Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Insufferably Handsome Prince
Bagi Damian Nicholas Harding, hidup adalah tentang kesempurnaan yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma.
Di usianya yang kedelapan belas, ia memiliki segalanya: tubuh tegap menjulang, rahang yang seolah dipahat oleh seniman Yunani, hidung mancung sempurna, dan sepasang mata sebiru samudra yang sanggup mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
Di dunia ini, orang kaya ada sebanyak bintang di langit. Namun, Damian bukan sekadar "orang kaya". Keluarganya adalah penguasa; tangan-tangan mereka menggenggam setengah dari populasi bumi melalui imperium teknologi, alat kesehatan global, hingga lini fashion mewah yang namanya selalu bergema di panggung Eropa. Di Milford Hall, nama Damian bukan sekadar nama—itu adalah sebuah kasta.
Pemandangan gadis-gadis yang mendadak lemas atau bahkan mimisan saat berpapasan dengannya sudah menjadi "menu sarapan" sehari-hari. Teriakan histeris yang mengiringi langkah angkuhnya di lorong sekolah tak ubahnya melodi wajib yang selalu menemaninya.
Namun, Damian bukan tipe cowok sok dingin yang menutup diri. Ia menerima semua pemujaan itu dengan senyum ramah yang dibalut keangkuhan khas seorang pewaris takhta. Ia adalah pusat gravitasi. Fisiknya yang sempurna dan latar belakang aristokratnya membuat Damian terasa nyata, namun mustahil untuk digapai. Seperti lukisan Mona Lisa di balik kaca antigeluru: dikagumi jutaan orang, tapi tak boleh disentuh.
Soal wanita? Damian adalah masternya. Ia bisa mendapatkan siapa pun tanpa perlu label "status". Ia tidak punya batasan, selama mereka cantik dan seksi. Namun, ada satu aturan mutlak dalam kamusnya: Tidak ada kata pacaran. Jangan pernah meminta kejelasan, atau kamu akan tereliminasi dari dunianya.
Namun, hari itu di kelas Mrs. Witherspoon, benteng pertahanan Damian mendadak retak.
Ia mendapati dirinya termenung lebih lama dari biasanya saat seorang murid baru melenggang masuk. Gadis Asia dengan rambut hitam legam yang jatuh nyaris sepinggang. Cara gadis itu menyibakkan rambutnya—menciptakan helaian berantakan yang entah bagaimana justru terlihat sangat menawan—membuat napas Damian tertahan sejenak. Kulitnya yang seputih gading tampak sehat dan mulus, kontras dengan seragam gelap Milford.
Damian bahkan lupa caranya berkedip saat gadis itu menyunggingkan senyum tulus, meski Axel baru saja melontarkan godaan murahan yang membuat kelas riuh. Senyum itu... Damian tidak bisa melepaskan pandangannya saat gadis itu melintas di sampingnya menuju bangku belakang, tepat di belakang Louis Partridge.
Fraya Alexandrea.
Nama yang cantik, pikir Damian. Ia sudah sering mendengar nama Freya atau Alexandra, tapi perpaduan keduanya terasa baru dan memikat. Namun, kejutan sebenarnya terjadi saat Fraya tanpa sengaja membalas tatapannya.
Gadis itu menatapnya sekilas, lalu berpaling begitu saja.
Damian tertegun. Untuk pertama kalinya, ia dipandang seperti orang biasa. Tidak ada binar memuja, tidak ada rona merah di pipi, tidak ada reaksi apa pun. Dan untuk pertama kalinya pula, rasa penasaran yang asing mulai merayap di hati Damian tanpa permisi.
Dua minggu berlalu, dan Damian berubah menjadi pengintai rahasia.
Fokusnya pada Fraya terkadang melewati batas wajar. Ia pernah menabrak pintu loker yang terbuka karena matanya sibuk mencari sosok gadis itu di kerumunan. Bahkan saat latihan Lacrosse, instruksi yang tengah ia berikan pada timnya menguap begitu saja saat melihat Fraya berada di lapangan sebelah untuk jam olahraga.
Anehnya, teman-temannya yang berisik tidak ada yang menyadari alasan di balik sikap linglung Damian. Demi menjaga harga diri yang setinggi langit, Damian lebih memilih menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Bisa habis dia jadi bahan olok-olok jika ketahuan sedang terobsesi pada si anak baru.
Tepat di hari ke-15, Damian akhirnya mengetahui satu hal—setelah dengan sedikit tak tahu malu menyuruh informan pribadinya mencari tahu: Fraya yang jenius itu ternyata memiliki kelemahan. Dia payah dalam pelajaran bahasa Jerman.
Di Mildford, menguasai bahasa Jerman adalah syarat mutlak untuk mendapatkan surat rekomendasi ke universitas impian. Dan Damian tahu, Oxford adalah harga mati bagi Fraya.
Kepala Damian berdenyut. Kenapa dia harus peduli sejauh ini? Dia tidak mungkin naksir gadis yang bahkan belum pernah dia ajak bicara, kan?
"Vodka atau gin?"
Suara Axel membuyarkan lamunan Damian. Mereka kini berada di sebuah bar eksklusif, tempat biasa mereka menghabiskan waktu.
"Vodka sounds interesting," sahut Damian malas, matanya masih terpejam sembari menyandarkan kepala di dinding bar yang dingin.
"Louis sepertinya lagi berbunga-bunga, tuh. He's finally has his own target in Advanced class," seru Russo, teman blasteran Italianya, menggoda Louis.
Damian spontan membuka mata dan menegakkan punggung.
Louis hanya cengar-cengir salah tingkah. "We're just friends. Dont be so exaggerating," bela Louis singkat.
Axel muncul membawa gelas vodka, menyerahkannya pada Damian. "Si cewek Asia itu, ya? Kamu mau 'menjajalnya' dulu?"
Istilah "menjajal" yang meluncur sembarangan dari bibir Axel seketika menghapus senyum di wajah Louis. "Mind your language!" gertak Louis jengkel.
"Huuu, ada yang marah! Dude, she’s not even your girlfriend yet!" balas Axel dengan nada mengejek.
Damian melirik Axel dengan sisa kejengkelan yang mulai membara. Ada dorongan kuat untuk melempar gelas di tangannya tepat ke wajah Axel. Temannya yang satu ini memang dikenal kasar dan sering menganggap wanita sebagai mainan, meski entah kenapa masih banyak yang mau mengantre di ranjangnya.
Damian baru saja menenggak vodkanya hingga tandas saat pintu bar terbuka dengan kasar. Suaranya begitu heboh hingga menarik perhatian seisi ruangan.
Sejak pertemuan terakhirnya dengan Fraya, yang Damian sudah sangat yakin kalau sampai detik ini cewek Asia itu belum tahu juga siapa Damian ini di Mildford, Damian terus berandai-andai kapan ia punya keberanian untuk menyapa. Mendekati gadis duluan adalah hal yang tidak pernah ada dalam kamus sejarah hidupnya.
Namun hari ini, Fraya muncul di hadapannya lebih cepat dari dugaan.
Bukan dengan senyum tulus yang Damian dambakan, melainkan dengan kilat murka di matanya.
Gadis itu melangkah cepat, menenteng segelas kopi hangat, dan dalam satu gerakan yang membuat semua orang membeku, ia menyiramkan isinya tepat ke atas kepala Axel.
"You really deserve this, Idiot!" desis Fraya tajam.
Ruangan itu mendadak hening. Dan Damian? Ia hanya bisa melongo, menatap gadis yang baru saja meruntuhkan dominasi teman-temannya dengan satu siraman kopi.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit