apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masakan Thalia
Setelah aroma aneh dari nasi goreng memenuhi sudut-sudut apartemen, Thalia melangkah ringan menuju kamar suaminya. Ini terjadi keesokan harinya.
Ia membawa secercah harapan yang dipelajarinya dari Nana sahabat nya yang selalu mendoktrin bahwa nasi goreng adalah ritual sarapan yang sakral bagi setiap orang
Selama ini, Thalia hanya menjadi pengamat dalam diam, menghafal setiap butir bumbu yang menari di atas wajan Nana, menanti saat di mana ia bisa menyajikan kasih sayang dalam bentuk hidangan nyata sebagai bentuk terima kasih nya karena suami nya telah merawat nya kemarin.
Namun, kamar itu kosong. Kesunyian menyambutnya hingga suara denting pintu utama memecah lamunan. Di ambang pintu, berdirilah Cavin dengan tatapan sedingin es.
"Om dari mana?" tanya Thalia pelan.
Tanpa satu patah kata pun untuk menjawab kegelisahan itu, Cavin hanya menyodorkan sebuah kantong plastik berisi makanan, sebuah gestur hambar yang lebih terasa seperti perintah dari pada perhatian.
Pada awal nya ia sangat risih di panggil om oleh istri nya, namun penjelasan dari asisten nya, yang menjelaskan tentang keadaan Thalia yang sebenarnya , jadi ia mulai membiasakan meskipun masih terasa kesal ia tidak ingin di anggap pedof*l oleh orang lain, jika istrinya itu terus terusan memanggil nya dengan kata om.
"Makanlah, lalu segera istirahat, jangan banyak aktivitas "ujar Cavin datar sebelum langkahnya kembali menjauh menuju kamar.
Dahulu, jarak di antara mereka begitu nyata Cavin lebih memilih tidur di sofa ruang tamu atau mengunci pintu kamar nya demi menghindari kehadiran Thalia.
Kini, meski perceraian telah menjadi jalan buntu yang tak mungkin ia tempuh,
Cavin tetap membangun batasan yang tak boleh di campuri . Ia pasrah pada takdir, namun enggan melebur dalam kehangatan yang coba ditawarkan istrinya.
Thalia menatap nasi goreng di atas meja dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi aku sudah memasak... Nana bilang ini sarapan wajib. Kenapa Om tidak mau?" gumamnya lirih,
Enggan melihat usahanya terbuang sia-sia, Thalia menyimpan nasi goreng itu ke dalam wadah rapat, menirukan kebiasaan Nana. Namun, sesaat kemudian sebuah pikiran melintas. "Apa kuberikan pada orang lain saja?"
Ia mengeluarkan kembali wadah itu, bersiap melangkah keluar apartemen sebelum suara bariton Cavin menghentikannya di ambang pintu.
"Mau ke mana?" tegur Cavin tajam.
"Mau memberikan makanan ini ke penjaga di bawah," jawab Thalia jujur, matanya yang jernih menatap polos.
"Jangan turun. Biarkan dia yang mengambilnya ke atas."
"Tapi bagaimana aku memberitahunya jika aku tidak boleh keluar?" tanya Thalia, kebingungan menyelimuti wajahnya yang masih pucat karena baru sembuh.
Cavin mengernyit, ada ketegangan yang merambat di antara mereka. "Kenapa?"
"Apanya yang kenapa, Om?"
"Kenapa tidak kau makan sendiri?" tanya Cavin dingin.
Dalam benaknya, ia mengira Thalia tengah membuang makanan yang baru saja ia belikan, sebuah tindakan yang ia anggap sebagai bentuk ketidak hormatan.
"Aku tidak mungkin menghabiskannya sendirian. Nana bilang tidak boleh jadi orang rakus."
"Itu hanya satu porsi. Apa kau begitu takut menjadi gemuk?" sindir Cavin.
"Tapi... aku membuatnya untuk dua porsi, seperti yang biasa Nana siapkan untuk kami berdua," Thalia menjelaskan dengan nada rendah, jemarinya meremas pinggiran wadah plastik.
Cavin terdiam sejenak, menyadari ada perbedaan percakapan mereka. Matanya tertuju pada wadah di tangan Thalia. "Apa itu?"
"Nasi goreng."
"Dari mana?"
"Thalia yang buat sendiri," sebuah senyum tipis
campuran antara bangga dan ragu merekah di bibir mungilnya. "Om... mau mencoba?"
Hening menyelimuti ruang itu beberapa saat sebelum Cavin menjawab dengan nada datar yang sulit diartikan. "Siapkan ke piring."
Dengan binar mata yang kembali menyala, Thalia segera menyajikan hasil karyanya. Cavin duduk dengan angkuh, menyendok kan suapan pertama ke dalam mulutnya.
Namun, baru saja butiran nasi itu menyentuh lidahnya, matanya melebar dan tenggorokannya terasa seperti terbakar atau mungkin tercekik oleh rasa yang tak terduga.
"Air..." desis Cavin pendek, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang oleh keajaiban rasa nasi goreng buatan Thalia.