NovelToon NovelToon
My Big Boy

My Big Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Posesif
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)

Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung dalam bayangan

Pagi itu saat sarapan pagi Rania sedang memakan sarapannya namun lagi-lagi makanan itu menolak masuk, Rania terus memaksa makan namun lagi-lagi menolak dan berakhir Rania mual, ia berdiri dari kursinya dan sedikit berlari kearah wastafel lalu memuntahkan makanan yang ia makan tadi.

Marco yang melihat itu langsung mendekat dengan khawatir. Rania mengangkat tangannya agar Marco tidak mendekat karna tidak mau pria itu jijik padanya.

"j-jangan mendekat_hueekkk" Rania kembali muntah.

Marco tetap mendekat ia memijat tengkuk Rania, kaki Rania lemas ia hampir terduduk jika Marco tidak cepat menahan tubuh istrinya.

"Sayang..." Marco menahan Rania erat.

"kita kerumah sakit!" ujar Marco hendak menggendong Rania namun Rania dengan cepat menahan tangan Marco.

"tidak perlu! ini gejala normal aku selalu seperti ini saat hamil" ujar Rania jujur.

"selalu seperti ini?" ulang Marco. Rania mengangguk.

"Tapi kau menderita ini tidak normal pasti ada yang salah, kita harus kerumah sakit!" ujar Marco tidak ingin dibantah.

Ia menggendong Rania dan membawanya keluar rumah, Jerry sudah menunggu didepan dan membukakan pintu mobil. Dibelakang Mobil nya ada beberapa mobil yang berjejer.

Benar keamanan ketat, Marco tidak ingin mengambil resiko atas nyawa Rania dan anak dalam kandungan nya.

Mobil melaju membelah jalanan pagi yang masih diselimuti embun. Sirine pengawal di belakang sesekali terdengar, membuat kendaraan lain menepi memberi jalan. Di dalam mobil, suasana terasa begitu tegang.

Rania bersandar lemah di dada Marco. Wajahnya pucat, bibirnya kering, namun ia berusaha tersenyum kecil agar pria itu tidak semakin panik.

"… aku tidak apa-apa, sungguh" bisiknya lirih.

Marco menunduk, mengecup kening istrinya lama. Tangannya tak berhenti mengusap punggung Rania dengan lembut, jika bisa ia ingin memindahkan rasa sakit itu pada dirinya.

"Aku tidak peduli ini normal atau tidak. Kalau kamu kesakitan seperti itu, itu bukan hal kecil untukku," ucapnya tegas, namun suaranya bergetar menahan takut.

Jerry yang duduk di kursi depan hanya bisa melirik melalui kaca spion. Ia jarang melihat tuannya setegang ini. Marco yang biasanya dingin dan penuh kendali, kini tampak seperti pria yang takut kehilangan dunianya.

Tak lama, rombongan mobil itu memasuki halaman rumah sakit. Para petugas medis sudah berjaga tentu saja, kedatangan seorang Marco bukan hal sepele.

Mobil berhenti.

Belum sempat Jerry membuka pintu, Marco sudah lebih dulu turun sambil menggendong Rania dengan hati-hati, seolah ia sedang membawa benda paling rapuh di dunia.

"Siapkan dokter terbaik sekarang," perintahnya dingin pada salah satu perawat yang mendekat.

Rania mencengkeram kerah kemeja Marco pelan. "Jangan marah-marah… nanti bayinya dengar," gumamnya lemah.

Marco langsung melunak, beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam berlalu. Marco terus menggenggam tangan Rania erat.

"Tuan. Kondisi ibu dan janin baik. Ini hanya morning sickness yang cukup berat. Wajar terjadi di trimester awal."

Marco terdiam beberapa detik, seperti memastikan ia tidak salah dengar.

"Benar-benar tidak ada masalah?" tanyanya memastikan.

"Tidak ada. Tapi Ibu Rania perlu istirahat lebih banyak dan asupan nutrisi yang terkontrol. Jika muntahnya terlalu sering, kita bisa beri terapi tambahan."

"sudah aku bilangkan,ini normal saat aku mengandung Vano dan Cantika juga seperti ini…" ujar Rania lembut.

Marco menggenggam tangan Rania dan mengecupnya penuh syukur.

"Aku hampir kehilangan akal sehat tadi," bisiknya.

Rania tersenyum kecil. "Padahal aku cuma muntah."

"Kamu bukan ‘cuma’ untukku."

Kalimat itu membuat pipi Rania memerah. Ia menatap layar kecil di sampingnya yang masih menampilkan bayangan kecil kehidupan di dalam rahimnya.

Marco ikut melihatnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum tulus menghiasi wajahnya.

"Itu anak kita…" gumamnya pelan, seolah masih tak percaya.

Rania mengangguk, air matanya jatuh perlahan.

Marco menghapusnya dengan ibu jari. "Aku akan jaga kalian berdua. Tidak peduli apa pun yang harus kulakukan."

Di luar ruangan, para pengawal masih berjaga ketat. Dunia Marco mungkin penuh musuh dan bahaya… tapi di ruangan itu, yang ada hanya seorang suami yang takut kehilangan istri dan calon anaknya.

Dan pagi yang tadinya dipenuhi kepanikan, kini berubah menjadi pagi yang dipenuhi harapan.

Namun tanpa mereka sadari…

Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan kedatangan rombongan itu sejak tadi.

Seseorang tersenyum tipis.

"Bersenang-senang lah karna sebentar lagi, kau akan mati Rania!" ujar Catrin penuh kebencian.

 

Perjalanan pulang terasa lebih tenang, namun Marco tetap tak melepaskan genggamannya dari tangan Rania sedikit pun. Seolah jika ia lengah sedetik saja, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Mobil berhenti di halaman rumah besar itu, pintu terbuka, dan dua pasang mata kecil sudah menunggu di ambang pintu.

Vano berdiri paling depan. Bocah sebelas tahun itu menatap Rania dengan wajah serius terlalu serius untuk anak seusianya.

Sedangkan di sampingnya, Cantika yang baru tiga tahun sudah berlari kecil begitu melihat Rania turun.

"Mommy!" serunya riang, namun suaranya berubah pelan ketika melihat wajah Rania yang masih pucat.

Cantika langsung memeluk kaki Rania erat-erat. Tangan mungilnya terangkat, mengusap perut Rania dengan penuh rasa ingin tahu.

"Dedek bayi…" gumamnya polos.

Rania tersenyum haru. Ia berjongkok perlahan, walau Marco langsung sigap menahan pinggangnya.

"Pelan-pelan," bisik Marco tegas namun lembut.

Vano mendekat, matanya berkaca-kaca. "Bunda sakit lagi?" tanyanya lirih.

(oh ya Vano tetap manggil Rania Bunda ya, karna Vano lebih nyaman dengan panggilan Bunda dari pada Mommy, karna Vano udah lama tinggal di Indonesia dan besar disana dan setiap harinya memanggil Bunda pada Rania,jadi saat memanggil Mommy lidah nya kaku dan tidak nyaman) Author.

Rania menggeleng pelan. Ia meraih kedua anaknya, memeluk mereka meski tubuhnya masih lemah.

"Bunda tidak sakit. Dedek bayi cuma bikin Bunda mual sedikit," jawabnya sambil mencium pucuk kepala Cantika.

Cantika mengangguk seolah mengerti. Lalu ia menempelkan telinganya ke perut Rania.

"Dedek… jangan nakal ya… jangan bikin Mommy muntah," ucapnya dengan nada serius yang membuat semua orang terdiam beberapa detik.

Vano ikut mendekat, tangannya menyentuh perut Rania dengan hati-hati.

"Kalau dedek nakal… aku marahin," katanya mantap.

Marco yang berdiri di belakang mereka tak bisa menahan senyum. Hatinya yang tadi diliputi ketakutan, kini terasa hangat.

"Kalian berdua sudah jadi bodyguard Mommy, ya?" ucap Marco.

"Iya!" jawab Vano cepat.

Cantika ikut mengangguk meski mungkin tak sepenuhnya paham arti bodyguard.

Rania tertawa pelan, namun Marco langsung menyentuh pundaknya.

"Masuk ke dalam. Kamu harus istirahat," katanya.

"Aku bisa jalan sendiri," protes Rania pelan.

Namun belum sempat ia melangkah, Marco sudah mengangkatnya lagi tanpa peringatan.

"H-hubby!" Rania memukul pelan dada suaminya, malu karena para pengawal dan Maid rumah tangga melihat.

Marco tak peduli. "Dokter bilang kamu harus banyak istirahat."

Cantika bertepuk tangan kecil. "Daddy kuat!"

Vano hanya menggeleng, tapi senyumnya tipis, Vano senang karna bundanya akhirnya menemukan laki-laki yang mencintai nya dan menjaganya. Marco juga tidak mempermasalahkan ia dan Cantika ayah sambung nya itu berprilaku baik namun juga tegas, selain memasukkan Vano ke sekolah elit di Milan. Marco juga memberikan Vano latihan khusus bahkan membayar seorang guru privat. Vano ingat apa yang Marco katakan padanya.

"Seorang Moretti tidak pernah membiarkan orang lain menginjak atau direndahkan!"

Di kamar, Marco membaringkan Rania dengan hati-hati. Ia menyelimuti istrinya, lalu duduk di tepi ranjang.

Vano dan Cantika naik ke atas kasur, duduk di sisi Rania.

Cantika kembali mengusap perut Mommynya.

"Mommy… dedek bisa dengar Cantika?"

"Bisa," jawab Rania lembut.

Cantika langsung tersenyum lebar. "Dedek… Cantika sayang…"

Suasana kamar itu dipenuhi kehangatan yang sederhana. Tak ada kemewahan yang berarti dibandingkan momen itu.

Marco menatap keluarga kecilnya. Hatinya menguatkan satu janji dalam diam.

Tak peduli siapa pun yang mengintai dari luar sana… Tak akan ada yang menyentuh keluarganya. Tak akan ada.

Namun di luar pagar rumah mewah itu, sebuah mobil hitam berhenti sesaat.

Seseorang di dalamnya menatap ke arah jendela kamar lantai dua. Dan perlahan… senyum tipis itu kembali muncul.

"Tuan besar, anda tidak masuk?" tanya Asisten nya.

"Tidak, perketat lagi keamanan tanpa sepengetahuan Marco, jika keluarga Smith berani bertindak jauh hingga menyakiti cicitku, aku sendiri yang akan turun tangan" ujar Tuan besar Moretti.

Asisten nya mengangguk mengerti lalu menghidupkan mobil dan menjalankan mobil meninggalkan Mansion mewah Marco itu.

 

Holla guys aduh bingung Mimin mau ngomong apa yauda lah guys jangan lupa Vote like dan komen ok bye.

Sakit banget kepala Mimin karna banyak cerita yang mengalir.

Udah tiga Novel yang publish tinggal yang lain nyusul. Nanti lagi aja Mimin tulis satu-satu capek banget nulis semua nya nanti gak kelar kelar.

Jangan lupa baca cerita Mimin yang lain dan nantikan novel-novel terbaru Mimin ya.

1
Hesty
ko ga up😄
Nyai Nung: Lagi proses sayang, malam baru up
total 1 replies
Hesty
ko ga up😄
anggita
like iklan👍☝
anggita
kadang KDRT malah jdi trend😑
Nyai Nung: Gimana maksudnya sayang?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!