NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Nadir dan Misteri Senjata Tanpa Bentuk

Anak kecIl bernama Nadir itu melangkah turun dari anak tangga singgasana dengan gerakan yang sangat ganjil, seolah-olah kakinya tidak benar-benar menyentuh lantai marmer istana yang kini telah retak.

Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak berupa lubang kegelapan yang menghisap cahaya di sekitarnya.

Pangeran Lingga segera bergerak ke depan, melindungi Ranu yang masih terengah-engah, sementara Nara menarik tali busurnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

"Jangan mendekat, bocah iblis!" teriak Lingga, pedang Candra Kirana di tangannya bergetar hebat, seakan-akan logam suci itu pun merasa ngeri menghadapi eksistensi di depannya.

Nadir berhenti, lalu memiringkan kepalanya dengan tatapan polos yang mengerikan.

"Kenapa kalian begitu marah? Aku hanya mengambil apa yang sudah dijanjikan oleh alam semesta sejak awal penciptaan. Keseimbangan menuntut agar cahaya kembali ke rahim kegelapan. Kalian hanya menunda hal yang tak terelakkan."

Ranu memaksakan dirinya untuk berdiri, bersandar pada bahu Nara. Mata peraknya menatap tajam ke arah Nadir, mencoba mencari celah atau inti energi di dalam tubuh kecil itu, namun ia tidak menemukan apa-apa selain kekosongan yang tak berujung.

"Kau bukan bagian dari Sembilan Langit, dan kau bukan pula dari Langit Kesepuluh. Kau adalah personifikasi dari ketiadaan itu sendiri, bukan begitu?" tanya Ranu dengan suara serak.

Nadir tertawa, suara tawa yang terdengar seperti ribuan kaca yang pecah secara bersamaan.

"Pintar sekali, Wira Candra. Aku adalah sisa dari ledakan besar yang menciptakan jagat raya ini. Aku adalah 'sampah' yang kalian lupakan. Dan sekarang, sampah ini akan menelan kembali penciptanya."

Tiba-tiba, sebuah ledakan energi hitam menyapu seluruh aula istana. Lingga dan Nara terpental menghantam pilar, sementara Ranu terjatuh berlutut. Nadir mengangkat tangan kecilnya ke langit, dan dari lubang dimensi di atas istana, muncul rantai-rantai raksasa yang mulai menarik Pilar Jagat ke atas.

"Tanpa pengorbanan raja tadi, pilar ini tidak akan memiliki cukup massa untuk membuka gerbangku. Dia pikir dia menyelamatkan dunia, padahal dia baru saja memberikan kunci emas padaku," ucap Nadir sambil tersenyum lebar.

Di saat keputusasaan mulai memuncak, suara derap langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah gerbang belakang istana. Seorang pria dengan pakaian pendekar yang sudah compang-camping dan bau ikan bakar yang menyengat muncul sambil membawa sebuah bungkusan kain panjang.

"Den Ranu! Jangan menyerah dulu! Hamba membawa titipan dari leluhur!"

Itu adalah Ki Sastro. Wajahnya penuh dengan jelaga, namun matanya bersinar dengan semangat yang luar biasa. Ia berlari melewati reruntuhan dan melemparkan bungkusan kain itu ke arah Ranu.

"Sastro? Bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanya Ranu terkejut saat menangkap bungkusan tersebut.

"Ceritanya panjang, Den! Intinya, setelah hamba menjaga bapak dan ibu di laut, hamba bertemu dengan arwah kakek buyut hamba di dasar samudra. Beliau bilang, hanya senjata ini yang bisa melukai sesuatu yang tidak berbentuk!" jawab Sastro sambil terengah-engah.

Ranu membuka bungkusan kain itu dengan cepat. Di dalamnya, ia tidak menemukan pedang, tombak, ataupun keris. Yang ada hanyalah sebuah Batang Bambu Kuning yang masih basah dengan embun, tanpa mata pisau ataupun hiasan apa pun.

Nadir yang melihat benda itu mendadak menghentikan tawanya. Ekspresi wajahnya yang semula tenang berubah menjadi penuh kecemasan.

"Bambu itu... Kenapa benda rendah itu masih ada di dunia ini?!" teriak Nadir dengan suara yang berubah menjadi berat dan parau.

Ranu menatap bambu kuning di tangannya. Ia merasakan getaran yang sangat halus, sebuah energi yang tidak berasal dari langit maupun bumi, melainkan berasal dari Niat Murni.

"Aku mengerti," gumam Ranu sambil tersenyum tipis. "Senjata tanpa bentuk untuk melawan musuh tanpa wujud. Bambu ini tidak memiliki energi dewa yang bisa kau hisap, Nadir. Ia hanya memiliki niat hidup dari akar yang paling dalam."

Ranu berdiri tegak, menggenggam bambu kuning itu seperti seorang petani yang hendak menanam padi. Di belakangnya, Bintang Kedelapan bersinar redup namun stabil, menyatu dengan esensi bambu tersebut.

"Lingga, Nara, Sastro! Berikan aku waktu satu menit! Aku harus menyatukan niatku dengan bambu ini!" perintah Ranu.

Nadir yang mulai panik melepaskan gelombang kegelapan yang luar biasa besar untuk menghancurkan mereka semua.

"Kalian tidak akan sempat! Kegelapan akan menelan segalanya!"

Lingga bangkit dengan sisa kekuatannya, berdiri di depan Ranu dengan posisi bertahan.

"Sastro, Nara! Bentuk formasi segitiga! Kita lindungi Ranu dengan nyawa kita!"

Nara melepaskan panah-panah terakhirnya yang kini ia campur dengan darahnya sendiri untuk meningkatkan daya hancurnya. Sastro, yang ternyata diam-diam telah mempelajari sedikit kanuragan dari catatan lama Ranu, menghentakkan kakinya ke bumi, menciptakan dinding tanah untuk menahan gempuran kegelapan.

Di tengah hiruk-pikuk pertempuran yang tidak seimbang itu, Ranu memejamkan matanya. Ia tidak lagi membayangkan dirinya sebagai dewa agung Wira Candra. Ia membayangkan dirinya sebagai Ranu, anak desa yang suka makan nasi jagung, yang suka menyapu halaman, dan yang mencintai aroma tanah setelah hujan.

"Niat adalah awal dari segala penciptaan," bisik Ranu. "Dan niatku adalah untuk terus hidup dan melihat dunia ini tumbuh."

Bambu kuning di tangannya tiba-tiba memanjang dan memancarkan cahaya hijau yang sangat lembut, cahaya yang terasa sejuk di tengah panasnya energi kehampaan. Ranu melangkah maju, melewati teman-temannya yang sudah di ambang batas kemampuan.

"Nadir, kau bilang kau adalah sisa dari penciptaan. Maka biarlah bambu ini mengingatkanmu pada akar yang kau tinggalkan," ucap Ranu dengan tenang.

Ranu mengayunkan bambu kuning itu dengan gerakan menyapu yang sangat sederhana. Tidak ada ledakan cahaya yang menyilaukan, namun setiap kali bambu itu melewati kegelapan, lubang-lubang kehampaan milik Nadir tertutup dan berubah menjadi tunas-tunas rumput hijau yang baru.

Nadir menjerit saat bambu itu menyentuh dadanya. Tubuh kecilnya mulai retak, bukan mengeluarkan darah, melainkan mengeluarkan cahaya putih yang selama ini ia telan.

"Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa benda sepele ini menghancurkan kehampaan?!"

"Karena hidup bukanlah sesuatu yang sepele, Nadir," jawab Ranu.

Dengan satu hentakan terakhir, Ranu menancapkan bambu kuning itu ke lantai istana. Seketika, sebuah pohon bambu raksasa tumbuh dengan sangat cepat, melilit Pilar Jagat dan mengikatnya kembali ke bumi. Nadir terhisap masuk ke dalam batang pohon tersebut, tersegel oleh kekuatan kehidupan yang tak terbendung.

Langit Galuh Pakuan yang tadinya hitam kelam kini berubah menjadi biru cerah. Rantai-rantai dimensi hancur berkeping-keping. Para dewa jatuh yang pingsan mulai terbangun dengan kesadaran yang telah pulih.

Ranu terjatuh terduduk, napasnya berat, namun wajahnya tampak sangat puas. Ki Sastro segera berlari mendekat dan memeluk tuannya itu.

"Den Ranu! Kita menang! Kita benar-benar menang!"

Lingga dan Nara juga mendekat, mereka berdua duduk di samping Ranu dengan tubuh yang penuh luka, namun tersenyum lega menatap langit yang damai.

"Terima kasih, Sastro," ucap Ranu sambil menepuk punggung asisten setianya itu. "Tanpa bambu ini dan ikan bakar yang kau janjikan, aku mungkin sudah menyerah."

"Ah, soal ikan bakar itu, Den... sebenarnya tadi hamba sempat menjatuhkannya saat dikejar Manusia Kerak," ucap Sastro sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ranu tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang tulus yang membuat suasana di reruntuhan istana itu terasa jauh lebih hangat.

Namun, di tengah kegembiraan itu, Ranu melihat ke arah pohon bambu raksasa yang menyegel Nadir. Di sana, tertempel sebuah gulungan kertas kecil yang muncul secara ajaib. Ranu mengambilnya dan membacanya.

Wajah Ranu yang semula ceria perlahan berubah menjadi serius kembali. Ia menatap ke arah pegunungan di Benua Barat.

"Ada apa, Ranu?" tanya Nara yang menyadari perubahan ekspresi temannya.

"Penyegelan Nadir hanyalah awal dari ujian yang sesungguhnya," jawab Ranu pelan. "Pohon ini hanya akan bertahan selama seratus hari. Untuk memusnahkan kehampaan secara permanen, kita harus menemukan Tinta Kehidupan yang dijaga oleh Naga Langit di Puncak Meru."

Lingga berdiri dan menghunus pedangnya kembali ke langit.

"Kalau begitu, kenapa kita masih di sini? Seratus hari adalah waktu yang singkat untuk perjalanan melintasi benua."

Ranu tersenyum, menatap ketiga sahabatnya yang kini telah menjadi keluarga baginya. Perjalanan panjang untuk menyelamatkan dunia ternyata masih jauh dari kata selesai, dan bab-bab selanjutnya dari novel kehidupan mereka baru saja dimulai.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!