NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 di balik tembok putih

# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA

## BAB 3: Di Balik Tembok Putih

Suara adzan Subuh berkumandang lembut dari masjid pesantren. Khansa terbangun bahkan sebelum adzan selesai. Ini sudah kebiasaannya sejak masuk pesantren tiga tahun lalu—bangun sebelum adzan, berwudhu dengan tenang, lalu menunaikan shalat Tahajud di mushalla kamar.

Kamarnya yang kecil itu dia huni bersama tiga santri lainnya. Salma masih terlelap di kasur sebelah, begitu juga Nabila dan Zahra. Khansa mengambil mukenah putihnya, berjalan pelan agar tidak membangunkan teman-temannya.

Di mushalla kecil yang hanya berukuran dua kali tiga meter itu, Khansa meletakkan sajadah. Dia mulai shalat dengan khusyuk. Setiap gerakan penuh penghayatan. Setiap bacaan keluar dengan tartil. Baginya, shalat bukan sekadar kewajiban—tapi pertemuan dengan Tuhannya.

Setelah shalat, dia duduk bersila, membuka Al-Qur'an. Dia sedang menghafalkan Surah Al-Waqi'ah. Sudah sepuluh ayat yang dia hafalkan minggu ini. Target dia adalah menyelesaikan surah ini dalam dua minggu.

"Idza waqo'atil waqi'ah..." bacanya pelan, berulang-ulang, sampai lidahnya hafal setiap makharijul huruf.

Jam lima pagi, adzan Subuh berkumandang. Khansa segera ke masjid besar pesantren bersama ratusan santriwati lainnya. Mereka berbaris rapi, berpakaian seragam putih-putih, cadar hitam menutupi wajah. Dari luar, mungkin terlihat sama. Tapi setiap santriwati punya cerita dan perjuangan masing-masing.

Setelah shalat Subuh berjamaah, Ustadzah Halimah—pengasuh pesantren—memberikan kultum singkat tentang pentingnya istiqomah dalam beribadah.

"Santri-santri saya yang tercinta," kata Ustadzah Halimah dengan suara lembut namun tegas. "Ibadah itu bukan tentang banyak, tapi tentang konsisten. Lebih baik sedikit tapi istiqomah, daripada banyak tapi sesekali."

Khansa mengangguk dalam hati. Dia memang merasa belum istiqomah. Masih sering lalai. Masih sering tergoda untuk tidur lebih lama. Masih sering merasa lelah saat mengaji.

"Ya Allah, kuatkan aku," doanya dalam hati.

***

Setelah shalat, para santri kembali ke asrama untuk bersiap-siap sarapan. Di dapur umum yang luas, aroma nasi goreng dan teh manis tercium. Khansa mengambil porsinya, lalu duduk bersama Salma dan teman-teman sekelasnya.

"Khansa, tadi pagi lo bangun jam berapa sih? Gue ngeliat lo udah nggak ada di kasur jam empat," tanya Salma sambil menyuap nasi goreng.

"Jam setengah empat. Shalat Tahajud dulu."

"Gila, lo emang beda. Gue aja masih bobo pules."

Nabila, santri yang duduk di seberang, ikut nimbrung. "Khansa tuh emang rajin banget. Gue aja yang udah tiga tahun di sini masih suka bolos tahajud. Lo malah nggak pernah bolos."

Khansa tersenyum malu. "Aku juga sering bolos kok. Cuma kalau hari ini nggak bolos, berarti alhamdulillah."

"Rendah hati banget sih lo," kata Zahra sambil tertawa. "Padahal ustadzah-ustadzah sering puji lo. Hafalanmu udah berapa juz sih sekarang?"

"Baru lima belas juz. Masih jauh dari target."

"Baru? Lo baru kelas dua belas, udah lima belas juz! Gue aja baru sepuluh juz!"

Mereka tertawa bersama. Tapi Khansa tidak merasa istimewa. Baginya, hafalan Al-Qur'an adalah anugerah dari Allah. Bukan pencapaian pribadi yang patut disombongkan.

Setelah sarapan, mereka bersiap untuk kegiatan pagi—kajian kitab kuning. Hari ini mereka belajar kitab Riyadhus Shalihin, membahas bab tentang "Keutamaan Memberi Makan".

Di ruang kelas yang sederhana namun bersih, Ustadzah Khadijah membuka kajian dengan membaca basmalah. Para santri duduk bersila di atas karpet hijau, kitab terbuka di depan masing-masing.

"Hari ini kita akan membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu," kata Ustadzah Khadijah. "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan shalatlah di waktu orang-orang tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat.'"

Khansa mencatat setiap kata. Bukan hanya mencatat, tapi juga merenungkan. Hadits ini sederhana, tapi dalam. Memberi makan—betapa banyak orang yang melewatkan amalan ini.

"Ada yang mau menjelaskan hikmah dari hadits ini?" tanya Ustadzah Khadijah.

Khansa mengangkat tangan. "Bismillah, ustadzah. Menurut saya, hadits ini mengajarkan bahwa Islam itu agama yang praktis. Bukan hanya soal ritual ibadah, tapi juga soal kepedulian sosial. Memberi makan adalah bentuk kasih sayang kepada sesama makhluk Allah."

Ustadzah Khadijah tersenyum bangga. "Alhamdulillah, jawaban yang bagus, Khansa. Memang benar. Islam itu agama yang menyeimbangkan hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal dengan sesama."

Kajian berlanjut sampai jam sepuluh pagi. Setelah itu, para santri ada waktu istirahat sejenak sebelum kegiatan berikutnya—mengajar tahsin untuk santri kelas satu.

Khansa ditugaskan mengajar enam santriwati baru yang masih belajar membaca Al-Qur'an dengan benar. Mereka duduk melingkar di teras asrama, masing-masing membawa mushaf.

"Assalamu'alaikum, ukhti-ukhti," sapa Khansa lembut. "Hari ini kita akan belajar makharijul huruf. Siapa yang masih bingung dengan huruf-huruf yang keluar dari tenggorokan?"

Beberapa santri mengangkat tangan. Khansa sabar mengajari satu per satu. Tidak pernah marah, tidak pernah jengkel, meski harus mengulang puluhan kali.

"Ulangi lagi, ukhti. Huruf 'ain' itu dari tenggorokan tengah. Coba: 'a-'a-'a."

"'A-'a-'a," santri itu mengikuti.

"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Terus latihan ya."

Salma yang kebetulan lewat, berhenti sejenak melihat Khansa mengajar. Dia kagum dengan kesabaran sahabatnya itu. Tidak semua orang punya kesabaran untuk mengajar orang yang sama berulang kali.

***

Siang itu, setelah shalat Dzuhur, Khansa mendapat tugas dari ustadzah untuk mengambil buku-buku baru di perpustakaan kota. Dia berangkat ditemani Ustadzah Maryam, salah satu pengurus muda pesantren.

Mereka naik angkot menuju pusat kota. Khansa duduk di pojok, menatap keluar jendela. Bandung siang itu ramai. Kendaraan memenuhi jalan. Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing.

"Khansa, kamu nggak pernah bosan hidup di pesantren?" tanya Ustadzah Maryam tiba-tiba.

Khansa menoleh. "Bosan? Alhamdulillah tidak, ustadzah. Justru di pesantren hati saya tenang."

"Tapi kamu nggak pengen tahu dunia luar? Kayak anak-anak seusiamu yang sekolah umum, jalan-jalan, main ke mall, hang out?"

Khansa tersenyum. "Dulu waktu pertama masuk pesantren, sempat pengen juga, ustadzah. Tapi sekarang alhamdulillah sudah nggak. Saya sadar, kesenangan dunia itu sementara. Tapi ketenangan hati yang saya dapat di pesantren, ini yang saya cari."

Ustadzah Maryam mengangguk kagum. "Masya Allah. Semoga Allah jaga istiqomahmu, nak."

Sampai di perpustakaan, mereka mengambil beberapa buku kajian Islam yang sudah dipesan pesantren. Saat sedang menunggu petugas membungkus buku, Khansa berdiri di dekat jendela perpustakaan.

Dari sana, dia bisa melihat SMA Kristen Immanuel di seberang jalan. Dia teringat kejadian beberapa hari lalu—saat hampir tertabrak motor, dan seorang pemuda menolong.

Mata itu. Mata yang tajam tapi entah kenapa terasa... sedih.

"Kenapa ya aku masih ingat?" gumam Khansa dalam hati.

Dia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Tidak boleh. Dia tidak boleh memikirkan laki-laki asing, apalagi yang bukan mahram. Apalagi yang bukan seagama.

"Astaghfirullah," bisiknya pelan.

"Khansa, sudah selesai. Yuk kita pulang," kata Ustadzah Maryam.

Mereka kembali ke pesantren dengan angkot yang sama. Tapi sepanjang perjalanan, Khansa merasa gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang dia sendiri tidak mengerti.

***

Sore itu, setelah shalat Ashar, Khansa duduk sendirian di taman belakang pesantren. Dia membuka Al-Qur'an, membaca Surah Ar-Rahman. Ayat-ayat tentang nikmat Allah yang tak terhitung.

"Fabi ayyi aalaa'i Rabbikumaa tukadzdzibaan—Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Khansa membaca ayat itu berulang kali. Setiap kali dibaca, air matanya menetes. Dia menangis—bukan karena sedih, tapi karena terharu. Allah telah memberinya begitu banyak nikmat. Keluarga yang baik, kesehatan, kemampuan menghafal Al-Qur'an, pesantren yang nyaman.

"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih atas semua nikmat-Mu yang tak terhitung ini," doanya dalam isak tangis.

Salma yang kebetulan lewat, melihat Khansa menangis. Dia langsung menghampiri.

"Khansa, kenapa nangis? Ada masalah?"

Khansa menggeleng sambil tersenyum di balik air mata. "Nggak ada masalah, Salma. Ini air mata bahagia. Air mata syukur."

Salma memeluk Khansa. "Ya Allah, kamu tuh bener-bener beda. Orang lain nangis karena sedih. Kamu nangis karena bersyukur."

Mereka duduk berdua di taman itu sampai maghrib tiba. Berbincang tentang banyak hal—tentang cita-cita, tentang keluarga, tentang masa depan.

"Khansa, kamu pengen jadi apa setelah lulus?" tanya Salma.

"Aku pengen jadi guru ngaji. Mau buka pesantren kecil-kecilan di kampung. Ngajarin anak-anak yang nggak mampu baca Al-Qur'an."

"Masya Allah. Nggak pengen kuliah? Jadi dokter atau guru gitu?"

"Insya Allah kalau Allah kasih rezeki, aku mau kuliah di Timur Tengah. Belajar Islam lebih dalam. Tapi kalau nggak, ya nggak apa-apa. Yang penting ilmu yang aku punya bermanfaat."

Salma tersenyum. "Aku yakin Allah punya rencana indah buat kamu, Khansa."

Khansa mengangguk. Dia juga yakin. Apapun yang terjadi, dia percaya Allah punya rencana terbaik.

***

Malam itu, setelah shalat Isya dan kajian malam, Khansa berbaring di kasurnya. Dia menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Pikirannya melayang kemana-mana.

Entah kenapa, bayangan pemuda yang menolongnya beberapa hari lalu muncul lagi. Mata yang tajam, tapi rapuh. Wajah yang keras, tapi entah kenapa terasa... kesepian.

"Ya Allah, kenapa aku terus mengingatnya?" tanya Khansa dalam hati. "Apakah ini ujian? Atau... ada maksud lain?"

Dia tidak tahu jawabannya. Yang dia tahu, dia harus terus menjaga hatinya. Hatinya hanya untuk Allah. Untuk orang yang halal untuknya kelak.

"Ya Allah, jika dia bukan untukku, jauhkan. Jika dia untukku, dekatkanlah dengan cara yang Engkau ridhai," doanya sebelum tidur.

Dan di sisi lain kota, tanpa disadari Khansa, seorang pemuda badboy sedang menatap tembok putih pesantren dari kejauhan, dengan pertanyaan yang sama di hatinya.

***

**ALEK**

Sudah tiga hari sejak kejadian itu. Tiga hari sejak Alek menyelamatkan santriwati bercadar dari hampir tertabrak motor. Tapi bayangan mata itu tidak hilang dari benaknya.

Setiap kali dia lewat depan pesantren—yang sekarang dia lakukan hampir setiap hari dengan berbagai alasan—matanya selalu mencari sosok itu. Tapi tidak pernah ketemu.

"Gue ngapain sih?" gerutunya pada diri sendiri sambil duduk di warung kopi depan sekolahnya.

Riki yang duduk di sebelahnya menyadari keanehan sahabatnya. "Lex, lo kok akhir-akhir ini sering banget lewat depan pesantren? Biasanya kan lo males lewat situ."

"Ah, nggak. Cuma lewat aja."

"Bohong. Gue notice, lo tuh suka melambat kalau lewat sana. Ngaku aja deh, lo ngintip cewek-cewek pesantren kan?"

Alek mendengus. "Ngintip apaan. Mereka kan pada tutup semua."

"Nah, makanya. Kenapa lo masih lewat situ terus?"

Alek tidak menjawab. Dia sendiri bingung. Kenapa dia melakukan ini? Apa yang dia cari? Mau ngapain kalau ketemu? Ngomong apa? Mereka bahkan tidak kenal.

Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang terus menarik—sesuatu yang membuatnya ingin melihat mata itu lagi. Mata yang teduh. Mata yang berbeda dari semua cewek yang pernah dia kenal.

***

Sore itu, Alek sengaja tidak ikut nongkrong dengan geng. Dia bilang sakit, padahal dia mau ke suatu tempat—perpustakaan kota.

Kenapa perpustakaan? Karena beberapa hari lalu, saat dia "tidak sengaja" lewat depan pesantren, dia melihat beberapa santriwati keluar naik angkot. Salah satu dari mereka—yang dia yakini adalah "dia"—membawa buku-buku tebal.

"Mungkin mereka ambil buku di perpustakaan," pikirnya.

Maka hari ini, Alek duduk di pojok perpustakaan, pura-pura baca buku. Matanya sesekali melirik ke pintu masuk. Menunggu. Berharap.

Satu jam. Dua jam. Tidak ada tanda-tanda.

"Gue gila," umpatnya pelan sambil menutup buku yang bahkan tidak dia baca satu halaman pun.

Dia bersiap pulang saat pintu perpustakaan terbuka. Dua orang perempuan bercadar masuk. Salah satunya... dia!

Jantung Alek berdegup kencang. Tangannya berkeringat. Ini dia. Kesempatan.

Tapi dia harus ngapain? Nyapa? Kenalan? Itu aneh. Dia nggak kenal. Lagipula, mana mungkin santriwati itu mau ngobrol sama cowok asing?

Alek berpura-pura membaca lagi, tapi matanya diam-diam mengikuti gerak-gerik Khansa dan Ustadzah Maryam. Mereka mengambil beberapa buku, lalu duduk di meja tidak jauh dari Alek.

Khansa membuka buku berjudul "Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3". Dia membaca dengan serius, sesekali mencatat sesuatu.

Alek menatap dari kejauhan. Ada aura berbeda dari gadis itu. Cara dia duduk, cara dia membaca, cara dia menulis—semuanya tenang, anggun, penuh konsentrasi.

"Beda banget sama cewek-cewek yang biasa gue kenal," gumam Alek dalam hati.

Tiba-tiba, Khansa menoleh. Mata mereka bertemu untuk sesaat.

Alek langsung menunduk, pura-pura fokus baca buku. Jantungnya hampir copot.

"Gila, dia liat gue," batinnya panik.

Tapi Khansa hanya menatap sebentar, lalu kembali fokus pada bukunya. Dia tidak mengenali Alek—atau lebih tepatnya, dia tidak ingat wajah pemuda yang menolongnya karena saat itu dia terlalu gugup.

Setelah sekitar setengah jam, Khansa dan ustadzahnya bersiap pulang. Mereka mengambil beberapa buku, membayar di kasir, lalu keluar.

Alek menunggu beberapa detik, lalu mengikuti dari belakang—dengan jarak aman tentunya.

Dia melihat mereka naik angkot jurusan Cicaheum. Alek langsung menyalakan motornya, mengikuti angkot itu dari belakang.

"Gue stalker sekarang? Anjir," umpatnya sambil tetap mengikuti.

Angkot berhenti tepat di depan Pesantren Al-Hikmah. Khansa dan ustadzahnya turun, masuk ke dalam pesantren. Pintu gerbang tertutup.

Alek berhenti di seberang jalan, menatap tembok putih tinggi itu.

"Dia tinggal di sana," gumamnya. "Di balik tembok itu."

Dia menatap lama, entah sedang memikirkan apa. Lalu dia menghela napas panjang, memutar motor, dan pulang dengan perasaan campur aduk.

***

Malam itu, di markas Venom Crew, Dimas menyadari Alek yang duduk melamun di pojok.

"Lex, lo nggak ikut main kartu?"

"Nggak, Bang. Lagi nggak mood."

Dimas menghampiri, duduk di sebelah Alek. "Lo kenapa akhir-akhir ini? Lo tuh berubah. Jadi pendiem gini."

Alek terdiam. Dia tidak bisa cerita. Mana mungkin dia bilang ke ketua geng-nya kalau dia lagi tertarik sama santriwati pesantren?

"Nggak ada apa-apa, Bang. Cuma capek aja."

Dimas menatap tajam. "Lo jangan sampe jatuh cinta ya. Cinta bikin lo lemah."

Alek tertawa hambar. "Nggak kok, Bang. Gue nggak jatuh cinta."

Tapi bohong. Mungkin bukan jatuh cinta dalam arti romantis. Tapi ada sesuatu yang menarik hatinya—sesuatu yang membuatnya penasaran, gelisah, ingin tahu lebih banyak.

***

Tengah malam, Alek tidak bisa tidur. Dia keluar dari markas, naik motor, dan tanpa sadar motornya melaju ke arah pesantren Al-Hikmah.

Dia berhenti di depan tembok putih itu. Menatap dalam kegelapan.

"Apa sih yang ada di dalam sana?" gumamnya. "Kenapa lo bisa hidup tenang kayak gitu? Kenapa mata lo bisa setenang itu?"

Dia teringat kehidupannya—berantakan, penuh kekerasan, kosong. Lalu dia membayangkan kehidupan Khansa—teratur, damai, bermakna.

"Apa bedanya gue sama dia?" tanyanya pada diri sendiri.

Angin malam berhembus. Dari dalam pesantren, samar-samar terdengar suara adzan Tahajud dari pengeras suara masjid kecil.

Alek mendengarkan. Suara adzan itu asing baginya. Tapi entah kenapa... menenangkan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alek bertanya-tanya: apa yang membuat orang bisa setenang itu? Apa yang membuat hidup mereka terlihat penuh makna?

Dia tidak tahu jawabannya. Tapi satu hal yang dia tahu—dia ingin tahu lebih banyak. Dia ingin ketemu gadis itu lagi. Dia ingin... memahami dunia di balik tembok putih itu.

"Gue harus cari cara," tekadnya sambil melajukan motor kembali ke markas.

Di benaknya mulai muncul berbagai rencana. Bagaimana caranya ketemu lagi tanpa terlihat aneh? Bagaimana caranya ngobrol tanpa dianggap genit?

Tapi yang paling penting—dia harus tahu siapa gadis itu sebenarnya.

***

**Bersambung ke Bab 4..

1
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
Cahaya. R. P
bagus dehh pokoknyaaa klian wajib baca yeahh🙆‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!