NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Serangan Ketiga Di Akhir Ujian

Lima hari ujian yang menguras otak akhirnya berlalu. Atmosfer tegang yang sebelumnya menyelimuti koridor sekolah seketika berganti dengan semangat kompetisi dan kreativitas. Pengumuman nilai memang masih jauh, tapi bagi siswa PH2, ini adalah waktu untuk membuktikan bahwa mereka bukan cuma jago di balik meja resepsionis, tapi juga jago di lapangan dan pasar.

Dion berdiri di depan kelas dengan gaya bak manajer profesional, memegang beberapa lembar brosur berwarna cerah. "Woi, dengerin dulu! Ujian udah kelar, sekarang waktunya PH2 Warrior unjuk gigi!" serunya menarik perhatian seluruh kelas.

Dion mulai memaparkan rencana besar mereka untuk class meeting. Diskusi berlangsung seru, khas anak-anak perhotelan yang terbiasa dengan perencanaan acara.

"Pertama, urusan perut," Dion menunjuk Yola, sang bendahara. "Kita bakal jualan jajan tradisional. Modalnya pakai uang kas. Pasukan belanjanya ke Pasar Kramat Sentiong: Yola, Nadia, dan Vanya. Biar aman dan ada yang angkat-angkat barang, kalian dikawal sama Reno, Sammy, dan Gery."

Vanya melirik Gery sambil tersenyum tipis. "Pasar subuh nih? Siap-siap bangun pagi ya, Ger," bisiknya jahil. Gery hanya mengangguk pasrah, tahu bahwa tugasnya kali ini adalah menjadi kuli panggul sekaligus pelindung para gadis.

Selanjutnya, Dion beralih ke bidang olahraga. Nama-nama andalan langsung disebut. "Buat Futsal, kaptennya Reno. Timnya: Gue, Feri, Sammy, Adrian, Gery, Candra, sama Bobi. Terus buat Basket, intinya sama, ditambah Erik dan Raka yang harus gantiin posisinya Candra dan Bobi."

"Gue merangkap dua cabang? Gempor-gempor dah," celetuk Gery sambil tertawa kecil, namun matanya memancarkan semangat kompetisi.

Tiba-tiba, Toni mengangkat tangan. "Yon, kalau kompetisi musik syaratnya apa? Gue rencana mau duet sama Anis."

"Oh, mau unjuk gigi ya? Oke, nanti gue ambilin brosurnya. Berarti masuk kategori grup/band ya?" jawab Dion yang langsung diiyakan oleh Toni.

Di tengah riuhnya diskusi rencana "penyerangan" class meeting itu, pintu kelas terbuka. Ibu Ratna masuk dengan senyum kebapakan—eh, keibuan yang teduh. Beliau memberikan pengarahan singkat agar para siswa tetap menjaga sportivitas dan kebersihan selama acara berlangsung.

"Ibu bangga lihat kalian semangat. Sekarang, silakan pulang dan persiapkan semuanya. Jam sepuluh teng, kalian sudah harus kosongkan kelas," ucap Ibu Ratna menutup pertemuan pagi itu.

Sorakan kegembiraan meledak. Pulang jam sepuluh pagi setelah seminggu ujian adalah kemewahan luar biasa. Gery merapikan tasnya, menyadari bahwa minggu ini akan menjadi minggu yang sangat melelahkan, tapi juga sangat seru bersama keluarga besarnya di PH2.

Gery berjalan menuju parkir motor dengan langkah santai, sementara Vanya mengekor di belakang sambil iseng memegangi ujung tas Gery, menjadikannya pegangan agar tidak tertinggal. Matahari pukul sepuluh pagi itu terasa cukup menyengat, khas udara Jakarta di tahun 2009.

Setelah mengeluarkan motor matic-nya yang mulai menjadi saksi bisu kedekatan mereka, Gery menghampiri Vanya yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.

"Ger, kita jalan-jalan dulu yuk. Nyokap juga belum ada di rumah pasti kalau jam segini. Gabut gue," ajak Vanya sambil merapikan bando di rambutnya.

Gery yang merasa otaknya masih agak berasap bekas ujian kemarin menyahut nyeleneh, "Enggak ah, capek. Mending naik motor aja daripada jalan-jalan."

Plak!

Satu "tabokan cinta" mendarat mulus di bibir Gery. Vanya melotot gemas. "Siapa juga yang bilang jalan kaki, Oneng! Ya pakai motorlah! Ngadi-ngadi aja lo mah kalau jawab," omel Vanya yang sukses membuat Gery tertawa lebar.

"Iya, iya, bercanda. Ayo naik," sahut Gery.

Mereka pun membelah jalanan Jakarta tanpa tujuan yang pasti. Angin sepoi-sepoi menemani mereka melintasi daerah Menteng yang asri. Akhirnya, Vanya menepuk bahu Gery dari belakang. "Ger, ke Taman Suropati aja yuk? Teduh di sana, daripada muter-muter nggak jelas bensin lo habis."

Gery mengangguk dan segera membelokkan setang motornya menuju taman yang terletak di jantung Menteng tersebut. Setibanya di sana, suasana sangat tenang. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, memberikan perlindungan dari teriknya matahari siang.

Vanya merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kamera pocket digital berwarna silver merek Casio. Di tahun 2009, punya kamera digital mungil seperti itu sudah terasa sangat keren, mengingat kamera ponsel saat itu rata-rata masih VGA atau paling mentok 2 Megapixel dengan nada dering polifonik yang cempreng.

"Nih, Ger. Fotoin gue ya. Cariin spot yang bagus," pinta Vanya sambil menyerahkan kameranya. "Gue mau update foto profil Facebook nih, bosen pakai foto yang lama."

Gery menerima kamera itu, menatap layar LCD-nya yang kecil. "Gaya dikit dong, jangan kaku kayak mau difoto buat KTP," ledek Gery.

Vanya pun mulai berpose di bawah rimbunnya pohon, sesekali duduk di bangku taman yang artistik. Gery membidik beberapa kali, berusaha memposisikan lensa agar cahaya matahari yang menembus celah daun terlihat estetik di wajah Vanya.

"Bagus nggak hasilnya? Jangan sampai nge-blur ya! Memorinya terbatas nih, cuma 1 GB," ujar Vanya sambil menghampiri Gery untuk melihat hasil fotonya di layar LCD kamera.

Di bawah bayangan pohon Taman Suropati, mereka berdua asyik memilah foto. Jarak di antara mereka semakin dekat saat kepala mereka hampir bersentuhan untuk melihat layar kamera yang mungil itu. Gery menyadari, momen-momen sederhana seperti inilah yang membuatnya merasa bahwa tahun 2009 akan menjadi tahun yang sulit untuk ia lupakan.

Vanya membolak-balik hasil foto di layar LCD kecil itu dengan jempolnya. Matanya berbinar saat melihat satu foto dirinya yang tampak sangat natural dengan latar belakang cahaya matahari yang menembus dedaunan.

"Ger, ini bagus banget! Tapi masa foto gue sendiri terus?" Vanya menoleh ke arah Gery yang sedang duduk santai di sampingnya. "Ayo foto berdua. Pakai timer ya! Taruh di atas bangku itu aja."

Gery menurut saja saat Vanya sibuk mengatur posisi kamera digital silvernya di sandaran bangku taman. Vanya tampak serius menekan-nekan tombol menu, mencari ikon gambar jam kecil yang menandakan fitur self-timer.

"Oke, sepuluh detik ya! Siap-siap!" seru Vanya setelah menekan tombol shutter.

Vanya segera berlari kecil menuju Gery. Gery berdiri tegak, berusaha memasang wajah "keren" andalannya sambil menatap ke arah lensa kamera yang lampu merahnya mulai berkedip-kedip cepat.

Tit... tit... tit...

Vanya menghitung dalam hati. Saat lampu merah di kamera itu berkedip sangat cepat—tanda gambar akan diambil dalam hitungan satu detik—Vanya tiba-tiba melakukan gerakan yang sama sekali tidak ada dalam skenario Gery.

Vanya berjinjit, tangannya bertumpu ringan di bahu Gery, dan...

Cekrek!

Tepat saat sensor kamera menangkap gambar, bibir Vanya mendarat lembut di pipi Gery.

Gery mematung. Matanya membelalak kaget, badannya kaku seperti manekin toko baju. Ia merasa ada aliran listrik yang melompat dari pipinya langsung ke ubun-ubun. Rasa panas menjalar dengan sangat cepat, membuat wajahnya memerah padam, bahkan lebih merah dari warna sirup stroberi, persis seperti orang yang terkena luka bakar karena saking malunya.

Vanya langsung melepaskan kecupannya dan tertawa lepas. Tanpa peduli dengan Gery yang masih dalam kondisi loading, ia berlari kegirangan menuju kameranya untuk melihat hasil "kejahatannya".

"Hahahaha! Ya ampun, Ger! Liat deh!" seru Vanya sambil memegang perutnya karena tertawa.

Gery melangkah mendekat dengan canggung, tangannya secara refleks mengusap pipi yang tadi dikecup. Begitu ia melihat layar LCD, jantungnya kembali berdegup kencang. Di sana tertangkap momen yang sempurna: wajah Gery yang tampak sangat terkejut dengan mata melotot, dan Vanya yang sedang memejamkan mata sambil mencium pipinya dengan latar belakang taman yang sedikit blur.

"Gila lo ya, tiba-tiba banget!" gerutu Gery dengan suara serak, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa.

"Tapi hasilnya bagus banget, kan? Sesuai ekspektasi gue!" balas Vanya sambil memeluk kamera pocket-nya seolah itu adalah harta karun paling berharga. "Ini bakal jadi foto paling langka di tahun 2009. Jangan minta dihapus ya, ini kenang-kenangan kita!"

Gery hanya bisa membuang muka, mencoba mengatur napasnya yang masih berantakan. Sore itu di Taman Suropati, sebuah kecupan di tengah hitungan timer telah mengubah status "kontrak" di antara mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih emosional dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!