Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 JANJI SANG PEWARIS KECIL DAN KEBIMBANGAN SANG MONARCH
Senin, 21 April 2025, Musim Semi
Udara pagi di Monte Carlo terasa lebih segar bagi Olivia Elenora Aurevyn. Hari ini adalah hari kepulangannya dari rumah sakit setelah seminggu penuh menjalani observasi medis. Namun, rencana Olive untuk kembali ke paviliun pribadinya harus pupus seketika saat sebuah perintah mutlak datang dari sang ayah, Bramasta Yudha Aurevyn. Bram, dengan wibawa kepala keluarga yang tak terbantahkan, memerintahkan agar Olive tinggal di mansion utama keluarga Aurevyn sampai kondisinya benar-benar pulih total. Di keluarga ini, jika Bram sudah berucap, maka itu adalah hukum yang mutlak bagi siapa pun.
Saat mobil Rolls-Royce yang membawa Olive memasuki gerbang megah mansion utama, suasana hangat langsung menyambut. Pintu mobil dibuka, dan Olive melangkah turun dengan bantuan tongkat kecil karena kakinya masih sedikit lemas. Di teras mansion yang luas, tampak sosok kecil yang sudah sangat merindukannya.
Leon Alexander, yang tadinya sedang asyik bermain mobil-mobilan di lantai bersama seorang pelayan senior, langsung mematung begitu melihat ibunya. Detik berikutnya, ia melemparkan mainannya dan berlari sekencang mungkin ke arah Olive.
"MAMAAAAA!" teriak Alex dengan suara yang pecah.
Ia langsung memeluk erat kaki Olive, menyembunyikan wajahnya di balik gaun rajut lembut yang dikenakan ibunya. Tubuh kecil itu gemetar hebat. Genap satu minggu ia terpisah dari Olive, sebuah rekor waktu terlama bagi bocah berusia empat tahun yang selalu menempel pada sang ibu sejak lahir.
"Sayang, pelan-pelan. Mama tidak apa-apa," bisik Olive lembut sambil mengusap kepala putranya.
Alex mendongak dengan mata yang sudah sembab dan berair. "Mama masih sakit? Kenapa Mama lama sekali di sana? Alex takut... Alex takut Mama hilang lagi."
Pertahanan Olive runtuh. Ia berjongkok perlahan, menyeimbangkan tubuhnya untuk memeluk Alex dengan sepenuh hati. Air mata mulai menggenang di mata hazel-nya.
"Alex berjanji, Alex tidak akan meninggalkan Mama lagi. Alex akan jadi penjaga Mama. Nanti kalau Alex sudah besar, Alex akan gendong Mama kalau Mama capek. Alex akan jaga Mama sampai Mama tua, Mama tidak boleh sakit lagi!" ucap Alex dengan nada bicara yang sangat dewasa untuk anak seusianya.
Seisi mansion utama, mulai dari para pelayan, Bunda Feli, hingga Ayah Bram yang berdiri di ambang pintu, terpaku diam. Kata-kata tulus dari seorang anak kecil itu sanggup menyentuh bagian terdalam hati mereka. Olive terisak pelan, ia tidak menyangka putra kecilnya memiliki beban emosional seberat itu akibat ketidakhadirannya.
"Iya, Sayang... Mama janji. Mama tidak akan pergi lagi," bisik Olive sambil mencium kening Alex berkali-kali di tengah tangisan mereka yang menyatu dalam kehangatan mansion Aurevyn.
BAB 20: DINGINNYA KERAJAAN VALERIUS
Pemandangan di mansion Aurevyn sangat kontras dengan atmosfer di gedung pusat Valerius Defense & Security Group. Jika di mansion Aurevyn ada air mata kebahagiaan, maka di ruang kerja Liam Maximilian Valerius hanya ada hawa dingin yang mampu membekukan siapa pun yang berani masuk ke dalamnya.
Aura Liam hari ini benar-benar mematikan. Wajahnya yang setampan dewa Yunani itu tampak beku, dengan tatapan mata tajam yang seolah sanggup menguliti setiap karyawan yang lewat di depannya. Penyebabnya hanya satu: Olivia.
Bagi orang awam, sikap Olive yang membalas pesan seperlunya atau bersikap sopan pada Liam adalah hal yang wajar bagi sepasang calon pengantin yang dijodohkan. Namun, bagi Liam yang sedang jatuh cinta setengah mati bahkan cenderung obsesif sikap "biasa saja" dari Olive terasa seperti penolakan mentah-mentah.
Liam berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap pelabuhan, memutar-mutar gelas berisi wine merah dengan gerakan kaku. "Kenapa dia begitu tenang, Marcus? Kenapa dia tidak merindukanku seperti aku merindukannya?" gumam Liam pelan namun penuh penekanan.
Marcus, sang asisten pribadi, hanya bisa menghela napas panjang di balik punggung tuannya. Ia sudah kewalahan menghadapi kegalauan Liam yang sudah di luar nalar. "Mungkin Nona Olive hanya butuh waktu untuk istirahat, Tuan. Mengingat beliau baru saja keluar dari rumah sakit."
"Tidak. Dia tidak mencintaiku," potong Liam dengan nada pahit.
Di sisi lain, Olive memang merasa rendah diri. Ia sadar posisinya adalah seorang ibu tunggal, sementara Liam adalah pria lajang paling diinginkan di Eropa. Olive merasa ia bukan lagi gadis suci, dan pikirannya selalu berkata bahwa Liam berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada dirinya. Namun, kesalahpahaman ini justru ditangkap Liam sebagai sinyal bahwa Olive mungkin masih mencintai pria dari masa lalunya pria yang Liam sendiri tahu adalah dirinya sendiri, namun belum berani ia ungkapkan.
Padahal, rencana balas dendam Liam terhadap Bangsawan Alistair berjalan sangat sukses. Duke Alistair kini hancur lebur, hartanya disita, dan reputasinya di London berakhir di titik nadir. Namun, kesuksesan itu tidak berarti apa-apa bagi Liam jika hatinya tetap merasa kosong karena dinginnya sikap Olive.
Marcus, yang sudah tidak tahan melihat tuannya tersiksa oleh rahasianya sendiri, akhirnya memberanikan diri. "Tuan, maaf jika saya lancang. Kenapa Anda tidak jujur saja sekarang? Katakan pada Nona Olive bahwa laki-laki lima tahun lalu itu adalah Anda. Katakan bahwa Anda adalah ayah biologis Tuan Kecil Alex. Kejujuran itu mungkin akan meruntuhkan tembok di antara kalian."
Liam berbalik dengan cepat, menatap Marcus dengan mata yang berkilat tajam seakan ingin menusuk jantung asistennya. "Jujur? Kau pikir itu mudah, Marcus?"
Liam melangkah mendekat, auranya semakin mengintimidasi. "Jika aku jujur sekarang, sebelum janji suci pernikahan diucapkan, keluarga Aurevyn terutama Ayah Bram akan murka besar padaku. Mereka akan menganggapku bajingan yang telah menghancurkan putri mereka dan baru muncul sekarang. Aku bisa kehilangan hak untuk memilikinya selamanya."
Liam menjatuhkan gelas winenya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Dan Olive... dia sudah terlalu sengsara karena aku. Aku terlambat mencarinya, aku terkecoh oleh laporan palsu lima tahun lalu, dan membiarkannya menderita di London sendirian. Jika dia tahu akulah penyebab semua rasa sakitnya, dia mungkin akan membenciku lebih dari apa pun di dunia ini."
Bahu Liam merosot, menunjukkan sisi rapuh sang Monarch yang tak pernah dilihat dunia. "Aku lebih baik dibenci karena dingin daripada dibenci karena telah merusak hidupnya. Setidaknya, sekarang aku bisa menjaganya sebagai calon suami, bukan sebagai musuh masa lalunya."
Marcus terdiam. Ia melihat penderitaan tuannya yang begitu kompleks. Liam terjebak dalam rasa bersalah dan cinta yang terlalu dalam, sebuah kombinasi yang membuatnya menjadi manusia paling berkuasa sekaligus paling malang di Monako saat ini.