Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Perempuan yang Tidak Setia
Lin Dongxue berpikir sejenak sebelum menjawab, “Ambil rekaman kamera pengawas ketika kita keluar nanti. Kita lihat apakah wanita itu tertangkap oleh kamera mana pun.”
Chen Shi mengangguk tipis.
“Jawaban itu cukup baik, tetapi lokasi kejadian di dekat Jembatan An Fu tidak memiliki kamera pengawas. Jadi kemungkinan besar hal itu tidak akan efektif. Selain itu, pada malam kejadian, kondisi sangat gelap. Kualitas kamera pengawas non-kepolisian biasanya buruk. Jadi sekalipun kita menemukan rekamannya, belum tentu gambarnya dapat terlihat jelas.”
Lin Dongxue bertanya, “Kau sama sekali tidak mengingat wajah perempuan itu?”
Alih-alih menjawab langsung, Chen Shi bertanya sambil tersenyum, “Sudah berapa hari sejak kejadian?”
“Empat hari.”
“Menurutmu, berapa banyak orang yang saya temui dalam empat hari terakhir? Pernah dengar soal polusi ingatan? Semakin keras saya mencoba mengingat, semakin besar kemungkinan gambarnya menjadi salah dan malah menyesatkan.”
Chen Shi menjentikkan jarinya. “Ayo pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Menemui Chen Jun.”
Lin Dongxue menghubungi rekan kerjanya untuk mencari alamatnya. Dari informasi yang diperoleh, Chen Jun bekerja di sebuah perusahaan asing dan tinggal bersama beberapa rekannya di sebuah apartemen tiga kamar.
Sesampainya di lokasi, seorang pemuda berkulit cerah dengan mata sembap membuka pintu.
“Cari siapa?”
Lin Dongxue menunjukkan kartu identitasnya.
“Apa Anda Chen Jun? Kami ingin menanyakan beberapa hal.”
“Silakan masuk.”
Dengan beberapa pria tinggal di tempat itu, kondisinya sudah dapat ditebak: berantakan dan tidak terurus. Namun, kamar tidur Chen Jun yang ia masuki ternyata sangat bersih dan tertata.
Chen Shi mulai bertanya dengan cara yang teratur dan berpengalaman. Chen Jun menjawab semua pertanyaan satu per satu.
Ia menjelaskan bahwa ia telah berpacaran dengan Gu Mengxing selama tiga tahun. Mereka bertemu melalui sebuah permainan sosial di internet. Karena tinggal di kota yang sama, mereka memutuskan bertemu langsung. Pertemuan itu berjalan baik, dan hubungan mereka pun dimulai.
Gu Mengxing bekerja di sebuah perusahaan farmasi. Selain cantik, ia juga memiliki kepribadian yang menarik. Semua itu membuat Chen Jun merasa bangga setiap kali mengajaknya keluar. Chen Jun benar-benar mencintainya dan berharap suatu hari dapat menikahinya.
“Siapa sangka hal seperti ini terjadi… Wan Yueche itu benar-benar monster. Dia membunuhnya!”
Chen Jun mulai menangis.
Chen Shi tetap tenang dan bertanya, “Bagaimana hubungan sosial pacarmu? Apakah kalian punya teman yang sama?”
Chen Jun merenung dan mulai menyebutkan beberapa nama. Chen Shi mencatat semuanya di buku kecil Lin Dongxue. Lin Dongxue sempat melirik catatan itu — tulisan Chen Shi rapi, kuat, dan sangat teratur, seolah ia terbiasa menulis kaligrafi.
Setelah selesai, Chen Shi memeriksa daftar itu dan bertanya,
“Hanya ini? Tidak ada sahabat dekat?”
“Ada, tapi saya tidak mengenal mereka. Untuk apa menanyakannya?”
“Dalam penyelidikan kasus, semua detail penting.” Chen Shi berdiri. “Saya haus. Bisa tolong ambilkan segelas air?”
“Baik. Tunggu sebentar.”
Begitu Chen Jun pergi, Chen Shi langsung membuka laci dan mulai menggeledah.
“Hei! Apa yang kau lakukan? Ini tidak sesuai prosedur!” desis Lin Dongxue panik.
“Aku bukan polisi,” jawab Chen Shi datar.
Ia menemukan beberapa kotak obat, mengeluarkannya, lalu meletakkannya di meja. Suara langkah mendekat terdengar.
Lin Dongxue berbisik, “Kenapa tidak kau kembalikan saja?!”
Chen Shi bersikap seolah tidak mendengar.
Chen Jun masuk membawa segelas teh. Chen Shi berkata santai,
“Maaf, saya sempat melihat isi laci anda.”
Chen Jun tampak tidak senang, tetapi tidak protes.
Chen Shi menunjuk obat-obatan itu.
“Jika saya tidak keliru, obat-obatan ini untuk mengobati gonore. Ada yang ingin Anda jelaskan?”
“Go… gonore?” Lin Dongxue terkejut. Pemuda sopan dan rapi di hadapannya sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang menyembunyikan penyakit seperti itu.
Chen Jun tergagap.
“Saya… saya…”
“Saya harap Anda tidak menyembunyikan sesuatu dari kami,” kata Chen Shi dengan suara tenang. “Tenang saja, apa pun yang Anda katakan, tidak akan saya sebarkan.”
“Aku… aku memang terkena gonore!” akhirnya Chen Jun mengaku.
“Kapan dan bagaimana bisa terkena?”
“Ada… acara tahunan… Perusahaan memberi bonus, lalu beberapa rekan menarikku ke tempat seperti itu… Saat pulang… aku merasa gatal dan perih…”
Chen Jun mengusap hidungnya dengan gelisah.
“Kau tidak jujur. Gerak tubuhmu menunjukkan bahwa kau menyembunyikan sesuatu. Katakan yang sebenarnya.”
Wajah Chen Jun memerah.
“Ini tidak ada hubungan dengan kasusnya! Ini masalahku pribadi. Jelas-jelas pacarku dibunuh oleh supir Wang Yueche itu. Mengapa kalian malah menyelidikiku?!”
Chen Shi menatapnya tajam.
“Itu bukan urusan Anda. Kami yang menentukan arah penyelidikan. Kalau tidak mau jujur, saya katakan saja untukmu: Penyakit itu ditularkan oleh pacarmu, bukan?”
Chen Jun terdiam sejenak. Jelas ia terguncang.
Chen Shi melanjutkan,
“Kau punya cangkir pasangan dan foto berdua di mejamu. Setiap menyebut namanya, tatapanmu berubah. Itu menunjukkan kau sangat mencintainya. Karena itu, kau membela kehormatannya mati-matian. Tetapi kenyataannya, kehidupan pribadinya tidak seperti yang kau bayangkan. Ia bahkan menularkan penyakit itu padamu.”
“Cukup!” Chen Jun melempar cangkirnya ke lantai. “Jangan menjelekkan dia!”
Lin Dongxue tersentak, tetapi Chen Shi tetap tenang, menyalakan rokok sambil tersenyum tipis.
“Marah? Sepertinya tepat sasaran.”
Chen Jun menunjuk pintu.
“Keluar! Kalian tidak diterima di sini!”
Lin Dongxue mendesis pelan pada Chen Shi,
“Jangan seret aku! Kau baru saja membuat saksi penting marah!”
Chen Shi tetap tenang.
“Perempuan lajang berusia 25 tahun yang berhubungan dengan banyak pria — jelas hubungan sosialnya jauh lebih rumit daripada yang kau bayangkan. Kematian Gu Mengxing sangat mungkin terkait dengan kondisi medis yang kau alami. Jika kita pergi sekarang, polisi lain akan datang besok dan berkata: ‘Kasus belum bisa ditutup. Silakan ambil jenazahnya.’ Apa itu yang kau inginkan?”
Chen Shi mendekat, suaranya rendah dan tajam.
“Jika kau tidak bekerja sama, pelakunya akan tetap bebas. Mungkin akan muncul korban berikutnya. Sama seperti Gu Mengxing. Semuanya hanya karena tekadmu yang lemah dan alasan ‘harga diri’ yang tidak berarti. Sadarlah!”
Lin Dongxue melotot padanya, berusaha memberi kode agar ia berhenti. Namun Chen Shi tak peduli.
Chen Jun terpukul. Ia meremas rambutnya, tubuhnya bergetar. Tiba-tiba ia menutup pintu kuat-kuat dan jatuh ke kursinya. Dengan suara patah, ia berkata:
“Aku… aku akan bicara. Dia… dia memang pernah mengkhianatiku. Lebih dari sekali…”
Chen Shi bertanya dengan lembut namun tegas,
“Bagaimana kau mengetahuinya?”
Chen Jun menghela napas panjang, seolah mengeluarkan beban yang lama ia pendam.
“Temanku pernah melihat dia masuk hotel bersama pria tua. Awalnya aku tidak percaya. Tapi rasa curigaku makin kuat. Aku tidak bisa tidur. Aku terus membayangkan dia… bersama pria lain…”
Ia menutup wajahnya.
“Akhirnya aku memasang alat pelacak di ponselnya. Dan benar… aku menangkap basah. Bahkan bukan dengan pria yang pertama itu — tapi pria lain.”
Lin Dongxue menahan napas.
“Aku bertengkar dengannya. Aku ingin putus. Tapi dia menangis… dan aku luluh. Namun dia tidak berubah. Dia terus bersama pria lain… entah berapa banyak.”
Chen Jun memandang kosong ke lantai.
“Pada akhirnya dia bahkan berhenti menangis. Dia berkata bahwa meski tubuhnya tidak setia, hatinya akan selalu menjadi milikku…” Ia tertawa getir.
“Aku tidak percaya… tapi aku terlalu mencintainya untuk pergi. Lalu… kemudian…”
Chen Jun mengepal tangannya keras.
“Dia tertular penyakit itu… dan menularkannya kepadaku!”