NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Hari ketiga Naya di rumah sakit, dan hari ini akhirnya ia boleh pulang. Sejak pagi kamar sudah rapi, tas-tas tersusun, tinggal turun ke bawah menunggu mobil.

Naya perlahan menurunkan kakinya dari ranjang, wajahnya sedikit meringis. Pappi sigap berdiri di sampingnya.

“Pelan-pelan, sayang,” ucap Pappi sambil menopang tubuh Naya.

Kenzo langsung maju selangkah. “Biar Kenzo yang dorong kursinya, Om.”

“Nggak usah,” jawab Pappi cepat. “Biar Om aja.”

Kenzo terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum kecil. Oke… mode ayah protektif lagi aktif.

Setelah hati sang putri dicuri halus tapi konsisten oleh Kenzo, Pappi memang jadi agak—sedikit—jealous. Sedikit banget. Tipis. Tapi kelihatan. 😌

“Kamu bawa barang aja,” lanjut Pappi tanpa menoleh.

“Oke,” jawab Kenzo patuh, langsung mengambil tas, bunga, dan boneka beruang yang kemarin ia bawa.

Naya melirik Kenzo sambil duduk di kursi roda. Bibirnya melengkung kecil, senyum yang cuma mereka berdua yang paham.

Pappi mendorong kursi roda perlahan keluar kamar.

Kenzo berjalan di belakang mereka, tangannya penuh barang, tapi hatinya… penuh Naya.

“Pappi,” panggil Naya pelan.

“Hm?”

“Makasih,” ucapnya tulus.

Pappi melirik putrinya, menghela napas kecil, lalu tersenyum.

“Iya… iya, my little girl.”

Kenzo yang mendengar itu menunduk sedikit, senyum kecil tersungging.

Mobil melaju pelan meninggalkan area rumah sakit.

Pappi duduk di kursi depan, fokus ke jalan.

Kenzo di belakang, duduk tepat di samping Naya.

Jarak mereka dekat—terlalu dekat untuk ukuran 'baru diizinkan pacaran', tapi terlalu jauh untuk Pappi yang tiap beberapa detik melirik lewat spion.

“Duduk yang bener,” ujar Pappi tanpa menoleh.

Kenzo langsung meluruskan punggung. “Iya, Om.”

Naya menahan senyum. Tangannya yang tadi hampir menyentuh tangan Kenzo, langsung ditarik kembali ke pangkuannya.

Mobil hening beberapa detik.

“Nggak sakit?” tanya Pappi.

“Sedikit,” jawab Naya pelan.

Kenzo refleks ikut nimbrung, “Nanti di rumah aku—eh, maksudnya… Naya harus sering istirahat.”

Pappi menoleh cepat.

“Kamu?”

Kenzo langsung berdeham. “Maksud saya… biar Om yang ngingetin juga.”

Pappi mengangguk singkat.

“Bagus.”

Naya nyengir kecil.

Kenzo cuma bisa menelan ludah. Ayah pacarnya… level boss terakhir.

Sampai rumah, Mommy sudah menunggu di ruang tengah.

“Udah pulang?” tanyanya dingin, tatapannya langsung jatuh ke kursi roda.

“Iya,” jawab Pappi. “Kakinya masih harus hati-hati.”

Mommy mengangguk, lalu matanya beralih ke Kenzo.

Tatapan yang lama. Menilai. Membaca.

“Kamu nggak sekolah?” tanya Mommy.

“Nggak tante, kenzo terlanjur ijin 1 minggu, Tante,” jawab Kenzo sopan. “Sekalian aja ngantar Naya pulang.”

“Hm.”

Nada itu. Naya hafal betul.

Pappi membantu Naya pindah ke sofa. Begitu duduk, Kenzo reflek berjongkok di depan Naya, memastikan kakinya aman.

“Nanti jangan lupa obatnya—”

“Kenzo,” potong Mommy. “Biar tante aja.”

Suasana mendadak tegang.

Naya menegakkan badan. “Mommy.”

Mommy menoleh. “Apa?”

“KENZO PACAR NAYA.”

Kalimat itu jatuh bersih. Jelas. Tanpa ragu.

Kenzo ikut berdiri. Tegap.

Pappi menghela napas pelan—ini momen yang pasti datang.

Mommy menatap Naya lama.

“Sejak kapan?”

“Baru,” jawab Naya jujur. “Pappi udah tau.”

Mommy menoleh ke Pappi.

“Kamu ngizinin?”

Pappi mengangguk. “Aku percaya sama mereka.”

Hening.

Mommy akhirnya duduk. “Aturan tetap sama. Sekolah, nilai, sikap. Sekali aja melenceng—”

“Kenzo yang pertama aku keluarin,” sambung Mommy menatap tajam.

Kenzo mengangguk mantap. “Siap, Tante.”

Naya menggenggam ujung baju Kenzo. Kecil. Tapi jelas.

Mommy melihat itu.

Menghela napas.

“Masuk kamar. Istirahat.”

“Iya, Mommy,” jawab Naya.

Kenzo membantu mendorong kursi roda. Saat melewati Mommy, ia sedikit menunduk hormat.

Dan di dalam hati Mommy—

Anak ini bahaya… tapi kelihatannya tahu batas.

Di kamar, pintu tertutup.

Naya menoleh ke Kenzo, matanya berbinar meski tubuhnya lelah.

“Kamu deg-degan gak?”

Kenzo tersenyum miring. “Parah.”

Naya tertawa kecil.

Kenzo mendekat, suaranya diturunkan.

“Tapi demi kamu… gue berani.”

Dan untuk pertama kalinya sejak pulang, Naya merasa:

rumahnya masih sama—

tapi hidupnya sudah berubah. 🖤

Kenzo menggendong Naya perlahan menaiki tangga. Langkahnya hati-hati, seolah takut salah satu napasnya terlalu keras.

Naya menyandarkan kepala di bahu Kenzo, jari-jarinya mencengkeram kerah kaus cowok itu.

“Ken…” panggilnya lirih.

“Hmm?” Kenzo menunduk sedikit.

“Pegangan yang kuat.”

Sampai di kamar, Kenzo mendudukkan Naya pelan di atas ranjang. Ia berlutut di depannya, sejajar dengan kaki Naya yang masih dibalut gips.

“Cepet sembuh ya, my princess,” ucap Kenzo lembut.

Ia mengecup kening Naya singkat, penuh kehati-hatian—seolah setiap sentuhan harus punya izin dari dunia.

Naya menatapnya. Mata itu. Yang bikin Kenzo selalu kalah.

Kenzo mengusap jemari Naya satu per satu, hangat. Lalu dengan gerakan pelan, ia mencium lengan Naya—ringan, sopan, tapi bikin dada Naya berdesir aneh.

“Ken…” suara Naya nyaris bergetar.

“Aku di sini,” jawab Kenzo cepat. “Tenang.”

Naya menarik napas.

“Takut kamu pergi lagi.”

Kenzo mendongak, menatapnya serius.

“Enggak. Kali ini aku beneran di sini.”

Ia menggenggam tangan Naya, menempelkannya ke dadanya sendiri.

“Kalau aku pergi, ini ikut.”

Naya tertawa kecil, tapi matanya berkaca-kaca.

“Gombal.”

“Serius Nay,” balas Kenzo santai.

Ia berdiri, menarik selimut untuk menutup kaki Naya dengan rapi.

“Tidur. Jangan bandel.”

“Kamu jangan kemana-mana,” pinta Naya.

Kenzo tersenyum, lalu duduk di sisi ranjang.

“Gue di sini. Jagain princess.”

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Naya merasa:

aman—

bukan karena aturan,

tapi karena seseorang memilih tinggal. 🖤

Tak lama kemudian Pappi masuk ke kamar. Langkahnya pelan saat melihat Naya sudah tertidur nyenyak, selimut menutup rapi sampai dada. Napasnya teratur.

Pappi menoleh ke Kenzo yang duduk di sisi ranjang.

“Ken,” panggilnya pelan. “Ayo bicara sebentar.”

“Oke, Om,” jawab Kenzo cepat, langsung berdiri.

“Kita ke belakang aja. Kamu masih ngerokok?” tanya Pappi sambil melangkah keluar.

Kenzo agak kikuk. “Eh… kadang-kadang, Om.”

Pappi mengangguk kecil. “Yaudah. Temani Om ngerokok.”

Di taman belakang, udara malam dingin dan tenang. Lampu taman temaram. Pappi menyalakan rokoknya lebih dulu, Kenzo menyusul. Asap tipis naik ke udara.

Beberapa detik hening.

“Om nggak nyangka,” ucap Pappi akhirnya, suaranya rendah, “tempat Om di hati Naya… udah kegeser sejauh ini.”

Kenzo menoleh cepat. “Maksud Om—”

“Biasanya dia nempel ke Om,” lanjut Pappi, tersenyum tipis tapi matanya serius. “Sekarang refleksnya ke kamu.”

Kenzo menghela napas kecil, lalu nyengir enteng.

“Yaa… gimana ya, Om. Naya cinta banget sama Kenzo.”

Pappi menoleh tajam. Bukan marah—lebih ke menilai.

“Kamu serius sama Naya?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.

Kenzo mematikan rokoknya di asbak taman. Tatapannya berubah, nggak ada bercanda.

“Kenzo serius, Om.”

Pappi mengangguk pelan. “Serius itu bukan cuma soal sayang.”

“Iya, Om,” jawab Kenzo mantap. “Soal jaga. Soal sabar. Soal nunggu dia siap.”

Pappi menghembuskan asap terakhir.

“Anak Om itu keras kepala, penasaran tinggi, emosinya meledak-ledak. Kalau kamu main-main—”

“Kenzo nggak akan,” potong Kenzo cepat. “Kalau Om khawatir Naya rusak… justru itu yang Kenzo jaga.”

Pappi menatap Kenzo lama. Lalu tersenyum kecil, pahit tapi lega.

“Berani ngomong gitu di depan ayahnya,” gumamnya.

“Yaudah. Tapi satu hal.”

“Apa, Om?”

“Kalau Naya nangis lagi gara-gara kamu,” suara Pappi tenang tapi berat,

“Om nggak akan sehalus ini.”

Kenzo tersenyum tipis. “Siap, Om.”

Pappi menepuk bahu Kenzo sekali—pelan, tapi penuh arti.

“Masuk. Jaga dia.”

Kenzo mengangguk.

“Iya, Om.”

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...----------------...

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!