tidak akan berhenti mengorbit hanya karena tabrakan. Mereka terus bergerak. Keyla menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tadi ia gunakan untuk memeras Vanya.

"Oke. Aku cari dia."

"Nah, ngono lho!" Dinda menyeringai lebar. "Urusan Vanya biar aku yang pantau. Kalau dia macem-macem lagi, tak sate arek iku."

***

Keyla berlari kecil menyusuri koridor, mengabaikan tatapan-tatapan kepo dari siswa lain. Bisik-bisik terdengar seperti dengungan lebah di telinganya—"Itu ceweknya kan?", "Katanya udah putus?", "Kasihan Bintang dapet cewek drama." Keyla menulikan telinganya. Fokusnya hanya satu: Bintang Rigel.

Ia tidak ada di kelas XII IPA 1. Tidak ada di kantin. Tidak ada di lapangan basket.

Insting Keyla membawanya ke satu tempat. Tempat di mana Bintang pernah berkata ia merasa paling aman dari ekspektasi dunia.

Rooftop gedung perpustakaan lama.

Dengan napas terengah, Keyla mendorong pintu besi yang berat itu. Angin sore Surabaya yang hangat langsung menerpa wajahnya, membawa aroma debu dan daun kering. Dan di sana, duduk di tepi beton pembatas dengan kaki menggantung di udara, adalah siluet yang ia cari.

Bintang tidak menoleh saat pintu terbuka. Punggungnya yang lebar terbalut seragam basket yang sedikit kusut. Bahunya tidak tegap seperti biasa; ada beban kasat mata yang menekannya turun.

Keyla melangkah mendekat, perlahan, takut jika suara langkahnya akan membuat Bintang pergi lagi seperti di foto itu.

"Bin..."

Bintang diam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia tidak beranjak, pun tidak menatap Keyla. "Aku kira kamu butuh waktu sendirian. Itu kan yang kamu teriakkan tadi siang?"

Suaranya datar. Tidak ada kemarahan meledak-ledak, hanya kehampaan yang menyakitkan. Itu jauh lebih buruk.

Keyla berdiri dua langkah di belakangnya. "Aku bohong," ucapnya lirih. "Aku nggak butuh waktu sendiri. Aku cuma... aku cuma panik."

Bintang akhirnya menoleh. Mata elangnya yang biasanya berbinar jenaka kini redup. "Panik karena apa, Key? Karena SP1? Karena gosip kita nggak cocok? Atau karena kamu malu jalan sama aku?"

"Nggak! Bukan gitu!" Keyla maju selangkah, putus asa. "Aku nggak pernah malu sama kamu. Aku cuma... aku takut nyusahin kamu. Ada masalah—masalah beasiswa—dan aku pikir aku bisa selesaikan sendiri tanpa nyeret kamu ke lumpur."

Bintang berdiri, berbalik sepenuhnya menghadap Keyla. Tinggi badannya membuat Keyla harus mendongak. "Itu masalahnya, Keyla," suaranya mulai meninggi, emosi merembes keluar. "Kamu selalu mikir kamu harus ngelakuin semuanya sendirian. Kamu nulis surat sebagai Cassiopeia sendirian selama dua tahun. Kamu hadapin Vanya sendirian. Dan sekarang, pas kita udah pacaran, kamu masih mau 'nyelesein sendiri'?"

Bintang melangkah maju, memangkas jarak, membuat Keyla terpaku. "Fungsinya aku apa? Cuma buat dipajang? Cuma buat objek tulisan kamu?"

Kata-kata itu menohok ulu hati Keyla. "Bintang, aku cuma mau ngelindungin kamu..."

"Aku nggak butuh dilindungin!" sentak Bintang, membuat Keyla tersentak kaget. Bintang jarang sekali meninggikan suara. "Aku butuh partner. Aku butuh cewek yang percaya kalau aku bisa bantuin dia, sama kayak dia ngertiin aku lewat surat-suratnya. Semua orang di sekolah ini liat aku sebagai 'Bintang Rigel si Kapten Basket', citra yang sempurna dan nggak boleh lecet. Tapi aku pikir kamu beda. Aku pikir kamu liat aku sebagai manusia."

Bintang mengusap wajahnya kasar, frustrasi. "Kalau kamu terus-terusan nutupin masalah kamu dengan alasan 'ngelindungin aku', itu bukan cinta, Key. Itu ngeremehin aku."

Air mata Keyla tumpah tanpa izin. Ia tidak pernah melihat dari sudut pandang itu. Ia terlalu sibuk dengan rasa rendah dirinya, merasa bahwa masalah 'rakyat jelata'-nya tidak pantas mengotori hidup Bintang yang 'bangsawan'. Padahal, justru sikap itulah yang membuat dinding di antara mereka.

"Maaf..." isak Keyla, suaranya gemetar. "Aku dapet ancaman DO hari ini. Vanya... dia pake koneksi ayahnya buat nekan sekolah. Aku panik, Bin. Aku nggak mau kamu tau kalau aku selemah itu, kalau posisiku di sekolah ini segampang itu dihancurin."

Ekspresi Bintang melunak seketika saat mendengar kata 'DO'. Ia mendekat, keraguan di wajahnya sirna, digantikan naluri protektif. "DO? Vanya ngelakuin itu?"

Keyla mengangguk, menghapus air matanya kasar. "Tapi udah beres. Aku... aku udah urus. Beasiswaku aman."

"Gimana caranya?" selidik Bintang curiga.

Keyla menggigit bibir bawahnya. Ia tidak bisa menceritakan tentang data korupsi Pak Haris yang ia dapatkan dari Reza. Itu terlalu berbahaya. "Aku punya kartu as. Intinya dia mundur."

Bintang menatapnya lama, mencari kebohongan di mata Keyla. Akhirnya, ia menghela napas dan menarik Keyla ke dalam pelukannya. Aroma parfum maskulin bercampur keringat dan matahari sore melingkupi Keyla, meruntuhkan sisa-sisa pertahanannya.

"Jangan lakuin itu lagi," bisik Bintang di puncak kepala Keyla. "Jangan dorong aku ngejauh pas kamu lagi susah. Kita ini tim, inget?"

Keyla membenamkan wajahnya di dada bidang Bintang, mengangguk. "Iya. Kita tim."

"Dan soal gosip putus itu..." Bintang melepaskan pelukan, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan ponsel, membuka kamera, dan merangkul bahu Keyla erat. "Senyum. Jelek banget muka kamu abis nangis."

"Ih, Bintang!" protes Keyla, tapi sudut bibirnya terangkat.

*Cekrek.*

Detik berikutnya, Bintang mengetik sesuatu di Instagram Story-nya. Ia menunjukkannya pada Keyla sebelum memposting. Foto mereka berdua di rooftop, dengan latar langit senja Surabaya yang jingga. Caption-nya singkat tapi mematikan: *'Sorry, rumor mill. We are strictly governed by the law of universal gravitation. Not going anywhere.'*

Keyla tersenyum, hatinya menghangat. Bintang menggunakan istilah fisika. Itu bahasa cintanya.

"Udah, ayo pulang. Aku laper," ajak Bintang, menggenggam tangan Keyla erat, seolah menantang siapa pun yang berani memisahkan mereka lagi.

Namun, saat mereka melangkah menuju pintu rooftop, ponsel Keyla di saku blazernya bergetar. Satu pesan masuk.

Keyla melirik layar ponselnya diam-diam sambil berjalan. Jantungnya yang baru saja tenang, mendadak berhenti berdetak.

**Reza (Jurnalistik):**

*Drama yang bagus di OSIS tadi. Gue liat Vanya keluar muka pucat. Berarti 'peluru' dari gue manjur, kan? Nah, sekarang giliran lo bayar utang. Gue tunggu naskah eksklusif 'Pengakuan Cassiopeia' malam ini. Atau data korupsi Yayasan yang lo pegang itu gue rilis di blog sekolah besok pagi. Biar hancur sekalian satu sekolah, termasuk reputasi bokapnya pacar lo yang ada di jajaran donatur.*

Keyla membeku. Kakinya tersandung langkahnya sendiri.

"Kenapa, Key?" tanya Bintang, menoleh.

Keyla mematikan layar ponselnya dengan tangan gemetar, menatap Bintang yang baru saja memberinya kesempatan kedua. Ia baru saja lolos dari mulut harimau, tapi ternyata ia sudah masuk ke kandang buaya.

Reza bukan sekadar ingin berita. Dia ingin kekacauan.

"Nggak..." Keyla memaksakan senyum yang terasa seperti luka sobek di wajahnya. "Cuma spam."

1
Mariana Silfia
😍😍😍
Mariana Silfia
eh ya ampun si othor iki sllu bisa bikin dag dig dug kok w🤣🤣 ok ok lanjut kak q setia menunggu bab selanjutnya
Mariana Silfia
kak q nunggu'n bab lanjut nya yak tolong jangan di gantung🤭q gak bisa tdr ini klo blm tau ending nya
Mymy Zizan
bagussssssssss
S. Sage: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!