"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : Ketika Tangan Itu Dilepas dengan Tenang
Usia tidak pernah mengumumkan kedatangannya.
Ia hanya membuat langkah melambat, napas lebih berhati-hati, dan kenangan terasa lebih dekat daripada rencana.
Pagi itu berbeda.
Aku terbangun lebih awal dari biasanya. Udara terasa lebih dingin, tetapi dadaku justru terasa ringan. Maria masih terlelap di sampingku, wajahnya damai seperti bertahun-tahun lalu saat pertama kali ia tertidur di bahuku setelah kami resmi menjadi suami istri.
Aku menatapnya lama.
Garis-garis usia di wajahnya bukan lagi tanda waktu yang berlalu—melainkan peta perjalanan yang kami tempuh bersama.
Aku bangun perlahan dan berjalan ke teras. Matahari belum sepenuhnya muncul. Langit berwarna abu kebiruan, seperti kanvas yang menunggu dilukis.
Aku duduk di kursi kayu itu—kursi yang sama tempat aku sering merenung tentang masa depan, tentang anak-anak, tentang ketakutan yang dulu terasa begitu besar.
Kini, ketakutan itu tidak lagi ada.
Yang ada hanya syukur.
Tak lama kemudian, Maria menyusul dengan dua cangkir teh hangat.
“Kamu mendahuluiku lagi,” katanya lembut.
“Aku hanya ingin melihat pagi lebih dulu,” jawabku sambil tersenyum.
Ia duduk di sampingku. Tangan kami bertaut tanpa perlu diminta.
“Kamu terlihat berbeda hari ini,” katanya.
“Mungkin karena aku merasa lengkap.”
Maria menatapku, mencoba memahami.
“Apa maksudmu?”
Aku menarik napas perlahan.
“Kalau hari ini adalah hari terakhirku, aku tidak membawa penyesalan besar.”
Maria langsung menggenggam tanganku lebih erat.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Aku tidak sedang berpamitan,” kataku pelan. “Aku hanya sedang jujur.”
Ia terdiam. Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma tanah yang basah.
Beberapa jam kemudian, Naomi datang membawa kabar bahwa ia sedang mengandung anak pertamanya. Daniel menyusul siang harinya, wajahnya berseri karena proyeknya akhirnya mendapatkan pendanaan besar.
Rumah kembali ramai.
Tawa terdengar di ruang makan. Maria memasak lebih banyak dari biasanya. Naomi bercerita tentang nama-nama bayi yang ia pertimbangkan. Daniel sibuk menjelaskan rencana masa depan.
Aku duduk di kursi ujung meja, memandangi mereka satu per satu.
Anakku akan menjadi ibu.
Anakku yang lain telah menjadi lelaki dewasa.
Lingkaran itu benar-benar telah sempurna.
Sore menjelang malam, setelah semua kembali tenang, aku merasa lelah yang berbeda. Bukan lelah karena bekerja, bukan pula karena sakit.
Hanya… lelah yang damai.
Maria membantuku duduk di kursi teras.
“Kamu istirahat saja di dalam,” katanya khawatir.
“Aku ingin di sini,” jawabku pelan. “Tempat ini sudah menyaksikan seluruh hidupku.”
Ia duduk di sampingku.
“Maria,” panggilku.
“Iya?”
“Terima kasih sudah memilih tinggal, bahkan ketika aku sulit.”
Air matanya mulai jatuh.
“Terima kasih juga sudah selalu pulang, meski dunia memberimu banyak alasan untuk pergi.”
Aku tersenyum.
Di dalam rumah, suara Naomi dan Daniel terdengar samar. Mereka sedang tertawa.
Suara itu tidak lagi terasa seperti kebisingan.
Itu adalah bukti bahwa hidup terus berjalan.
Aku menggenggam tangan Maria.
“Jangan takut,” kataku lembut.
“Aku tidak siap,” bisiknya.
“Kita tidak pernah benar-benar siap. Tapi kita selalu cukup.”
Napas terasa semakin pelan.
Tidak ada rasa sakit yang menakutkan. Tidak ada panik. Hanya ketenangan yang sulit dijelaskan.
Aku memandang langit yang mulai gelap.
Hidupku tidak sempurna.
Aku pernah salah memilih kata.
Pernah terlalu keras.
Pernah terlalu takut.
Namun aku juga pernah mencintai dengan sungguh.
Dan itu cukup.
Maria memanggil namaku pelan.
Aku ingin menjawab.
Namun tubuhku terasa ringan, seperti beban yang perlahan dilepas.
Dalam detik-detik terakhir kesadaranku, aku mendengar suara cucu yang belum lahir, masa depan yang belum kulihat, dan keluarga yang akan tetap berjalan.
Aku tidak pergi dengan rasa kehilangan.
Aku pergi dengan rasa selesai.
Beberapa hari kemudian, rumah itu kembali sunyi.
Namun bukan sunyi yang kosong.
Di dinding ruang tamu, foto keluarga terakhir kami tergantung rapi. Aku duduk di tengah, Maria di sampingku, Naomi dan Daniel berdiri di belakang dengan senyum lebar.
Naomi sering duduk di teras sambil mengusap perutnya yang membesar.
“Papa pasti senang,” katanya.
Daniel kini lebih sering pulang, membantu Maria memperbaiki hal-hal kecil di rumah.
Maria masih membuat dua cangkir teh setiap pagi.
Satu ia minum.
Satu ia letakkan di kursi kosong di sebelahnya.
Bukan karena ia belum menerima.
Tetapi karena cinta tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berubah bentuk.
Waktu terus berjalan.
Bayi itu lahir dengan tangisan pertama yang memenuhi ruangan rumah sakit.
Seorang bayi perempuan.
Naomi menatap Maria.
“Kita beri nama dia apa?”
Maria tersenyum sambil menahan air mata.
“Kita beri dia nama yang berarti ‘hadir’.”
Karena itulah yang paling penting.
Hadir ketika dibutuhkan.
Hadir ketika sulit.
Hadir tanpa syarat.
Dan di suatu sudut langit yang tak terlihat oleh mata manusia, seorang lelaki yang pernah takut pada kehilangan kini tersenyum tenang.
Ia tidak lagi berjalan.
Namun jejak cintanya tetap tinggal.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa lama kita bernapas—
Melainkan tentang seberapa dalam kita mencintai.
Dan lelaki itu,
Telah mencintai dengan sungguh.
...TAMAT...