NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sketsa Cinta

Bima menatapnya dengan ekspresi datar, sama seperti di selasar waktu hujan. Tidak ada pengakuan, tidak ada senyum, tidak ada apa pun. Hanya tatapan kosong yang bertanya, 'Kamu ngapain di sini?'

"Hei," kata Kay, suaranya terdengar cempreng bahkan di telinganya sendiri.

"Hei," jawab Bima singkat.

Lalu Bima melangkah, berjalan kembali ke mejanya.

Kay berdiri terpaku. "Cuma 'hei'?" gumamnya pelan.

Mika yang masih mengintai dari balik rak menekan tawa. "Kay, lo tuh kelihatan kayak patung."

"Diem lo."

"Tapi ada sesuatu yang gue liat."

"Apa?"

Mika menunjuk ke meja Bima. "Buku sketsanya. Waktu dia balik, buku sketsanya masih terbuka di meja. Dan kayaknya ada gambar yang familiar."

Kay menatap ke arah meja Bima. Buku sketsa itu memang terbuka, halaman yang baru ia gambar terlihat dari kejauhan. Kay bisa melihat garis-garis pensil membentuk sesuatu—rak buku, jendela, dan... seseorang?

"Kay," bisik Mika. "Itu lo."

Kay membelalak. "Apa?"

"Itu lo. Coba liat. Rambut panjang, baju flanel—lo kan pake flanel. Itu lo lagi berdiri di depan rak buku."

Jantung Kay berdegup kencang. Ia mencoba melihat lebih jelas dari jarak itu, tapi terlalu jauh. Tapi Mika benar—figur di sketsa itu mirip dengan dirinya. Rambut panjang, kemeja flanel, bahkan pose berdiri memegang buku.

"Kay, berarti dia ngeliat lo. Dari tadi dia ngeliat lo. Dan dia gambar lo!"

Kay tidak tahu harus merasa apa—senang, kaget, atau takut. Bima yang selama ini ia kira cuek dan tidak peduli, ternyata... menggambarnya? Diam-diam?

"Itu cuma kebetulan," bisik Kay, berusaha tenang.

"Kebetulan apanya? Lo tadi berdiri di situ, dia gambar, dan gambarnya lo. Itu bukan kebetulan."

Kay menelan ludah. "Mik, gue takut."

"Takut kenapa?"

"Takut kalau—"

"Kay."

Suara berat itu memotong pembicaraan mereka. Kay menoleh, dan Bima berdiri di sana—hanya beberapa langkah dari mereka. Di tangannya, buku sketsa itu terbuka.

"Lo mau liat?" tanya Bima datar.

Kay membeku. Mika mencubit lengannya pelan. "Cepetan jawab, Kay!"

"I-itu... boleh?" suara Kay hampir tidak terdengar.

Bima mengangguk, lalu berjalan mendekat. Ia membalik buku sketsanya, menunjukkan halaman yang baru ia gambar.

Kay menahan napas.

Di atas kertas berwarna krem, tergambar sketsa dirinya dengan detail yang mengejutkan. Bukan sekadar figur—tapi ekspresinya saat berdiri di depan rak buku, dengan alis sedikit berkerut karena konsentrasi palsu, rambut yang jatuh di pelipis, bahkan cara ia memegang buku dengan jari-jari yang sedikit tegang. Latar belakangnya adalah rak buku dan jendela di kejauhan, semuanya digambar dengan arsiran pensil yang lembut dan presisi.

"Ini... gue?" bisik Kay.

"Iya."

"Kapan?"

Bima menunjuk ke arah rak tempat Kay berdiri tadi. "Dari meja gue. Lo berdiri di situ lumayan lama."

Kay menatap Bima dengan takjub. Selama ini ia mengira Bima tidak melihatnya, tidak peduli. Tapi ternyata Bima melihat. Bima memperhatikan. Bahkan mengingat detail-detail kecil yang tidak disadari Kay sendiri.

"Lo bisa gambar?" tanya Kay konyol.

Bima mengangkat bahu. "Iseng."

"Iseng? Ini bagus banget!"

Mika yang dari tadi diam angkat bicara. "Bima, lo sering gambar pemandangan perpus?"

Bima menoleh ke Mika, lalu kembali ke Kay. "Iya. Kadang-kadang. Buat refreshing."

"Boleh liat yang lain?" tanya Kay.

Bima ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia membalik halaman-halaman buku sketsanya. Satu per satu, gambar-gambar pensil terungkap—rak buku dari berbagai sudut, jendela dengan pohon randu di luar, meja-meja panjang dengan mahasiswa yang sedang membaca, tangga perpustakaan, bahkan pemandangan dari lantai tiga ke bawah. Semuanya digambar dengan detail yang memukau, dengan gaya realis tapi tetap memiliki sentuhan artistik yang khas.

"Lo jago banget," puji Kay tulus. "Ini keren."

"Makasih."

Kay berhenti di satu halaman. Sebuah gambar rak buku dari sudut yang berbeda, dengan seorang mahasiswi—sedang mengambil buku di rak paling atas. Wajahnya tidak terlalu detail, tapi posturnya familiar. "Ini kapan?"

Bima menatap gambar itu sebentar. "Beberapa minggu lalu. Gue lagi duduk di situ." Ia menunjuk ke arah meja di dekat jendela. "Lo lewat, ambil buku, lalu pergi."

Kay menelan ludah. Beberapa minggu lalu? Berarti Bima sudah menggambarnya jauh sebelum pertemuan mereka di hujan? Jauh sebelum ia mulai mencari-cari Bima?

"Bima, lo tahu gue?" tanya Kay pelan.

Bima menatapnya. Matanya yang dalam itu kini tidak lagi kosong—ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sulit diartikan.

"Kayana Ardhanareswari," jawab Bima. "FEB angkatan 2020. Sering dapet beasiswa prestasi. Anaknya Bos Arunika Group."

Kay terperangah. "Lo tahu? Tapi waktu itu—"

"Waktu hujan?"

"Iya."

Bima menghela napas. "Gue tahu lo. Tapi gue nggak peduli."

Kata-kata itu jujur dan menusuk. Tapi Kay tidak marah. Justru ia merasa lega—Bima tidak berpura-pura. Ia jujur tentang ketidakpeduliannya.

"Terus kenapa lo gambar gue?" tanya Kay, memberanikan diri.

Bima terdiam beberapa saat, lalu menjawab, "Karena lo menarik untuk digambar."

"Menarik?"

"Bukan dalam arti fisik. Tapi... ekspresi lo. Cara lo berdiri. Cara lo memegang buku. Ada sesuatu yang... gue nggak tahu. Mungkin kesedihan. Atau kekosongan. Gue suka gambar orang yang punya cerita di mata mereka."

Kay tidak bisa berkata-kata. Bima melihatnya bukan sebagai putri konglomerat, bukan sebagai idola kampus, tapi sebagai seseorang yang punya cerita. Seseorang yang matanya mungkin menyimpan kesedihan.

"Lo bisa baca orang?" bisik Kay.

"Enggak. Tapi gue bisa lihat."

Mika yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara, "Gue permisi ke toilet dulu ya. Kay, lo lanjut aja."

Kay melirik Mika dengan tatapan 'jangan tinggalin gue', tapi Mika sudah melenggang pergi dengan senyum penuh arti.

Sekarang tinggal Kay dan Bima, berdiri di lorong antara rak buku, dengan buku sketsa terbuka di tangan Bima.

"Ini..." Kay menunjuk gambar dirinya yang baru. "Boleh gue minta?"

Bima mengerutkan kening. "Minta?"

"Iya. Atau difoto setidaknya. Soalnya ini bagus banget."

Bima memandang gambar itu sebentar, lalu menutup buku sketsanya. "Nggak."

Kay kecewa. "Kenapa?"

"Ini sketsa kasar. Belum jadi. Kalo udah selesai, nanti gue kasih."

Mata Kay berbinar. "Janji?"

Bima mengangguk. "Janji."

Kay tersenyum—senyum tulus yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Makasih, Bima."

Bima menatap senyum itu beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu mengalihkan pandangan. "Gue balik ke meja. Tugas gue belum selesai."

"Iya. Gue juga."

Bima berjalan kembali ke mejanya, meninggalkan Kay yang masih berdiri di antara rak buku dengan perasaan campur aduk—senang, bingung, dan sedikit berdebar.

Dari kejauhan, Kay melihat Bima duduk, membuka laptopnya, dan kembali mengetik. Tapi sebelum itu, ia sempat melihat Bima membuka buku sketsanya lagi, menatap gambar Kay beberapa saat, lalu menutupnya dengan hati-hati.

Kay tersenyum sendiri. "Dia lihat gue," bisiknya. "Selama ini dia lihat gue."

Mika tiba-tiba muncul dari balik rak. "Udah ditinggal bentar aja, udah deketan aja lo."

"Mik!" Kay menjerit pelan. "Lo dari mana aja?"

"Toilet beneran. Terus gue ngintip dari jauh." Mika menyeringai. "Gila, Kay. Lo berhasil. Dia ngomong lama sama lo."

"Dia cuma nunjukkin gambar."

"Dan lo dapet janji bakal dikasih gambar. Itu progres banget."

Kay tidak bisa menahan senyum. Ia menatap ke arah meja Bima, yang sekarang sibuk dengan laptopnya, dan merasakan kehangatan aneh di dadanya.

"Tapi, Mik."

"Apa?"

"Kenapa dia bisa liat kesedihan di mata gue? Padahal gue udah berusaha nutupin."

Mika menghela napas, meletakkan tangan di bahu Kay. "Karena dia memang jeli, Kay. Dan mungkin, orang yang matanya juga menyimpan cerita, bisa lebih mudah melihat cerita di mata orang lain."

Kay merenung. Bima yang miskin, yang hidup pas-pasan, yang harus berjuang sendiri—mungkin matanya juga menyimpan kesedihan. Tapi ia tetap berjalan tegak, tetap fokus pada tujuannya.

"Gue pengen tahu lebih banyak tentang dia," bisik Kay.

"Itu pasti, Kay. Tapi pelan-pelan. Jangan maksa. Biarkan semuanya mengalir."

Kay mengangguk. Ia kembali ke mejanya, duduk di hadapan tumpukan buku yang sudah setengah jam tidak ia sentuh. Tapi pikirannya tidak lagi pada elastisitas permintaan atau keseimbangan pasar.

Pikirannya ada pada sepasang mata dalam yang melihatnya—benar-benar melihatnya—untuk pertama kalinya.

Di meja sebelah jendela, Bima mengetik kode programnya dengan kecepatan biasa. Tapi sesekali matanya melirik ke buku sketsa yang tertutup di samping laptopnya, lalu ke arah meja di dekat jendela tempat Kay duduk.

Ia tidak tahu kenapa ia menggambar gadis itu. Atau kenapa ia setuju untuk memberinya gambar yang sudah jadi nanti. Yang ia tahu, ada sesuatu di mata Kayana yang membuatnya tidak bisa berpaling.

Mungkin sama seperti mata Kayana yang melihatnya sebagai manusia biasa, bukan sebagai objek kasihan.

Atau mungkin, hanya mungkin, ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara deretan rak buku dan goresan pensil.

1
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
Agry
OMG!!!!!/Applaud/
Agry
/Blush/
Agry
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Agry: ya, sama sama kak! semangat terus ya!
total 2 replies
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!