Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
BAB 34: Jejak yang Terhapus Angin
Fajar di pinggiran Bandung pagi itu tidak datang dengan kehangatan. Ia hadir bersama kabut tebal yang menyelimuti jalanan aspal, seolah-olah alam pun sedang menyembunyikan rahasia besar dari mata-mata yang mengintai di setiap sudut kota. Di sebuah bengkel kecil yang masih tutup di daerah Cicaheum, Riki memeriksa tekanan ban motornya. Tangannya dingin, bukan hanya karena embun, tapi karena beban amanah yang baru saja ia terima dari Maman.
Di sampingnya, David—mantan panglima perang Venom Crew yang dulu paling beringas—sedang memanaskan mesin motor. Tidak ada lagi jaket kulit penuh emblem geng; yang ada hanyalah jaket parka kusam yang menutupi tubuh kekarnya. Di lehernya, sebuah kalung salib perak kecil sesekali berkilat tertimpa lampu jalan.
"Rik, lo yakin ini alamatnya?" suara David berat, memecah kesunyian pagi. "Maman bilang tempat ini hampir nggak ada di peta. Jauh di lereng Gunung Manglayang."
Riki mengangguk pelan, memasukkan secarik kertas kusam ke dalam saku dadanya. "Gue yakin, Vid. Ini satu-satunya cara. Alek di dalam sana lagi hancur. Bokapnya buang dia, nyokapnya diancam Rahardjo sampai nggak berani jenguk. Kalau kita nggak bawa kabar tentang Khansa, gue takut... gue takut Alek bener-bener kehilangan pegangan buat hidup."
David terdiam. Ia ingat bagaimana Alek semalam hampir mati kehabisan darah hanya untuk mempertahankan prinsip tidak membalas. "Alek itu singa, Rik. Dia bukan lagi Alexander yang brutal. Tapi sesabar-sabarnya singa, dia butuh alasan buat tetap bangun setiap pagi. Dan alasan itu adalah Khansa."
Mereka berdua memacu motor menembus kabut. Jalanan mulai menanjak, meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju kesunyian pegunungan. Riki terus melirik ke spion, waspada jika sedan hitam milik orang-orang Rahardjo membuntuti mereka. Rasa takut itu ada, namun setia kawan dan rasa bersalah atas masa lalu mereka jauh lebih besar.
Setelah tiga jam menempuh jalanan berbatu yang licin, mereka sampai di sebuah gerbang bambu yang bertuliskan Pesantren Al-Ikhlas. Suasananya sangat asri. Wangi tanah basah dan melati gunung menyeruak. Riki dan David turun dari motor, merasa sedikit canggung berada di lingkungan yang begitu religius, namun niat mereka tulus untuk sahabat mereka.
Seorang pria paruh baya dengan peci putih—Ustaz Hamdan—datang menghampiri mereka. Riki menyapa dengan sopan, menjelaskan tujuan mereka mencari Khansa untuk memberikan kabar kepada Alek di penjara. Namun, raut wajah Ustaz Hamdan seketika berubah sedih.
"Kalian terlambat dua hari, Nak Riki," ujar Ustaz Hamdan lirih. "Khansa sudah tidak ada di sini."
Jantung Riki seolah merosot ke lambungnya. "Pindah? Ke mana, Ustaz?"
Ustaz Hamdan mengajak mereka duduk. "Dua malam yang lalu, ada beberapa pria berwajah keras datang ke sini mencari Khansa. Mereka mengaku utusan orang berpengaruh di Jakarta. Mereka menggeledah kamar santriwati secara kasar."
David menggebrak meja kayu dengan kepalan tangannya, membuat debu beterbangan. "Rahardjo... bajingan itu benar-benar nggak kasih napas!" maki David tertahan. Matanya merah menahan amarah.
"Tenang, Vid! Jangan emosi di sini," tegur Riki sambil memegang lengan David. Riki menatap Ustaz Hamdan dengan memohon. "Lalu ke mana dia dibawa, Ustaz? Alek sedang sekarat di penjara, dia butuh tahu kalau Khansa aman."
Ustaz Hamdan menatap Riki dan David bergantian, melihat ketulusan dua pemuda yang jelas berbeda keyakinan namun begitu peduli pada Alek. "Ikut saya. Khansa meninggalkan sesuatu di biliknya sebelum ia pergi secara tersembunyi. Dia bilang, jika ada teman Alek yang datang, biarkan mereka melihat tempat ini sejenak."
Langkah kaki Riki dan David terasa berat saat melewati lorong asrama kayu yang sunyi. Ustaz Hamdan berhenti di depan sebuah pintu kecil dengan ukiran sederhana. Saat pintu itu terbuka, aroma melati yang lembut segera menyapa indra penciuman mereka—aroma yang sama dengan surat yang sering diterima Alek.
Kamar itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah kasur tipis di lantai, sebuah meja kayu kecil untuk belajar, dan sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah lembah hijau. Di sudut meja, terdapat sebuah sajadah biru yang terlipat rapi, diletakkan di samping sebuah mushaf Al-Qur'an.
Riki melangkah masuk dengan perasaan segan. Ia melihat sebuah bingkai foto kecil di meja. Di dalamnya bukan foto orang, melainkan potongan kertas bertuliskan ayat-ayat indah tentang kesabaran. Di bawah bingkai itu, ada sebuah amplop putih tanpa nama.
"Itu titipan untuk siapa pun teman Alek yang datang," ujar Ustaz Hamdan pelan.
Riki mengambil amplop itu. Tangannya gemetar. "Ustaz, apakah dia pergi dengan sukarela?"
"Dia pergi untuk melindungi tempat ini, Nak. Dia tidak ingin pesantren ini hancur karena dirinya. Khansa dibawa oleh kerabat jauhnya ke sebuah pondok di pelosok Jawa Timur, tempat yang bahkan saya tidak diizinkan untuk mencatat alamatnya demi keselamatannya," Ustaz Hamdan menghela napas. "Dia sangat kuat. Sebelum pergi, dia hanya berpesan: 'Katakan pada Mas Alek, jarak bukan pemisah selama langit yang kita tatap masih sama'."
David yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sebagai seorang Kristen yang tumbuh di kerasnya jalanan, ia tidak pernah membayangkan ada cinta sesuci ini—cinta yang dipisahkan oleh dinding penjara, perbedaan agama, dan ancaman maut, namun tetap kokoh dalam doa.
"Tuhan benar-benar lagi nguji mereka ya, Rik," bisik David parau. "Gue ngerasa nggak pantes berdiri di sini."
Riki membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat secarik kertas dan sebuah tasbih kecil berwarna hitam. Di kertas itu tertulis:
> "Untuk sahabat-sahabat Alek... Tolong jaga dia. Katakan padanya, jangan pernah menyerah pada gelap. Cahaya itu nyata, dan aku menunggunya di ujung jalan."
>
Riki mendekap kertas itu di dadanya. Ia merasa gagal karena tidak menemukan alamat pastinya, namun ia merasa berhasil mendapatkan "nyawa" untuk dibawa kembali ke klinik lapas.
"Kita harus balik sekarang, Vid," ujar Riki tegas. "Kita harus kasih tahu Alek lewat Pak Bayu. Dia harus tahu kalau Khansa pergi buat berjuang, bukan buat ninggalin dia."
Mereka berpamitan pada Ustaz Hamdan. Di tengah gerimis yang mulai turun kembali, Riki dan David memacu motor mereka menuruni lereng gunung. Kabut masih tebal, namun di dalam jaket Riki, tersimpan sebuah pesan yang akan menjadi penyambung nyawa bagi seorang pria yang baru saja dibuang keluarganya.
Di kejauhan, mobil hitam yang membuntuti mereka tadi tampak masih menunggu di persimpangan bawah. David melihatnya melalui spion dan menggertakkan giginya. "Mereka pikir mereka menang, Rik. Tapi mereka nggak tahu kalau Alek sekarang punya sesuatu yang lebih kuat dari peluru mereka."
"Apa itu, Vid?" tanya Riki di tengah deru angin.
"Harapan," jawab David mantap.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat namun penuh ketegangan. Riki terus memikirkan bagaimana caranya menyelundupkan tasbih dan pesan ini ke tangan Alek tanpa diketahui oleh mata-mata Rahardjo di dalam penjara. Di dalam hatinya, Riki berdoa dengan caranya sendiri, memohon perlindungan bagi sahabatnya yang kini telah memilih jalan hidup yang berbeda, namun tetap menjadi saudaranya selamanya.
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg