Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Joseph melangkah menghampiri Karin, menatap penuh selidik wanita itu yang kini terpaku dengan wajah ketara tegang.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Karin! Aku tau kamu sedang berbohong! Ada yang coba kamu sembunyikan dari ku?”
Dengan spontan, Karin menyembunyikan tas tangan nya di balik punggungnya. Sementara netranya mengedar, seakan tengah mencari alasan yang tepat untuk menghindar.
‘Benar, ada yang coba Karin sembunyikan, dan itu ada di dalam tasnya. Apa lagi yang akan wanita rubah ini rencanakan untuk ku? Aku harus hati hati, Karin bukan lagi wanita yang aku kenal.’ batin Joseph.
“A- aku tidak menyembunyikan apa pun dari mu!” dusta Karin.
Karin menelan salivanya sulit, ‘Jangan sampai mas Jo merebut tas ku! Bisa gagal rencana yang yang sudah aku atur untuk membalas nya!’
Grap.
Joseph merengkuh punggung Karin dengan satu tangannya, mengikis jarak di antara keduanya. Sementara tangannya yang lain, menahan kepala belakang Karin, memaksanya menatap mata elang Joseph.
“Aku tidak percaya!” tegas Joseph.
‘Aku harus membuatnya lelah! Dengan aku merebut dan menggeledah langsung tas nya. Sama saja aku cari mati. Sabar Joseph! Kelicikan harus di balas dengan kelicikan.’ pikir Joseph.
Karin menggigit bibir bawahnya, nafasnya kian berpacu dengan cepat. Dengan dada membusung, saat tangan Joseph dengan sengaja mencengkram erat punggung Karin.
“Uuggghhhh, sa- sakit sayang! Ka- kamu pasti belum sarapan. Aku siapkan ya untuk mu!” bujuk Karin, mengalihkan perhatian Joseph.
Joseph berseringai, “Boleh, tapi setelah aku melahap mu!”
Karin membola, “Hah? Maksud mu, kita …akkkhhh!”
Pluk.
Tas dalam genggaman tangan Karin, terlepas begitu saja. Dengan tangan Karin yang kini melingkar di leher Joseph. Pria yang sekarang menjadi suaminya itu kini menggendong Karin. Dengan pasti membawanya meninggalkan ruang tengah, menuju kamar yang mereka tempati.
“A- apa yang kamu lakukan sayang? Turunkan aku!”
Joseph tersenyum sinis, “Gak usah belaga bodoh! Kamu jelas tau maksud ku! Jika dulu kamu melakukannya demi cinta. Sekarang lakukan atas nama bakti mu sebagai seorang istri. Layani aku di ranjang.”
Karin tersenyum, mati matian menyembunyikan rasa kesalnya, ‘Enak saja! Sudah membuat kening ku terluka. Sekarang mau minta jatah? Gak! Aku masih marah padanya! Belum lagi mas Jo membandingkan aku dengan Jenny! Aku tidak sudi melayaninya.’
Joseph memainkan alisnya naik turun, ‘Aku pastikan, kamu kelelahan. Setidaknya aku harus membuat Karin terkapar di atas tempat tidur. Sedikit sobek4n pada lembahnya mungkin akan lebih bermanfaat untuknya!’
Joseph membaringkan Karin di atas tempat tidur dengan hati hati.
“Jangan sekarang, sayang! Kening ku sakit! A- aku baru saja mendapat jahit4n, dan itu karena kamu! Jangan sekarang ya!” bujuk Karin dengan manja, ia bahkan beringsut mundur. Mencoba menjauh dari Joseph.
Joseph menanggalkan kemejanya, “Jangan melimpahkan kesalahan mu pada ku, Karin! Lagi pula kening mu yang terluka. Sementara yang bermain adalah bat4ng ku dengan lembah mu! Apa kamu ingin, menjadi istri durhaka menolak melayani suami?”
“Ta- tapi a- aku ummppp..”
Gak ada lagi kata, selain Joseph yang membungkam bibir Karin dengan bibirnya. Ia bahkan melakukannya penyatu4n dengan kasar.
Jeritan kesakitan Karin seakan menulikan telinga Joseph. Terlebih air mata yang kian menerobos dari pelupuk mata Karin. Seakan menggambarkan rasa sakit yang ia terima selama permainan.
“Sakiiit! Hentikan! Kamu gila mas! Kamu mmppphh… ” jeritan Karin gak lagi terdengar. Saat Joseph kembali membungkam bibirnya menjadi lumat4n.
Joseph menatap tajam Karin, tanpa rasa kasihan, ‘Ini akibatnya kalo kamu berani mencurangi ku, Karin!’
‘Dasar kamu bajing4n, mas! Kamu binatang! Kamu melukai ku! Aku akan balas sakit berkali lipat dari ini mas!’ umpat Karin, sebelum dirinya hilang kesadaran dengan permainan gila yang di lakukan Joseph padanya.
Pluk pluk.
Joseph menepuk nepuk pipi Karin, memastikan wanita yang ada di hadapannya benar benar hilang kesadaran.
“Jangan kamu pikir, aku gak tau dengan apa yang kamu lakukan di belakang ku, Karin! Mau mencoba membodohi ku! Dasar wanita rubah!” herdik Joseph, lalu beranjak dari tubuh Karin.
***
Di kediaman utama Jaya. Jenny tengah membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang. Dengan tangan sofa sebagai bantalannya. Sementara di atas meja terdapat beberapa toples cemilan dan segelas besar jus jeruk.
Netranya Jenny terfokus pada layar pipihnya, dengan wajah merah padam, “Ya Tuhan, kenapa sih. Pemeran wanitanya di buat bodoh bin beg0! Jangan bodoh bodoh amat gitu. Di sakitin suami, ya udah buang aja itu laki!
Gak usah ngemis buat di pertahanin rumah tangganya. Mana mertuanya jahat bangat, belum lagi iparnya. Benar benar keluarga suami toksik itu!”
“Itu kan cuma novel, Non! Terserah penulisnya toh. Mau buat tokoh utamanya kaya gimana. Loh yo kenapa jadi Non yang marah marah toh?” timpal bi Sari, sembari mengelap furnitur yang ada di ruang tengah.
Jenny menoleh sekilas ke arah Sari, dengan nada gak santai, “Ya tapi gak gitu juga dong, bi! Kan aku jadi geregetan baca novelnya. Harusnya dia buat tokoh utamanya wanita tangguh, bukan wanita klemar klemer.”
“Di tanya aja itu Non ke penulisnya. Kenapa di buat tokoh wanita jadi bodoh. Non minta deh penulisnya buat karakter wanita seperti yang Non mau.” timpal bi Yati, yang tengah memijat kaki Jenny. Dengan duduk di ujung sofa.
Bi Sari menggeleng, gak sependapat dengan bi Yati. Dengan logat bicaranya yang khas.
“Eya laaaaaah mbak yu! Ngasih saran kok yo begitu! Wis di lempengin toh! Jangan makin di jerumusin Non Jen nya! Itu kan karya orang toh, buah dari pemikiran penulisnya! Lah ya harus di hargai toh!”
“Ssstt kamu diam aja Sari! Lanjutin tuh bersihin perabotan, ingat jangan sampe ada debu yang tersisa! Tuh di sana, belum kamu bersihin!” Bi Yati menunjuk furniture lain dengan bibirnya yang maju lima centi meter.
Bi Sari mendengus kesal, menatap jengkel bi Yati, dengan tangannya yang tetap kerja, “Opo toh, mbak! Aku kan lagi ngomong sama si Non! Bukan sama sampean toh!”
“Kamu tuh kalo di bilangin sama yang tuaan, ngerti kenapa Sari!” keletus bi Yati.
Bi Sari mengalihkan perhatiannya pada Jenny, “Mending Non Jen jadi penulis aja loh, dari pada pembaca tapi di buat naik darah terus toh sama penulis yang novelnya Non baca.”
“Aku mana bisa jadi penulis novel, bi? Aku lebih suka baca karya orang lain, bi! Komentar deh kalo alurnya gak seperti yang aku harapkan.” celetuk Jenny tanpa saringan.
“Tapi, Non! Setiap karya penulis itu harus loh di hargai. Di kasih apresiasi gitu. Gak mudah kan buat cerita novel. Non aja belum tentu bisa kalau di suruh buat.” timpal bi Sari.
“Sopan bangat kamu, Sari! Berani nyuruh nyuruh Nona Muda aku! Mending Non lanjut kuliah, selesain tuh pendidikan Non. Itu jauh lebih berguna Non buat perusahaan keluarga Jaya.” timpal bi Yati.
“Naaah kalo itu bibi juga setuju tuh Non! Bibi dukung Non!” timpal bi sari penuh semangat.
“Rencananya emang aku mau lanjut kuliah, bi! Minimal aku harus dapat gelar sarjana ku. Biar bisa terusin perusahaan yang udah papa rintis. Majuin perusahaan yang akan aku ambil alih juga dari mas Jo!”
Jemari Jenny mengetik komen, untuk penulis yang tengah ia baca novelnya di aplikasi Noveltoon. Bukannya mengirim komentar yang sudah ia tulis panjang lebar. Tapi langsung menjawab sebuah panggilan video call dari nomor yang gak ia kenal.
Tring tring tring.
“Halo mbak cantik, udah nunggu dari tadi ya?” beo Alan, dengan wajah hingga batas dada muncul di layar hape Jenny.
Jenny membola, ia bahkan sampai menjauh kan benda pipihnya dari pandangannya.
^^^[ “Astaga, bocah tengil? Kamu dapat dari mana nomor saya? Tunggu, jangan bilang kamu …” ]^^^
Alan terkekeh, yang mana semakin memuncul kan aura ketampanan nya.
“Gak usah banyak nebak, mbak! Mending siap siap, 5 menit lagi Alan sampe rumah mbak cantik nih!”
^^^[ “Apa? 5 menit lagi? Jangan bilang papa minta kamu buat temenin saya pergi?” ]^^^
“Mbaaaak, Alan udah masuk perumahan mbak cantik nih. Beberapa menit lagi nyampe gerbang rumah papanya mbak.” seru Alan dengan santai.
^^^Jenny beranjak dari tidurnya, [ “Dasar bocah tengik!” ] umpat Jenny sebelum memutuskan sambungan video call nya dengan Alan.^^^
“Loh Non, mau kemana? Belum selesai bibi pijatnya!” beo bi Yati, melihat Jenny dengan tergesa meninggalkan ruang tengah.
“Basmi bocah tengil bi!” timpal Jenny tanpa menghentikan langkahnya. Ia bahkan dengan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Bi Yati beranjak, menatap horor tingkah Jenny, “Astagaaa, Non! Jangan lari, bahaya!”
Ting nong.
Brugh.
Bel rumah berbunyi, tepat saat Jenny menghilang di balik pintu kamarnya.
Bersambung…