NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: JALAN YANG MENYIMPANG

Chen Long berhenti di persimpangan.

Jalan ke kiri batu-batu paving rapi, lebar, menuju gerbang istana yang bisa dilihat dari kejauhan. Menara paling tinggi menyilaukan di bawah sinar matahari pagi. Tempat di mana Sunxin berada. Tempat di mana Kaisar menunggu. Tempat di mana pria Yang murni lain sudah bersiap.

Jalan ke kanan tanah merah, bebatuan, menanjak ke bukit-bukit rendah yang memisahkan ibu kota dari perbatasan. Menuju Barat. Menuju Wilayah Raja Zhong. Menuju tempat yang tidak pernah ia kunjungi.

Xiao Feng berdiri dua langkah di belakang. Napas anak itu masih terengah. Mereka berjalan cepat sejak meninggalkan penginapan. Terlalu cepat.

"Kita... salah jalan?" tanya Xiao Feng.

Chen Long tidak menjawab. Matanya menatap kedua arah. Bukan melihat jalan. Melainkan merasakan. Di kiri getaran yang salah. Terlalu banyak Yang murni. Terlalu banyak yang menunggu. Di kanan samar. Kabur. Namun... kosong. Tempat di mana sesosok di langit mungkin kesulitan menembus.

"Kau kembali," kata Chen Long.

Xiao Feng membeku. "Apa?"

"Ke penginapan. Atau ke nenekmu." Chen Long menoleh. Wajahnya datar. Bukan dingin. Melainkan... tegang. Seolah setiap ototnya sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya. "Kau tidak ikut."

"Tapi..."

"Aku tidak meminta." Chen Long mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jubahnya. Selembar kertas. Lipatan rapi. Diberikan Sunxin kemarin, namun belum sempat dibaca. Ia menuliskan sesuatu di punggungnya. Cepat. Kasar. "Berikan ini pada Sunxin. Jika ia datang mencari."

Xiao Feng menerima. Tangan kecilnya gemetar. "Isinya apa?"

"Permintaan maaf." Chen Long tersenyum. Sangat kecil. Sangat singkat. "Dan janji."

"Janji apa?"

Chen Long tidak menjawab. Ia sudah berbalik. Menuju jalan kanan. Menuju tanah merah. Menuju tempat yang tidak diketahui.

"Kau lari?" suara Xiao Feng mengejar. Tinggi. Hampir berteriak.

Chen Long berhenti. Tidak menoleh. "Kau ingin aku mati?"

"Tidak! Tapi..."

"Maka kau tahu jawabannya." Chen Long melangkah lagi. Lebih cepat. "Istana bukan tempatku. Bukan sekarang. Ada sesuatu di sana di langit yang lebih tua dari Kaisar. Lebih tua dari pemberontakan apa pun. Yang ingin aku lihat, aku tidak siap. Yang ingin aku jadi, aku belum paham."

Ia berhenti sejenak. Di puncak bukit pertama. Masih bisa dilihat dari bawah. Masih bisa dilihat Xiao Feng.

"Katakan padanya," suara Chen Long terbawa angin. "Aku tidak lari. Aku menyiapkan."

Lalu ia menghilang di balik punggung bukit.

Xiao Feng berdiri sendiri di persimpangan.

Kertas di tangannya terasa berat. Lebih berat dari batu. Ia ingin membuka. Ingin membaca. Namun sesuatu menahannya. Bukan rasa takut. Melainkan... penghormatan.

Ia berbalik. Menuju kiri. Menuju istana. Menuju tempat di mana Sunxin berada.

Chen Long berjalan sendiri.

Bukan berlari. Melainkan... melangkah dengan tujuan. Setiap langkah membawanya lebih jauh dari ibu kota. Lebih jauh dari Kaisar. Lebih jauh dari politik yang tidak ia mengerti.

Namun tidak lebih jauh dari bahaya.

Di atas, bulan merah masih ada. Meski matahari terik, meski langit biru ia bisa merasakannya. Mengintip. Menunggu. Sesosok itu masih di sana. Di tempat kedua. Di kekosongan yang tidak punya nama.

Namun semakin jauh ia berjalan, semakin kabur getarannya.

Wilayah Raja Zhong. Barat. Tempat di mana energi Qi lebih padat. Lebih liar. Lebih... tua. Mungkin di sana, di antara hutan peri yang konon melindungi wilayah itu, ia bisa menemukan sesuatu. Artefak. Pengetahuan. Cara untuk membuat tiga batu di sakunya tidak hanya berdialog melainkan berbicara dengan jelas.

Atau cara untuk membuat sesosok di langit itu buta.

Tiga hari berlalu.

Chen Long tidak tidur di penginapan. Tidak memasuki kota. Ia berjalan melalui hutan, melintasi sungai, tidur di bawah batu besar yang getarannya familiar tidak mengancam, hanya... ada.

Di malam ketiga, batu giok putih di sakunya berdenyut.

Sekali. Lembut. Seolah Sunxin sedang memegang pasangannya. Merasakan keberadaannya. Bertanya di mana.

Chen Long meletakkan tangan di saku. Tidak menjawab. Tidak bisa. Jarak terlalu jauh untuk resonansi penuh. Namun cukup dekat untuk tahu ia masih terhubung. Batu ini adalah tali. Tali yang akan menariknya kembali. Suatu hari. Saat waktunya.

Bukan sekarang.

Sekarang, ia berdiri di puncak bukit terakhir yang memisahkan Kekaisaran Yin dari Wilayah Barat. Di bawah, lembah hijau membentang. Hutan lebat. Kabut pagi yang bukan kabut biasa melainkan Qi yang terlalu padat, terlalu kaya, hingga menjadi terlihat.

Tempat di mana manusia bisa tenggelam.

Atau tempat di mana manusia bisa menemukan sesuatu yang hilang.

Chen Long melangkah turun.

Tiga batu di sakunya berdenyut bersama. Tidak serempak. Melainkan berurutan. Hitam. Putih. Abu. Seolah berkata: "Kami siap. Apakah kau?"

Ia tidak menjawab. Hanya melangkah lebih cepat.

Di belakangnya, di kejauhan, di tempat yang kini terasa seperti dunia lain ibu kota Kekaisaran Yin terus berjalan. Kaisar menunggu. Pemberontakan merencanakan. Pria Yang murni mengintai.

Dan Xiao Feng, dengan kertas di tangan, berjalan menuju Sunxin.

Di tempat kedua, di kekosongan, sesosok itu menatap. Bingung. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terlalu panjang untuk dihitung.

"Lari?" bisiknya. Bukan marah. Melainkan... tertarik. "Bukan ke istana. Bukan ke musuh yang kukenal. Melainkan ke... Barat?"

Ia tersenyum lagi. Senyum yang berbeda. Bukan pemburu yang menemukan mangsa. Melainkan pemain yang menemukan lawan yang tidak terduga.

"Baiklah," katanya. "Bermainlah di sana. Cari apa yang kaucari. Ketika kau berkembang dan kau akan kembali aku akan menunggu. Lebih siap. Lebih... lapar."

Bulan merah berdenyut sekali. Lalu meredup. Bukan hilang. Melainkan... menunggu.

Chen Long melangkah turun dari bukit terakhir.

Udara di Wilayah Barat berbeda. Bukan hanya lembap atau sejuk. Melainkan... padat. Seolah setiap napas yang dihela memasukkan sesuatu yang lebih dari oksigen. Sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang hidup.

Hutan di depannya bukan hutan biasa. Pohon-pohon tumbuh terlalu rapat. Akar-akar menjalar di atas tanah, membentuk pola yang hampir teratur. Seolah ditata. Seolah... dijaga.

Chen Long berhenti di tepi hutan. Tangan kirinya berada di saku, merasakan tiga batu. Giok hitam dingin. Giok putih tenang. Batu abu... gemetar.

Bukan ketakutan. Melainkan... pengakuan. Seolah batu itu mengenal tempat ini. Atau tempat ini mengenal batu itu.

Ia melangkah masuk.

Daun-daun bergoyang tanpa angin. Bukan banyak. Hanya beberapa. Di jalur yang ia lewati. Seolah hutan itu membuka jalan. Atau menutup jalan di belakangnya.

Chen Long tidak menoleh. Ia tahu. Tidak ada jalan kembali sekarang. Bukan karena hutan menghalangi. Melainkan karena ia sendiri yang tidak ingin kembali. Belum.

Setelah berjalan sejam atau mungkin dua, waktu terasa berbeda di sini ia menemukan tempat terbuka. Sebuah kolam. Airnya bukan biru atau hijau. Melainkan... perak. Seperti cermin yang tidak mencerminkan apa pun.

Chen Long berlutut di tepi kolam. Bukan untuk minum. Melainkan untuk... merasakan. Air itu dingin. Namun dingin yang berbeda dari Yin. Dingin yang tua. Dingin yang... menunggu.

Tiga batu di sakunya berdenyut bersama. Kali ini, serempak. Seolah berkata: "Di sini. Sesuatu ada di sini."

Chen Long menutup mata. Membiarkan dua arus di tubuhnya berputar. Yin dari giok hitam. Yang dari giok putih. Dan sesuatu yang ketiga samar, baru, tidak berbentuk dari batu abu.

Ketiganya merambat. Keluar dari tubuhnya. Menyentuh air kolam.

Dan air itu bergerak.

Bukan bergelombang. Melainkan... membuka. Di tengah kolam, air menyingsing, menyingkapkan sesuatu yang terkubur. Batu. Bukan batu besar. Hanya sebesar kepalan tangan. Namun getarannya...

Chen Long membuka mata.

Batu itu berwarna abu-abu. Sama seperti batu ke-11 yang ia bawa. Namun lebih tua. Lebih padat. Seolah versi asli dari yang ia miliki adalah salinan.

Ia mengulurkan tangan. Mengambil.

Batu itu hangat. Bukan suhu. Melainkan... kehidupan. Seolah baru saja dilepaskan dari sesuatu yang hidup. Sesuatu yang...

"Kau membawa setengahnya."

Suara itu datang dari belakang. Lembut. Perempuan. Namun bukan manusia. Getarannya salah. Terlalu tua untuk tubuh yang terlihat muda.

Chen Long berdiri. Perlahan. Tidak menoleh. Tangan kanannya tetap di saku, dekat tiga batu. Siap.

"Setengah apa?" tanyanya.

...BERSAMBUNG ...

...****************...

1
♨ˢᶜ🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ⰼ⃞☪zc❖
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
♨ˢᶜ🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ⰼ⃞☪zc❖
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
♨ˢᶜ🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ⰼ⃞☪zc❖
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!