NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Bajumu itu kayak g e m b e l!"

Hanya karena pakaianku tertutup hijab dan c a d a r, suamiku t e g a menghinaku di depan tamu undangan.

Akan kubuat kamu menyesal telah mer e m e hkan aku, Mas!

💎💎💎💎💎💎💎

Bab 1

“Maaf ya, Pak Hartono. Istri saya memang agak kaku. Maklum, kostumnya kayak ninja mau latihan p e r a n g, bukan mau makan malam.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Evan, suamiku, diiringi tawa renyah yang dibuat-buat.

Aku hanya diam. Tangan kiriku mer é m a s ujung gamis hitam di bawah meja bundar restoran bintang lima ini. Di hadapan kami, Pak Hartono, i.n v e s t o r potensial yang sedang Evan kejar m a t i-m a t i a n, tersenyum kecut. Istrinya, Bu Belinda, yang memakai gaun tanpa lengan berwarna merah menyala, menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sangat aku kenal, j i j i k.

“Tidak apa-apa, Pak Evan,” ujar Bu Belinda dengan nada yang sengaja dilembutkan tapi men u s u k. “Mungkin Bu Kanaya belum terbiasa berg a u l di kalangan pebisnis. Padahal kalau dibuka sedikit, pasti cantik. Sayang sekali ditutup semua begitu. Makan jadi susah, kan?”

“Betul sekali, Bu!” Evan menyahut antusias, seolah baru saja mendapatkan dukungan paling berharga. “Saya sudah sering bilang, kalau acara bisnis begini sewajarnya menyesuaikan diri. Tapi ya, begitulah, f a n a t i k berlebihan.”

Dàdaku s e s a k. Bukan karena cadar yang menutup wajahku, tapi karena laki-laki yang berstatus imamku justru menjadi orang pertama yang mel e m p a rkan d a g i n gku ke hadapan serigala. Evan tidak sadar, di balik kain yang ia sebut f a n a t i k berlebihan ini, ada o t a k jenius menghitung neraca r u g i-l a b a perusahaannya yang sedang berd a r a h-d a r a h.

Aku melirik ke sisi kanan. Bara, adik laki-laki Evan, duduk bersandar di kursinya dengan wajah k a k u. Sejak tadi dia tidak meny e n t u h makanannya. Matanya menatap t a j a m ke arah kakaknya sendiri.

“Sudah malam,” suara Bara terdengar berat dan datar, memotong tawa Evan. “Sebaiknya kita langsung ke pokok pembahasan atau dilanjutkan di kantor. Kasihan Mbak Kanaya sudah lelah duduk tegak terus.”

Evan mendelik pada adiknya. “Jaga sopan santunmu, Bara. Kita sedang menjamu tamu penting.”

“Tamu penting tidak akan meng h i n a istri tuan rumah, Mas,” balas Bara pelan, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang di meja itu.

Suasana mendadak hening. Pak Hartono berdeham canggung. Wajah Evan memerah padam, menahan a m a r a h pada adiknya. Aku menunduk semakin dalam, berdoa agar malam ini cepat berakhir. Aku tidak butuh pembelaan yang akan mem i c u pert e n g k a r an. Aku hanya butuh Pak Hartono menandatangani k o n t r a k kerjasama ini—atau setidaknya, itu yang Evan kira dia butuhkan.

Kenyataannya, Pak Hartono hanyalah d e c o y. U m p a n. Perusahaan Pak Hartono tidak punya a s e t likuid yang cukup untuk menyelamatkan properti Evan. Akulah i n v e s t o r h a n t u itu. Akulah i n v e s t o r yang selama ini Evan cari, yang bersembunyi di balik nama PT. RedR o c k e t V e n t u r e s—manajer a s e t aktif di Asia, w a r i s a n orang tuaku.

“Baiklah, silakan dinikmati hidangan penutupnya,” Evan mencoba mencairkan suasana, tangannya melambai memanggil pelayan untuk meminta t a g i h a n. “Biar saya yang t r a k t i r malam ini sebagai permohonan maaf atas ketidaknyamanan pandangan Bapak dan Ibu.”

Selesai menikmati semua hidangan, pelayan datang membawa map kulit kecil berisi t a g i h a n. Evan mengeluarkan kartu k r e d i t platinumnya dengan gaya angkuh.

“Masukkan sendiri untuk tipsnya.”

Tak sampai lima menit, pelayan itu kembali dengan wajah tidak enak. Dia membungkuk sedikit ke arah Evan.

“Maaf, Pak. Kartunya declined.”

Senyum sombong di wajah Evan luntur seketika. “Apa? Coba lagi. Mungkin mesinmu yang r u s a k. L i m i tnya masih ratusan j u t a kok.”

Pelayan itu mencoba lagi di hadapan kami. Mesin EDC itu berbunyi bip panjang yang men y a k i t kan telinga.

“Tetap tidak bisa, Pak. Declined b a n k i s s u e r.”

Wajah Evan pucat pasi. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Dia mer o g o h dompet, mengeluarkan kartu kedua. Kartu gold.

“Pakai yang ini.”

Aku menahan senyum di balik c a d a r. Tahu benar kondisi keu a n g a n suamiku. Gaya hidup Ibu dan Mbak Siska sudah menggerogoti arus kasnya sampai kering. G a j inya sebagai direktur tidak akan cukup menutup gaya hidup h e d o n mereka, sementara b o n u s tahunan belum turun karena target penjualan properti nol besar.

Kartu kedua juga g a g a l.

Pak Hartono mulai melirik jam tangannya, tanda tidak sabar dan mer e m e h kan. “Pak Evan, kalau memang sedang ada masalah l i k u i d i t a s, biar saya saja ….”

“TIDAK!” Evan memotong cepat, gengsinya terlalu tinggi. “Ini cuma masalah sistem b a n k. Sebentar.”

Evan panik. Tangannya gemetar memb o n g k a r isi dompet yang kini terlihat men y e d i h kan.

Aku lantas berdiri. “Saya permisi ke toilet sebentar,” ucapku.

Evan bahkan tidak menoleh. Dia sibuk mem a k i p e l a y a n dengan suara tertahan.

Aku berjalan tenang, bukan ke arah toilet, melainkan berbelok ke arah meja k a s i r utama. Mengeluarkan sebuah kartu dari balik tas tanganku. Menyerahkannya pada kasir, menyebutkan nomor meja kami, lalu memberi isyarat—meminta kasir untuk diam.

T r a n s a k s i selesai dalam hitungan detik.

Aku kembali ke meja, duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Pelayan tadi datang lagi, kali ini membawa struk l u n a s. “Sudah beres, Pak. T r a n s a k s i berhasil.”

Mas Evan melongo, bingung. “Lho? Kartu yang mana? Yang Gold?”

“Iya, Pak. Mungkin tadi jaringan saja,” pelayan itu berb o h o n g dengan mulus—pasti atas permintaanku.

Evan menghela napas lega, lalu kembali membusungkan d a d a nya. “Nah, kan. Apa saya bilang. Sistem kalian yang error. Bikin m a l u saja.”

Acara selesai. Pak Hartono dan istrinya pulang dengan mobil mereka, masih dengan senyum mer e m e h kan. Kami berjalan menuju parkiran basement. Evan berjalan cepat di depan, langkahnya mengh e n t a k-h e n t a k m a r a h. Aku berusaha mengimbangi langkahnya, tapi gamis panjang membuatku harus berhati-hati agar tidak terserimpet.

“Cepat sedikit kenapa, sih?!” b e n t a k Evan tiba-tiba, berbalik badan di depan mobilnya. Suaranya menggema di parkiran yang sepi.

Aku terlonjak kaget. “Maaf, Mas.”

“Maaf, maaf!” Evan menekan remote mobil sambil menunjuk wajahku. “Kamu itu sengaja ya, bikin aku m a l u? Tadi di meja makan diam saja kayak patung. Giliran jalan lelet kayak siput! Itu kain apa karung goni? Susah banget diajak gesit!”

“Mas, tadi aku ….” Aku ingin bilang aku yang membayar tagihan 5,5 juta rupiah itu. Bahwa kartu kreditnya sudah m a t i karena o v e r l i m i t dipakai Siska belanja online kemarin.

“Diam!” p o t o n g Evan k a s a r. “Aku pusing! Kerjasama Pak Hartono belum jelas, kamu malah nambah b e b a n pikiran dengan tingkah k a m p u n g a nmu itu. Seharusnya kamu belajar dari Bu Belinda. Penampilan itu i n v e s t a s i! Bukan kayak g e m b e l begini!”

Aku menelan ludah pahit. I n v e s t a s i?

Laki-laki ini bicara soal i n v e s t a s i pada pemilik m o d a l utama perusahaannya?

Tanpa sadar, aku tertawa kecil. Tawa getir yang lolos begitu saja.

Mata Evan membelalak. Dia menc e n g k e r a m lengan atasku kuat-kuat. “Kamu ngetawain aku? Hah? Istri d u r h a k a! Suami lagi susah malah ketawa!”

“Mas Evan!”

Suara Bara mengg e l e g a r, muncul dari balik pilar beton. Wajahnya gelap menahan a m a r a h. Dia berjalan cepat mendekati kami, lalu men e p i s tangan Evan dari lenganku.

“Jangan k a s a r sama perempuan,” desis Bara. Matanya n y a l a n g menatap kakaknya.

Evan mendengkus, merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya tidak berantakan. “Gak usah ikut campur urusan rumah tanggaku! Urus saja kuliahmu atau cari kerjaan yang bener. Jangan cuma jadi benalu di keluargaku.”

Bara mengepal tangannya, rahangnya meng e r a s. Tapi dia menahan diri. Menoleh padaku, tatapannya melembut, “Masuk ke mobil, Mbak,” ucapnya pelan. “Biar aku yang nyetir. Mas Evan lagi nggak stabil.”

“Aku yang nyetir! Ini mobilku!” Evan buru-buru masuk ke dalam mobil, meninggalkan aku yang masih berdiri mematung.

Sebelum aku menyusul masuk ke kabin belakang—karena Evan tidak suka aku duduk di depan jika kami pergi bareng anggota keluarganya, aku menatap Bara.

“Terima kasih, Dek.”

Bara tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.

Sedih? M a r a h?

Aku masuk ke dalam mobil. Mesin menderu. Evan t a n c a p gas bahkan sebelum aku duduk sempurna.

Di dalam mobil yang dingin itu, Evan kembali mengg e r u t u sepanjang jalan. Mem a k i Pak Hartono, mem a k i p e l a y a n restoran, dan tentu saja, mem a k i penampilanku.

Aku membuka ponsel diam-diam. Membuka aplikasi p e r b a n kan. Ada notifikasi a u t o d e b e t jatuh tempo besok untuk cicilan mobil yang sedang kami naiki ini.

R e k e n i n g Evan kosong.

Jariku melayang di atas tombol T r a n s f e r. Dulu, aku akan langsung ment r a n s f e r d a nbba t a l a n g an tanpa pikir panjang. Tapi malam ini, c e n g k e r a m an Evan di lenganku masih terasa s a k i t. Kata-kata ninja dan g e m b e l masih terngiang.

Aku menutup aplikasi itu.

Biarkan saja, batinku. Biarkan kali ini dia merasakan kesusahannya.

“Dengar ya, Naya,” suara Evan membuyarkan lamunanku saat mobil berhenti di lampu merah. Dia menatapku lewat kaca spion tengah dengan tatapan t a j a m. “Besok Siska dan keluarganya mau datang. Kamu jangan bikin m a l u lagi. Masak yang enak, dan jangan keluar k a m a r kalau ada tamu teman-temannya Ibu. Aku nggak mau mereka lihat istriku kayak h a n t u.”

Aku mengangkat wajahku, menatap pantulan matanya di spion. Kali ini, aku berani menjawab.

“Baik, Mas. Aku akan jadi h a n t u. H a n t u yang benar-benar tidak terlihat. Tapi jangan salahkan aku kalau h a n t u ini berhenti mengirimkan keberuntungan ke r e k e n i n gmu.”

Evan tertawa me r e m e hkan. “Ngomong apa sih kamu? Halu. U a n g belanja aja masih minta aku, sok-sokan ngomong r e k e n i n g.”

Evan meng i n j a k gas saat lampu hijau menyala, tidak menyadari bahwa kalimatku barusan bukan a n c a m a n kosong. Itu adalah prolog dari keh a n c u r a nnya.

Aku nggak lagi halu, Mas. Kamu j u a l, aku b e l i. Itu prinsipku.

… … … … … … … … … … …

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!